Kamar 202 : UGD, Unit Gawat Deh

Gw dan dia menghabiskan beberapa potong ayam goreng, makanan pencuci mulut dan soft drink. Tapi, di tengah menikmati makanan itu tiba-tiba saja gw kepikiran,"Apa Ibu dan Fadil sudah makan? Atau saat ini mereka sedang merasakan perihnya perut dan nggak ada lagi yang bisa dimakan!Sedangkan aku disini begitu asiknya menikmati hidup." Gw cuma bisa narik nafas dalam-dalam dan mencoba menahan air mata.

"Kamu kenapa Ser?" tanya guru muda itu yang melihat mataku sembab dan berkaca-kaca.

"Oh nggak apa-apa kok pak, hanya kelilipan saja."

"Serius kamu? Ayolah cerita, apa karena kamu tersinggung dengan ucapan dan sikap aku?"

Berhubung dia terus memaksa, gw pun akhirnya menceritakan apa yang membuat gw murung.

"Eem...tiba-tiba aja saya keinget ibu dan Fadil adik Serly, apa mereka sudah makan atau belum."

Seketika itu juga guru muda itu memesan menu yang sama.

"Mas, tolong pesen menu seperti ini dua porsi yah?" spontan ia pun memesankan menu yang sama seperti apa yang kami makan.

"Makan disini pak?"

"Take a way."

"Siap pak, ditunggu yah." Ucap waiters tersebut.

"Ok. Jangan lama yah?"

"Siap pak."

Waiters langsung menuju kasir, untuk memberikan catatan yang kami pesan.

"Harusnya hal-hal seperti ini kamu ceritakan saja, nggak usah kamu simpan. Kalau untuk urusan adik dan ibu kamu aku ikhlas kok."

Manusia ada kelebihan dan kekuranganya, Pak Irawan selalu mersepon apa pun yang aku keluhkan dengan cepat.

Entahlah, gw harus bagaimana membalasnya dan gw khawatir doi bakalan minta lebih. Ada kekhawatiran tersendiri bagi gw disaat kebaikan yang diberikan, akan meminta balasan lebih. Kadang kita tidak pernah tahu dalamnya hati seseorang, tidak bisa membedakan mana yang tulus dan modus.

____________⚠️Serly Quote :⚠️__________

Ikhlas bagiku sama seperti kamu buang air besar, pernakah menyesal dengan apa yang sudah kamu buang?

__________________________________________

Memang tidaklah mudah untuk melepas sesuatu yang kita miliki, tanpa pamrih dan menuntut lebih.

Dan apa yang diberikan guru muda itu, aku sendiri tidak tahu ada apa dibalik ini semua?Huft! Apa pun yang menjadi pilihan dalam hidup pasti ada resikonya. Aku harus mulai memikirkan hal itu. Walau terkadang, kebaikan yang kita berikan, belum tentu dinilai baik pula.

"Sebelumnya Serly ucapkan terimakasih ya pak? Bapak sudah care dengan keluarga Serly, semoga keikhlasannya dibalas Tuhan." Semoga ucapan ku ini menjadi pertimbangan lain dan meluruskan niatnya.

"Sudah kewajiban itu mah Ser."

"Iya pak, sekarang kita kemana?" Tanyaku untuk mengingatkannya, kalau ada satu janji yang belum ia tunaikan.

"Kita ke supermaket dulu, terus beli kebutuhan untuk ibu dan adik serly di rumah."

Nah ini yang aku tunggu, oleh-oleh untuk Ibu dan adikku. Sudah kebayang, bagaimana bahagianya mereka. Dan semoga malam ini, bisa bermimpi indah, tanpa harus diusik suara perut di malam hari.

Kami pun menuju sebuah supermaket yang tak jauh dari foodcourt . Aku pun disuruhnya memilih apa saja yang harus dibeli. Lagi-lagi aku takut dibalik kebaikannya, berbuntut hal yang tidak aku harapkan. Semakin ia berbuat baik, justru membuat ku risih. Takut ada budi yang tak bisa aku balas, dan akhirnya pasrah dengan kebutuhan serta keadaan.

"Serly kamu pilih yah, apa yang ibu dan adikmu butuhkan sehari-hari. Biar aku yang akan membayarnya."

"Iya pak, terimakasih."

Kalau aku hitung-hitung satu hari ini, iya sudah menghabiskan uang kisaran satu juta. Mulai dari pagi saat aku diberikan uang jajan, untuk pakaian sendiri saja hampir lima ratus ribu, ditambah belanjaan untuk ibu.

Hampir satu jam kami memilih apa saja yang harus aku belikan untuk ibu, bahkan sampai beras aku beli. "Aji mumpung juga sih, kapan lagi bisa seperti ini, dan takut satu waktu si Elang Ganas ini sadar, ha-ha."

Setelah kami selesai membeli kebutuhan ibu, kami pun tak berlama-lama lagi di mall tersebut. Bukan tanpa alasan, yaealah dari siang di Mall terus, dan pastinya Mall juga ada jam operasionalnya. Jangan sampai pihak Mall membuat selembar pengumuman,'Pemilik Nama Serly dilarang masuk, habisnya norak ngerasain AC nggak mau pulang." Ha-ha, garing yah?

Saat kami melajukan sepeda motor, tangannya Elang Ganas itu mulai beraksi, kali ini berpura-pura menggaruk punggung dengan alasan gatal.

Yah tapi tolong juga pake aba-aba, jangan main garuk begitu aja, sudah tahu aku bersandar di punggungnya. Lelaki banyak modusnya!

"Aiih bapak, bahaya banget garuk punggungnya."

"Kenapa?"

"Takut aja balon Serly meletus kena garuk."

"Haha, bisa aja!"

Lagi-lagi tingkahnya aneh, motor yang kami kendarai tiba-tiba masuk ke kesebuah tempat yang aneh. Tempat dimana banyak sekali orang tersenyum kepada kami, mulai dari parkir motor sampai ke sebuah meja tinggi.

"Selamat datang." Ucap wanita di balik meja yang di depannya tertulis,'Receptionist' tempat apa ini?

( "Itu Hotel Serly!" Kok kalian tahu sih? Hayo loh!! )

"Mau yang standart atau double bed pak?" Ucap gadis bernama Receptionist itu yang aku paham bahwa bed itu, tempat tidur bukan? Aku pun baru tahu kalau itu sebuah hotel saat melihat gantungan kunci yang si Mba Receotionist itu berikan.

"Silahkan ikuti petugas kami ya pak."

Dan kami pun mengikuti arahan si mba itu, di depan kami sudah ada seorang lelaki dan ia pun melempar senyum, aku merasa tersanjung dengan senyuman lelaki berambut ikal dan terlihat basah, kulitnya pun putih. Yang lebih menariknya lagi, lesung di pipi nya.

Aku melihat sepanjang jalan yang kami telusuri di tempat itu, pintu kamar lengkap dengan nomor berurutan. Setiap langkah yang aku ayun, semakin membuat jantung ini berdebar kencang. Dan langkah kaki ini berhenti di atas karpat tebal yang sepanjang jalan yang aku lalaui.

"Ini kamarnya ya mas," seraya sambil menunjukan semua kabar dengan nomor 202 tertempel dengan ukiran kayu di daun pintu.

"Jika ada yang ingin dipesan silahkan tekan Nol, kami akan kembali melayani anda." Begitu tertata bahasa dan gerak tubuhnya, dan lagi-lagi ia tersenyum. Apa ditempat ini jualan senyum? Ataukah ada penampilanku yang membuat mereka tersenyum? Entahlah...

Yang pasti langkahku semakin berat saat masuk ke dalam ruangan dengan pajangan dinding wanita seksi begitu besar tertempel. Ruangan ini begitu nyaman, tapi justru tidak membuatku aman.

Di dalam ruangan itu pun aku melihat sebuah tempat tidur dengan selimut putih tebal dan handuk yang sudah dilipat begitu rapih, dengan dua buah sikat gigi, serta dua benda kecil dengan kemasan berwarna putih, tertuliskan 'Harmoni' Body soap.

Aku mencium wangi ruangnya, tetapi justru aku merasakan aroma tak sedap dengan apa yang akan guru muda itu lakukan pada ku.

Bersambung >>>

Doakan Serly baik-baik saja yah kak, dan terlindung dari cengkraman Elang Ganas itu.

Jangan lupa Like 👍, Vote dan Komentarnya serta ⭐⭐⭐⭐⭐, jangan lupa juga! Tekan ❤ untuk menjadikan bacaan favorit kakak.

Terimakasih Kak😘

L❤V YOU

Serly Perempuan Penggoda

Terpopuler

Comments

Mei Saroha

Mei Saroha

wah... aq ketinggalan ceritamu Thor...

2024-08-12

1

i.g : emhaalbana

i.g : emhaalbana

modus mungkin

2020-07-10

2

Kim Sumi Ryn

Kim Sumi Ryn

baik mungkin tu guru atau ... modus 🤔

2020-07-10

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!