Bab 5. Namanya Zein

Pagi hari tiba dengan mata hari yang cantik terbit dari timur, tampak seluruh manusia sudah bertebaran dimuka bumi untuk mencari nafkah dan anak-anak pergi kesekolah. Begitu juga dengan Zahara dan Salma, dua gadis desa yang cantik jelita ini kini sedang sibuk menenteng keranjang yang terbuat dari goni usang disebelah kanan dan kiri mereka.

Dengan langkah pelan Zahara dan Salma terus menusuri jalan menuju sawah yang sangat luas berwarna kuning tanda padi sudah matang dan akan segera dipanen.

“Duduk dulu yuk Zahara” ucap Salma ketika telah sampai dan langsung mendudukkan dirinya kepondok kecil sembari mengeluarkan piring, gelas, sendok dan alat makan lain-nya dari dalam keranjang yang dia bawa tadi.

Zahara tidak menjawab perkataan dari Salma, Zahara hanya duduk disisi lain dengan tangan yang juga telaten mengeluarkan barang-barang dari dalam keranjang yang dia bawa.

Sementara itu para ibu-ibu yang ikut kesawah sudah berada didalam lumpuran petakan-petakan sawah dan siap memanen dengan sarung tangan dan kaus kaki lengkap dengan tudung kepala dari kain sarung yang dilipat cantik diatas kepala meraka agar matahari tidak membuat kepala sakit.

“Ooo Beberu… udah itu duduk-nya” ucap salah satu ibu-ibu dengan nada sedikit berteriak ke arah Zahara dan Salma yang masih terduduk melamun. Zahara dan Salma yang sadar mereka dipanggil

“ Iya mak” ucap mereka serentak dan segera beranjak dari duduk nyaman sembari menggunakan peralatan menyabit padi

Beberu adalah panggilan untuk anak gadis dewasa. Sementara, Bebujang adalah panggilan untuk anak lelaki yang sudah dewasa dari suku Gayo.

Sawah yang dimiliki orang tua Salma sebenarnya tidak begitu banyak, ditambah banyaknya Ibu-ibu yang membantu, membuat proses pemotongan padi kali ini tidak lama hanya sampai dzuhur.

Zahara dan Salma keluar terlebih dahulu dari sawah menuju pondok kecil dan mulai mengeluarkan satu persatu dari pondok nasi dan lauk pauk beserta kolak pisang untuk dimakan bersama-sama sebelum pulang.

Dengan telaten Zahara dan Salma menghidangkan nasi dan lauk kedepan para ibu-ibu yang sudah keluar dari sawah dan duduk diluar pondok sembari menikmati angin yang bertiup pelan dan menyegarkan.

“Itu siapa mak Salma?” tanya seorang ibu-ibu kepada ibu Salma sembari menunjuk ke kerumunan para pria yang sedang membawa mesin padi yang kelihatan-nya sangat berat, hingga harus dibopong oleh empat sampai 5 orang menggunakan bambu panjang dan berjalan kearah mereka.

“Ohhh itu… itu anak-anak merantau kesini, katanya dari Medan” ucap buk Salma dan Semua mata tertuju kearah yang dimaksud oleh ibu-ibu itu. Begitu juga dengan Zahara dan Salma

Zahara dan Salma juga tak lupa ikut melihat kearah yang dimaksud oleh ibu-ibu itu

Spontan mata mereka bertemu dan langsung terbatuk-batuk karna terkejut melihat siapa yang datang dengan cepat mereka dapat memahami isi kepala satu sama lain.

“Dasar anak-anak genit, tau saja mana yang ganteng” celutuk ibu Salma kepada mereka berdua

Zahara dan Salma yang mendengar ucapan itu langsung tersenyum kecut dan malu-malu sembari menyeruput air yang ada didepan mereka. Dengan pandangan yang bertanya-tanya Zahara memandang Salma kenapa pria itu ada disawah Salma. Salma yang mendapati pandangan itu pun hanya menampakkan wajah yang bingung kembali kepada Zahara.

“Makan dulu nak” ucap Ibu Salma setelah mereka meletakkan mesin padi yang tidak jauh dari mereka

“Iya buk” ucap mereka dengan sopan sambil menunduk dan mengelap-elap keringat mereka menggunakan handuk yang terletak dileher mereka masing-masing.

“Gadis-gadis cepat hidangkan kesana” Ucap ibu Salma memerintah kepada Zahara dan Salma

Zahara dan Salma yang mendengar mereka disusuh langsung bergegas meletakkan piring-nya dan mulai mengambil bagian yang akan diberikan kepada para lelaki tadi.

