"Zahara... Zahara... Ayok... Kenapa kamu berhenti? " Salma menyadarkan Zahara yang masih tertegun
"Zahara" Salma memukul jidat Zahara dan berhasil menyadarkan-nya
Zahara mengeluh kesakitan seraya mengelus-elus dahinya
"Kamu kenapa mukul aku sih Sal? "
"Kenapa, kenapa, dari tadi tadi manggilin kamu, kamu gak nyaut" Ucap Salma membela diri-nya
"Bilang-nya aja enggak naksir, padahal kamu naksir dia kan? " Celutuk Salma kembali mengenal teman-nya yang satu ini.
"Ahh, enggak kok Sal" Kata Zahara sadar kenapa dia tadi dipukul dan mulai melangkah meninggal-kan Salma agar tidak mendapat ejekan dari Salma.
Melihat tingkah dari Zahara, Salma langsung tau bahwa teman-nya ini pasti sedang malu-malu karna baru pertama kali mendapati perasaan yang seperti ini.
Salma langsung mengejar Zahara dan menggandeng lengannya.
"Ya udah aku ikhlasin buat kamu deh" Celutuk Salma tersenyum kepada Zahara dengan sedikit tertawa
"Ih ikhlasin apaan sih" Tukas Zahara dengan malu-malu
"Ya itu... Yang bikin kamu berdiri kayak patung dan tuli barusan" Ucap Salma mengingat-ingat kembali untuk membuat Zahara malu
"Salma... " Zahara berusaha agar sahabatnya ini berhenti menggodanya.
Salma tertawa geli melihat ekspresi dari Zahara
"Aku orom pong e, ko orom weee boh (Aku bareng teman-nya kamu sama yang dia yah)" Salma menekan kata dia untuk merayu Zahara lagi dan langsung tertawa geli
"Kamu kayak bebek betina aja, bisa cepat suka sama lelaki dengan mudah" Ucap Zahara dengan sedikit tertawa, mendengar perkataan Salma
"Cukup butuh yang singkat Zahara untuk jatuh cinta dengan pria yang tampan" Salma tertawa geli dan disambut Zahara
Mereka pun berlalu dengan gelak tawa dan mulai menutup mulut seketika masuk ke dalam masjid. Sebab, masjid adalah tempat ibadah, tempat yang tidak boleh membicarakan segala hal apapun tentang dunia fana.
Adzan maghrib berkumandang, Salma dan Zahara langsung mendisplinkan anak-anak yang berada di luar dan dalam masjid agar duduk diam mendengar adzan.
"Baca do'a sebelum belajar dulu ya anak-anak" Ucap Salma ketika sudah selesai sholat maghrib dan menyusun barisan dengan berkelompok-kelompok berbentuk lingkaran, satu lingkaran yang akan diajarkan oleh Zahara dan satunya lagi untuk Salma, mereka berdua akan bergantian mengajar di kedua kelompok ini, kelompok A adalah anak-anak yang sudah mengaji Al-quran dan kelompok B adalah anak-anak yang masih belajar iqro atau juz amma.
"Baik ustadzah" ucap anak-anak dengan serentak dan mulai terdengar suara doa belajar mengaji yang bergemuruh didalam masjid berdindingkan kayu usang tersebut, seperti sudah dimakan rayap.
Salma dan Zahara langsung berpisah kedalam kedua kelompok tersebut, dan sekarang adalah giliran Zahara yang mengajar di kelompok A sementara Salma dikelompok B.
Tak terasa waktu berlalu begitu saja. Hingga, kerumunan itu bubar pulang ke rumah masing-masing tanpa sisa dengan membawa obor ditangan mereka satu persatu.
"Jangan lupa.... Besok jam 08.00 udah disini ya nak" Terdengar suara ibu Salma yang ntah bicara dengan siapa.
Zahara dan Salma spontan langsung melihat ke arah pintu rumah dengan jarak yang lumayan dekat karna hampir sampai ke rumah. Tampak dari sudut mata mereka, ibu Salma sedang berbicara dengan dua orang pria yang membelakangi mereka berdua, ntah apa yang mereka bicarakan tampak ibu dan bapak Salma berbicara dengan diselingi tawa dan canda, seakan -akan mereka sudah akrab begitu lama.
"Iya buk, pak, kami undur diri ya pak" Ucap salah satu dari mereka dan mulai melangkah pergi dari rumah salma
Mendengar para pria itu pergi dari rumah Salma dan langkah kaki yang mendekat kepada mereka, spontan Salma dan Zahara menundukkan kepala dan berjalan kearah rumah tanpa menoleh kearah pria yang kini sudah berjalan disamping mereka.
Tampak jelas dari bayangan yang Zahara liat pria itu menoleh kearah mereka dan berlalu meninggalkan mereka berdua tanpa kata.
"Tadi siapa mak? " Tanya Salma kepada ibunya yang masih berdiri di pintu menatap pria itu.
"Itu... Orang merantau kesini, mau nyari kerjaan" Ucap Ibu Salma sembari menunjuk-nunjuk kearah kedua pria itu yang sudah hampir tak terlihat lagi
"Terus kenapa nanyak kerumah kita? " Tanya Salma kembali memburu penasaran
Zahara hanya ikut mendengarkan kedua percakapan antara ibu dan anak ini tanpa berbicara sedikit-pun.
"Besok kan kita butuh anak muda buat bantu panen padi" Ucap Ibu Salma dengan cepat.
"Ooo iya aku lupa mak"
"Besok kamu juga datang bantu mak pon ya nak" Ucap Ibu Salma pada Zahara
Mak pon adalah panggilan bibi untuk penuturan saudara ipar dari pihak ibu dalam suku Gayo dan pon adalah panggilan dari paman
"Iya Mak pon" Ucap Zahara dengan senyuman dan mengangguk pelan.
"Aku pulang dulu ya Mak pon" Zahara pamit dan berlalu meninggalkan ibu Salma.
Zahara melangkah pelan-pelan dengan sedikit berjinjit karna jalan yang becek dan hanya bermodalkan cahaya kecil dari nyala obor yang ada ditangan-nya.
"Assalamu'alaikum mak" Zahara mengucapkan salam sebelum masuk. Saat Zahara hendak mengetuk pintu, pintu kayu yang sudah usang itu tiba-tiba saja terbuka.
"Mak... Kenapa pintu gak dikunci? " Ucap Zahara kemudian masuk menghampiri ibunya dikamar dengan nada yang sedikit marah dan khawatir.
"Mak" Ucap Zahara dengan sedikit menggoyang-kan tubuh ibunya agar terbangun.
"Iya... Kenapa Zahara? " Ucap Ibu Zahara dengan suara khas baru bangun tidur-nya.
"Kenapa pintu gak dikunci? " Tanya Zahara kembali
"Mamak gak ingat" Ucap Ibu kepada Zahara memandangnya sendu.
Zahara dengan sedikit kesal dan marah yang bercampur khawatir akhirnya terdiam sejenak tidak ingin ribut dengan ibu-nya
Bayangan bagaimana gejam-nya dulu saat masa pertikaian antara GAM dan TNI terus teringat jelas di pikiran-nya, saat ini baru saja masa pemulihan dan GAM belum benar-benar terhapuskan.
Bisa saja GAM dan TNI muncul kembali dan mengobrak-abrik kampung-nya, itulah menjadi sebab dan alasan kenapa Zahara sangat marah melihat ibu-nya dengan santai tidak menutup pintu.
Berbagai kemungkinan tentang hal buruk terus berputar di otak-nya, Zahara tidak bisa ditinggalkan oleh harta satu-satunya ini, dia merasa kesal hingga pipi-nya merah menyala dengan mata yang menahan air mata.
Zahara hanya bisa menghela nafas dalam-dalam dan menyingkirkan pikiran itu dari kepala-nya.
"Ya udah nak... Mamak minta maaf" Ucap Ibu Zahara sadar kalau Zahara sangat merasa kesal padanya.
"Iya... Lain kali mamak harus hati-hati lagi" Ucap Zahara dengan nafas yang menahan tangis
"Ya udah sini, kita tidur dulu" Ucap mamak sembari menepuk kasur agar Zahara beranjak dari lantai dan pergi ke kasur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Aranta Rian
kehidupan aceh masa gam memang sangat menyiksa mereka
2023-10-16
0