Lepas dari masalah satu, datang masalah baru dan membuat gw berpikir keras untuk menghadapi semua ini. Langkah ku menuju sekolah begitu berat, ibu memberitahuku di waktu yang nggak tepat dan terlalu dini untuk gw menghadapi permasalahan orang dewasa, mau dihindari nggak bisa gw hindari karena memang harus dihadapi. Hanya gw saja di rumah yang diandalkan untuk urusan satu itu.
Lagi juga gw yakin nggak harus mengosongkan rumah dalam waktu yang cepat. Yasudahlah harus gw hadapi masalah ini dan memang nggak bisa juga gw lepas tangan, karena menyangkut rumah tinggal. Kita tinggal lihat saja seperti apa maunya mereka.
gw harus segera cari jalan untuk bisa membawa keluar ibu dan adikku dari rumah yang kami tempati. Besok gw harus hadapi kenyataan ini, dan akan gw temui kepala dinasnya sekalian juga nggak apa, siapa takut!
Biarlah hari esok yang masih misteri dan gw harus hadapi hari ini yang menjadi realita. Benar-benar kusut hidup seperti ini, dan gw nggak tahu harus menceritakan masalah ini kepada siapa.
Sejenak gw lupakan masalah yang pagi ini gw dengar, lebih baik ketawa-ketiwi bareng dua iblis betina, Nita dan Cindi sekalian gw teraktir mereka.
"Naaah loh, akhirnya ada disini rupanya." Sentak Cindi, mengejutkanku.
"Emang sengaja gw nunggu elu berdua,mau traktir."
"Wew! Pagi-pagi ada angin apa nih?Abis jual diri elu yaaah?Ha-ha." Bacot si Cindi lagi-lagi nggak bisa dijaga.
"Punya HP baru lagi!" Nita merebut Handphone yang ada dalam genggamannya.
"Om-om mana yang pake loh?! Mendadak tajir nih anak." Lagi-lagi omongan Cindi menjadi perhatian yang lain dan semua tertuju ke mereka bertiga.
"Sekarang gw tanya, mau ditraktir nggak?!"
"Maaaaulaah, syukuran handphone baru ya?"
"Terserah mau bilang syukuran punya Hp baru atau apalah yang penting gw mau traktir loh berdua, sebagai ucapan maaf gw kemarin nggak ikut elo orang ngerujak."
"Naaah, baru gw mau tanya itu ke elo. Jangan-jangan abis dipake kepsek ya? Sampe kebeli hp!" Ucap Nita.
"Kalo ngomong pada suka ngasal, nyokap gw menang arisan,gw dibeliin Hp ini."
"Oh menang arisaaaan,..." ucap mereka kompak.
Selagi asik kita menikmati traktiran, tiba-tiba jerit suara bel tanda masuk terdengar memanggil.
"Loh duluan ya, gw bayarin makanan elu semua."
"Waah baik banget sih loh Ser, jangan sungkan-sungkan traktir kita lagi yah?"
Dan di tengah menuju kelas, Bandot Tua itu terlihat di ujung jalan. Dan dengan langkahnya yang santai mendekat, untungnya Cindi dan Nita sudah lebih dahulu masuk kelas.
"Serli, nanti ke ruangan bapak yah? Sehabis pulang sekolah."
"I..i..iya pak."
Yah, namanya gw terikat perjanjian gw pun mengiyakan apa yang dipintanya. Ia pun pergi berlalu membelakangi ku, dan hilang di salah satu ruang.
Guru muda pun muncul dari ruang kelas, dan dengan tingkah yang sama menghampiriku," Aku tunggu di belakang sekolah ya Ser, kalau kamu sempat."
"Jam tiga yah? Serli ada kerja kelompok dulu pak."
"Ok, aku tunggu."
Dengan tingkah yang sama, guru muda itu pun kembali masuk kelas dan mengajar. Semua terlihat normal dan wajar, sang-sah aja gw begini, karena nggak ada komitmen apa pun dengan mereka. Yah, paling ribet ngatur waktu saja.
gw pun normal saja menjalani aktifitas sebagai murid pada umunnya. Masuk sekolah, dan senang jika mendengar bel pulang sekolah itu berbunyi.
Tapi kali ini ada perasaan yang mengganjal, jam pulang sekolah ku sudah nggak akan normal, karena harus absen pulang khusus ke ruang kepsek,biasa setor muka.
Walau kini nggak sekhawatir kemarin, tetapi masih sedikit ada perasaan was-was. Ruang kepsek memang agak jauh dan terpisah dengan ruang guru lainnya, tepat di ujung ruang dan sebelah ruangnya hanya beberapa ruang laboratorium yang jarang sekali digunakan. Benar-benar aman, dan hanya beberapa guru saja yang memang sering menemui Kepala Sekolah.
gw pun melihat situasi dahulu, jika gw rasa aman, barulah diam-diam menemuinya,maklum simpanan! Ha-ha.
Yang namanya simpanan, harusnya dikeluarkan sesekali waktu saja, kenapa ini jadi setiap hari. Dan gw pun masuk keruangannya, nggak seasing waktu pertama. gw pun lebih santai, seperti sudah terlatih.
Dan gw pun duduk di sofa panjang, Bandot Tua itu pun mendekati ku.
"Bapak kasih Serli uang, bikin seragam sekolah yang agak seksi yah? Seperti murid lain, biar Serli tambah menarik." Ia pun memberikan uang sebesar tiga ratus ribu, untuk membeli pakaian yang ia maksud.
"Maksud bapak rok dan baju agak ketat?"
"Tapi rok nya jangan terlalu pendek yah? Ikuti aturan sekolah juga, agak seksi dikit. Dan kamu harus perhatikan penampilan juga, make up tipis aja."
Wah, ia mulai perhatikan hal kecil dalam penampilan. Itu namanya pria, menyuruh wanitanya berpenampilan menarik dan terus memberikan uangnya. Bukan hanya menyuruh pasangan berpenampilan menarik, tetapi seperak pun nggak diberikan modal. Atau justru mencari wanita siap saji tanpa mau mengeluarkan uang lebih, yang penting siap pakai.
Termasuk si tua keladi di hadapanku, bukan karena ia nggak memberikan modal untuk istrinya, hanya karena belum memberikan keturunan saja. gw pun cukup tersanjung juga bisa menjadi simpanannya, walau pun usianya jauh lebih tua dariku, ia masih terlihat keren, tinggi, tubuh atletis, jika gw dipeluknya se-lehernya, untungnya tinggiku seratus tujuh puluh dua centi, tinggi kan? Memang gw paling tinggi di antara murid lainnya, bahkan dipinta untuk ikut ekskul paskibra, tapi gw menolak karena biaya paskibra butuh modal banyak.
Si tua keladi pun termasuk pilah-pilih wanita, dan nggak sembarangan asal kencan. Atau jangan-jangan dia sock ketemu gw di bioskop waktu itu, gw dengan pakaian dada terbuka. Ia pun semakin dekat dan nggak ada jarak antara gw dengannya.
Ia membaringkan tubuhku di atas sofa panjang. Agak sesak sih, saat tubuhnya berada di atasku. Ia terus melumat bibirku, jemarinya mulai beraksi meremas leher dan dengan cepat berpindah kebagian yang lain. Detak jantung memburu, darah mengalir deras di sekujur tubuh, aroma wangi tubuhnya pun begitu menyengat ke hidung. Ia merubah posisi, dan memangku tubuhku, gw pun nggak mau kalah, asal bapak senang dan membalas serangannya, nafas kami pun beradu, suara kecilnya menyebut namgw.
"Ssh...terus Serli!"
gw membalas, dan memanggil namanya. Dalam hitungan menit, kancing baju ku pun terlepas satu persatu. Kali ini gw kalah, dan nggak bisa menolak, si tua keladi itu begitu menggebu-gebunya, gerakan tubuhnya masih lincah.
Bersambung >>>>>
________________😘😘😘_______________
Sampai disini, jangan lupa like 👍 dan Vote serta tinggalkan komentar kamu, serta tebak apa yang akan gw lakukan untuk bertahan hidup. Untuk update ceritanya, jangan lupa tekan ❤ biar Serly semangat bercerita.
Terimakasih kakak,
Lav you ❤
Sebelum lanjut...
Apa salahnya Serli meminta Vote kaka semua, karena nggak harus membeli koin bukan?
__________________________________________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Kim Sumi Ryn
Mulai masuk Klimaks ni ceritanya .
Semangat kak ..
2020-07-22
1
Elly
kol lama sih...padahal ceritanya seru bnget loh
2020-07-21
1
Penyuka Senja
Lanjuttt lagii kak
2020-07-20
0