Semua harus diperhitungkan, take and give serta dampak yang terjadi, jangan hanya sebatas penawaran juga yang sampai kehilangan akal sehat, plan A, B dan C harus dipikirkan. Pikirkan juga, setiap pilihan pasti ada resiko yang harus diperkirakan.
Yang aku hadapi ini bukan lagi low class tapi midle class yang pasti ada resiko yang aku harus hati-hati. Berusaha tidak tergiur penawaran, lalu lupa dengan apa yang akan terjadi.
Jangan bodoh Serly, kamu harus cerdas dalam menyikapi setiap orang yang ingin melabuhkan peluh di atas tubuhmu, dan ingin merasakan hangatnya desah suaramu.
Kalau dilihat dari hitung-hitungan kalkulator, memang penawarannya cukup bisa meluluskan ku di penghujung kelas, tanpa harus memikirkan biaya sampai kelulusan, lumayan dapat Beasiswa Plus-Plus dari Bapak Esek, esekolah maksud ku.
Pasti dipikiran kalian akan berkata, "Ayo Serli ambil kesempatan itu, lumayan untuk tambah-tambahan uang saku," atau dari kalian akan seperti ini ucapanya," jangan Serli kamu itu masih pelajar dan ingat masa depan kamu!" atau bisa jadi kalian akan berpikir, "Gila! Bandot tua nggak ada akhlaknya, muridnya saja masih disikat!"
Serly, jadi di teringat lagu dari Om Iwan,"Masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri, urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau."
Yah, biarlah Serly cari sendiri. Karena Syurga bukan milik mereka yang selalu lisannya basah dengan puji-pujian, tetapi telinganya tuli dengan suara ringkihan, jerit dan tangis kelaparan. Syurga itu bukan juga milik mereka, yang rajin berdarma tetapi butuh reputasi dan pamor. Yasudahlah, biarlah Syurga dan neraka menjadi hak prerogratif Tuhan, aku hanya pendosa yang mencoba mengais rupiah dari kepingan peluh dan rayu.
Kita harus sepakat dahulu? Jangan bicara moral ok? Karena urusan dosa akan menjadi tanggung jawab masing-masing, tidak ada sejarahnya aku nanggung dosa kamu dan kamu nanggung dosa aku. Heem, kok jadi pembahasan urusan ma'rifat. Hehe, Serly hanya anak ingusan dan tak paham tentang itu. Yang aku tahu, bagaimana caranya aku bisa menjadi bintang, dan melalui masa sulit hidup.
Aku harus membuat Ibu tersenyum, dan Fadil bisa sekolah tinggi, bukan naik eskalator atau lift yaah? Bukan juga sekolah yang bertingkat-tingkat juga. Yang pasti biar ia tahu moral, paham membalas budi. Jangan seperti Bandot Tua di sampingku ini, yang terus menggerayangi tubuhku dengan pandangan yang liar.
"Serli, jadi kapan ada waktu?"
"Serli juga nggak tau pak, cara komunikasinya seperti apa? Kan Serli belum mampu beli handphone."
"Ok, sekarang kita beli handphone untuk Serli yah?"
"Tapi Serli takut nanti dikekang dan terikat. Sudah ah pak, biar Serli nanti beli sendiri."
"Oh, saya bukan tipe orang seperti itu. Yang jelas ketika bapak butuh, Serli ada waktu saja, bagaimana?"
Aku semakin bingung dengan tawarannya, "Ah, lelaki Pak, semua juga sama awalnya bilang begitu tapi nanti ujung-ujungnya minta komitmen dan terikat."
"Kalau kamu tidak percaya, apa perlu bapak buatkan perjanjian?"
"Terserah bapak, Serli nggak paham dengan itu."
Ia pun mengambil laptopnya dan mengetikan perjanjian kesepakatan, sesuai dengan apa yang Bandot Tua itu ucapkan, bahwa tidak akan mengikat dan meminta komitmen.
"Jadi, bapak mau beliin Serli handphone?"
"Iya, untuk komunikasi."
"Tapi tidak marah yah? Kalo Serli, nggak selalu megang handphone dan Serli nggak mau dimiliki siapa pun, Serli masih mau bebas dan main dengan yang lain."
Aku coba negosiasi, dan tidak mau ada tuntutan di kemudian hari.
"Bapak sudah dewasa Serli, dan paham betul karakter setiap murid, termasuk Serli."
