Pagi hari tiba dengan mata hari yang cantik terbit dari timur, tampak seluruh manusia sudah bertebaran dimuka bumi untuk mencari nafkah dan anak-anak pergi kesekolah. Begitu juga dengan Zahara dan Salma, dua gadis desa yang cantik jelita ini kini sedang sibuk menenteng keranjang yang terbuat dari goni usang disebelah kanan dan kiri mereka.
Dengan langkah pelan Zahara dan Salma terus menusuri jalan menuju sawah yang sangat luas berwarna kuning tanda padi sudah matang dan akan segera dipanen.
“Duduk dulu yuk Zahara” ucap Salma ketika telah sampai dan langsung mendudukkan dirinya kepondok kecil sembari mengeluarkan piring, gelas, sendok dan alat makan lain-nya dari dalam keranjang yang dia bawa tadi.
Zahara tidak menjawab perkataan dari Salma, Zahara hanya duduk disisi lain dengan tangan yang juga telaten mengeluarkan barang-barang dari dalam keranjang yang dia bawa.
Sementara itu para ibu-ibu yang ikut kesawah sudah berada didalam lumpuran petakan-petakan sawah dan siap memanen dengan sarung tangan dan kaus kaki lengkap dengan tudung kepala dari kain sarung yang dilipat cantik diatas kepala meraka agar matahari tidak membuat kepala sakit.
“Ooo Beberu… udah itu duduk-nya” ucap salah satu ibu-ibu dengan nada sedikit berteriak ke arah Zahara dan Salma yang masih terduduk melamun. Zahara dan Salma yang sadar mereka dipanggil
“ Iya mak” ucap mereka serentak dan segera beranjak dari duduk nyaman sembari menggunakan peralatan menyabit padi
Beberu adalah panggilan untuk anak gadis dewasa. Sementara, Bebujang adalah panggilan untuk anak lelaki yang sudah dewasa dari suku Gayo.
Sawah yang dimiliki orang tua Salma sebenarnya tidak begitu banyak, ditambah banyaknya Ibu-ibu yang membantu, membuat proses pemotongan padi kali ini tidak lama hanya sampai dzuhur.
Zahara dan Salma keluar terlebih dahulu dari sawah menuju pondok kecil dan mulai mengeluarkan satu persatu dari pondok nasi dan lauk pauk beserta kolak pisang untuk dimakan bersama-sama sebelum pulang.
Dengan telaten Zahara dan Salma menghidangkan nasi dan lauk kedepan para ibu-ibu yang sudah keluar dari sawah dan duduk diluar pondok sembari menikmati angin yang bertiup pelan dan menyegarkan.
“Itu siapa mak Salma?” tanya seorang ibu-ibu kepada ibu Salma sembari menunjuk ke kerumunan para pria yang sedang membawa mesin padi yang kelihatan-nya sangat berat, hingga harus dibopong oleh empat sampai 5 orang menggunakan bambu panjang dan berjalan kearah mereka.
“Ohhh itu… itu anak-anak merantau kesini, katanya dari Medan” ucap buk Salma dan Semua mata tertuju kearah yang dimaksud oleh ibu-ibu itu. Begitu juga dengan Zahara dan Salma
Zahara dan Salma juga tak lupa ikut melihat kearah yang dimaksud oleh ibu-ibu itu
Spontan mata mereka bertemu dan langsung terbatuk-batuk karna terkejut melihat siapa yang datang dengan cepat mereka dapat memahami isi kepala satu sama lain.
“Dasar anak-anak genit, tau saja mana yang ganteng” celutuk ibu Salma kepada mereka berdua
Zahara dan Salma yang mendengar ucapan itu langsung tersenyum kecut dan malu-malu sembari menyeruput air yang ada didepan mereka. Dengan pandangan yang bertanya-tanya Zahara memandang Salma kenapa pria itu ada disawah Salma. Salma yang mendapati pandangan itu pun hanya menampakkan wajah yang bingung kembali kepada Zahara.
“Makan dulu nak” ucap Ibu Salma setelah mereka meletakkan mesin padi yang tidak jauh dari mereka
“Iya buk” ucap mereka dengan sopan sambil menunduk dan mengelap-elap keringat mereka menggunakan handuk yang terletak dileher mereka masing-masing.
“Gadis-gadis cepat hidangkan kesana” Ucap ibu Salma memerintah kepada Zahara dan Salma
Zahara dan Salma yang mendengar mereka disusuh langsung bergegas meletakkan piring-nya dan mulai mengambil bagian yang akan diberikan kepada para lelaki tadi.
“Kamu duluan”
“Ihhh kamu duluan lah Sal, ini kan sawah kamu” mereka berdua saling berdorongan tidak mau melangkah terlebih dahulu untuk mendeka.
Melihat tingkah kedua gadis ini, salah satu dari mereka akhirnya memutuskan untuk berdiri dan mengambil peralatan makan dari tangan mereka satu persatu.
Zahara yang kaget melihat ada tangan yang memegang keranjang yang sedang dibawanya langsung mendongak dan terkejut melihat pria yang dia temui dipasar kala itu, kini berdiri didepan-nya dengan jarak yang sangat dekat.
“Sini biar aku aja” ucap-nya lembut sembari tersenyum.
Zahara tertegun melihat senyuman manis orang didepan-nya ini, sangat indah.
Pria itu hanya tersenyum dan menarik pelan keranjang dari genggaman Zahara yang kini masih digenggam-nya dengan erat.
“Sini” ulang-nya lagi
Melihat Zahara yang masih memgang erat keranjang-nya dengan cepat Salma menggoyangkan lengan Zahara dengan keras
“Oh iya” ucap Zahara kikuk dan merasa malu lalu tertunduk kemudian melepaskan genggaman-nya.
“Jangan malu-malu, santai saja” ucap-nya sembari tertawa melihat tingkah kedua wanita ini.
“Iya bg” ucap mereka sembari mengangguk pelan dan memberikankeranjang makanan yang mereka pegang.
“Zein… cepat” salah satu pria dari kerumunan itu memanggil dengan nada yang sedikit teriak
“Iya bg” ucap-nya dan berlalu meninggalkan Zahara dan Salma dengan senyuman manis
‘Zein?… namanya Zein?’ dalam benak Zahara bertanya-tanya diikuti dengan sebuah senyuman karna senang akhirnya dia kini mengetahui nama pria itu.
“Ayok” Salma mengajak Zahara pergi menuju pondok.
“Nak... Mamak pulang duluan, kalian tunggu disini sampe bebujang itu siap makan ya” ucap ibu Salma sembari menyusun piring bekas makan mereka kedalam keranjang kembali.
Zahara dan Salma hanya mengangguk pelan paham dan duduk kembali kedalam pondok sembari menunggu.
Satu persatu para ibu-ibu pergi meninggalkan sawah dengan suara berisik dan gelak tawa yang bersautan. Entah apa yang mereka bicarakan Zahara hanya tetap diam sampai suara itu tak terdengar lagi ditelinga-nya.
Zahara dan Salma diam membisu tanpa kata sembari termenung melihat pemandangan sawah yang sangat luas dan nyaman dipandang mata, mata Zahara terhenti ketika mata-nya ingin berhenti sekejab memandang pria yang dua hari ini sudah mengganggu pikiran dan hati-nya. Tanpa dia sadari bibir-nya terangkat dan membentuk lengkungan ketika melihat pria yang dipandang-nya itu.
“Cie… jatuh cinta ni ye” Salma tertawa kecil dan mengejek teman-nya itu.
“Ih Salma apaan sih”
“Ehh pipi kamu kok merah?” ejek Salma kemabali ketika melihat pipi Zahara yang memerah
“Enggak kok” ucap Zahara sembari memegangi kedua pipi-nya
“Dek” Ucap seorang pria dan spontan menghentikan gelak tawa mereka
“Ini piring-nya” sembari meletakkan-nya keatas tanah
“Oh iya bg” ucap mereka bersamaan dan tersenyum
“Abg pamit dulu ya… Zahara” ucap-nya dengan tersenyum dan berhasil membuat Zahara terkejut dan memandang-nya sampai hilang dari pandangan-nya.
Melihat Zahara yang masih terdiam bingung Salma langsung berbicara dengan nada yang sedikit keras “Iya bg… sampai jumpa di masjid ya bg”
“Masjid?” Zahara memandang Salma dengan tanda tanya
“Iya, Masjid… kata Mamak-ku mereka tinggal didekat masjid mulai tadi malam” jawab Salma
“Kok kamu gak kasih tau kalau mereka bakal datang kesini” tanya Zahara kembali/
“Aku kan gak tau kalau yang datang itu mereka, aku cuman tau, ada yang datang kesawah sama mereka tinggal dimana, kan aku sama kamu kemarin, itu lo… yang didepan rumah” celoteh Salna panjang lebar
Zahara mengingat kembali dan langsung mengangguk-angguk pelan ketika diri-nya ingat dengan kedua pria tadi malam.
“He’em yang itu” Ucap Salma membenarkan anggukan Zahara dan langsung disambut dengan gelak tawa oleh Zahara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments