Dan Pagiku Hilang

Chandra menawarkan gw kenalan om-om, yah, memang suara sumbang tentang prostitusi di kalangan pelajar bukan lagi sesuatu yang tabu, mungkin lima persen dari murid perempuan ada yang sebagian memang secara terselubung dan dibeberapa sekolah yang notanenenya hanya mementingkan kelulusan saja masih bisa kita temui kok, di kota-kota besar, apa lagi Jakarta.

Kota yang gw impikan dan kelak gw harus sampai disana dan menjadi bagian si penakluk Ibu Kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Heem, sekajam-kejamnya ibu tiri nggak akan tega memakan anaknya sendiri.

Apa yang Chandra tawarkan itu memang hal yang biasa, orang seperti Chandra biasanya mendapat tambahan uang jajan seperti itu. Tapi sayangnya kenapa dia nggak tawarkan Cindi aja yaah? Yang sudah terlanjur terlepas segelnya, Ha-ha.

Yasudahlah, malam ini gw bisa bermimpi indah dan dapat memberikan uang untuk ibu besok pagi. Semoga saja keberuntungan ini akan terus gw dapatkan dan harapan itu akan selalu ada. Walau banyak resiko yang gw akan temui nantinya, gw siap. Asal ibu dan Fadil bahagia.

Handphone yang gw dapatkan ini, sebagai modal untuk gw mencari peluang yang ada. Dan harus gw kuasai. Sekarang sudah nggak sulit untuk mencari mereka yang memang butuh jasa kehangatan, terlebih banyak aplikasi sosial media yang bisa gw gunakan untuk mencari kenalan baru.

Kini dunia benar-benar ada dalam genggaman dan gw perhatikan di playstore ada aplikasi yang sering digunakan perempuan dewasa gunakan dalam mencari mangsa. Jadi teringat Kakak yang tadi siang gw lihat di restouran itu, pasti gw bisa seperti dia dan harus lebih darinya, secara usi gw masi muda, penampilan pun nggak kalah menarik sepertinya.

gw pun mulai mencari tahu jejaring sosial yang bisa gw gunakan, untungnya gw punya rasa penasaran yang tinggi. Semalaman ini gw oprak-oprek handphone pemberian Kepala Esek, Bandot Tua itu.

Ketika gw letih browsing, dan men-download beberapa aplikasi mata ini tertuju ke wajah ibu dan Fadil yang begitu letih dan tertidur pulas. Syukurlah, sudah tiga malam ini mereka dapat tertidur nyenyak. Namun air mata ini tiba-tiba tumpah, saat melihat gurat wajah, putihnya rambut ibu dan nafasnya.

*Bu, maafin Serli yah? Serli terpaksa melakukan ini karena sudah letih dengan kesulitan hidup yang sudah gw alami sejak dalam gendongan ibu. Rasanya harus Serli akhiri keperihan hidup ini, sekalipun cara Serli salah.

Bu, Serli janji akan keluarkan ibu dan Fadil dari kesulitan ini, izinkan Serli menjadi pela*ur bu*?

Tuhan, jangan kau ambil ibu sebelum aku dapat bahagiakannya, andai saja nafasnya terhenti. Rasanya kimat kecil itu akan singgah dalam hidup ku.

Berikan aku kekuatan dan kesempatan untuk bisa membalas baktinya kepada kami. Tidak mudah merawat dua anak, hingga besar seperti ini hanya seorang diri tanpa sanak-saudara dan nggak seorang pun peduli dengan keadaan kami, dialah ayah sekaligus ibu bagi kami.

Biarlah aku gandaikan masa muda ku ini, demi orang yang aku cintai dan sayangi.

Tuhan, maafkan aku dengan jalan yang terpaksa a gw pilih, a gw tahu ini salah tetapi kelak izinkan a gw kembali kepada Mu dalam keadaan yang baik. Karena a gw tahu, Maaf Mu lebih dahulu dari pada murka Mu.

Rasanya malu berucap seperti mereka pada umumnya, 'semoga lelah gw menjadi ibadah.' Yang pantas mengucapkan kata-kata seperti itu, mereka yang kerjanya menguras keringat. Tapi bukannya gw juga mengeluarkan keringat yah? Ha-ha, keringat apa dulu kan.

Kadang gw berpikir, apa salahnya mereka yang menjajahkan tubuh dan menjual jasa kehangatan, dimana salahnya? Bukannya sama saja seperti penjajah jasa lainnya, hanya berbeda jenis jasa yang ditawarkan. Lalu mengapa mereka yang memilih profesi seperti ini dianggap tabu? Kasarnya gw memberikan jasa kehangatan bagi lelaki yang memang nggak mendapatkan pelayanan yang baik dari pasangannya atau nggak sedikit juga yang datang itu nggak memiliki pasangan alias single.

