Cengkraman Elang

Suasana hangat itu berubah seketika, dan menyisahkan malu saat pelayan memberikan makanan yang kami pesan. Mungkin guru muda itu tak bisa menahan nafsunya, dan syukurlah anak itik itu terlepas dari cengkraman elang yang mencoba memangsa.

Hingga akhirnya, merubah topik pembahasan dan gw pun mulai bercerita tentang siapa diriku. Tak lain gadis miskin yang dibesarkan dengan belas kasih dan air mata ibu. Guru muda itu pun larut dalam cerita kehidupan dan keseharian yang gw alamin.

"Sudah begini saja, hari ini kita belanja untuk kamu dan belikan ibu mu kebutuhan pokok. Aku yang akan membayar itu semua. Sepulang sekolah kita ketemu di belakang sekolah, disana tidak banyak orang yang tau. Tunggu aku disana yah?"

Gw ngerasa perhatiannya cukup baik, yah, semoga saja tidak ada udang di balik batu dari apa yang ia ingin berikan. Dan aku harus memperhitungkan semua.

Sorry aja, gw bukan gadis bodoh seperti Nita yang setelah ditiduri Yoga lantas ditinggal pergi. Atau si Cindi, yang pacaran sekian lama dan keperawannya hilang digasak Chandra, malah justru ia yang sudah keluar uang banyak untuk menggugurkan kandungannya. Sudah sering telingaku mendengar curhatan teman wanita korban PHP, hanya modal bacot dan atas nama cinta. Cowok seenaknya dan dengan mudah menghabisi keperawanan, gw nggak sebodoh kalian teman!

Antisipasi saja Sherly, yang namanya cowok punya sejuta cara untuk mengelabuhi cewek, apa lagi kamu yang terlihat lugu dan polos, pasti di otak cabul mereka akan menghabisi kamu, setelah mendapatkan semua keinginanya, lalu mencari-cari alasan untuk meninggalkan mu, dalam keadaan selaput darah yang sudah koyak.

Deal! Setelah waktu dan tempat sudah ditentukan, gw liat aja keseriusan guru muda itu. Yang gw tahu dia seperti seekor banteng di musim kawin, nampak beringas. Mengapa dia tidak belajar dari seekor Merpati, sekalipun suka ingkar janji tetapi meminta 'sesuatu' kepada lawan jenisnya cukup romantis, dia akan terus mengibaskan sayapnya dan membuntuti pasangannya itu.

Setelah perut terisi dengan asupan sarapan bergizi, sepertinya ada yang terlihat masih kurang dengan guru muda itu. Makanan empat sehat lima sempurna dan kurang susu,...Hahahaha... Aksi guru muda itu sudah terusik oleh pelayan warung nasi.

Ah, bagi gw peduli setan! Yang pasti gw kenyang dengan sarapan bergizi pagi ini, siangnya gw tunggu dia untuk tepatin janji.

Guru muda itu Nurin gw di tempat yang sehabis pulang sekolah kita akan bertemu di tempat yang ia janjikan

"Nanti kita akan bertemu disini, sehabis jam pulang sekolah."

Matanya pun terus memperhatikan sekeliling dan memastikan kalau semuanya aman. Gw kira dia sebaras nurunin gw, kenapa dia nuga ikut turun, gw mencium aroma nggak sedap dengan sikapnya.

Sia ngedorong samle gw tersudut dan tak bergerak. Pikiran gw kalut, khawatir anak itik ini akhirnya tercabik cengkraman si burung elang.

"Kalau bapak mau dapat lebih, bisa kali tahan dulu. Bukannya di tempat seperti ini nantinya kurang enak untuk sampai ke puncaknya?" Gw berusaha tenang, dan tidak pasrah begitu saja menghadapi banteng di musim kawin.

"Ok sayang, aku tunggu sehabis jam makan siang."

"Ok, nanti ketemu disini kan? Oh iya pak, ada selembar uang lima ribu-an?" Gw menghentikan laju kendaraanya, dan meminta selembar uang lima ribu.

"Sherly lupa bawa uang, nanti ada ulangan Bahasa Inggris, pasti disuruh ganti uang fhotocopy. Bapak kan juga guru, masa tidak tau kelakuan rekan seprofesi." Sindir gw, akhirnya dia keluarin selembar uang lima puluh ribu.

"Apa ini nggak kebanyakan pak? Nanti siang saya kembalin yah?"

"Simpan saja buat kamu istirahat, nanti nggak jajan lagi."

Dasar lelaki, untung gw paham, nggak purcuma gw temen curhat yang baik untuk Cindi dan Nita.

