"Dari mana kalian? " Tanya Zein ketika melihat Lukman dan Salman yang baru datang
"Oh iya... Tadi pagi kami diajak pak kepala desa ke rumahnya sebentar" Ucap Lukman sembari memarkirkan sepedanya
"Kami gak ngajak kamu tadi kami kita cuman sebentar, soalnya diajak pas habis sholat subuh" Tambah Salman
"Oh iya gak papa, terus kalian kesana ngapain? " Tanya Zein kembali
"Nanti malam muda-mudi disana lagi ada acara Zein, acara didong jalu katanya, kita juga diajak nonton" Jawab Salman
"Didong? " Zein mengernyitkan alisnya tanda tak tau
"Iya didong, kami juga gak tau itu apa, tapi kita lihat aja nanti malam" Ucap Salman kembali dan berlalu kedalam.
"Katanya seni tepuk tangan sih" Tambah Lukman tanpa melihat kearah Zein dan mengikuti Salman masuk kedalam.
Zein hanya manggut-manggut mendengar sedikit penjelasan dari mereka berdua, walaupun sebenarnya dia tak tau pasti bagaimana acara itu.
Malam tiba dan ketiga pemuda ini kini sudah siap memasukkan barang dan menutup warung.
"Sudah?" Tanya Salman kepada Zein yang mengunci pintu warung.
"Sudah" Jawab Zein dan berjalan ke tempat mereka memarkirkan sepeda
Mereka bertiga berlalu menikmati angin malam yang indah, biasanya mereka akan berangkat setelah subuh saat hari masih gelap dan pulang selepas maghrib saat hari sudah gelap. Mereka bertiga sepakat. Jika, hari jumat Zein akan tinggal karna dia tidak perlu sholat dan mendapat waktu renggang kapan pun dia mau. Tetapi, mereka akan menutup warung jika memang ada acara apapun.
Saat Zein, Salman dan Lukman sudah sampai disekitar desa, mereka mendapati masyarakat sudah berkerumunan disuatu tempat mengelilingi panggung yang kosong.
Dengan segera Zein, Salman dan Lukman turun dari sepeda dan mendorong pelan karna banyak orang yang berlalu lalang kesana kemari.
Zein terus memerhatikan sekitar melihat bagaimana acara seni didong ini berlangsung. Matanya tertuju kepada sekumpulan lelaki yang berkerumunan di suatu tempat menggunakan baju adat lengkap dengan topi dan bantal kecil ditangan mereka. Zein tidak tau apa yang mereka kenakan yang jelas Zein tau kalau itu mungkin baju adat Gayo.
"Aduh" Langkah Zein terhenti ketika menabrak seorang wanita yang kini sudah terjatuh ke tanah.
"Kamu sih melamun aja" Ucap teman wanita itu yang kini membantunya berdiri
"Enggak kok kak, aku yang salah nabrak karna dari tadi aku juga gak liat jalan" Ucap Zein membela wanita yang telah ditabrak-nya
"Ya udah lain kali..." Putusnya ketika melihat siapa yang menabrak teman-nya
"Salma?! " Zein terkejut ketika melihat wanita yang ingin memberi pelajaran itu padanya, dia langsung mengira-ngira pasti wanita yang ditabrak-nya tadi adalah Zahara. Sedikit rasa senang timbul dari dalam hatinya dan melihat kearah wanita yang kini masih tertunduk mengibas-ibas pakaian-nya.
"Zahara" Tegur nya berusaha melihat wajah gadis yang telah dirindukan-nya itu.
"Zahara? " Ucapnya dan melihat wajah Zein.
Seketika senyum dan raut wajah Zein berubah ketika melihat wanita yang dia harap Zahara ternyata bukan gadis itu.
"Ini sepupu aku, bukan Zahara" Ucap Salma ketus.
"Oh iya" Ucap Zein menunduk sembari mengigit ujung bibirnya kecewa.
Melihat tingal Zein, Salma langsung angkat suara.
"Kamu ngapain nyariin Zahara? " Selidik-nya dengan nada ketus, pasalnya Zahara masih sangat tersiksa atas fakta yang baru dikatakan Zein, kenapa tidak dari awal dia mengatakan dirinya bukan muslim, wajah Salma sedikit tidak bersahabat mengingat bagaimana susahnya dirinya meyakinkan Zahara tapi malah dibuat sakit hati lagi oleh pria yang kini tertunduk didepan-nya.
"Enggak ada" Ucap Zein sembari memegang sepeda kuat-kuat hingga, tampaklah urat tangannya.
"Ohhh ya sudah" Ucap Salma sembari mengajak sepupunya berlalu meninggalkan Zein.
"T-tunggu" Cegah Zein
Salma berhenti tepat di samping Zein dan menatap intens kedua matanya.
Sesaat Zein langsung gugup melihat tatapan barang dari Zein dan langsung menepis nya.
"Zahara ada dimana? Kok dia gak ikut?" Tanya-nya tanpa jeda gugup
"Apa boleh aku bertemu dengannya? " Tanya Zein bertubi-tubi.
Salma yang mendengar pertanyaan Zein menghela nafas, sebelum angkat bicara.
"Kamu mau ketemu Zahara buat apa? Tolong jangan membuat orang lain terluka hanya karna perasaan-mu yang dangkal" Ucap Salma dengan sedikit nada yang menekan
"Aku hanya ingin bertemu, apa tidak boleh? " Tanya Zein kembali tapi tetap menundukkan kepalanya. Seolah entah kenapa dirinya begitu sangat merindukan gadis itu, dan ini tidak salah sama sekali.
"Saat acara nanti dimulai datanglah ke pohon besar dekat danau sana" Ucap Salma menunjuk pohon yang dimaksud dengan matanya dan berlalu meninggalkan Zein tanpa mendengar kata apapun darinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments