Selamat Pagi Ambisi

Rupanya pagi ini, baru gw memberanikan diri

utuk mengatakan, bahwa hidup ini lebih indah dari mimpi. Dan kali pertama gw n ibu tersenyum, melihat Fadil sarapan pagi dengan lahapnya.

Seperti ini rupanya maksud Tuhan, yang sebelumnya memberikan kami rasa lapar, agar paham apa itu makanan lezat. Dan bagaimana gw tahu jalan terang, sebelum gw lalui jalan gelap. Pantaslah Kartini mengarang buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pahit, kepedihan dan sakitnya hidup sengaja Tuhan berikan, mengajarkan ku rasa syukur dan ingat ketika masa-masa itu gw lalui. Serta mendidik diri ini agar peka dengan kehidupan sosial, bahwa gw pun pernah merasakan itu semua.

Dan gw berani mengatakan,"Selamat Pagi." Nikmatilah hidup, yang di sana jutaan manusia terkapar di atas ranjang pesakitan, jutaan orang disana sudah tak mengenal apa itu terangnya alam dunia, jutaan manusia disana berharap kedamaian dalam hidupnya, dan jutaan manusia disana, ingin menjadi kita.

Perasaan pagiku ini, cukup membuatku senang dan tenang,"Tuhan jangan biarkan damai ini pergi."

"Bu, aku berangkat yah? Ini ada uang untuk Fadil jajan." Dan inilah yang membuat ku tambah bahagia, disaat gw bisa berikan uang jajan untuk Fadil, yah, walau tak seberapa.

Kini gw lebih ringan melangkah, dan menyambut pagi dengan bahagia. Seperti biasa, gw melalui jalan yang sama dengan keadaan pagi yang sedikit berbeda. Yah, berbeda karena tak gw jumpai guru muda itu, apa mungkin dia sakit? Atau ambisinya belum juga terbayar tunai? Bisa jadi ia sudah jalan lebih pagi mencari mangsa itik baru. Aah, bukan urusanku.

Jeng..jeng..jeng

Terhindar dari mulut Elang, malah gw disambut senyum bandot tua, Ha-ha. Mungkin di otak bandot tua itu, masih membekas saat melihatku berpakaian yang tak wajar kemarin. Atau malu saat tertanggap tangan dengan Bu Ros, entahlah!

"Pagi Pak." Sapa gw , terserah apa tanggapannya.

"Hey, pagi Serli. Nanti sehabis pulang sekolah ke ruangan bapak yah? Ada yang mau bapak bicarakan."

Semula gw berharap mendapat berkah pagi hari, malah dapat panggilan kepala sekolah. Pikiranku yang kini jadi kacau, apa karena ulah ku melihat bandot tua itu kemarin, atau karena gw belum bayar uang buku dan perpisahan sekolah? Atau ....Ah, masa bodo apa pun yang terjadi, hadapi saja.

Jam masuk sekolah masih cukup lama, biar gw menunggu jeritan bel sekolah itu di kantin saja.

"Woi pagi-pagi udah mangkal di kantin! Cari pelanggaaan buuuu...Haha." Sialan si Nita, ada aja bacotnya.

"Gw ke kantin salah,sekalinya ke kantin elu bilang mangkal, maunya elo apa sih?" canda gw membalas sindirian Nita.

"Aku maau kamu temani aku malam ini, haha."

"Nit, gw dipanggil kepsek ada apa ya?"

"Manaaa gw tau cantik, mungkin dia haus darah perawan kali...Hahaha." Emang sial si Nita, ditanya apa jawabnya apa.

"Laaain yang udah nggak perawan maaah."

"Perawan nggak perawannya mana ketauan eneeeeeeng, sebelum di celup. Sarapan dulu gih, biar cerdas otak kamu syaaang."

Iya,ya...perawan dan tidak perawannya perempuan mana ada tahu.

"Seeeh cabe-cabean pagi-pagi udah ada di kantin aja! Sini om Booking." Tiba-tiba si Cindi pun dateng.

"Tau aja si mamih, kalo anak buahnya disini."

"Sialan, dikira gw germo."

"Jiaah yang bilang elo germo siapa cuy? Merasa yah?" tanygw .

"Gw denger aja dari si Debi, elu orang ada disini. Emangnya siapa yang lagi ultah?"

"Nita ultah."

"Si Serli dari kemarin sampai pagi ada di kantin terus, nggak tahu siapa yang lagi dia incer. Lagi banyak duit kayanya cabe merah satu ini."