"Lelaki, awalnya saja manis. Kita disanjung bagai ratu sejagad,apa yang kita pinta pasti diberi, sampai tidak bisa meninggalkan handphone hanya untuk menghubungi kita. Dan marahnya bukan kepalang kalau lama mengangkat atau membalas pesanya." Inget banget dengan ucapan Nita, cukup menjadi catatan dalam hidupku, bahwa hampir rata-rata semua pria itu sama, TITIK.

Gw pastiin kalo deru suara motornya menjauh, dan baru lah aku meninggalkan tempat dimana ia menurunkanku. Gw mampir dahulu ke warung di samping sekolah, ada sesuatu yang aku mau beli.

"Aku berlindung dari buasnya lelaki yang akan merobek selaput darahku dengan mudahnya."

Dan saat gw pastikan kondisi sekeliling aman, gw langsung cabut dari warung. Dan masuk ke dalam sekolah. Semua demi menghindari omongan miring orang yang gw nggak bisa menutup mulut mereka masing-masing, setidaknya dua tangan gw ini bisa menutup kedua telinga.

Entah apa nanti reaksinya, saat guru muda itu mengajar di kelas. Pastilah suasana akan berbeda, dan hati tidak dapat dibohongi. Gw berusaha seolah-olah tidak ada hubungan apa-apa.

___________________¤¤¤__________________

Jerit bel sekolah, mengisyaratkan sebentar lagi badan yang letih akan kembali pulih, pertu yang kosong kembali terisi, dan yang pasti Ibu di rumah tak perlu lagi mengumbar air mata dan mengemis kasih dari para tetangga, karena menolong pun ada batas kesabaran.

"Ser, elu nggak balik? Tumben nongkrong di kantin? Curiga dapat gusuran tanah nih!" Sudah aku duga, comelnya mulut si Nita. Untung saja, telinga ku sudah tebal dengan ocehannya.

"Gw bisa makan di kantin itu, harus nabung tiga hari dulu., kalo tabungan gw sudah cukup, baru deh bisa gaul bareng loh."

"Haha...bisa aja sikat WC kalo ngomong." Sindir Cindi.

Canda dan ucapan seperti ini sudah menjadi lalapan sehari-hari kami. Terkadang, kalau nggak ikut nimbrung dan pura-pura simpati jelas gw nggak pernah dapat 'jajanan gratisan' karena dari mereka gw bisa bertahan untuk menyelesaikan sekolah, kadang mereka saling gantian traktir gw.

"Gw balik duluan ya gengs." Nita pamit lebih dahulu.

"Gw nunggu si Chandra keluar kelas dulu." Kata Cindi yang sudah tak bisa lepas dari kekasihnya itu.

"Kalau elu nunggu siapa Ser?" Gw curiga pasti bercanda mereka yang omongannya tidak disaring lagi. Dan gw pasrah dengan Bully-an mereka.

"Si Sherly nunggu Mang Karman penjaga sekolah ngusir dia...haaha.."

"Puaaas elo berdua?!"

Awalnya aku mau sendiri di kantin, sambil menunggu yang lain bubar. Ternyata gw terperangkap keadaan dan terpaksa menunggu Chandra datang menjemput.

"Duh lama banget si kunyuk keluarnya! Gw ada ekskul basket lagi." Buktikan? Bahwa tidak ada lagi kemesraan di antara mereka. Karena saripati Cindi sudah dihisap Chandra, tak ada kata lain, selain pasrah dengan keadaan, bahkan mereka sering saling ancam, jika ada salah satu dari mereka yang minta putus atau menyudahi hubungan.

Thanks Cin, gw banyak belajar dari apa yang kalian curhatkan selama ini, biar bisa lebih berhati-hati dengan selaput darah gw.

Bersambung >>>>>

Terimakasih Readers dan Author

*Yang masih setia mengikuti cerita gw, Sherly. Terlebih untuk loh yang selaput darahnya sudah nggak lagi bisa di rekondisi karena ulah sebagian oknum lelaki yang tak bedanya dengan seorang BANCI yang mempermainkan wanita, sebab lelaki sejati tahu siapa yang pantas ia lindungi dan ia jaga.

Terimakasih juga untuk kalian* yang dengan ikhlas VOTE, 👍 LIKE, dan mendonasikan pointnya. Serta menjadikan Novel Sherly, novel favorit dan jangan lupa Tekan ❤ agar kalian bisa update kisah gw.

LAV❤ YOU

Sherly Perempuan Penggoda.

Terpopuler

Comments

Elda Zahrotu Syifa

Elda Zahrotu Syifa

bagus ceritaxa..kata2xa suka mdh dimengerti...

2020-08-24

0

Onna Soplanit

Onna Soplanit

aku masih nyicil bacanya kak
keren

2020-07-18

1

Dhy_Ayu

Dhy_Ayu

Next thor...
Semangat!

2020-07-08

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!