Yah, aku harus jadi orang tajir, mesti harus bergaul dilingkungan, tempat dan teman yang memiliki pemikiran sama. Bagaimana aku bisa jadi orang tajir kalau kelakuan, sikap dan cara aku memanfaatkan waktu seperti orang-orang miskin lainnya, untuk keluar dari kemiskinan maka aku harus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan itu.
Sepertinya ada yang lupa deh? Haha, aku terlalu asik dengan Bandot Tua itu sampai lupa kalau aku ada janji dengan Cindi dan Nita. Ah, biarkan saja dulu belum tentu mereka akan terus menemaniku, teman ada batasnya untuk menolong dan belum tentu mereka akan terus bersama, aku harus mencari peluang yang bisa membuat aku memiliki penghasilan. Bagaimana mau cari yang halal, yang haram saja susah di dapat.
Aku ikuti dahulu si kepala sekolah ini sampai dimana? Urusan dengan Cindi dan Nita bisa aku atur, bukannya kita bisa banyak kawan kalau uang sudah ditangan? Uang bisa membeli tawa dan canda, bukan?
"Sekarang kita mau kemana lagi pak?"
"Kamu suka karoke? Bisa nyanyi?"
"Yah dikit-dikit bisa sih pak."
"Di depan itu ada butik, kita beli baju salinan kamu dulu, baru masuk ke room karoke. Karena tidak boleh memakai seragam sekolah."
"Saya ikut saja pak."
Kami pun menuju butik dan salon yang jaraknya bersebelahan. Aku memilih baju yang aku suka dan pantas, lagi-lagi si Bandot Tua itu anggap kurang pantas lah, keliatan seperti anak kecil.
Yaaah, ujung-ujungnya ia memilihkan aku Knitted Dress, dengan Kerah Sabrina, - dan Lengan Pendek, serta corak crak ruffle pada bagian dada, dibalut warna navy hingga hampir nampak belahan dada. Yah, namanya juga gratisan dan aku pun menerima saja.
Sehabis memilihkan baju, ia membawa aku ke salon. Setelah aku di make up over dan kami pun menuju ke tempat karoke. Dan ini pengalaman pertama aku masuk ke tempat seperti ini, berdebar jantungku tetapi aku coba untuk tenang, agar tidak terlihat norak dan kampungan.
Ruang berukuran kurang lebih 210 meter ini, dengan design interior yang bagus, dan terlihat sebuah televisi besar, dibadingkan ruang tempat kami tidur di rumah itu bisa ketutup sama televisi itu. Sofa dengan warna merah marum, serta cahaya lampu yang redup semakin membuat aku berdebar. Aku lihat ada toilet di dalam ruangan. Sudah tahu kan apa yang aku lakukan? Yups, aku punya penangkal lelaki binal.
Aku bukan gadis yang munfik tapi bukan juga gadis to*ol yang melepas hymen dengan orang yang tidak tepat. Jika ada yang berani memberikan aku lebih, aku akan berikan kepada dia yang memang mampu membayar mahal. Karena before dan afternya yang harus dipikirkan juga. Jangan sebelumnya enak, dan ujung-ujungnya tidak enak, alias merugikan aku.
Kami pun memesan makanan ringan dan minuman yang aku baca memiliki kadar Alkohol tinggi, tetap aku memilih ice cappucino ha-ha, non alkohol. Sesekali ia memaksa aku untuk meminum apa yang ia pesan, rasanya cukup menusuk di kepala, dan mencekik tenggorokan.
Ueeks! Aku tak kuat mencium aroma Alkoholnya, aku paksa untuk meminumnya demi menghargai Pak Esek. Dan kamu tahu apa yang aku lakukan? Untuk mengantisipasi terlalu banyaknya minuman alkohol? Aku pura-pura sudah mabuk. Pak Esek mulai bermanuver dengan serangan-serangan yang mirip dengan guru muda itu, apa mereka satu ilmu-satu guru?
"Kamu mau apa lagi Serli? Bapak akan berikan, asal layani Bapak yaah?"
Aku tak menolak dan juga tak mengiyakan, aku hanya ikuti apa yang menjadi irama ia dalam bermanuver, sepertinya ia sudah mabuk. Aku mencari jalan agar ia merasa terpuaskan. Lelaki bukannya kalau sudah memuncah akan lemas terkulai bukan?