"Iya juga ya Nit, tumben-tumbenan dia ada di kantin. Biasanya seminggu sekali doang jajannya, itu juga kalo kita yang ngajak."

Dengerkan? Bacot mereka, dan jangan kira hanya lelaki saja yang punya obrolan seperti itu, perempuan pun sama, punya yang namanya obrolan perempuan. Dan memang sudah biasa canda mereka seperti itu. Kalau ini sih masih wajar, kadang si Nita kalau nyapa kita itu suka banget mencet payud*ra.

Seperti tak wajar yah? Masa anak sekolah kelakuannya seperti itu, salah siapa? Salah gurukah? Yang kurang mendidik mereka dengan pendidikan agama dan moral pancasila? Atau salah orang tua yang asik dengan urusannya masing-masing? Atau salah pemerintahnya, yang tak mampu memfilter arus informasi? Sosial media merjalele, eh salah, merajalela. Akses internet yang menjadi jendela baru dunia, bukan buku lagi sekarang yang menjadi jendela dunia.

Inilah kami, generasi yang mungkin saja generasi kurang perhatian dan kasih sayang. Kalau hanya sekedar candaan dewasa sudah biasa kita lihat.Yang luar biasa, hampir setiap sebulan, dua bulan, atau tiga bulan pasti ada saja berita si A keluar dan si B dikeluarin, lantaran hamil alias bunting. Makanya yang merasa menteri pendidikan, pemerintah yang konsen ke dunia diknas sekali-kali sensus dong! Jangan nyaman di kursi empuk dan ruangan sejuk ber-AC.

Ups! Serly tau apa sih! Udah lah belajar saja yang benar, dan biar nanti bisa jadi menteri pendidikan, biar tahu rasanya bagaimana mengelola anggaran negara. Switching program bro!

Yang menjadi beban pikiranku saat ini, maksud kepala sekolah manggil gw ada apa yah? Asli bikin kacau otak, dan membuat gw tak tertawa lepas. Seharusnya kenapa tidak langsung saja memanggilku ke ruanganya pagi tadi? Kenapa harus pulang sekolah sih?!

Whatever! gw tidak pernah ada salah dan berulah dengannya, gw diam kok dengan apa yang gw lihat kemarin, kalau memang ia tidak melakukan perbuatan yang salah, kenapa harus takut? Dan pasang wajah panik.

gw memberanikan diri, dan mengumpulkan nyali ku untuk masuk ke ruangan bandot tua itu.

"Serly, elu nggak mau ikut kita maen ke rumah si Nita? Biasa ngerujaaaak..." Ucap Cindi.

"Ngerujak?"

"Iya ngerujak bibir.Ha-ha."

"Ah si Cindi elu dengerin. Loh udah ketemu kepsek?"

"Eh kalo ngerujak nggak pake bibir? Pake apa jadinya?" Cindi terus nyerocos.

"Ini gw mau temuin kepsek, eh elu pada udah megat jalan gw."

"Kita mau tungguin nggak?" tanya si Nita

"Terserah sih."

"Nanti lama nggak?" tanya Cindi

"Yaudah nanti gw nyusul deh."

"Bener nih elu nyusul?" Nita meragu.

"Yang ada nanti elu balik pulang lagi."

"Serius, gw nyusul."

"Kita tunggu ya? Awas aja bohong, gw sunat loh!" Canda Nita.

"Apanya yang disunat? Orang udah abis semua. Ha-ha."

"Bye Serli, hati-hati kan diantara kita yang masih perawan elo doang." Cindi nakut-nakutin gw .

"Kepseknya tajir ini Nit, haha!" Celetuk Nita.

"Udah aah, jangan lupa berdoa, kita tinggal yah?"

"Ok."

Mereka pun pergi, dan gw ? masih menyimpan tanda tanya, untuk apa kepala sekolah memanggilku?!

***Bersambung >>>

______________⭐⭐⭐⭐⭐***____________

Ikuti terus kisah gw yah kak, jangan lupa Votenya ( Apalah arti 10 point yang kakak punya) dibandingkan gw yang mencari uang seperti ini. hehem....

Jangan lupa juga Like, dan tinggalkan komentar, ⭐⭐⭐⭐⭐ dan ❤ Jadikan novel Serly novel Favorit kaka.

Terimakasih.

LA❤ YOU

Serly, Perempuan Penggoda

Terpopuler

Comments

Kim Sumi Ryn

Kim Sumi Ryn

lanjut

2020-07-13

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!