Bab 15. keadaan zein

Dua hari setelah hari itu berlalu kini Zahara sudah merasa sedikit lebih bisa menerima kenyataan yang akan dia hadapi kedepannya.

Besok keluarga pelamar kemarin akan datang kembali sesuai janji yaitu setelah tiga hari menunggu. Zahara meminta Salma menemaninya ke pasar membeli cemilan untuk tamu besok. Meski hati Zahara masih merasakan sesak tapi dia lebih memilih untuk beraktivitas seperti biasa. Cinta tak boleh melemahkan-nya pikir Zahara.

"Salma, nanti kita belanja ke warung Zein aja ya" Ucap Zahara sembari mengayuh dayung sepeda.

"Lah kok kesitu, jangan nambah sakit hati lagi Zahara, besok kamu mau ketemu calon-mu lo" Ucap Salma kaget

"Gak papa Salma, mau perpisahan" Zahara tersenyum manis

"Helleh awas aja kamu aneh aneh ya" Ancam Salma

Salma dan Zahara sampai di gerbang pasar dan memilih memarkirkan sepeda mereka disana. Dari gerbang mereka akan berjalan menuju warung Zein.

"Nak Zahara ya? " Ucap wanita tua memegang lengan Zahara menyapa-nya.

"Eh iya buk, kenapa buk? " Ucap Zahara dengan senyuman manis

"Memang cantik ya dikamu kerudung-nya nak Zahara, dari Zein kan?" Ucap wanita itu dengan mata sedikit memicingkan kearahnya

Zahara tersenyum malu-malu mendapati pertanyaan seperti itu dan menatap Salma bergantian.

"Nak Zein kemarin beli di toko ibu, katanya buat ibu-nya. Padahal dia kan bukan muslim kan ya" Ucap wanita itu

Mendengar kata bukan muslim membuat hatinya berdesir nyeri ntah kenapa. Padahal diawal dia sudah katakan akan siap dengan segala resiko dan situasi yang akan dihadapi-nya.

"Iya buk" Zahara mengangguk

"Nah ibu tau dong, jilbab motif kayak gini mana ada untuk ibu-ibu, awalnya ibu ngasih gratis. Sama dia malah dikasih gula sama minyak makan... Haduh haduh lucu dia" Ucap wanita itu dengan sedikit tertawa dan disambut oleh Zahara dan Salma

"Tapi kok beberapa hari ini nak Zein keliatannya lesu nak ya, malah dua hari ke belakang ibu gak pernah nampak" Tanya wanita itu kepada Zahara

Zahara yang mendapat pertanyaan itu hanya bingung dengan wajah yang bingung juga.

"Ya udah nak... Ibu mau ke toko ibu dulu ya" Ucapnya dan pamit meninggalkan mereka berdua.

Zahara dan Salma hanya melempar tatapan dengan wajah bingung dan tanda tanya sembari terus melangkah kewarung Zein.

"Permisi bg" Ucap Zahara ramah

"Oh iya Zahara, Salma... Mau beli apa? " Ucap Salman menghampiri mereka berdua.

"Roti hatari-nya empat, 2 kilo gula putih sama teh-nya sekotak bg" Zahara memberitahu daftar belanjaan.

"Oh iya tunggu sebentar ya" Ucap Salman dan dengan cepat mengambil satu persatu belanjaan Zahara.

"Ini Zahara" Ucapnya kembali dengan sebuah kresek plastik sedang dan memberikan-nya kepada Zahara

"Ada lagi? " Tanya-nya

"Enggak bg... Tapi, kami mau nanyak boleh gak bg? " Ucap Zahara dengan sedikit kikuk.

"Boleh... Apa itu? "

"Zein kok gak kelihatan ya bg? " Tanya Zahara cepat.

"Zein? " Salman sedikit terkejut mendengar nama itu disebut Zahara.

"Iya bg" Zahara mengangguk pelan.

"Zahara kerumah sakit tadi sama Lukman" Tutur Salman

"Rumah sakit? Ngapain? " Tanya Zahara

"Sudah dua hari Zein lemas kayak gak ada semangat, tadi pagi badannya panas bener, jadi Lukman bantu ngantar ke rumah sakit buat berobat" Jelas Salman kepada Zahara.

"Oh iya bg" Zahara mengangguk pelan

"Iya dek Zahara" Ucap Salman dengan senyuman manis.