Ia mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan, dan ia masukan ke dalam garis dadaku. Aku pun terus bernyanyi dengan lagu yang sudah aku pilih, biarlah dia bergerilya dengan naluri lekakinya, dan aku punya batasan dan harga jika ada hal yang tak wajar akan aku tahan jemari nakalnya.
Hahaha, elo kira badan gw gratisan? Dan dibiayai dinas? Atau jangan-jangan uang yang ia berikan dijadikan laporan kerja dari biaya yang sudah dianggarakan.Wah, bisa-bisa salah menggunakan anggaran sekolah!Ah, perduli urusan Kepala Esek, otakku memikirkan bagaimana ia puas sesuai dengan uang yang sudah ia keluarkan.
Ia pun menarik tubuhku dan meminta aku untuk dipangkunya. Aku harus menuruti apa yang menjadi keinginannya. Aku pun duduk diantara dua pangkal paha Bandot Tua itu, dan sambil mengikuti irama lagu dangdut yang ia sudah pilihkan, untungnya aku hafal.
Dalam redupnya lampu room ia terus bergerilya dengan jemarinya, aku pun terus mengikuti irama lagu Dangdut Melayu, di atas pangkuan Bandot Tua itu, frekwensi dan kwantitasnya aku tambah. Kumis tipisnya mendarat di leher dan telingaku.
Seeeeer! Darahku pun mengalir ke seluruh tubuh, ia pun terus meremas pinggangku dengan kedua jemari lenganya, kumis tipis nya terus menempel di leherku.
Wah, bahaya kalau dia terus main di area sensitifku, bisa-bisa membuatku khilaf. Tiba-tiba aku terbayang wajah ibu, tengah menangis,"Maafkan Serli bu, biarlah Serli menjadi tumbal untuk sekedar melihat ibu tersenyum dan Fadil tak merengek menahan air mata karena ibu tak mampu memberikan ia uang jajan.
Badot Tua itu terus menggerayangi tubuhku, setiap kali jemari nakalnya ingin menyentuh area terlarang aku tahan, aku ambilkan lagi segelas minuman. Agar cepat memuncah dan selesai lah tugasku.
"Jadi simpenan bapak yaah?"
Wow! Dia menawarkan aku untuk menjadi simpanan, wani piro bosqiu? Nggak kebayang kalau aku benar-benar jadi simpanannya.
"Emang bapak sanggup kasih uang jajan aku?"
"Berapa sih yang Serli pinta? Sehari dua ratus ribu cukup?"
"Itu hanya uang jajan tuk Serli aja kan pak?"
"Iyalah, kalau urusan keluar-keluar seperti ini beda lagi."
Aku hitung-hitung, untuk uang cash yang ia berikan lima ratus ribu rupiah, handphone yang kini ada dalam genggaman aku saja harganya sudah dua juta lebih, belum pakaian, belum bayar room, makan dan minum.
Kentel juga! Maksud aku kentel juga uangnya dan cukup royal.
"Tapi pak?"
"Tapi apa?"
"Urusan dengan guru biologi itu bagaimana?"
"Sudah saya beresekan tadi sebelum kita keluar, dan tidak akan mengganggu Serli lagi. Kalau sampai mengganggu bisa saya pindahin ke SMA di Papua sana."
Fix, aman! Lega aku dengarnya setelah tahu aku menerima perlindungan yang cukup kuat.
"Bagaimana mau nggak? Jadi simpanan bapak?"
"Memangnya kenapa dengan istri bapak?"
"Serli, pernikahan itu ada jenuhnya dan urusan lainnya pun hanya sebatas memenuhi kewajiban, bukan kepuasan."
Aku belajar dari apa yang ia ucapkan, dan dari situ aku paham apa yang lelaki inginkan.
Bersambung >>>>
_________________😘😘😘_______________
Sampai disini, jangan lupa like 👍 dan Vote serta tinggalkan komentar kamu, serta tebak apa yang akan aku lakukan untuk bertahan hidup. Untuk update ceritanya, jangan lupa tekan ❤ biar Serly semangat bercerita.
Terimakasih kakak,
Lav you ❤
Lanjut...
__________________________________________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Kim Sumi Ryn
ih wow kok ngeri yah 🤣🤣
2020-07-17
0
Elly
Rela Berkorban Demi Sebuah Senyum Untuk Keluarga...Semangat Serli...Smoga KaubMendapatkan Kebahagian
2020-07-17
1
Noejan
serli bukan boneka pak😥
2020-07-17
1