Jika ada pasangan yang jajan di luar itu salah siapa? Bukannya salah dari pasangannya yah? Yang nggak bisa menjaganya dengan baik. Rasanya di dunia ini nggak ada satu pun pasangan yang setia, mereka bertahan karena komitmen di atas kertas berlambang burung garuda atau legalitas negara.

Sudahlah, biar semua itu ada yang mengatur untuk menyelesaikannya. Salah gw juga yang kadang senang banget cari bahasan dan bingung dengan keadaan seperti ini, serta sudut pandang orang pada umumnya. Yang pasti, besok pasti ibu senang dengan uang yang akan gw berikan, sebagiannya gw mau traktir Cindi dan Nita yang bakalan marah karena gw nggak menepati janji dan malah pergi dengan Bandot Tua itu. Sebagainya lagi gw akan tabung untuk cicil modal penampilan.

Selamat malam pembaca yang baik, jangan lupa bantu Serli dengan votenya yah? Biar Serli malam ini bisa tidur nyenyak dan nggak lelah berbagi kisah hidup Serli, dan gw ucapkan terimakasih untuk pembaca setia novel ini, h**appy nice dream.

__________________⭐⭐⭐_______________

nggak terasa begitu cepat waktu bergulir, baru rasanya menikmati malam yang dengan heningnya menjadi kawan bercerita, evaluasi diri dan mencari arti hidup, begitu singkat dan bertambah usia gw satu hari ini.

Ini hari ketiga, gw melihat di meja sudah tersedia teh manis hangat dan nasi goreng yang nggak lagi terlihat pucat, kali ini lengkap dengan telurnya.

Syukur gw ucapkan pada Mu Tuhan, yang memberikan kami nikmat pagi ini. gw pun senang melihat ibu dan Fadil nampak ceria.

"Sarapan dulu Nak,"

"Wih, sarapannya enak yah?Oh iya, ini Bu ada uang untuk belanja siang dan jajan Fadil." gw berikan dua lembar seratus ribu.

"Banyak amat uang kamu!Darimana ini?! Kamu nggak macem-macem kan nak?"

Dalam hati gw , lebih dari satu macem bu.

"Yah lagi ada rezekinya aja bu, doain Serli bisa terus kasih ibu uang dan jajan Fadil."

"Tapi ini darimana?"

"Ibu kan tahu, ak pulang malam terus karena Serli kerja sampingan, ada lowongan di restauran dan Serli kerja sehabis pulang sekolah, nggak apa kan bu?"

"Tapi jaga kesehatan kamu juga, seharian sekolah terus kerja segala."

"Kalau itu ibu nggak usah khawatirkan Serli di luar juga makan dan tetap jaga kesehatan."

"Syukurlah, tapi kamu nggak macem-macem di luar kan?"

"Nggak lah bu, Serli kerja untuk biaya perpisahan sekolah, yang sebentar lagi ujian dan butuh biaya nggak sedikit."

"Maafin ibu naak, andai bapak mu masih ada mungkin nggak separah ini." gw lihat mata ibu berkaca-kaca.

"Jangan kita sesali jalan hidup ini bu, tapi kita syukuri dan sudah jalannya. Sekarang tugas ibu berdoa untuk kebaikan kita."

"Iya nak. Ibu juga bingung, kemarin siang ada petugas yang katanya dari dinas tata kota dan irigasi, rumah kita mau digusur karena berdiri di tanah pengairan. Kalau bisa besok izin dulu jangan masuk sekolah, bantu ibu hadapi mereka. Ibu nggak tau apa-apa, yang paham beginian kan kamu saja. Ibu nggak ngerti apa yang mereka ucapakan. Meraka kan pejabat dan sekolah tinggi, di rumah ini yang sekolah kan kamu saja."

Baru saja merasakan pagi yang ceria, mendengar cerita ibu membuat selera makan gw menurun. gw benar-benar terkejut mendangarnya dan besok gw coba hadapi pejabat dinas tata kota itu.

Bersambung >>>>>

Terpopuler

Comments

Noejan

Noejan

aduduh😥

2020-07-25

0

Kim Sumi Ryn

Kim Sumi Ryn

Kasihan Serly 😢 Tapi,dia lebih pandai bersyukur ya!

2020-07-22

1

HeniNurr (IG_heninurr88)

HeniNurr (IG_heninurr88)

Next thor...semangat truz😍, q tgu up slnjutnya😄

2020-07-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!