Paham dengan karakter setiap murid? Apa aku bukan yang pertama? Atau adakah korban yang lain? Pemain juga rupanya kepsek satu ini.
"Silahkan dibaca dahulu."
Lelaki dengan perut akan besar dan kulit putih serta berpostur tubuh atletis itu menyodorkan ku surat kesepakatan.
"Aku tanda tangan?"
"Iya. Dan satu hal lagi yang bapak pinta, tolong jaga baik-baik hubungan kita yah? Simpan baik-baik."
"Ba..baik pak."
Dan aku bubuhi surat kesepakatan tersebut, memang paling jago kepala sokalah satu ini dalam membuat surat perjanjian.
"Dan bapak juga harus punya batasan, kalau Serli masih posisi pelajar."
"Iya bapak paham itu, umur Serli ada 17 tahun?"
"Baru dua bulan lalu genap usia Serli 17 tahun, kenapa gitu pak?"
"Nanya ajaaa, nggak ada apa-apa kok."
Haha....
Dikira aku tidak mengerti maksud pertanyaannya, kenapa ia tanya usia aku?Karena ia takut untuk terkena hukum pelecehan seksual bukan? Tenang aja pak, aku bukan anak kecil lagi, sudah punya KTP kok.
Setelah membubuhi tanda tangan Surat Kesepakatan Bercinta, Bandot Tua itu mendekati ku dan berucap," Terimakasih yah sayang, sudah kasih kesempatan bapak tuk bisa berbagi kasih sayang."
Heem, kasih sayang? Dimana kasihnya? Dimana sayangnya? Haaah?! Sudah lah jangan pakai service lips bapak keepseks eh salah kepsek.
"Apa pun yang terjadi dengan keadaan fisik Serli bapak terima yah?"
"Oh so pasti, siapa sih yang tidak mau terima gadis secantik kamu. Kalau diibaratkan dengan bunga, Serli itu sedang mekar-mekarnya."
Iya sedang mekar-mekarnya! Karena elo tahu mana barang bagus dan mana barang yang masih segel dan mana barang yang sudah lepas segelnya!
Benar kata si Nita, dia haus darah perawan dan memang tajir sih. Dari jam dan semuanya branded dan tidak ada yang murah. Padahal sudah berumur tapi masih terlihat keren, dan jaga kebersihan tubuh, apa iya dia perawatan? Otak ngeres itu tiba-tiba nongol, dan di kepala ku tumbuh tanduk, mata merah, muka merah. Maklum mabok anggur merah. Haha.
"Jadi kapan kamu ada waktu?" Nyees, aroma parfumnya pun menusuk.
Bisa nggak sih pak, kalo ngomong itu jangan pake deket ke leher, nafas bapak bikin saya lemes dan bawaannya mau ke kamar mandi, haha.
"Bukannya bapak mau belikan aku handphone untuk komunikasi?"
"Sekarang kita berangkat?"
"Terserah bapak."
Ia pun malah mendekati aku, ia tidak tahu kalau aku paling suka sama cowo maskulin dan wangi tubuhnya menggelitik di dada, ia mencium telinga ku. Semakin membuat kembang-kempis dada ini.
Ini hal gila ke dua yang aku lakukan, terkadang aku berpikir, rasanya tidak wajar anak perempuan seusiaku sebegini nekatnya, disaat teman sebayaku asik dengan pasangan yang sebaya, aku lebih tertarik dengan pria yang usianya jauh di atas aku, dan memiliki prestasi karir yang bagus.
Entah aku yang bodoh atau perempuan yang seumuran denganku? Mereka yang merelakan di pacarin hanya untuk menjadi pelampiasan dari cowok yang uang jajannya pun masih minta ke orang tuanya, kalau pun hangout nya di tempat keren, itu juga hasil nyatut sana-nyatut sini.
Bersambung >>>>
____________🙋♀Hi Readers🙋♀____________
Jangan lupa Vote dan Likenya, biar Serli semangat update setiap harinya. Apa artinya 10 point dibadingkan dengan pengalaman cerita Serly yang bisa dijadikan hikmah dalam perjalanan hidup.
Terimakasih
LA❤ YOU
Serly Perempuan Penggoda.
___________________________________________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Noejan
mntap nyindirnya 😁
2020-07-15
2
Dhy_Ayu
Next thor
2020-07-15
2
Kim Sumi Ryn
kasihan anak orang dimanfaatin guru sendiri .. ni guru mau ngajarin apa sih ..
2020-07-14
2