Bab 13. Pohon Besar

Sebelum acara dimulai Zein berpamitan sebentar ke Salman dan Lukman dengan beralasan ingin mengambil sesuatu kerumah.

Tak butuh waktu lama Zein kini sudah berada dibawah pohon besar yang rindang ditepi danau. Diatas bebatuan besar itu dirinya duduk menunggu kedatangan Zahara dengan pandangan kosong menatap air danau yang tenang.

Hari semakin dingin dan acara sudah dimulai mata Zein langsung mengarah keatas panggung yang masih terlihat dari tempat dia duduk, para pemuda yang memakai baju adat tadi Zein lihat kini berbaris satu dan mulai duduk berbaris satu.

Zein hanya menatap mereka dengan tatapan kosong, tampak dari matanya para pria itu sangat lincah menggerakkan tubuh nya yang dari terbangun duduk dan mengulangi kembali seperti itu, menepuk dada keras dan menepuk tangan yang menimbulkan suara yang sangat unik dan nyaman didengar ditelinga. Suara teriakan itu bersaut-saut memenuhi desa, diawal MC menyebut-kan nama pertunjukkan pertama adalah tari saman, jadi ini bukan seni didong ucap Zein membatin.

Sampai tari saman itu selesai Zahara juga masih tidak datang-datang menghampiri dirinya. Zein menghela nafas dan kembali menatap kearah danau. Zein terus menunggu dengan sabar. Hingga, acara utama malam ini berlangsung yaitu acara didong jalu.

Ada dua kelompok berbentuk lingkaran kini sudah berada diatas panggung, mereka tidak mengenakan pakaian adat sama sekali, mereka hanya memakai baju biasa dan ada bantal kecil ditangan mereka, tidak semua memakai bantal itu, hanya sebahagian saja. Acara didong jalu dimulai, pembukaan didong sangat unik dan bagus menurut Zein. Tapi, saat mulai dipertangahan Zein tidak begitu paham apa arti yang sedang mereka nyanyikan walaupun begitu tepukan tangan yang mereka hasilkan memang sangat bagus.

Karna Zein tak mengerti akhirnya pikirannya kembali kosong menatap jalanan kearah pohon berharap ada yang datang kesana dan itu adalah Zahara. Zein berulang kali menghela nafas dan berbagai pikiran menyelimutu dirinya, bagaimanapun Zahara adalah gadis didaerah Aceh, ilmu dan seluruh adabnya sudah diatur sesuai norma, cara dia memandang lawan jenis dan berbicara selalu sesuai etika, dia hanya menatap sekali dan selebihnya menunduk.

Lalu? Bagaimana bisa Zein berharap Zahara akan datang ketempat seperti ini, jauh dari keramaian serta suasana yang gelap gulita dan hanya akan ada mereka berdua. Zein terus menerka-nerka apakah Zahara bersedia bertemu dengan-nya disini. Terkadang dia merasa sia-sia untuk menunggu. Tapi, hati kecilnya tak mau pergi dari sini.

"Zein? " Suara wanita terdengar samar-samar ditelinga Zein dari dalam kegelapan.

"Zahara" Ucapnya langsung berdiri ketika melihat ada seseorang dari dalam gelap itu.

Sosok itu langsung melangkah mendekat kearah Zein, hingga tampaklah wajah cantiknya dibawah cahaya rembulan, seperti biasa Zahara hanya menatap sekali dan menunduk menatap tanah tanpa menatap Zein.

Meski begitu, Zein merasa sangat senang ketika melihat gadis yang dia rindukan itu kini sudah berdiri tepat didepan-nya.

"Ada apa? " Tanya Zahara dan membuyarkan lamunan Zein.

"Oh iya" Zein gugup

"Kamu kenapa gak keliatan dari kemarin? " Tanya Zein

"Enggak papa, tapi maaf sebelumnya Zein, di desaku aku bisa saja kena sanksi dan dihukum jika ketahuan bertemu denganmu ditempat yang seperti ini" Jelas Zahara

"T-tapi..."

"Aku tau tadi Salma yang suruh kamu kesini, aku gak nyalahin kamu, jika ingin bertamu datang saja kerumahku, aku akan menyambut-mu disana" Putus Zahara

Melihat Zein yang hanya diam, Zahara melihat kemana arah mata Zein memandang melalui bayangan disamping nya. Zahara melihat Zein menatap dirinya tanpa berkutik.

"Maaf Zein... Kupikir kamu memang tidak ada keperluan lagi denganku, aku pamit pulang dulu" Ucap Zahara berbalik.

"T-tunggu Zahara" Cegah Zein. Dirinya kini sudah hilang kata ketika melihat bagaimana dinginnya Zahara terhadap-nya.

"Zahara aku tau kamu sangat syok saat itu. Tapi, bukan berarti keyakinan kita berbeda kita tidak bisa berteman kan? Apa kamu tidak bisa seperti dulu lagi? " Tanya Zein berturut-turut.

Zahara menghela nafas-nya dalam sebelum angkat suara tanpa berbalik dan membelakangi Zein.

