Dua hari setelah hari itu berlalu kini Zahara sudah merasa sedikit lebih bisa menerima kenyataan yang akan dia hadapi kedepannya.
Besok keluarga pelamar kemarin akan datang kembali sesuai janji yaitu setelah tiga hari menunggu. Zahara meminta Salma menemaninya ke pasar membeli cemilan untuk tamu besok. Meski hati Zahara masih merasakan sesak tapi dia lebih memilih untuk beraktivitas seperti biasa. Cinta tak boleh melemahkan-nya pikir Zahara.
"Salma, nanti kita belanja ke warung Zein aja ya" Ucap Zahara sembari mengayuh dayung sepeda.
"Lah kok kesitu, jangan nambah sakit hati lagi Zahara, besok kamu mau ketemu calon-mu lo" Ucap Salma kaget
"Gak papa Salma, mau perpisahan" Zahara tersenyum manis
"Helleh awas aja kamu aneh aneh ya" Ancam Salma
Salma dan Zahara sampai di gerbang pasar dan memilih memarkirkan sepeda mereka disana. Dari gerbang mereka akan berjalan menuju warung Zein.
"Nak Zahara ya? " Ucap wanita tua memegang lengan Zahara menyapa-nya.
"Eh iya buk, kenapa buk? " Ucap Zahara dengan senyuman manis
"Memang cantik ya dikamu kerudung-nya nak Zahara, dari Zein kan?" Ucap wanita itu dengan mata sedikit memicingkan kearahnya
Zahara tersenyum malu-malu mendapati pertanyaan seperti itu dan menatap Salma bergantian.
"Nak Zein kemarin beli di toko ibu, katanya buat ibu-nya. Padahal dia kan bukan muslim kan ya" Ucap wanita itu
Mendengar kata bukan muslim membuat hatinya berdesir nyeri ntah kenapa. Padahal diawal dia sudah katakan akan siap dengan segala resiko dan situasi yang akan dihadapi-nya.
"Iya buk" Zahara mengangguk
"Nah ibu tau dong, jilbab motif kayak gini mana ada untuk ibu-ibu, awalnya ibu ngasih gratis. Sama dia malah dikasih gula sama minyak makan... Haduh haduh lucu dia" Ucap wanita itu dengan sedikit tertawa dan disambut oleh Zahara dan Salma
"Tapi kok beberapa hari ini nak Zein keliatannya lesu nak ya, malah dua hari ke belakang ibu gak pernah nampak" Tanya wanita itu kepada Zahara
Zahara yang mendapat pertanyaan itu hanya bingung dengan wajah yang bingung juga.
"Ya udah nak... Ibu mau ke toko ibu dulu ya" Ucapnya dan pamit meninggalkan mereka berdua.
Zahara dan Salma hanya melempar tatapan dengan wajah bingung dan tanda tanya sembari terus melangkah kewarung Zein.
"Permisi bg" Ucap Zahara ramah
"Oh iya Zahara, Salma... Mau beli apa? " Ucap Salman menghampiri mereka berdua.
"Roti hatari-nya empat, 2 kilo gula putih sama teh-nya sekotak bg" Zahara memberitahu daftar belanjaan.
"Oh iya tunggu sebentar ya" Ucap Salman dan dengan cepat mengambil satu persatu belanjaan Zahara.
"Ini Zahara" Ucapnya kembali dengan sebuah kresek plastik sedang dan memberikan-nya kepada Zahara
"Ada lagi? " Tanya-nya
"Enggak bg... Tapi, kami mau nanyak boleh gak bg? " Ucap Zahara dengan sedikit kikuk.
"Boleh... Apa itu? "
"Zein kok gak kelihatan ya bg? " Tanya Zahara cepat.
"Zein? " Salman sedikit terkejut mendengar nama itu disebut Zahara.
"Iya bg" Zahara mengangguk pelan.
"Zahara kerumah sakit tadi sama Lukman" Tutur Salman
"Rumah sakit? Ngapain? " Tanya Zahara
"Sudah dua hari Zein lemas kayak gak ada semangat, tadi pagi badannya panas bener, jadi Lukman bantu ngantar ke rumah sakit buat berobat" Jelas Salman kepada Zahara.
"Oh iya bg" Zahara mengangguk pelan
"Iya dek Zahara" Ucap Salman dengan senyuman manis.
