Desain Cincin

Pukul 05.00 alarm dari ponsel Aurora berbunyi. Dengan cepat dia menyambar ponsel yang ada di atas nakas dan segera mematikan alarm. Dia tak ingin Langit ikut terbangun.

Setelah mematikan alarm, Aurora menatap wajah Langit yang masih terlelap terlihat mendamaikan hati.

"Emang beda ya, bangun pagi langsung di sambut dengan pemandangan suami ganteng. Bikin semangat." Batin Aurora yang masih memandangi wajah tampan Langit sambil tertawa kecil.

Segera dia meraih piyama yang berserakan di lantai setelah melewati satu lagi malam yang penuh gairah. Dia bangkit dan melakukan ritual mandi.

Setelah mandi, Aurora sudah berada di dapur untuk membuat sarapan. Karena hari ini Langit sudah mulai aktif kembali dari cutinya.

Sejak kecil Aurora memang selalu senang setiap diajak membantu memasak ibunya di dapur. Meskipun istilahnya membantu, Aurora kecil hanya bermain-main dengan peralatan dapur atau sekedar mengacak-acak sayuran sambil memperhatikan ibunya memasak. Sehingga saat dia mulai beranjak remaja, dia mulai menjadikan memasak sebagai hobi. Apalagi mendiang orang tuanya terkadang pergi keluar kota untuk bisnis. Mau tidak mau dia memasak untuk dirinya sendiri.

Dari pengalaman itulah yang membuat Aurora semakin mandiri saat kedua orang tuanya meninggal. Karena sudah diajarkan pekerjaan rumah, dia tidak kaget saat sudah tidak ada orang tua yang mengurus rumah.

Roti dan sosis panggang serta telur mata sapi menjadi menu untuk sarapan. Sedangkan untuk bekal makan siang Langit, Aurora membuat tumis brokoli dan jagung muda dengan lauk gurami goreng.

Aurora sedang fokus menumis sayuran saat tiba-tiba dia merasakan ada tangan yang melingkar diperutnya.

"Aw!" pekik Aurora kaget. Hampir saja dia menjatuhkan spatula-nya.

"Selamat pagi." Sapa Langit sambil mencium leher Aurora.

"Pagi juga Mas."

"Hmm.. Baunya enak banget. Kamu masak apa?"

"Tumis brokoli jagung muda, Mas. Buat bekel makan siang. Buat sarapan itu udah siap di meja." jelas Aurora sambil matanya tertuju pada meja makan.

"Cepetan mandi terus sarapan, Mas. Entar terlambat lho." titah Aurora pada Langit. Tapi Langit tak acuh. Dia masih sibuk menikmati aroma coklat dari leher Aurora.

"Aw!" Aurora kembali memekik karena Langit menggigit lehernya. Segera Aurora mematikan kompornya karena kaget dan kebetulan juga tumisnya sudah matang.

"Aduh Mas! Sakit tau!" protes Aurora.

"Habisnya bau kamu coklat. Bikin pengen gigit terus." dalih Langit.

"Ih apa'an sih, Mas. Cepetan mandi sana!"

Aurora mendorong tubuh Langit ke arah tangga menuju lantai dua. Dengan malas Langit melangkahkan kakinya menapaki anak tangga.

Melihat Langit yang seakan mulai membuka hati untuknya, Aurora sangat berharap untuk benar-benar bisa menaklukan hati Langit.

Setelah Langit tak terlihat lagi setelah naik ke lantai dua, Aurora senyum-senyum sendiri. Dia masih terbayang-bayang romantisme malam pertamanya.

Setengah jam kemudian Langit sudah turun dengan setelan jas serta rambut yang di sisir rapi.

Aurora sudah duduk dan menunggu untuk sarapan bersama.

"Meski terbalut baju rapi pun masih terlihat seksi" gumam lirih Aurora yang memperhatikan Langit sedang merapikan lengan kemejanya.

"Aku bisa mendengarnya." ucap Langit.

"Yah. Mau gimana lagi, ya? Karena udah terlanjur lihat Mas yang tanpa sehelai baju lalu lihat Mas yang pakai pakaian rapi tertutup pun tetap saja terlihat seksi di mataku." ucap Aurora yang pura-pura mengeluh sambil menopang dagunya.

"Apa perlu aku ambil cuti lagi lalu kita lanjutkan seharian olahraga di tempat tidur?" tanya Langit menggoda Aurora.

"Big no!" Seketika Aurora menyilangkan tangannya di depan dada. Mengingat tubuhnya masih terasa nyeri. Apalagi di bagian pinggang dan intinya.

Keduanya pun tergelak.

...****************...

Kini Aurora kembali berkutat dengan tabletnya. Menyelesaikan desain sebuah cincin dari kliennya. Dikatakan dalam note, cincin tersebut ingin diberikan pada suaminya sebagai hadiah ulang tahun. Klien ingin desain cincin itu tidak pasaran dan hanya satu-satunya milik suaminya. Waah so sweet sekali ya klien Aurora kali ini.

Penuh semangat Aurora mengerjakan desain itu. Karena Aurora menyanggupi permintaan klien, maka dia mematok harga desainnya kali ini agak mahal dan kliennya pun tak keberatan.

"Beruntung sekali suaminya punya istri perhatian macam klien kali ini" gumam Aurora sambil jemarinya menari di atas tablet bersama stylus pen-nya.

"Bisa buat ide kalau Mas Langit ulang tahun." lanjutnya bergumam.

Lalu beberapa saat kemudian mata Aurora terbelalak. Ada hal yang dia lupakan. Tanggal ulang tahun Langit!

Sebenarnya dia bahkan tidak tahu tanggal ulang tahun Langit.

Aurora segera mencari keberadaan ponselnya. Segera dia mencari kontak Rendi dan meneleponnya.

"Halo Pak Rendi. Ini gawat!" sergah Aurora setelah Rendi menerima panggilannya.

Terdengar Rendi yang ada di seberang telepon pun ikut panik.

"Itu Pak. Saya nggak tahu tanggal ulang tahun Pak Langit!" Aurora mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil.

Seketika ekspresi Aurora berubah menjadi ciut. Sepertinya Rendi menegurnya karena sudah membuat panik.

"Iya, Pak maafkan saya." ucap Aurora lirih.

"Terima kasih, Pak Rendi. Dan tolong rahasiakan dari Pak Langit kalau saya menelpon. Lalu panggilan terputus.

"Wah gila! Untung gue gak kena sembur Pak Rendi." Aurora mengelus dada lega setelah panggilan telepon berakhir.

7 November. Aurora menulis tanggal kelahiran Langit pada buku catatan kecil miliknya.

"Berarti dua bulan lagi ulang tahun Mas Langit. Enaknya kasih kado apa, ya? Biar keren dan gak pasaran?" pikir Aurora sejenak.

"Au ah! Penting gue selesai'in tugas dari klien dulu. Baru cari ide." gumam Aurora.

Aurora kembali meraih tabletnya dan meneruskan mendesain cincin klien. Karena ini desain yang limited, Aurora berkali-kali menghapus desainnya. Dia masih merasa kurang puas. Apalagi ini cincin untuk laki-laki. Pastinya harus simpel tapi tampak elegan dan mewah ketika di pakai. Dia benar-benar ingin menghargai uang klien yang di amanahkan padanya.

Namun tampaknya usaha agar desain itu cepat selesai pun sia-sia. Karena Aurora merasa masih belum menemukan desain yang cocok menurutnya.

Dia meletakkan kepala di atas lututnya yang di tekuk. Sesekali menghela nafas kasar sambil menepuk kepalanya dengan telapak tangan.

"Lebih mudah kalo klien gue bikin cincin buat cewek." keluh Aurora.

Tak lama kemudian Aurora terlelap karena lelah berpikir. Tubuhnya ambruk di karpet lantai diantara sampah kertas yang berserakan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!