Malam hari tiba, dua pengantin itu kini sudah masuk kedalam kamar masing-masing bergegas menunaikan sholat sunnah setelah membersihkan diri. Meski, diluar sana sangat ramai seperti kebiasaan adat Gayo, para muda-mudi akan berkumpul pada malam hari untuk merayakan pernikahan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari teka-teki atau yang paling sering adalah membuat berbagai hukuman disebuah kertas dan memasukkan-nya kedalam toples kecil, kemudian salah satu pemandu akan memberi perintah dan siapa saja salah akan diberi hukuman dari yang sudah tertera dari dalam toples tersebut.
Tak tanggung-tanggu, acara ini. Bahkan, bisa berlangsung samapai tengah malam karna keseruan acara ini. Hukuman yang ditulis juga berbeda-beda ada yang dimulai dari tantangan agar berakting dengan lawan jenis sebagai suami istri yang sedang bercanda atau bertengkar. Berakting menjadi orang giila atau pemabuk. Menyanyi atau shalawat tergantung hukuman apa yang mereka dapat.
Sementara itu. Meski, diluar kamar sangat berisik dengan suara gemuruh gelak tawa para muda-mudi. Kini, Zahara dan Zein sedang melaksanakan Sholat Sunnah setelah sholat isya. Ada Zein dihadapan Zahara saat ini, punggung tegap itu mengimami dirinya dan membimbing-nya berdo’a.
Usai berdoa, Zein membalikkan tubuh-nya menghadap Zahara dan mendekat kearah-nya. Zein meletakkan tangan kiri-nya keatas kepala Zahara dan tangan kanan-nya menadah meminta doa kepada Allah. Zahara yang paham langsung juga mengangkat tangan-nya menengadah meminta kepada Allah. Tampak dari sudut mata Zahara, Zein sedikit kesusahan melapalkan doa tersebut dengan tangan yang gemetar dan air mata berlinang.
‘Aamiin’ ucap mereka berdua kala Zein menyelesaikan doa-nya meski dirinya kesusahan
“Maafin aku ya Zahara… aku udah berusaha belajar dan menghapal semua kalimat sholat dan doa tadi. Tapi, aku masih belum juga lancar” ucap Zein menatap zahara yang berbalut kain putih dihadapan-nya saat ini.
Zahara tersenyum manis melihat wajah tanpan Zein sembari mengucap
“Gak papa bang, kamu baru saja masuk Islam… dalam jangka waktu yang tidak bisa disebut lama ini, kamu udahsangat cepat menghapal-nya”
“Makasih Zahara” ucap Zein dengan senyuman yang menampakkan gigi-nya
“Aku bersyukur banget bisa dapatin kamu” tambah Zein kembali dengan tangan yang menangkup pipi Zahara kedepan-nya dan mengecup kening sang istri dengan pelan dan dalam.
“Aku juga bersyukur banget bisa dinikahin sama kamu bang” ungkap Zahara usai Zein melepas kecupan itu dengan mata yang memandang lekat kearah Zein suami-nya.
“Aku harap kamu gak bakal ngeluh sama aku yang belum paham tentang agam Islam Zahara, meski yang sekilas aku tau seharusnya aku yang bimbing kamu”
“Tidak apa-apa bang…kita bisa belajar bersama-sama” ungkap Zahara lembut agar Zein tidak merasa rendah
“Terima kasih Zahara” Ungkap Zein kembali dengan tangan yang meraih pinggul Zahara kedalam pelukan-nya.
Wajah Zahara tersenyum merekah mendapati untaian kata dari Zein. Wajah-nya memanas karna menahan malu dengan degupan jantung yang begitu hebat. Tapi, dia merasa senang saat berada dalam pelukan Zein, wangi tubuh dari Zein sangat membuat diri-nya nyaman. Hingga, tangan-nya tak tahan untuk tidak membalas pelukan dari Zein.
‘Ternyata begini rasa-nya didekat pria…sangat nyaman’ batin Zahara dengan terus memeluk tubuh Zein nyaman.
“Nak” suara memanggil dari balik pintui dengan ketukan pintu yang mengagetkan Zahara dan Zein.
Seketika Zahara melepas pelukan Zein dihadapan-nya dan langsung berdiri membuka pintu kamar
“Iya mak?!”
“Ini nasi kalian… jangan lupa makan dulu sebelum tidur” ucap ibu Zahara
“Mamak tinggal dulu ya nak” ucap ibu Zahara tersenyum ramah pada Zein yang masih terduduk diatas lantai
“Ohh I-iya mak” Zein menjawab dengan anggukan pada ibu Zahara, lebih tepay-nya adalah ibu mertua-nya.
Zahara kembali dengan nampan yang berisi dua piring nasi dengan dua gelas air hangat diatas-nya sembari menutup pintu kamar dan melihat kearah Zein yang masih terduduk diatas lantai. Zein melihat kearah Zahara, kala mata mereka bertemu spontan mereka berdua langsung tertawa kecil canggung karna situasi tadi.
“Ini bang” Zahara mendekat dan meletakkan nampan itu dihadapan Zein.
“Satu bagi dua aja Zahara” ungkap Zein menghentikan tangan Zahara yang hendak mengeluarkan isi nampan satu-persatu
“Abang gak lapar?” tanya Zahara yang kini memang merasa lapar dan satu piring untuk berdua tak akan cukup mengganjal isi perut-nya.
“Lapar sayang… abang pengen di suapin sama istri abang” ungkap Zein dengan sedikit merayu Zahara
Zahara tersenyum malu-malu mendengar ucapan dari Zein yang sedikit menggelikan itu bagi-nya. Meski, dia merasa senang.
Dengan gerakan yang cepat Zein menepikan nampan berisi nasi itu dan mendekat kearah Zahara dengan wajah manja meminta untuk disuapi. Zahara terkekeh melihat tingkah manja dari suami-nya itu dan mulai menyuapi Zein dengan telaten dan bergantian untuk-nya.
Dua piring nasi dari atas nampan ludes habis tanpa sisa, satu piring untuk berdua sama sekali ungkapan yang tak pantas untuk situasi ini yang pantas adalah satu piring porsi dua orang untuk orang yang ingin satu porsi.
“Abang pengen kopi?” tanya Zahara sebelum keluar kamar untuk meletakkan piring kotor.
“Gak usah Zahara, kamu aja jangan lama-lama diluar” ungkap Zein kembali menggoda Zahara
“Abang apaan sih” ucap Zahara malu-malu dan berlalu meninggalkan kamar dengan mukenah yang belum dia lepaskan dari tadi.
Belum sampai Zahara keluar melangkah kamar
“Mak pon aja Zahara, kamu didalam aja temanin nak Zein” ungkap salah satu saudara Zahara mengambil alih nampan yang ada ditangan-nya
Zahara tersenyum malu-malu mendengar ungkapan dari saudara-nya itu dan berbalik kembali masuk kamar tak lupa menutup pintu kamar.
Kini Zein sudah duduk ditepi ranjang dengan tatapan yang memperhatikan Zahara
Yang sedang berjalan kearah ranjang juga.
“Sini” ucap Zein sembari menepuk kasur sebagai isarat agar Zahara duduk didekat-nya. Zahara melangkah pelan kedekat Zein dan segera duduk disamping Zein.
Tangan Zein meraih tangan Zahara agar mendekat kearah-nya. Setelah zahara duduk disamping-nya, tangan Zein melepas pelan mukenah putih yang dari tadi Zahara kenakan, sementara Zahara sama sekali tak menolak atas perlakuan dari Zein. Meski jantung-nya tak berhenti berdetak.
