Terbilang nekat untuk gadis seusiaku. Ketika yang lain asik dengan pasangan yang sepadan, dan setahun baru ganti, miris aja kalau ada cowok yang ucapin kata,"Si Bunga bekas gw." Ampun dengan entengnya menyematkan kata,'Bekas gw.'
Andai saja orang tua yang membesarkannya dengan air mata, perhatian, siang dan malam harus menjaga putrinya itu, mendengar anaknya dibilang,'bekas' pasti akan marah besar.
Ok, lupakan gadis yang seumuranku itu, yang kini aku rasakan, aku seperti bermain api, yang aku pun harus siap merasakan percikannya, dan hal terburuk aku mesti siap sekalipun terbakar. Semoga saja, apa yang bandot tua itu buat dan ucapkan sesuai dengan kenyataan.
Dia pun takut kalau sampai rahasianya terbongkar, pastilah orang sepertinya sudah memiliki istri dan anak. Tapi kenapa yah? Banyak pria yang suka mencari jajanan di luar dan menganggap rumput tetangga lebih hijau. Aku belum berani mempertanyakan itu, yang pasti adanya buaya darat menjadi ladang profesi bagi si pawang Buaya. Lucunya, Buaya terus mencari lubang.
Kadang suka kasihan dengan Buaya, yang dijadikan simbol ketidaksetiaan, entah dari mana awal dan sejarahnya, yang mereka tidak tahu, kalau buaya adalah binatang paling setia di dunia. Buaya tidak akan pernah menduakan pasangannya, sekalipun pasangannya sudah mati, ia tetap memilih sendiri sampai mati, tapi mengapa buaya yang disalahkan?!
Seharusnya yang pantas dijadikan simbol ketidaksetiaan itu Bandot Tua, ia tidak akan pernah puas dengan satu pasangan, ia pun tidak pernah mau tahu, berapa usia lawan jenisnya yang diajak kawin, semakin tua usia Bandot, maka semakin suka kawin. Termasuk orang yang kini ada di hadapanku, Bandot Tua, yang tidak pernah lihat seberapa usia perempuan yang ingin didekatinya.
Hampir satu jam lebih aku di ruangannya, dan sudah banyak basa-basi, sampai benar-benar jadi basi. Ia mulai gelisah, seakan sudah ingin ia muntahkan semua yang tertahan, tanduk di kepalanya sudah semakin panjang, ia terus berikan aku manuver-manuver serangan bertubi-tubi untuk menggoyahkan pertahanku, asal tau batasanya aja. Lewat dari itu habis aku buat!
Heem, kemaunya begitu kuat tapi kemampuannya terlalu singkat. Hanya sampai di situ saja kemampuanmu duhai Om Kepsek? Tidak ada lagi?
"Jadi kita beli handphonenya pak?" Aku pun tak hiraukan lagi siapa dia, orang yang dihormati dan disegani puluhan guru serta murid, yang diujung pena-nya mampu menggeser posisi tenaga akademik lainnya itu. Ada sedikit kembanggan bagiku, bisa menaklukan Bandot Tua itu, orang nomor satu di sekolah ini.
"Ayo kita jalan, Serli duluan saja yah? Tunggu bapak di ujung jalan, dan kalau kondisi sudah aman, baru bapak keluar." Ia mulai pandai mengatur dan mengawasi situasi. Oh, ini yang ia maksud main aman? Pantas anda dipilih menjadi kepala sekolah, ternyata cerdas yah?
Namun, disaat aku meninggalkan ruangan ia pun terus membuntutiku dan melepas aku sampai pintu, lalu ada hal yang mengejutkan.
"Yah, ada apa Pak Irawan?" Bandot tua itu menyapa si Elang ganas. Aku memasang wajah datar, seolah hubungan kami hanya sebatas murid dan guru,"Eh bapak, pamit dulu ya pak?" sapaku kepada si Guru Muda itu. Dan Bandot Tua hanya tersenyum, seolah ia menang set dengan guru muda itu, karena ia tahu tentang hubungan kami di luar sekolah.
"Silahkan masuk Pak Irawan." Kepsek mempersilahkan guru muda itu untuk masuk ke dalam ruangannya. Aku tak mau perduli apa yang mereka bahas dan bicarakan. Aku hanya ikuti apa yang diperintahkan Bandot Tua itu, untuk menunggunya di ujung jalan.
Hanya menunggunya dua puluh menit, Fortuner Hitam menghampiriku, dan secepat mungkin meninggalkan tempatku menunggunya. Piawai sekali si Bandot Tua ini mengemudi kendaraanya. Tak ada hitungan lima menit, kami berhasil meninggalkan zona merah, menuju kawasan pertokoan yang jarang sekali orang tahu tempatnya.
Ia tidak mengajakku ke Mall atau Shoping Center lainnya, karena ia tahu resiko yang akan terjadi, pasti banyak yang mengenalinya. Keluar dari mobil saja ia mengenakan kacamata hitam, melepas seragam kebanggaannya, dan berganti t-shirt biasa.
Permainan mu cukup luar biasa Pak Keep s*x ( Eh maaf, salah ketik maksud aku Kepsek) aku pun memilih warna handphone, sedangkan ia sudah menentukan merk handphonenya yang terbilang kelas menengah, karena memang itu permintaanku agar tak mencolok. Bisa saja aku memintanya merk handphone dengan harga yang mahal, tapi aku sadar siapa diriku dan apa resikonya nanti. Dari keadaanlah aku belajar untuk kreatif dan meminimalisir resiko.
Setelah ia menunaikan janjinya, kami pun mencari restourant yang memiliki private roo**m, benar-benar berkelas seleranya. Tapi ada yang lucu, aku seperti bapak dan anak, itu yang membuat orang tidak curiga siapa kami.
Aku sediki canggung, karena ini pertama kali aku masuk ke restaurant mewah.
Slow Serly, jangan kelihatan kamu itu kampungan dan perhatikan cara yang lain makan dan belajarlah dengan membiasakan kehidupan orang-orang tajir, agar kamu nanti ikut tajir.
Aku pun membuka menu makanan,dan aku asing dengan istilah asing yang tertera di menu makanan tersebut. Yang lazim aku baca dan dengar adalah Orange Juice, Ice Tea dan Ice Cappucino. Dan jatuh pilihanku ke Ice Cappucino semoga apa yang tercetak di gambar sesuai dengan wujud aslinya, karena biasanya bahasa gambar itu menipu.
Aku bersyukur memiliki tubuh tinggi, berisi dan wajah oriental serta rambut kriting ozon yang bisa aku jadikan modal usaha, dan kelak akan merubah nasibku.
Semua butuh proses Serly, makan mie instan saja harus direbus dahulu, dan jika kamu tidak lalaui prosesnya, khawatir kamu kaget dengan apa yang akan kamu dapatkan.
Aku mulai perhatikan orang-orang yang berada di dalam resto tersebut, dan aku bisa perkirakan kalau mereka memiliki penghasilan lebih dari apa yang mereka keluarkan, karena harga di restourant ini terbilang mahal, es teh manis saja yang namanya diganti dengan kebarat-baratan bisa sepuluh kali lipat harganya dari es teh manis yang aku beli di Emak Sri, penjual di kantin. Hanya yang semula namanya Es teh manis, diganti Ice Tea.
Dan yang menarik lagi, mereka yang datang ke tempat ini, penampilannya begitu dijaga. Seperti Mba-Mba dan lelaki tua yang ada di sebelah mejaku itu, aku yakin ia pun sama sedang mengais pundi-pundi rupiah dengan bujuk dan rayu, tak beda dengan ku. Yang pastinya, ia lebih senior dan memiliki jam terbang yang banyak. Aku perhatikan aksesoris dan pakaian mewahnya, benar-benar selaras dengan wajah cantiknya.
Kelak aku harus perawatan dan tidak lagi seperti bocah ingusan. Ok, aku harus cari modal.
_________________😘😘😘_______________
Sampai disini, jangan lupa like 👍 dan Vote serta tinggalkan komentar kamu, serta tebak apa yang akan aku lakukan untuk bertahan hidup. Untuk update ceritanya, jangan lupa tekan ❤ biar Serly semangat bercerita.
Terimakasih kakak,
Lav you ❤
Lanjut...
__________________________________________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
aria
keren
2020-10-04
0
Noejan
Kereenn! next thor👍
2020-07-17
1
Kim Sumi Ryn
up kak kepo nih!!! 😁😁
2020-07-16
1