Selamat Pagi Takdir Hidup

Entah kepada siapa lagi gw bercerita, pada manusia? Hem, manusia yang gw sendiri Nggak pernah tahu apakah antara lisan dan hatinya sama?

Bahkan apa yang ia dengar, apa yang dikatakan, dan apa yang ada disi kepalanya saja Nggak pernah seragam bukan?

Sudahlah-sudah, untuk membantu dan sabarnya saja masih ada batas katanya, apa lagi bicara isi hati. Sampai detik ini belum juga gw temukan dan Nggak pernah ada alat ukur yang mampu menerka itu semua.

Nggak ada tempat yang gw rasa pantas untuk dijadikan tempat bercerita, kalau bukan kepada hati nurani. Yah, kata hati kita yang terkadang kita ingkari sendiri, dialah sebenar-benarnya penjaga rahasia kita terbaik.

Tuhan? Sudah mutlak untuk gw bercerita, mengeluh dan mungkin Tuhan sudah tahu jutaan kata sudah gw rangkai dalam doa. Yang semoga saja Nggak terhalang untuk sampai kepada-Nya, lantaran kedengkian dan kotornya hatiku.

Hari ini, untuk kesekian kali melihat ibu yang melahirkan gw , dengan kecemasan yang teramat, harus meneteskan air matanya kembali.

Gila! Entah sampai kapan ia berhenti menangis, mungkin saja ini lah yang menjadi dalil bahwa menangis dan air mata itu adalah bahasa ibu.

gw merasakan bagaimana sakitnya ia saat meminta bantuan ke tetangga atau yang dinilai pantas untuk dimintai dan bersedia menampung air mata dan orang yang telinganya peka dengan suara perut orang. Manusia, ada kalanya memiliki kejenuhan sendiri untuk menolong.

Apa lagi keluarga gw yang setiap hari, setiap pagi ibu harus keliling mencari seperak, dua perak uang sebagai bekal kami ke sekolah. Mulai dari jualan baju bekas, bahkan baju yang cicilannya saja belum ia bayar, harus dijual, hanya demi bertahan hidup.

Dan hanya demi mengisi perut kami, yang kita sendiri Nggak tahu, apakah yang kita makan pagi ini sarapankah? Atau sekaligus makan siang?! Telor ceplok yang ia campur dengan bekas nasi kemarin, lalu ibu goreng. Nggak pantas kalau gw sebut itu nasi goreng, karena kurang kecap dengan sisa minyak goreng sisa masak yang entah kemarin atau dua, tiga hari lalu.

Uang jajan yang ibu berikan terkadang gw simpan baik-baik, karena gw khawatir ada saja yang nanti guru perintahkan, dan gaji yang mereka dapatkan Nggak cukup, hingga mereka mencari sampingan dengan fhotocopy ulanganlah, ujian ini dan itu, artikel ini dan itu, yang kita harus ganti uang fhotocopy tersebut. Nggak memperdulikan seberapa sulitnya kami mendapatkan uang itu.

Walau terkadang ada saja teman sebang gw atau sekelas yang baik hati, tapi bukan tanpa pamrih, pasti ada ujung-ujungnya.

"Ser, gw bayarin fotocopy-annya, tapi bantuin gw ngisi soal ya?"

Biasa! si Nita, anak juragan domba yang uangnya Nggak pernah ada serinya. gw hanya melempar senyum dan sudah tahu apa yang akan ia pinta.

gw sembunyikan cerita tadi pagi, saat mau berangkat ke sekolah, yang mereka tahu gw baik-baik saja dan melempar senyum untuk menutupi air mata yang selalu terulang di setiap pagi dan setiap harinya.

Huft! Entah sampai kapan cerita pagi hari ini akan gw dapatkan senyuman layaknya anak gadis lain yang perutnya terisi dengan sarapan bergizi, bibir yang merah dengan lips glosh, dan wangi parfum membuka pagi.

Sedangkan gw ? Masih bisa nafas, dan Tuhan berikan kesempatan hidup saja sudah bersyukur. Sudah lama gw mengubur jauh-jauh harapan, dan untuk bercita-cita layaknya pelajar saja sudah Nggak berani.Setelah lulus mau kuliah di sinilah, ambil jurusan ini dan itu, sudah Nggak terbesit sedikit pun.

Yang gw tahu, bagaimana gw bisa melanjutkan untuk bisa naik dari kelas satu ke tingkatan selanjutnya. Syukur-Syukur bisa lulus SMA dengan mulus, untuk bisa sampai sekolah saja sudah berat dan harus melihat sandiwara air mata, pembagian ongkso yang gw sendiri lebih banyak mengalah agar Ibu bisa masak yang seadanya dan adik gw jajan.

