Naik turun speedometer mengantarkan kami mengaspal begitu lambat. Sengaja guru Irawan hanya melajukan kendaraanya mentok di 20 Kilometer/jam. Selain memperlambat untuk sampai di sekolah, bertubi-tubi sanjungannya berusaha menerobos ruang hati.
Ampun, tidak perlu segitunya untuk menaklukan hati ini pak guru. Mencium aroma tubuh loh aja gw meleleh. Yah tak apalah, teruslah merayu,setidaknya gw akan tahu seberapa gigihnya bapak berusaha hanya untuk mendapatkan jawaban,"Iya saya mau jalan sama bapak."
"Dari murid yang lain, nggak tau kenapa saya tertarik sama kamu loh Ser." Gw hanya mendengarkan ia merayu, dia tidak tahu hati ini tersanjung, walau aku tahu omonganya itu demi memuluskan rencananya.
"Ah bapak bisa saja merayu, bukannya Cindi, Nita dan Uci itu lebih cantik dari saya?"
"Mereka cantik tapi kurang menarik."
"Secara bapak lumayan keren, motor sport bapak bisa membuat hati gadis yang lain meleleh. Siapa sih yang nggak mau punya pacar cowo keren." Belum tahu dia kalau seorang Serly sudah merayu, sama seperti parfum bapak yang wanginya awet.
"Aaah bisa aja kamu, dirayu malah balik merayu."
Kan situ duluan yang mencoba merayu, gw hanya siap menerima umpan lambung saja kok.
"Saya mah pak apa adanya, bukan ada apanya."
"Jadi kesimpulannya? Kapan kita bisa jalan bareng?"
"Atuh kalau jalan, gunanya motor bapak beli untuk apa pak?"
"Hahaha, kamu bisa aja ngebalikin omongan. Maksud aku, kita main di luar sekalian beli kebutuhan kamu, biar nggak kalah cantik dengan murid perempuan lainnya." Masih saja ia melancarkan rayuan yang mematikan, kali ini bukan sekedar omonganya saja, tangannya mulai liar mencoba menggapai jemari ku.
Tunggu, tunggu, ada kata yang janggal, ia pakai kata 'aku' untuk mengganti sebutan 'bapak'.
"Aku? Bapak ini Chairil Anwar yah? Tapi ngomong-ngomong tangannya jangan asal narik dong!"
"Iya aku dan kamu." Sangkalnya masih saja ia mencoba menggapai tanganku.
"Kalau lagi berkendaraan itu, perhatikan ke depan pak. Jangan tangannya asal comot, awas aja salah pegang."
Gw mulai memberikan sinyal 'nakal' kalau saja ia peka. Hingga akhirnya sedikit keras ia menarik jemari gw dan melingkarkan di pinggangnya. Hingga akhirnya tubuh gw jatuh di pundaknya, dan gw pasrah dalam harum tubuh guru muda itu.
Ngga tau kenapa jantung ini berdebar dengan kencang dan darah mengalir ke seluruh tubuh, syaraf yang semula tersumbat seperti tak ada hambatan. Menggetarkan dada, menjalar ke seluruh tubuh, nyaris tak ada anggota tubuh yang tertinggal untuk di lalui darah.
Gw lihat dari spion ia tersenyum, merasa ia telah berhasil dengan usaha pertamanya.
"Saya malu pak, ini di tempat umum. Bahaya kalau sampai ada lain melihat. Nanti mereka berpikir yang nggak-nggak."
Ia tidak tahu apa? Kalau aku juga gadis normal yang punya indra perasa seperti gadis yang lain ketika beresentuhan dengan lawan jenis. Bahaya kalau saja ia tahu, apa yang aku rasakan saat ini.
Tapi ada yang aneh, mengapa ia tidak melalui jalan yang sering kami lewati dan justru berputar jauh.
"Kok nggak lewat jalan biasanya pak?"
Aduh!Jangan-jangan ia merasakan apa yang gw rasakan saat ini, saat tubuhku jatuh di punggungnya.
"Masih tersisa waktu setengah jam lagi, aku mau ajak kamu sarapan dulu. Pasti belum sarapan kan?"
Huf, gw kira dia mau ngajak gw ke jalan yang nggak banyak dilewati orang, atau ketempat sepi dan dia bakalan ngelakuin perbuatan yang nggak-nggak, otak gw saja yang ngeres rupanya.
"Sarapan dimana pak?"
"Jangan panggil aku bapak, terkesan tua banget. Panggil aku Mas atau Kak atau panggilan apa saja yang membedakan murid dan guru."
Masa iya, gw panggil dia sayang, beib, ayank, hubby atau istilah lain layaknya sepasang kekasih yang dimabuk asmara.
"Aku panggil cumi atau bro saja bagaimana pak? Haha."
"Panggilan yang istimewa keeek, jangan asal sebut."
Gw tahu maksudnya, ia mau gw panggil sayang, beib, atau ay. Jadian saja belum, bilang cinta saja tidak, belum ada pernyataan resmi dan sikap layaknya ia meminta aku untuk menjadi orang yang istimewa dalam hidupnya.
Nggak jauh dari sekolah, rupanya ada warung nasi yang tempatnya jauh dari keramaian, disitu gw sama si guru berhenti dan sarapan. Tapi, lumayan sepi tempatnya tak ada satu pun teman sekolah yang tahu tempat ini. Ada balai dari bambu juga, dan membelakangi warung tersebut, benar-benar sepi.
"Kamu mau sarapan apa? Tinggal pesan nanti juga diantar."
Gw pesen makanan, sedikit berbeda dengan pagi yang sudah aku lalui. Kini tak ada lagi nasi goreng tanpa kecap dan minyak goreng yang sudah sekian lama dipakai berulang-ulang.
Sambil menunggu pesanan diantar, guru muda itu menatap gw tajam. Pandangannya liar seakan melucuti semua anggota body gw, mulai dari ujung rambut dan organ tubuh lainnya.
"Idih apa sih pak ngeliatinnya begitu banget."
Jarak duduk kita yang semula berjauhan, kini hanya berjarak beberapa centimeter saja. Aroma tubuh guru muda itu seakan memberikan kenyaman tersendiri. Membius pusat syaraf dan membuat debar jantung ini menjadi tak menentu.
Masih canggung yang aku rasakan, bagaimana mungkin seorang guru bisa tertarik sama gw yang hanya seorang gadis miskin yang jauh dari kata menarik. Dan hampir buat gw nggak percaya diri.
Jangan-jangan ia hanya buat gw gede rasa saja, atau mau coba-coba mengetes doang. Dan khawatir terkesan gampangan. Walau sebenarnya gw butuh sesuatu di luar dari sekedar cinta.
Pak Irawan terus mendekat, semakin tajam tatapan matanya, semoga aja gw bisa mempertahankan harga diri, dan tidak terkesan mudah ia taklukan.
Jemarinya mulai membelai rambut, dan ujung kukunya begitu lembut mendarat di wajah. Bibirnya kian mendekat, terus dan terus mendekat.
"Ser, mau jadi pacar aku?" Akhirnya keluar juga pernyataannya yang gw tunggu-tunggu, aslinya gw pun bingung untuk menjawabnya. Ingin rasanya meremas dan menarik pipi guru muda itu. Dan bibir gw mendarat di bibirnya, sambil menjawab,"Iya, gw mau jadi pacar loh guru tampan."
Aaah, gw nggak mau semurah itu. Dan dengan mudahnya ia rampas apa yang selama ini aku jaga dengan baik. Ta...tapi, ia terus mendekat dan jarak bibir gw sama dia hanya tersisa satu centimeter.
"Mau jadi pacar aku?" Hangat nafasnya mulai memburu dan kedua jemarinya sudah melingkar di pinggang. Gw nggak berdaya, seperti seekor anak itik dalam cengkraman elang.
"Percaya deh, aku akan jaga hatiku hanya untuk kamu." Gw nggak bisa berkata apa-apa, selain merasakan debar jantung dan aliran darah yang terus membasahi syaraf di sekucur tubuh, dan jemarinya begitu keras ngeremes pinggang gw.
Mau banget gw jambak rambutnya dan meluapkan semua apa yang tertahan di dada dan otak gw. Bibirnya semakin mendekat, remasan jemarinya kian mengunci tubuh yang sudah tersudut dalam sisi ruang.
"Mas, ini pesanannya." Suara itu mengejutkan dan membuat kami tersipu malu. Seolah tak adakah tempat lain yang lebih nyaman selain di atas balai bambu warung nasi?
Bersambung >>>>
Dan akhirnya suara si pelayan warung nasi itu membias suasana dan melapas cengkaram jemari guru muda, apa di kesempatan dan tempat yang lainkah, guru muda itu mampu menaklukan hati Sherly?
Jangan lupa Vote, like dan komen nya yah? Biar Serly terus semangat memainkan kedua jemarinya untuk menuliskan perjalanan hidup dalam novel ini.
Terimakasih Readers Yang baik hati
LAV ❤ YOU SERLY
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
aria
awwww
2020-10-04
0
Kim Sumi Ryn
akan ada kejutan lagi ni kayanya ..
2020-07-08
1