Menghitung Luka

Selembut embun pagi, begitu membelai. Masuk ke dalam vestibulum, mengisi seluruh ruang Olfaktori, menembus memberan mukosa, tepat menusuk pada sfenoidal hingga memenuhi rongga dada, teramat sejuknya.

Mengapa daun membiarkan ia terjatuh? Dan betapa tega hangatnya mentari merampas itu semua? Apa sih maunya mentari? Apa ia merasa raja semesta? Hingga tidak memperkenankan embun berlama-lama hanya untuk sekedar menjamu ku di pagi hari. Rasanya tidak adil, pagi ku terusik dan pagi ku berlalu tanpa makna, dan pagiku.....

"Sudahlah Bu, jangan menangis terus. Terlalu sesak dada ibu hanya meratapi kemalangan. Hentikan tangis ibu, dan izinkan rahmat Tuhan masuk ke rumah ini! Tak kuat Serly mendengar setiap pagi ibu meneteskan air mata, meratapi kemalangan hidup. Tak bisa Bu, air mata merubah takdir ini."

Jujur sudah sesak rasanya hati ini, setiap pagi mendengar ibu menangis. Gelap! Seisi rumah menjadi kosong tanpa warna. Entah harus bagaimana lagi dan entah sampai kapan semua ini berakhir Tuhaaan?!!

"Ibu sudah nggak kuat lagi, rasanya capek setiap pagi harus begini. Manusia ada batasnya menolongnya Naaak! Pedasnya ucapan sudah ibu tak rasa lagi. Jika seperti ini cara Tuhan membilas dosa-dosa, ibu ikhlas. Tapi bagaimana anak-anak ibu? Maafkan ibu yang tak amanah dan tak sanggup membesarkan mu dengan baik."

"Bu, Serly pun sudah besar dan tahu seberapa besar tanggung jawab yang sudah ibu berikan. Ibu sudah menjaga amanah Tuhan dengan baik. Biar nanti Serly bicara sama Tuhan, dan aku yakini Tuhan bahwa ibu sudah benar-benar membesarkan kami dengan baik." Hanya itu yang bisa aku ucapkan, sebagai penawar sedihnya.

Pecah sudah air mata kami di pagi itu, lagi-lagi hanya pelukan yang bisa menenangkan ibu. Apa mungkin hanya diriku saja yang mengalami suasana seperti ini setiap pagi?

Ah, diluar sana masih banyak yang lebih perih dari apa yang aku alami. Di luar sana, masih banyak mereka yang usianya jauh di bawahku dan lebih sakit dari apa yang aku alami. Di belahaaaaan dunia sana! Masih ada yang mengalami takdir hidup lebih pahit dari apa yang aku rasakan hari ini!!

Teriak ku membatin,tanpa suara. Sebagai penawar sedih, berusaha menghadirkan rasa syukur dalam hidup. Aku tak berani menceritakan apa yang aku rasakan pada Tuhan. Nyaris! Nyali ku menciut hanya untuk sekedar mengangat kedua tangan dan mengemis kasih saja sudah tak sanggup.

Waktu begitu lamban berganti, detak jarum jam terseok, setiap detiknya harapan itu selalu berusaha masuk ke dalam hati, tapi mengapa nurani menolaknya, seakan tidak pantas aku menikmati hidup barang sejam saja.

Katanya hidup ini seperti roda pedati Tuhan? Yang selalu berputar dan silih berganti! Tetapi aku merasakan mengapa putarannya begitu lamban. Apakah rodanya terlalu besar? Hingga tidak dapat memberikan kesempatan untuk bergulir berganti?! Atau jangan-jangan Tuhan sengaja membiarkan aku menikmati pesakitan ini? Menikmati perih dan pahitnya hidup?! Hanya ingin mendengarkan nama-Nya aku sebut?

Yah, hanya nurani tempat aku berdiskusi, walau nurani tidak pernah tahu, kapan semua ini berakhir? Jangan sampai kamu pun bosan mendengar keluh dan kesah hidupku, hanya kamu sahabatku, nurani!

Seperti biasa setiap pagi, aku bingung dan berat untuk melangkah kaki ke sekolah, seperti ada dosa yang aku titipkan di pundak ibu, jika setiap hari harus membebani wanita yang tubuhnya kini menua dan rambutnya sudah tidak hitam lagi.

Ingin, rasanya aku sudahi pendidikan yang aku rasa hanya formalitas hidup saja. Apa lagi perempuan, sekolah tinggi-tinggi dan ujung-ujungnya dipinang lelaki, lalu hanya berdiam diri di rumah. Mungkin saja nasibku akan seperti itu.

Dengan menghela nafas panjang, dan menguatkan hati untuk melangkah ke sekolah. Semoga saja hari ini, menjadi peruntungan yang baik untukku.

"Bu, Sherly berangkat dulu ya? Sudah jangan banyak pikiran." Aku pamit setelah menghapus kelopak mata ibu dan mencium tangannya.

"Hati-hati nak." Ia begitu berat melepasku, karena hari ini tak ada sarapan pagi.

Aku menperhatikan langkah kaki, sudah berapa juta kali ia melangkah. Tak pernah kaki ini protes kepada mata, yang kerjaanya begitu ringan, dibandingan dirinya yang harus menopang tubuh.

Dan aku sudah lalui jalan ini, yah kurang lebih tujuh ratus dua puluh delapan hari hanya untuk menuntut ilmu. Hati bertanya, " Apa iya, kalo aku lulus sekolah nanti, di dunia kerja akan diterapkan ilmu biologi? Alaaah, kalau ilmu biologi itu, akan diterapkan hanya dalam rumah tangga saja, mana mungkin diterapkan dalam dunia kerja ku nanti.

Selagi asiknya aku memperhatikan aspal jalan dan melihat kanan-kiri, ada suara yang mengejutkanku dari belakang.

"Serly, bareng bapak ayo!"

Ternyata suara itu, suara Pak Irawan guru Biologi dan ia menghentikan laju kendaraannya. Aslinya aku tidak ada keberanian untuk bisa duduk dalam satu kendaraan dengan cowok lain, walau sering juga teman sekelas atau satu sekolah menawarkan ku tumpangan, dan aku tetap memilih jalan kaki.

Bukan tanpa alasan, selain sehat aku pun bisa menikmati pagi, yang sebantar lagi sejuknya dirampas hangatnya pagi.

"Terimakasih pak, biar Serly jalan kaki saja. Lagi pula, sudah deket kok!"

Jadi wanita itu harus sedikit jual mahal, agar tidak mudah pria menerka bahwa sebanarnya kita pun butuh. Pasti deh, ia akan berkata," Ayolah, jangan menolak tawaran Bapak."

"Tuhkan kamu suka nolak niat baik orang sih. Ayo sini bareng Bapak!"

Betulkan? Pasti ia akan bicara seperti itu. Sebenarnya canggung dan malu jika bareng dengan guru, takut dikira ada apa-apanya pula. Namanya orang, mudah banget menyimpulkan tanpa mau tahu prosesnya.

"Ayolaaaah! Malu yaaah bareng guru?!" mulai memaksa.

"Ii..iya deh Pak!"

Namanya ditawarin, dan memaksa aku pun akhirnya menerima tawaran itu. Gila! Wangi banget badanya, entah berapa botol parfum yang dipakai guru muda itu.

Sesampainya di gerbang sekolah, puluhan pasang mata menerka-nerka, pasti di dalam hati mereka akan berkata dan menduga yang macem-macem.

"Cieeee Serly ada maen nih sama mister hensem." Apa aku bilang, bukan hanya hati yang berucap tetapi sudah keluar dari mulut Nita yang melihat Pak Irawan menurunkanku dari motor sportnya.

Dasaaar anak juragan domba! Ratu gosip, pasti rame deh di kelas.

"Pantesaaan nolak tawaran gw, rupanya lebih suka motor gede yaah Ser?!" mulut si Doni memang tidak bisa dijaga.

"Apaaan siih! Orang dipaksa, yaah aku terimalah."

"Curiga nilai biologinya tinggi niih!" ini lagi si Nengsih, apa hubungannya numpang motor guru dengan nilai Biologi.

Dua tangan ini tidak bisa menutup mulut mereka, tetapi setidaknya mampu menutup telingaku.

Bersambung >>>

____________________________________

Aku berharap pembaca tidak sama menilai ku seperti apa yang lain katakan. Sherly hanya minta kamu, untuk terus dukung novel ini, dengan menekan ❤ agar bisa dapatkan terus episode terbaru dari cerita Sherly, dan 👍 bukti kamu suka dengan apa yang Serly ungkapkan, serta ⭐⭐⭐⭐⭐ apresiasi kalian dengan Novel ini, agar aku terus semangat berbagi cerita, suka, duka dan senyum.

Terpopuler

Comments

eva octavianti

eva octavianti

👍👍👍

2020-07-27

1

Onna Soplanit

Onna Soplanit

lnjut

2020-07-18

1

Kim Sumi Ryn

Kim Sumi Ryn

jantung ku sudah deg degan... 🤣🤣

2020-07-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!