Bab 12.Didong

"Dari mana kalian? " Tanya Zein ketika melihat Lukman dan Salman yang baru datang

"Oh iya... Tadi pagi kami diajak pak kepala desa ke rumahnya sebentar" Ucap Lukman sembari memarkirkan sepedanya

"Kami gak ngajak kamu tadi kami kita cuman sebentar, soalnya diajak pas habis sholat subuh" Tambah Salman

"Oh iya gak papa, terus kalian kesana ngapain? " Tanya Zein kembali

"Nanti malam muda-mudi disana lagi ada acara Zein, acara didong jalu katanya, kita juga diajak nonton" Jawab Salman

"Didong? " Zein mengernyitkan alisnya tanda tak tau

"Iya didong, kami juga gak tau itu apa, tapi kita lihat aja nanti malam" Ucap Salman kembali dan berlalu kedalam.

"Katanya seni tepuk tangan sih" Tambah Lukman tanpa melihat kearah Zein dan mengikuti Salman masuk kedalam.

Zein hanya manggut-manggut mendengar sedikit penjelasan dari mereka berdua, walaupun sebenarnya dia tak tau pasti bagaimana acara itu.

Malam tiba dan ketiga pemuda ini kini sudah siap memasukkan barang dan menutup warung.

"Sudah?" Tanya Salman kepada Zein yang mengunci pintu warung.

"Sudah" Jawab Zein dan berjalan ke tempat mereka memarkirkan sepeda

Mereka bertiga berlalu menikmati angin malam yang indah, biasanya mereka akan berangkat setelah subuh saat hari masih gelap dan pulang selepas maghrib saat hari sudah gelap. Mereka bertiga sepakat. Jika, hari jumat Zein akan tinggal karna dia tidak perlu sholat dan mendapat waktu renggang kapan pun dia mau. Tetapi, mereka akan menutup warung jika memang ada acara apapun.

Saat Zein, Salman dan Lukman sudah sampai disekitar desa, mereka mendapati masyarakat sudah berkerumunan disuatu tempat mengelilingi panggung yang kosong.

Dengan segera Zein, Salman dan Lukman turun dari sepeda dan mendorong pelan karna banyak orang yang berlalu lalang kesana kemari.

Zein terus memerhatikan sekitar melihat bagaimana acara seni didong ini berlangsung. Matanya tertuju kepada sekumpulan lelaki yang berkerumunan di suatu tempat menggunakan baju adat lengkap dengan topi dan bantal kecil ditangan mereka. Zein tidak tau apa yang mereka kenakan yang jelas Zein tau kalau itu mungkin baju adat Gayo.

"Aduh" Langkah Zein terhenti ketika menabrak seorang wanita yang kini sudah terjatuh ke tanah.

"Kamu sih melamun aja" Ucap teman wanita itu yang kini membantunya berdiri

"Enggak kok kak, aku yang salah nabrak karna dari tadi aku juga gak liat jalan" Ucap Zein membela wanita yang telah ditabrak-nya

"Ya udah lain kali..." Putusnya ketika melihat siapa yang menabrak teman-nya

"Salma?! " Zein terkejut ketika melihat wanita yang ingin memberi pelajaran itu padanya, dia langsung mengira-ngira  pasti wanita yang ditabrak-nya tadi adalah Zahara. Sedikit rasa senang timbul dari dalam hatinya dan melihat kearah wanita yang kini masih tertunduk mengibas-ibas pakaian-nya.

"Zahara" Tegur nya berusaha melihat wajah gadis yang telah dirindukan-nya itu.

"Zahara? " Ucapnya dan melihat wajah Zein.

Seketika senyum dan raut wajah Zein berubah ketika melihat wanita yang dia harap Zahara ternyata bukan gadis itu.

"Ini sepupu aku, bukan Zahara" Ucap Salma ketus.

"Oh iya" Ucap Zein menunduk sembari mengigit ujung bibirnya kecewa.

Melihat tingal Zein, Salma langsung angkat suara.

"Kamu ngapain nyariin Zahara? " Selidik-nya dengan nada ketus, pasalnya Zahara masih sangat tersiksa atas fakta yang baru dikatakan Zein, kenapa tidak dari awal dia mengatakan dirinya bukan muslim, wajah Salma sedikit tidak bersahabat mengingat bagaimana susahnya dirinya meyakinkan Zahara tapi malah dibuat sakit hati lagi oleh pria yang kini tertunduk didepan-nya.

"Enggak ada" Ucap Zein sembari memegang sepeda kuat-kuat hingga, tampaklah urat tangannya.

"Ohhh ya sudah" Ucap Salma sembari mengajak sepupunya berlalu meninggalkan Zein.

"T-tunggu" Cegah Zein

Salma berhenti tepat di samping Zein dan menatap intens kedua matanya.

Sesaat Zein langsung gugup melihat tatapan barang dari Zein dan langsung menepis nya.

"Zahara ada dimana? Kok dia gak ikut?" Tanya-nya tanpa jeda gugup

"Apa boleh aku bertemu dengannya? " Tanya Zein bertubi-tubi.

Salma yang mendengar pertanyaan Zein menghela nafas, sebelum angkat bicara.

"Kamu mau ketemu Zahara buat apa? Tolong jangan membuat orang lain terluka hanya karna perasaan-mu yang dangkal" Ucap Salma dengan sedikit nada yang menekan

"Aku hanya ingin bertemu, apa tidak boleh? " Tanya Zein kembali tapi tetap menundukkan kepalanya. Seolah entah kenapa dirinya begitu sangat merindukan gadis itu, dan ini tidak salah sama sekali.

"Saat acara nanti dimulai datanglah ke pohon besar dekat danau sana" Ucap Salma menunjuk pohon yang dimaksud dengan matanya dan berlalu meninggalkan Zein tanpa mendengar kata apapun darinya.

Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!