Itik Penakluk Elang Ganas

Only you can make all this world seem bright

Only you can make the darkness bright

Only you and you alone

Can thrill me like you do

And fill my heart with love for only you

Only you can make this change in me

For it's true you are my destiny

When you hold my hand I understand

The magic that you do

You're my dream come true

My one and only you.

Suara Elvis Persley membius suasana, temaram lampu begitu menghangatkan suasana, namun dada ini masih menyimpan ketakutan.

Takut bujuk rayunya nyekek nafas gw, takut Elang ganas itu tahu bagian tubuh gw yang begitu sensitif, takut nyamanya kamar hotel membuat gw nggak sadarkan diri, dan hanyut dalam peluh.

"Di tempat ini kamu akan tahu apa itu kenikmatan duniawi, disaat kulit mu menyatu dengan kulitku, disaat nafas kita bercampur menjadi satu, dan aroma tubuh serta bisik manja yang akan kamu rindukan." Ucap guru muda itu, dan mendorong tubuh ku jatuh tepat di tempat tidur yang baru kali ini aku rasakan lembut, empuk dan hangat.

"Kamu akan ingat malam ini, akan menuliskan cerita baru si putih-abu-abu." Ia kembali menahan kedua tanganku dan berucap tepat di telinga.

Aku? Aku diam dan berusaha menikmati suasana. Yah, karena aku perempuan pada umumnya, aku gadis yang sudah akil baligh, yang setiap bulan merasakan nyerih haid yanf sama.

Nyaris aku tak dapat bicara, karena bibirnya telah membungkam bibirku untuk berteriak," Tuhan lindungi dan maafkan aku." Suara itu hanya terdengar dalam jeritan hati.

Ia pun membuka anak kancing ku satu persatu, mengapa tiba-tiba dahaga itu datang? Dan detak jantung tak menentu iramanya,"Oh Tuhan." Ia terus memaksa, bukan lagi cinta yang bicara, setahu aku jika ini bahasa cinta tidak mungkin hanya dia yang begitu agresif. Lagi-lagi aku tak bisa berontak dengan keadaan, amat dungu jika aku meminta tolong di tempat yang salah.

Tak ada kesempatan untuk aku istirahat sejenak, minimal membasuh wajah dan membersihkan tubuh yang sudah bersimpuh peluh seharian tadi.

"Ayolah Serly, berikan aku reaksi mu. Ikuti irama tubuhku sayang."

Aku tidak tahu apa maksudnya dengan," ikuti irama tubuhku." Bagaimana tubuhku berirama sedangkan yang ia lakukan bukan atas dasar cinta. Ternyata Elang pun bisa berubah menjadi cacing yang tersiram air garam.

"Jangan diam aja dong yaank, ayo!"

Seketika nafsunya pun meredup, Elang ganas pun menciut.

"Kenapa berhenti pak?" Barulah aku membuka suara.

"Kamu lagi datang bulan?"

"Memangnya kenapa pak?"

"Ah nggak apa."

Kenapa berhenti Elang ganas? Mana terkaman kakimu dan suaramu yang melengking lantang? Mana lagi rayuan mu? Apa hanya sampai disini saja kemampuanmu?

Ia pun sudah tak berkutik lagi, dan inilah yang disebut senjata makan tuan, dan uang yang ia berikan padaku tadi pagi, aku belikan pembalut sebagai penangkal syaitan untuk masuk lebih dalam. Dan ia tidak tahu, kalau pembalut itu untuk mengelabuhinya.

Kadang dibutuhkan ketenangan untuk mengelabuhi Elang ganas, jika kita berontak maka semakin keras ia mencengkram kita. Dan Elang tidak suka makanan pahit. Ha-ha.

Aku menang satu sett dan kontan guru muda itu kehilangan selera, karena tahu kalau aku sedang datang bulan.

"Kita pulang yuk? Udah malam juga." Pintanya.

"Bener nggak mau lanjutin pak?"

"Lain kali aja yah? Kalau kamu sudah nggak dateng bulan."

Dan aku pun merapihkan pakaianku yang hampir koyak oleh Elang ganas itu.

Kami pun meninggalkan hotel tersebut, dan kembali mengaspal jalan, berjibaku dengan bisingnya deru kendaraan, amat kontra dengan suasana di dalam kamar hotel tadi dan jauh dari rasa nyaman, tetapi aku aman.

"Nanti turunkan aku di tempat yang setiap pagi kita bertemu ya pak?"

"Loh kenapa tidak sampai rumah saja?"

"Menghindari omongan orang saja, lagi juga sudah malam."

"Oh ok. Oiya Ser..."

"Apa pak?"

"Kamu sembunyikan hubungan kita yah? Dan jangan pernah cerita kesiapa pun, aku harap kamu paham itu."

Ha-Ha, aku bukan anak kecil yang bisa bapak setting, dan sebelum bapak bicara seperti itu aku juga sudah meminta dahulu, kalau memang hubungan yang tanpa cinta ini berjalan mulus.

"Memangnya kenapa pak?"

"Ah nggak apa-apa kok."

"Oh iya, aku juga mau bilang ke bapak jangan cemburuan kalau aku dekat sama siapa pun. Karena memang aku suka berteman dengan siapa pun."

Aku mengingatkan dia, andai suata hari melihat aku dengan yang lain.

"Oh aku bukan type cowok cemburuan Ser."

"Baguslah pak, mungkin bapak sudah dewasa dan banyak pengalamannya."

"Ah, nggak kok."

Syukurlah hari ini aku berhasil membawa apa yang menjadi kebutuhan Ibu dan agar tak mendengar suara Fadil merintih lapar. Cukuplah apa yang aku dapatkan hari ini untuk bertahan satu minggu.

Setelah sampai di penghujung jalan, Pak Irawan pun memenuhi apa yang aku pinta.

"Terimakasih untuk hari ini ya pak?"

"Sama-sama Serly, aku juga terimakasih kamu sudah temenin aku jalan."

Guru muda itu hilang dalam kegelapan dan dipersimpangan jalan. Aku terus melanjutkan langkah ku yang mulai lunglai, syukurlah malam ini tak banyak orang yang lalu lalang, hingga aku menikmati malam dengan nyaman.

Sesampainya di rumah, aku terkejut melihat Ibu dan Fadil belum tertidur.

"Loh, ibu belum tidur?Kamu juga dee?"

"Bagaimana ibu bisa tidur, sedangkan kamu belum pulang kak."

"Maaf bu, aku tidak izin sama ibu karena memang acaranya dadakan, lagi pula di rumah ini tak ada nomor yang bisa dihubungi juga bukan?"

"Iya."

"Ini untuk kebutuhan ibu di dapur dan untuk de Fadil."

"Kamu dapat barang sebanyak ini darimana Kak? Kenapa kamu pakai baju seperti itu?"

"Iya bu, baju boleh minjam dari si Nita. Aku beli ini semua halal kok, dari uang hasil kerja ku bu, bantu-bantu di sekolah." Ibu pun tahu kalau aku aktif di kegiatan sekolah.

"Jaga diri kamu baik-baik, jangan sembarangan bergaul kalau di luar, nak."

"Iya bu, Serly bisa jaga diri kok."

"De Fadil, kaka juga bawa coklat untuk kamu. Di dalam plastik itu, kamu ambil dan simpan. Ingat, jangan langsung dihabiskan."

"Terimakasih Kak." Ucap adiku yang kini usianya genap tujuh tahun.

"Serly bersih-bersih dulu ya bu?"

Aku pun meninggalkan mereka dan membiarkan Ibu dan Fadil menikmati makanan yang langkah bagi kami. Makan yang mungkin saja, bisa setahun sekali merasakannya, semoga saja aku bisa merubah nasib dan mengangkat derajat keluarga kecilku, amin.

**Bersambung >>>

Terpopuler

Comments

Leonila Retnoningdyah

Leonila Retnoningdyah

pinter sherly

2021-01-24

0

aria

aria

hidup bgt lah ky cerita nyata aja lg

2020-10-04

0

Elly

Elly

terkadang Orng Hanya Bisa Berkomenntar,Tpi Kita Yang Merasakan Manis Pahit Nya Hidup Ini

2020-07-12

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!