Udang Tua di Balik Batu

Cemas, lima huruf itu yang kini memenuhi hati. Padahal hanya lima huruf, tapi mengapa buat ku ragu untuk mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Dari bentuk pintunya saja sudah cukup membuat spot jantung, apa lagi masuk ke dalamnya.

Beberapa centi lagi sendi jari tengahku menempel di daun pintu. Tapi belum terkumpul juga nyali untuk sekedar mengetuk pintu.

Kenapa aku harus takut ya? Padahal memang tidak punya salah apa-apa,aah cuek aja deh!

Akhirnya aku memberanikan diri, dan saat orang penentu kebijakan sekolah itu membukakan pintu, rasa cemas itu muncul lagi.

"Heh Serli, sini masuk. Bapak tunggu-tunggu, sekalian mau nawarkan makan siang."

Semoga ini bukan modus Tuhan! Selangkah demi selangkah aku masuki ruangan yang hanya ia saja di dalamya. Tiga baris sofa tinggi tertata begitu rapih, beberapa trophy tersusun dalam etalase, sejuknya pendingin ruangan membius rasa ketakutanku. Dua petinggi negara terbingkai di dinding ruangan, andai saja aku berada di dunia Harry Potter mungkin dua figur orang nomor satu dan dua negeri ini akan bicara.

"Saya harapkan bapak kepala sekolah jangan macam-macam, haha." Dengan logat Jawa kental.

Dan yang satunya akan bicara dengan khas santri," Ingat! Jika dua orang berlainan jenis kelamin di dalam satu ruangan, maka ketiganya syaitan,bukan begitu pak presiden?"

"Kalau urusan syaitan dan jin itu ranah pak wapres saja, kalau saya biarkan atur kabinet dan tentukan kebijakan."

"Sepertinya jam mata pelajaran agama harus ditambah, dan bukan saja untuk murid tetapi kepsek dan guru-gurunya, agar bisa menjaga pandangan, karena kata A.Rafiq,' Pandangan pertama, awal aku berjumpa.' hahaha, bukan begitu pak kiayi? Masa sih harus saya juga yang turun tangan? Bagi tugas doong!" tambah sang figur presiden.

"Siap-siap pak presiden."

"Panggil mendikbud, jangan hanya bisa bikin aplikasi saja, tapi implementasikan rencana jangka pendek dan panjangnya? Ini juga kan masalah umat, masalah rakyat pak kiayi,ha-ha."

"Jangan siap-siap saja, tapi realisasikan segera agar tidak ada lagi guru makan murid. Atau guru kencing berdiri, murid ngencingin guru, bahaya itu."

Sayangnya itu hanya halusinasi aku saja, pada kenyataanya fakta di lapangan berbeda. Susah juga jika negara mengatur ratusan juta penduduknya. Huft! Aku bisa maklumi itu, walau bukan kapasitasku.

"Kemarin Serli nonton sama siapa?"

"Sa...sama temen rumah kok pak."

"Bener sama temen rumah?" Kepesek tajir itu mulai introgasi ku.

"Bener kok pak."

Lalu ia pun membuka handphone nya dan masuk ke folder galeri, ia tunjukan sesuatu kepadaku.

"Lalu yang disebelah kamu siapa? Sepertinya Bapak kenal dengan dia."

Mati gw! Kok dia bisa dapet foto gw sama si Elang ganas itu sih! Rupanya dia megang koncian gw.

"Iii...iya pak...He-he!" Aku hanya bisa tersenyum tipis dengan jantung berdebar, dan tidak tahu apa maksudnya.

"Dengan pakaian terbuka dan duduk begitu deketnya, di dalam bioskop. Masa iya nggak ada hubungan apa-apa?" Kepsek tajir itu terus cecar aku dengan sindiran-sindiran.

"Memang tidak ada hubungan apa-apa dan sebatas temen jalan aja."

"Ok, bapak coba percaya itu kalau memang kamu tidak ada hubungan apa-apa."

"Memang tidak ada hubungan apa-apa pak, suer!"

"Kalo foto ini banyak orang yang tau, bisa rame nggak?"

Aduh! Mulai ngancem-ngancem. Pastinya ramelaaah, pake nanya.

"Oh iya, kamu juga belum lunasi beberapa administrasi sekolah yah?" Ia sambil membuka catatan tunggakan aku.

"I..iyaa pak."

"Bapak bisa menghapus tunggakan Serli dan bapak pastikan foto ini aman, asaaalkan...."

"Asalkan apa pak?"

"Asalkan, bapak mau juga seperti pak Irawan."

"Maksud bapak?"

"Yaah, kamu ngapain aja sama guru biologi itu?"

"Nggak ngapa-ngapain pak."