Kala mukenah itu sudah terlepas dari wajah cantik Zahara, tampaklah rambut hitam pekat yang lebat dan lurus menambahkan kecantikan dan keanggunan dari Zahara. Rambut hitam itu berderai cantik menghiasi wajah Zahara membuat mata Zein tak bisa lepas memandang wajah cantik Zahara.
“Masya Allah, sungguh maha kaya tuhan yang menciptakan makhluk-nya…kamu sangat cantik Zahara” ungkap Zein menyebut nama Allah
Zahara tersenyum malu-malu dan menunduk mendengar ucapan dari Zein yang berhasil membuat-nya semakin salah tingkah. Melihat Zahara yang terus saja malu-malu dihadapan-nya, Zein mengangkat dagu Zahara seraya berkata dengan mata yang terus memandang Zein.
“Zahara… aku sekarang adalah suami-mu, kau tak perlu malu melihat-ku” ungkap Zein menangkup kedua pipi Zahara agar tidak menunduk kembali dan terus menatap-nya.
“I-iya aku tau…tapi aku tetap malu” ungkap Zahara dengan wajah yang menahan malu karna tatapan Zein
Zein tertawa geli melihat ekspresi dari Zahara dengan pipi-nya yang sudah merah merona laksana tomat yang sudah matang dan siap disantap. Zahara malah kembali menundukkan kepala-nya usai berhasil melepaskan wajah-nya dari genggaman Zein.
Dengan gerakan pelan Zein kembali mengangkat dagu Zahara menyentuh bibir ranum Zahara dengan jari-nya. Zahara yang mendapat perlakuan itu langsung menatap mata Zein yang sayu, tatapan Zahara membuat Zein sedikit terlena karna pandangan Zahara yang sangat cantik dengan orea mata yang terukir sempurna.
Zein langsung mendekat kearah Zahara dengan tangan yang memeluk erat pinggang Zahara sembari menyentuh lembut bibir ranum Zahara dengan sebuah ciuman yang sangat lembut dan lama-kelamaan malah semakin dalam Zahara hanya terdiam mendapati perlakuan seperti ini. Dengan tangan yang mulai melingkar keleher Zein, Zahara juga mulai membalas pelukan dan ciuman yang diberikan oleh Zein yang kini sudah semakin mengganas.
Perlahan Zein menidurkan Zahara keatas kasur dengan tangan yang berusaha membuka kancing baju yang dikenakan oleh Zahara hingga tampaklah dada mulus dan cantik milik Zahara yang kini sudah menjulang tinggi seolah menantang Zein.
“Zahara… apa aku boleh melakukan-nya malam ini?” ungkap Zein meminta persetujuan dari wanita itu.
Zahara tang sudah bergejolak nafsu, mengangguk pelan tanpa menjawab pertanyaan Zein karna tubuh-nya juga ingin mendapatkan sebuah sentuhan yang lebih.
Melihat Zahara yang merespon ajakan Zein. Dengan cepat Zein langsung melepaskan kaos putih yang dia kenakan tadi. Hingga, tampaklah tubuh gagah berotot dengan enam petakan ditubuh Zein. Melihat itu Zahara terkesima dan spontan langsung menyentuh tubuh Zein yang sangat gagah dan indah dimata Zahara.
“Kamu suka?” tanya Zein kala melihat Zahara yang sama sekali tak malu
“Iyaa” ungkap Zahara pelan dengan tangan yang masih meraba-raba dada dan otot Zein
“Ini milik-mu sayang” Ucap Zein memegang tangan Zahara sembari membisikkan-nya ketelinga Zahara
Zahara tersenyum mendengar ucapan Zein dan melingkarkan tangan-nya keleher Zein menyambut ciuman dari Zein kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Chandra Dollores
awww... ini milik mu...
ah Zein...
eh salah..
maksud q.. oh suami q...
2023-10-19
0
Aranta Rian
unboxing ga tuh wkwk
2023-10-16
0