Zahara dan Salma akhirnya bergegas pergi dengan langkah pelan meninggalkan warung itu dan pergi kearah gerbang.

"Kok murung Zahara? " Tegur Salma ketika melihat Zahara yang murung

"Singgah sebelum pulang yuk Salma" Ajak Zahara.

"Kamu kayaknya udah bener-bener dimabuk cinta deh Zahara" Salma menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu.

"Mau ya? " Ajak Zahara dengan sedikit memaksa.

"Ya udah ayo" Salma pasrah

Dengan perlahan dan pasti kaki mereka mandayung sepeda kearah masjid yang masih di seputaran pasar.

"Ehh Zahara itu bukan-nya Zein ya? " Tanya Salma ketika melihat Zein yang sedang di boncengin Lukman dibelakangnya.

Belum sempat Zahara melihat kearah yang dimaksud Salma. Salma dengan cepat menghentikan sepeda mereka.

"Lukman. Zein" Teriak Salma menghentikan mereka berdua.

"Salma?!, ada apa? " Tanya Lukman menghentikan sepedanya.

"Pinggir sebentar kesana" Ajak Salma dan memimpin jalan ke wilayah yang tidak begitu ramai

"Ada apa?! " Tanya Lukman kembali setelah sampai.

"Itu, Zahara pengen bicara sebentar sama Zein" Ucap Salma menunjuk kearah Zahara

"Zahara?!" Tanya Zein kembali mendengar nama gadis itu.

" Iya Zahara... Itu dia " Tunjuk Salma melihat Zahara yang ketinggalan

Sesampainya disana, Zahara tertunduk dan berjalan agak menjauh dari mereka. Zein yang paham dengan wajah lesu dia mengikuti Zahara sedikit menjauh dari Salma dan Lukman.

"Ada apa Zahara? " Ucap Zein sumringah melihat gadis itu setelah dua hari lamanya. Seakan semangat-nya terisi kembali.

"Aku dengar kamu sakit" Ucap Zahara basa-basi

"Cuman demam biasa, kamu khawatir-in aku ya? " Ucapnya dengan senyuman yang semakin melebar

Zahara hanya mengangguk tanpa balas menatap Zein.

"Besok aku bakal ngasih jawaban atas lamaran-ku kemarin Zein" Ucap Zahara

Mendengar pembahasan itu keluar dari bibir Zahara, senyum Zein langsung hilang seketika.

"Terus kamu mau ngasih jawaban apa?" Selidik Zein

"Aku gak punya alasan untuk menolak" Jawab Zahara dengan mengela nafas

"Kamu cinta sama dia? " Tanya Zein menatap kedua manik mata gadis itu.

"Kamu bisa nikah sama orang yang gak kamu suka? " Tanya Zein kembali

Zahara menghela nafas panjang sebelum menjawab " Dia tentu bukan orang yang kucinta. Tapi, orang yang kucinta sudah tentu tidak akan bisa bersama-ku.... Lambat laun aku pasti akan mencintai-nya"

"Aku bertanya padamu Zahara. Saat ini apa hatimu ada namaku? " Ucap Zahara membuat matanya menatap mata Zein yang sedang bertanya padanya.

"Jawab aku Zahara" Tanya Zein kembali.

"Jika aku membuktikan cintaku padamu. Apa masih ada kemungkinan kau akan memilih-ku? " Tanya Zein dengan air mata yang sudah menetes dari pelupuk mata-nya.

"Maaf Zein... Kau tidak akan bisa membuktikan-nya padaku sampai kapanpun" Ucap Zahara dengan dada sesak.

"Aku kemari hanya ingin memberikan-mu ini" Ucap Zahara sembari memberikan bingkisan kecil dalam koran kepada Zein.

"Semoga kita tak saling bertemu dan berhutang kembali" Ucap Zahara dan meninggalkan Zein dengan pertanyaan yang belum dia jawab sama sekali.

"Zahara... Aku akan membuktikan-nya sesegera mungkin, selanjutnya aku akan melihat bagaimana dirimu bertindak" Ucap Zein dengan mata membara dihadapan Salma dan Lukman.

Zein dengan cepat mengajak Lukman pergi dari sana meninggalkan mereka berdua dengan wajah bingung atas prilaku Zsin yang membingungkan

Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!