"Yakin? Nggak ngapa-ngapain?!"

"Yakin pak!"

Lalu ia menunjukan foto berikutnya, dan menggeser beberapa foto lagi, ia tunjukan sebuah video.

"Lalu ini apa?"

Aku terkejut, saat aku melihat video aku memeluk Elang ganas itu.

"Yah sebatas itu saja sih pak."

"Bener? Sebatas itu saja?!"

"Bener pak, asli...serius!"

Jari telunjuknya pun menggeser touch screen handphone kembali.

"Lalu kalau ini, Serli mau kemana? Kok masuk ke tempat seperti ini?!"

Untuk video kedua aku lebih terkejut, kok bisa ia dapat video aku masuk ke hotel, darimana yah? Dan aku mulai tak berkutik dengan apa yang ia tunjukan, seolah menempelkan kepala ku dengan senpi laras panjang.

"Lalu mau bapak seperti apa?"

"Yah seperti dia, bahkan aku bisa berikan lebih dari apa yang ia berikan."

Dan aku semakin bimbang, ragu, khawatir semua berbalut dalam peluang. Yah, peluang lebih mendapatkan dari apa yang Elang ganas berikan. Walau bandot tua ini pastinya akan lebih ganas dari si Elang bondol itu.

"Ta...tapi pak?!"

"Bapak paham kok dan pasti aman, bapak tau cara main aman."

Nyaris aku tidak tahu harus berkata apa, yang ada di pikiranku tawaran yang ia berikan, membebaskan ku dari administrasi sekolah yang jumlahnya cukup besar, dan tak mungkin aku bisa lunasi sampai aku kerja nanti pasti akan terus aku cicil. Bahkan ia mau memberikan aku lebih dari apa yang Elang bondol itu berikan.

Tidak mungkin aku langsung menerima tawarannya, aku juga tidak mau sembarangan juga menerima itu semua. Aku harus tarik ulur, dan tidak langsung meng-iyakan apa yang Bandot Tua itu tawarkan.

"Kalau masih kurang yakin, ini untuk uang muka dan jajan kamu." Iya pun memberikan enam lembar uang lima puluh ribuan.

"Maksud bapak?"

"Untuk jajan Serli aja kok, bukan upah temenin bapak jalan."

Aku tetap bertahan dan tidak mau dipandang murahan, gampangan serta dianggap cewek matre.

"Ambil...ambillaah..." Ia terus menyodorkan uang itu, bahkan ia berdiri di sampingku. Mulutnya mendekat ke telingaku, aku merasa geli dengan kumisnya yang hampir mendekat ke kulit telinga ku,"Bapak harap kamu juga bisa menyembunyikan urusan Serli dan bapak." Ia pun memasukan uang itu ke saku baju ku, dan menyentuh bagian terlarang.

"Apa kurang?" ia pun mengambil lagi selembar uang seratus ribu rupiah, dan memasukan lagi ke dalam saku bajuku. Aku semakin tak berkutik, ia telah menyentuh bagian sensitif tubuhku.

Nyeeeees, darah mengalir di sekujur tubuh dan kembali detak jantung ini berpacu. Mau menolak tetapi sudah terlanjur ia masukan uang itu ke dalam saku baju.

"Kapan Serli ada waktu? Dan dimana bapak bisa jemput Serli? Kalo bisa jangan di sekitar sini yaah? Hari Minggu kita jalan cari tempat yang hanya Serli dan bapak saja di situ.

Apa aku bisa kuat lewati ini semua? Dan aku mesti cari cara aman karena dampak dari ini semua yang aku khawatirkan.

Bersambung >>>

_____________⭐⭐⭐⭐⭐____________

Hi, Kaka, Om, Tante pembaca, terimakasih sudah ikuti cerita Serly, yang hanya sebatas halusinasi aja sih. Oh iya, maaf kalau ada ejaan dan tulisan serta penempatan tanda baca yang salah, Serly ucapani mohon maaf atas ketidak nyamanannya.

Ikuti terus kisah aku yah kak, jangan lupa Votenya ( Apalah arti 10 point yang kakak punya) dibandingkan aku yang mencari uang seperti ini. hehem....

Jangan lupa juga Like, dan tinggalkan komentar, ⭐⭐⭐⭐⭐ dan ❤ Jadikan novel Serly novel Favorit kaka.

Terimakasih.

LA❤ YOU

Serly, Perempuan Penggoda

Terpopuler

Comments

aria

aria

runyam dah

2020-10-04

0

Elly

Elly

klo bisa Up nya jngan lama2 thor

2020-07-14

4

Kim Sumi Ryn

Kim Sumi Ryn

Gila dasar kepsek gak ada akhlak. ..

2020-07-14

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!