“Kamu duluan”

“Ihhh kamu duluan lah Sal, ini kan sawah kamu” mereka berdua saling berdorongan tidak mau melangkah terlebih dahulu untuk mendeka.

Melihat tingkah kedua gadis ini, salah satu dari mereka akhirnya memutuskan untuk berdiri dan mengambil peralatan makan dari tangan mereka satu persatu.

Zahara yang kaget melihat ada tangan yang memegang keranjang yang sedang dibawanya langsung mendongak dan terkejut melihat pria yang dia temui dipasar kala itu, kini berdiri didepan-nya dengan jarak yang sangat dekat.

“Sini biar aku aja” ucap-nya lembut sembari tersenyum.

Zahara tertegun melihat senyuman manis orang didepan-nya ini, sangat indah.

Pria itu hanya tersenyum dan menarik pelan keranjang dari genggaman Zahara yang kini masih digenggam-nya dengan erat.

“Sini” ulang-nya lagi

Melihat Zahara yang masih memgang erat keranjang-nya dengan cepat Salma menggoyangkan lengan Zahara dengan keras

“Oh iya” ucap Zahara kikuk dan merasa malu lalu tertunduk kemudian melepaskan genggaman-nya.

“Jangan malu-malu, santai saja” ucap-nya sembari tertawa melihat tingkah kedua wanita ini.

“Iya bg” ucap mereka sembari mengangguk pelan dan memberikankeranjang makanan yang mereka pegang.

“Zein… cepat” salah satu pria dari kerumunan itu memanggil dengan nada yang sedikit teriak

“Iya bg” ucap-nya dan berlalu meninggalkan Zahara dan Salma dengan senyuman manis

‘Zein?… namanya Zein?’ dalam benak Zahara bertanya-tanya diikuti dengan sebuah senyuman karna senang akhirnya dia kini mengetahui nama pria itu.

“Ayok” Salma mengajak Zahara pergi menuju pondok.

“Nak... Mamak pulang duluan, kalian tunggu disini sampe bebujang itu siap makan ya” ucap ibu Salma sembari menyusun piring bekas makan mereka kedalam keranjang kembali.

Zahara dan Salma hanya mengangguk pelan paham dan duduk kembali kedalam pondok sembari menunggu.

Satu persatu para ibu-ibu pergi meninggalkan sawah dengan suara berisik dan gelak tawa yang bersautan. Entah apa yang mereka bicarakan Zahara hanya tetap diam sampai suara itu tak terdengar lagi ditelinga-nya.

Zahara dan Salma diam membisu tanpa kata sembari termenung melihat pemandangan sawah yang sangat luas dan nyaman dipandang mata, mata Zahara terhenti ketika mata-nya ingin berhenti sekejab memandang pria yang dua hari ini sudah mengganggu pikiran dan hati-nya. Tanpa dia sadari bibir-nya terangkat dan membentuk lengkungan ketika melihat pria yang dipandang-nya itu.

“Cie… jatuh cinta ni ye” Salma tertawa kecil dan mengejek teman-nya itu.

“Ih Salma apaan sih”

“Ehh pipi kamu kok merah?” ejek Salma kemabali ketika melihat pipi Zahara yang memerah

“Enggak kok” ucap Zahara sembari memegangi kedua pipi-nya

“Dek” Ucap seorang pria dan spontan menghentikan gelak tawa mereka

“Ini piring-nya” sembari meletakkan-nya keatas tanah

“Oh iya bg” ucap mereka bersamaan dan tersenyum

“Abg pamit dulu ya… Zahara” ucap-nya dengan tersenyum dan berhasil membuat Zahara terkejut dan memandang-nya sampai hilang dari pandangan-nya.

Melihat Zahara yang masih terdiam bingung Salma langsung berbicara dengan nada yang sedikit keras “Iya bg… sampai jumpa di masjid ya bg”

“Masjid?” Zahara memandang Salma dengan tanda tanya

“Iya, Masjid… kata Mamak-ku mereka tinggal didekat masjid mulai tadi malam” jawab Salma

“Kok kamu gak kasih tau kalau mereka bakal datang kesini” tanya Zahara kembali/

“Aku kan gak tau kalau yang datang itu mereka, aku cuman tau, ada yang datang kesawah sama mereka tinggal dimana, kan aku sama kamu kemarin, itu lo… yang didepan rumah” celoteh Salna panjang lebar

Zahara mengingat kembali dan langsung mengangguk-angguk pelan ketika diri-nya ingat dengan kedua pria tadi malam.

“He’em yang itu” Ucap Salma membenarkan anggukan Zahara dan langsung disambut dengan gelak tawa oleh Zahara.

Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!