Bab 4. pria asing didepan pintu

"Zahara... Zahara... Ayok... Kenapa kamu berhenti? " Salma menyadarkan Zahara yang masih tertegun

"Zahara" Salma memukul jidat Zahara dan berhasil menyadarkan-nya

Zahara mengeluh kesakitan seraya mengelus-elus dahinya

"Kamu kenapa mukul aku sih Sal? "

"Kenapa, kenapa, dari tadi tadi manggilin kamu, kamu gak nyaut" Ucap Salma membela diri-nya

"Bilang-nya aja enggak naksir, padahal kamu naksir dia kan? " Celutuk Salma kembali mengenal teman-nya yang satu ini.

"Ahh, enggak kok Sal" Kata Zahara sadar kenapa dia tadi dipukul dan mulai melangkah meninggal-kan Salma agar tidak mendapat ejekan dari Salma.

Melihat tingkah dari Zahara, Salma langsung tau bahwa teman-nya ini pasti sedang malu-malu karna baru pertama kali mendapati perasaan yang seperti ini.

Salma langsung mengejar Zahara dan menggandeng lengannya.

"Ya udah aku ikhlasin buat kamu deh" Celutuk Salma tersenyum kepada Zahara dengan sedikit tertawa

"Ih ikhlasin apaan sih" Tukas Zahara dengan malu-malu

"Ya itu... Yang bikin kamu berdiri kayak patung dan tuli barusan" Ucap Salma mengingat-ingat kembali untuk membuat Zahara malu

"Salma... " Zahara berusaha agar sahabatnya ini berhenti menggodanya.

Salma tertawa geli melihat ekspresi dari Zahara

"Aku orom pong e, ko orom weee boh (Aku bareng teman-nya kamu sama yang dia yah)" Salma menekan kata dia untuk merayu Zahara lagi dan langsung tertawa geli

"Kamu kayak bebek betina aja, bisa cepat suka sama lelaki dengan mudah" Ucap Zahara dengan sedikit tertawa, mendengar perkataan Salma

"Cukup butuh yang singkat Zahara untuk jatuh cinta dengan pria yang tampan" Salma tertawa geli dan disambut Zahara

Mereka pun berlalu dengan gelak tawa dan mulai menutup mulut seketika masuk ke dalam masjid. Sebab, masjid adalah tempat ibadah, tempat yang tidak boleh membicarakan segala hal apapun tentang dunia fana.

Adzan maghrib berkumandang, Salma dan Zahara langsung mendisplinkan anak-anak yang berada di luar dan dalam masjid agar duduk diam mendengar adzan.

"Baca do'a sebelum belajar dulu ya anak-anak" Ucap Salma ketika sudah selesai sholat maghrib dan menyusun barisan dengan berkelompok-kelompok berbentuk lingkaran, satu lingkaran yang akan diajarkan oleh Zahara dan satunya lagi untuk Salma, mereka berdua akan bergantian mengajar di kedua kelompok ini, kelompok A adalah anak-anak yang sudah mengaji Al-quran  dan kelompok B adalah anak-anak yang masih belajar iqro atau juz amma.

"Baik ustadzah" ucap anak-anak dengan serentak dan mulai terdengar suara doa belajar mengaji yang bergemuruh didalam masjid berdindingkan kayu usang tersebut, seperti sudah dimakan rayap.

Salma dan Zahara langsung berpisah kedalam kedua kelompok tersebut, dan sekarang adalah giliran Zahara yang mengajar di kelompok A sementara Salma dikelompok B.

Tak terasa waktu berlalu begitu saja. Hingga, kerumunan itu bubar pulang ke rumah masing-masing tanpa sisa dengan membawa obor ditangan mereka satu persatu.

"Jangan lupa.... Besok jam 08.00 udah disini ya nak" Terdengar suara ibu Salma yang ntah bicara dengan siapa.

Zahara dan Salma spontan langsung melihat ke arah pintu rumah dengan jarak yang lumayan dekat karna hampir sampai ke rumah. Tampak dari sudut mata mereka, ibu Salma sedang berbicara dengan dua orang pria yang membelakangi mereka berdua, ntah apa yang mereka bicarakan tampak ibu dan bapak Salma berbicara dengan diselingi tawa dan canda, seakan -akan mereka sudah akrab begitu lama.

"Iya buk, pak, kami undur diri ya pak" Ucap salah satu dari mereka dan mulai melangkah pergi dari rumah salma

Mendengar para pria itu pergi dari rumah Salma dan langkah kaki yang mendekat kepada mereka, spontan Salma dan Zahara menundukkan kepala dan berjalan kearah rumah tanpa menoleh kearah pria yang kini sudah berjalan disamping mereka.

Tampak jelas dari bayangan yang Zahara liat pria itu menoleh kearah mereka dan berlalu meninggalkan mereka berdua tanpa kata.

"Tadi siapa mak? " Tanya Salma kepada ibunya yang masih berdiri di pintu menatap pria itu.

"Itu... Orang merantau kesini, mau nyari kerjaan" Ucap Ibu Salma sembari menunjuk-nunjuk kearah kedua pria itu yang sudah hampir tak terlihat lagi

"Terus kenapa nanyak kerumah kita? " Tanya Salma kembali memburu penasaran

Zahara hanya ikut mendengarkan kedua percakapan antara ibu dan anak ini tanpa berbicara sedikit-pun.

"Besok kan kita butuh anak muda buat bantu panen padi" Ucap Ibu Salma dengan cepat.

"Ooo iya aku lupa mak"

"Besok kamu juga datang bantu mak pon ya nak" Ucap Ibu Salma pada Zahara

Mak pon adalah panggilan bibi untuk penuturan saudara ipar dari pihak ibu dalam suku Gayo dan pon adalah panggilan dari paman

"Iya Mak pon" Ucap Zahara dengan senyuman dan mengangguk pelan.

"Aku pulang dulu ya Mak pon" Zahara pamit dan berlalu meninggalkan ibu Salma.

Zahara melangkah pelan-pelan dengan sedikit berjinjit karna jalan yang becek dan hanya bermodalkan cahaya kecil dari nyala obor yang ada ditangan-nya.

"Assalamu'alaikum mak" Zahara mengucapkan salam sebelum masuk. Saat Zahara hendak mengetuk pintu, pintu kayu yang sudah usang itu tiba-tiba saja terbuka.

"Mak... Kenapa pintu gak dikunci? " Ucap Zahara kemudian masuk menghampiri ibunya dikamar dengan nada yang sedikit marah dan khawatir.

"Mak" Ucap Zahara dengan sedikit menggoyang-kan tubuh ibunya agar terbangun.

"Iya... Kenapa Zahara? "  Ucap Ibu Zahara dengan suara khas baru bangun tidur-nya.

"Kenapa pintu gak dikunci? " Tanya Zahara kembali

"Mamak gak ingat" Ucap Ibu kepada Zahara memandangnya sendu.

Zahara dengan sedikit kesal dan marah yang bercampur khawatir akhirnya terdiam sejenak tidak ingin ribut dengan ibu-nya

Bayangan bagaimana gejam-nya dulu saat masa pertikaian antara GAM dan TNI terus teringat jelas di pikiran-nya, saat ini baru saja masa pemulihan dan GAM belum benar-benar terhapuskan.

Bisa saja GAM dan TNI muncul kembali dan mengobrak-abrik kampung-nya, itulah menjadi sebab dan alasan kenapa Zahara sangat marah melihat ibu-nya dengan santai tidak menutup pintu.

Berbagai kemungkinan tentang hal buruk terus berputar di otak-nya, Zahara tidak bisa ditinggalkan oleh harta satu-satunya ini, dia merasa kesal hingga pipi-nya merah menyala dengan mata yang menahan air mata.

Zahara hanya bisa menghela nafas dalam-dalam dan menyingkirkan pikiran itu dari kepala-nya.

"Ya udah nak... Mamak minta maaf" Ucap Ibu Zahara sadar kalau Zahara sangat merasa kesal padanya.

"Iya... Lain kali mamak harus hati-hati lagi" Ucap Zahara dengan nafas yang menahan tangis

"Ya udah sini, kita tidur dulu" Ucap mamak sembari menepuk kasur agar Zahara beranjak dari lantai dan pergi ke kasur.

Terpopuler

Comments

Aranta Rian

Aranta Rian

kehidupan aceh masa gam memang sangat menyiksa mereka

2023-10-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!