Sungguh berat pagi ini, sunggu berat langkah kaki ini. Sudah Nggak kebayang bagaimana gw harus menyusun drama dan alasan setiap kali teman kelas mengajak gw ke kantin.

"Sorry gw bawa bekel, nggak enak sama nyokap kalo nggak di makan." Alasan seperti ini? Sudah pernah gw jadikan alasan.

Bahkan gw sendiri pernah kehabisan alasan, dan lupa hari.

"Gw puasa cuy!"

"Gila lu, puasa apa hari Sabtu? Ngaco aja ngarangnya, lain kali dipikirin kalau mau buat alasan cuy!"

Hahaha, sindiran si Cindy dalem juga. Mungkin dia lah teman sekelas yang sering banget nawarkan traktiran dan sudah mengerti keadaan gw , lagi-lagi manusia ada batas jenuh untuk terus menolong.

Dan gw sebagai orang susah harus kuat mental dan tebal telinga, biasanya orang miskin itu sering baper atau bawa perasaan dengan sindirian dan candaan yang menyinggung sesuatu yang menurutnya sensitif. Padahal itu niatnya bercanda, tetapi perasaan gw saja yang agak terusik dengan candaan mereka.

Bahkan kalau gw sendiri kehilangan kepercayaan jika ada cowok yang berusah mendekati, atau benar-benar mengutarakan perasaannya. gw anggap itu lelucon, bagaimana jika mereka tahu keadaan gw yang sebenarnya, bisa-bisa ilfil. Itu yang menjadi alasan gw menutup hati. Yaaah, walau kata orang cinta akan menerima kita apa adanya.

Nggak pantas orang susah seperti gw mengenal cinta, dengar film romantis saja, gw sendiri pura-pura pernah menonton film yang mereka bicarakan agar Nggak terkesan kurang update. Padahal? Boro-boro nonton film, lewat pasar malam saja sudah menjadi hiburan tersendiri untuk gw .

Pasar malam? Itu loh, yang ada wahana hiburan yang di kelilingi pedagang, biasanya di tempat gw itu adanya hari Sabtu dan Minggu pagi setiap minggunya. Untuk gadis kampung seperti gw , hanya pada hari itu saja gw merasa menemukan hiburan dalam hidup, walau hanya mampu membeli makanan ringan saja, cukup bagi kami merasakan kebahagiaan.

"Yah, bahagia itu sederhana bukan?" sesederhana kita melamun untuk bisa membeli tiket permainan pasar malam.

Ok, lupakan pasar malam. Kita kembali lagi ke kehidupan nyata. Sudah cukup rasanya berkhayal untuk bisa naik kora-kora atau menikmati manisnya gulali pasar malam. Yang gw tahu, hidup itu pahit seperti kita makan daun samiloto, atau asam seperti cuka.

Hidup gw Nggak seindah warna lampu pasar malam, yang gw rasakan hanya ada lampu lima watt dalam hidup.

Mimpi terindah dalam hidup gw , adalah mampu melewati pagi dengan melihat senyum ibu, perut terisi dengan sarapan bergizi, dan Nggak ada lagi alasan untuk menolak teman sekelas yang mengajak gw makan di kantin. Satu minggu itu, hanya hari Rabu saja, karena ada mata pelajaran olahraga untuk memberanikan diri ke Kantin, hanya untuk membeli es kelapa muda yang sudah gw bisa perkirakan Nggak lebih dari Lima Ribu Rupiah.

Tuhan, hanya itu saja mimpi kecilku dan berharap Nggak lagi aku melihat air mata ibu memulai pagi yang bagiku,lebih indah dari mimpi saat tidur malam ku.

Bersambung >>>

________________😘😘😘_______________

Hai pembaca yang baik hati, jangan lupa agar Serly lebih semangat lagi menuturkan kisah hidupnya dalam Novel ini, jangan lupa :

👉 Tinggalkan kesan mu dalam komentar

👉 Jadikan Novel ini bacaan favorit kamu

dengan menekan ❤, dan jangan lupa VOTE

👉 Dan baca terus novel ini.

Terimakasih

Serly Perempuan Penggoda

Terpopuler

Comments

dewiie gitta

dewiie gitta

semangat ya thor

2021-02-07

1

Onna Soplanit

Onna Soplanit

keren kak
sudah aku favoritkan juga loh
masih nyicil bacanya.

Feedback balik ya. Semangat Thor

2020-07-18

1

Kadek

Kadek

like n rate q titip disini

2020-07-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!