"Maaf Zein, aku tidak bisa... Tak ada pertemanan antara pria dan wanita yang bukan mahram" Hati Zahara sedikit kecewa, ternyata Zein hanya menganggap dirinya teman selama ini, hanya Zahara yang menganggap lebih.

"Temanku sudah lama menunggu... Aku pulang dahulu" Ucap Zahara dengan nada suara bergetar menahan tangis.

"Zahara aku menyukai dirimu" Ucap Zein berani

Zahara terdiam sejenak ketika mendengar kalimat itu terucap dari Zein, hatinya berkecamuk antara senang dan sedih. Dia tak tau harus senang karna ternyata Zein juga membalas perasaannya atau sedih karna mereka tak akan pernah bisa bersama.

"Aku bertanya-tanya dalam ke sendirian ku beberapa hari ini mencoba untuk berpikir jernih sebelum aku mengambil langkah atas perasaan-ku selama ini, aku benar-benar menyukaimu atau hanya sekedar kagum saja" Ucap Zahara kemudian berbalik mendekat kearah Zein.

"Tapi, " Zahara mengangkat kepalanya dan menatap mata jernih Zein.

Mata mereka beradu saling memandang dengan perasaan yang berkecamuk

"Bagaimana bisa kamu semudah itu mengatakan kata-kata seperti ini, awalnya aku sangat terkejut dan senang ketika tempo hari kau mengatakan ingin menemuiku, itu artinya kau merindukan-ku. Sekarang kau mengatakan menyukai-ku, apa kau sadar dengan ucapanmu? Tanpa sadar kau telah menyakiti hatiku Zein, kau tau kita tak akan bisa bersama, tolong jangan permainkan perasaan ku hanya karna rasamu yang dangkal terhadap ku" Ucap Zahara meluapkan seluruh perasaan dan emosi-nya kepada Zein.

"Aku tidak pernah ingin mempermainkan perasaan mu Zahara" Ucap Zein melihat Zahara yang menahan tangis

"Jika tidak berniat mempermainkan-ku lalu kenapa menyembunyikan agamamu dariku sebelumnya? " Zahara menepis kasar air matanya

"Aku takut Zahara... Aku takut kejadian seperti ini datang"

"Jika takut terjadi seharusnya kamu akan terus menutupi ini" Tanya Zahara kembali dengan sedikit emosi

"Aku merasa bersalah padamu" Zein menunduk

Zahara terdiam dan hanya terdengar nafas berat dari mereka berdua.

"Aku mau pulang dulu" Ucap Zahara ketika hatinya sudah bisa dia atur

"Zahara... Jika dalam agamamu apa yang aku lakukan ini salah, aku minta maaf. Tapi, mengenai perasaanku padamu itu benar adanya"

"Didalam agamaku diajarkan... Haram bagi seorang lelaki menyatakan cinta pada seorang wanita jika tak berniat menikahi-nya" Ucap Zahara menatap tajam mata Zein dan kembali melihat kearah lain

"Aku tidak bisa menikahi-mu kau pasti tau itu. Karna-nya kau juga tak ingin menerima perasaan-ku" Ucap Zein dengan suara serak menahan tangis

Zahara yang mendengar perubahan suara Zein langsung menatap pria itu dengan sedikit mendongak.

"Tak mengapa... Mungkin aku bukan takdir bagi-mu" Zein menunduk tanpa sadar akan tatapan Zahara padanya.

Tangan Zein mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya dan membuka bungkusan koran itu, Zahara hanya menyaksikan dalam diam.

"Saat melihat ini, aku teringat padamu, jadi tolong terima saja ini meski kau tidak ingin memakai-nya" Ucap Zein sembari mengenakan kerudung pink motif bunga mawar itu dikepala Zahara

"Sangat cocok untukmu" Ucap Zein melihat kembali wajah Zahara yang menatap dirinya tanpa henti.

"Aku tidak bermain-main soal perasaan-ku padamu, tapi kita tidak bisa memaksakan diri untuk bisa bersama karna ini menyangkut keyakinan. Fakta bahwa tuhan kita berbeda memang sudah seharusnya menjadi teguran bagiku agar tidak berusaha mendapatkan dirimu" Ucap Zein tanpa sadar air matanya mengalir satu persatu tanpa ijin.

Zein kemudian berlalu meninggalkan Zahara tanpa berbalik sama sekali. Dilihatnya ada Salma disana, dia tak perlu khawatir karna Zahara pasti akan aman dengan adanya Salma disamping Zahara.

Terpopuler

Comments

Chusnul Chotimah

Chusnul Chotimah

cerita ini sangat menarik dari tata bahasa,adab dan agama suatu daerah,,semua menarik penyampaiannya..semangat berkarya thorrr

2023-10-21

0

Chandra Dollores

Chandra Dollores

ya ampun sesaknya celana suami q...
ups maaf..
maksudnya..
sesaknya hati q dg situasi mu Zein... Zahara..
padahal aq sudah meleleh loh dg sikap manis dan perhatian ko Zein..

2023-10-19

0

Aranta Rian

Aranta Rian

Aku bisa aja menyukaimu tapi tuhanmu tak akan membiarkanku mengambil mu. ini akan sulit sebab aku bersaing dengan Tuhan mu

2023-10-16

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!