Zahara dan Salma akhirnya bergegas pergi dengan langkah pelan meninggalkan warung itu dan pergi kearah gerbang.
"Kok murung Zahara? " Tegur Salma ketika melihat Zahara yang murung
"Singgah sebelum pulang yuk Salma" Ajak Zahara.
"Kamu kayaknya udah bener-bener dimabuk cinta deh Zahara" Salma menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu.
"Mau ya? " Ajak Zahara dengan sedikit memaksa.
"Ya udah ayo" Salma pasrah
Dengan perlahan dan pasti kaki mereka mandayung sepeda kearah masjid yang masih di seputaran pasar.
"Ehh Zahara itu bukan-nya Zein ya? " Tanya Salma ketika melihat Zein yang sedang di boncengin Lukman dibelakangnya.
Belum sempat Zahara melihat kearah yang dimaksud Salma. Salma dengan cepat menghentikan sepeda mereka.
"Lukman. Zein" Teriak Salma menghentikan mereka berdua.
"Salma?!, ada apa? " Tanya Lukman menghentikan sepedanya.
"Pinggir sebentar kesana" Ajak Salma dan memimpin jalan ke wilayah yang tidak begitu ramai
"Ada apa?! " Tanya Lukman kembali setelah sampai.
"Itu, Zahara pengen bicara sebentar sama Zein" Ucap Salma menunjuk kearah Zahara
"Zahara?!" Tanya Zein kembali mendengar nama gadis itu.
" Iya Zahara... Itu dia " Tunjuk Salma melihat Zahara yang ketinggalan
Sesampainya disana, Zahara tertunduk dan berjalan agak menjauh dari mereka. Zein yang paham dengan wajah lesu dia mengikuti Zahara sedikit menjauh dari Salma dan Lukman.
"Ada apa Zahara? " Ucap Zein sumringah melihat gadis itu setelah dua hari lamanya. Seakan semangat-nya terisi kembali.
"Aku dengar kamu sakit" Ucap Zahara basa-basi
"Cuman demam biasa, kamu khawatir-in aku ya? " Ucapnya dengan senyuman yang semakin melebar
Zahara hanya mengangguk tanpa balas menatap Zein.
"Besok aku bakal ngasih jawaban atas lamaran-ku kemarin Zein" Ucap Zahara
Mendengar pembahasan itu keluar dari bibir Zahara, senyum Zein langsung hilang seketika.
"Terus kamu mau ngasih jawaban apa?" Selidik Zein
"Aku gak punya alasan untuk menolak" Jawab Zahara dengan mengela nafas
"Kamu cinta sama dia? " Tanya Zein menatap kedua manik mata gadis itu.
"Kamu bisa nikah sama orang yang gak kamu suka? " Tanya Zein kembali
Zahara menghela nafas panjang sebelum menjawab " Dia tentu bukan orang yang kucinta. Tapi, orang yang kucinta sudah tentu tidak akan bisa bersama-ku.... Lambat laun aku pasti akan mencintai-nya"
"Aku bertanya padamu Zahara. Saat ini apa hatimu ada namaku? " Ucap Zahara membuat matanya menatap mata Zein yang sedang bertanya padanya.
"Jawab aku Zahara" Tanya Zein kembali.
"Jika aku membuktikan cintaku padamu. Apa masih ada kemungkinan kau akan memilih-ku? " Tanya Zein dengan air mata yang sudah menetes dari pelupuk mata-nya.
"Maaf Zein... Kau tidak akan bisa membuktikan-nya padaku sampai kapanpun" Ucap Zahara dengan dada sesak.
"Aku kemari hanya ingin memberikan-mu ini" Ucap Zahara sembari memberikan bingkisan kecil dalam koran kepada Zein.
"Semoga kita tak saling bertemu dan berhutang kembali" Ucap Zahara dan meninggalkan Zein dengan pertanyaan yang belum dia jawab sama sekali.
"Zahara... Aku akan membuktikan-nya sesegera mungkin, selanjutnya aku akan melihat bagaimana dirimu bertindak" Ucap Zein dengan mata membara dihadapan Salma dan Lukman.
Zein dengan cepat mengajak Lukman pergi dari sana meninggalkan mereka berdua dengan wajah bingung atas prilaku Zsin yang membingungkan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments