Bab 14. Aku akan Menikah

Didepan cermin yang tak lagi sejernih dulu. Zahara duduk dengan terus memandang dirinya dari pantulan kaca itu. Ia memandang lekat-lekat wajah-nya yang sembab air mata. Tangannya yang cantik meraih kerudung pemberian Zein dan mengenakan-nya perlahan menutupi rambut hitamnya yang hitam pekat.

"Lalu... Apa bagusnya jika aku mendapat balasan atas cintaku? " Tanya-nya sendiri kepada pantulan kaca yang tak lain adalah dirinya sendiri.

"Sudah siap nak? " Ucap Ibu Zahara dari balik pintu kamar

"Sudah mak" Ucap Zahara dan mulai melangkah-kan kaki keluar kamar.

Diruang tamu sudah begitu banyak tamu bersusun rapi memenuhi ruangan yang sederhana itu, disana ada juga keluarga Salma beserta wali nikah dari Zahara. Sementara Salma sedang berada di dapur menyiapkan hidangan untuk para tamu.

"Silahkan nak Zahara dan nak Alpi memperkenalkan diri dahulu masing-masing" Ucap salah satu tetua diruangan itu angkat suara.

"Iya Pak" Ucap Alpi

Suara berat dari pria itu membuat Zahara langsung mengangkat kepalanya memandang pria yang kini berhadapan dengan dirinya. Pria berdagu tajam, hidung yang mancung dan berpiawakan gagah. Tampak dimata Zahara pria yang sekarang berdiri dihadapannya bak pria eropa bermata kuning dan kulit yang putih. Tapi, saat mata mereka bertemu, Zahara tidak merasakan apa pun, degup jantung dan desiran hati tak ia rasakan. Bahkan, rasa malu-malu ketika memandang mata itu tak ada dia dapati dari pria tampan ini.

Pria itu terus menjelaskan dirinya pada Zahara secara ringkas dan padat. Gigi putih itu terus tersenyum memandang kearah Zahara tanpa henti. Berharap mendapat balasan senyuman manis darinya.

"Bagaimana nak Zahara? " Tegur tetua itu menghanyutkan lamunan Zahara.

Mata Zahara menatap ke sekeliling tamu dan matanya berhenti ketika menatap kedua mata ibunya yang penuh harap. Berharap ini adalah kali terakhir dan Zahara setuju untuk menikah.

Semua menunggu jawaban dari Zahara dan memasang telinga lebar-lebar.

Hingga, membuat seisi ruangan terdiam seketika.

"Aku akan memberikan jawaban setelah shalat istikharah pak" Ucap Zahara setelah melihat wajah ibu-nya dan disambut helaan nafas dari mereka semua. Meski jawaban ini kurang memuaskan hati semua orang. Tapi, dia tidak bisa langsung memutuskan untuk menyetujui lamaran ini.

"Kalau begitu, kami akan menunggu kabar baik-nya dari nak Zahara buk" Ucap salah satu wanita paruh baya kepada ibu Zahara dengan senyuman manis.

"Baik buk, nanti saya kabarin secepatnya" Ucap Ibu Zahara kembali dengan senyuman ramah dan tamah.

Pertemuan singkat untuk mengikat silaturahmi dengan sebuah pernikahan. Tapi, tak semua insan bisa bersilaturahmi kembali dengan baik bila lamaran ditolak pihak wanita.

Gerombolan itu keluar satu persatu dari rumah Zahara dan lenyap begitu saja dari pandangan mata. Mata Zahara masih menatap kosong kearah jalan menyaksikan sisa-sisa bayangan mereka.

'Bolehkah aku menikahi-nya tanpa rasa cinta dan menggunakan-nya untuk menghapus rasa sakit dari masa lalu-ku?"  Batin Zahara mulai berpikir untuk menyetujui lamaran ini.

'Aku sungguh sudah sangat lelah, mungkin alangkah baiknya aku memaksakan diriku untuk menikahi pria yang sama sekali tidak kucintai. Meskipun degupan jantung dan rasa ingin digenggam orang yang dicintai sangat ingin kudapatkan"  Air mata Zahara berlinang kembali merasa tak layak secara terus menerus menolak lamaran dari seorang pria yang jelas-jelas baik asal usul dan tingkah prilakunya.

Sore itu sungguh hari yang begitu melelahkan isi pikiran Zahara. Ia memandangi ibunya yang kini juga menatap-nya lekat. Ibunya heran ketika melihat tingkah putri-nya ini sangat berbeda dengan waktu dulu. Saat Zahara menolak lamaran dia tak akan ambil pusing dan langsung pergi dari rumah. Tapi, kali ini dia melihat putrinya menangis. Entah apa yang membuat putrinya bisa bersedih seperti ini. Zahara pergi kedalam rumah tak ingin menjawab apapun yang akan ditanyakan oleh ibu-nya.

"Salma kita ke masjid duluan yuk" Ajak Zahara

Melihat temannya yang sembab air mata ia tak banyak tanya dan hanya menyetujui ajakan Zahara dan bergegas untuk pergi ke masjid.

Sepanjang jalan Zahara dan Salma hanya terdiam tanpa kata sama sekali, hari sore itu memang tidak lagi begitu terang tapi waktu maghrib belum tiba.

"Zahara" Ucap seseorang dari arah masjid menggunakan sepeda yang kini berhenti tepat didepan mereka berdua.

Zahara yang dipanggil langsung melirik ke asal suara dan menatapnya lekat. Perasaan yang sama dan degupan jantung ini yang Zahara maksud. Perasaan ingin bersama orang yang dicintai dan menikah bersama orang yang bisa menimbulkan getaran ini.

"Ngapain kamu disini? " Salma menjawab dengan ketus

"Aku lihat tadi banyak orang dirumah kamu" Ucap zein basa basi tanpa menjawab pertanyaan Salma

"Bukan urusan kamu ze... "

"Aku akan menikah" Zahara memutuskan ucapan Salma

"M-menikah? " Zein terkejut hingga matanya membulat sempurna mengulangi jawaban dari Zahara.

"Iya, aku akan menikah dalam waktu dekat. Yang kamu lihat barusan adalah keluarga dari calon suamiku" Ucap Zahara membuat Zein dan Salma semakin kaget.

"Kalau begitu, kami pamit dahulu" Ucap Zahara dan menarik pelan lengan Salma meninggalkan Zein.

Salma yang masih kaget langsung mengikuti langkah kaki Zahara tanpa meninggalkan suara lagi. Sementara, Zein masih diam terpaku ditempat dengan kepala yang menunduk mencerna apa yang barusan didengar-nya.

Setelah sadar Zahara telah tak ada lagi dihadapan-nya Zein melangkah mencoba menghentikan Zahara. Hingga, tanpa sadar menjatuhkan sepedanya ketanah.

Dengan langkah gemetar dan hati yang tersayat, Zein mencoba meraih wanita berkerudung mawar itu yang kini sudah melangkah masuk kedalam masjid.

Bissmillahhirrahman nirrahim,

Langkah Zein terhenti seketika kala mendengar suara mengaji dari dalam masjid. Ia tak sadar kini telah berada tepat dimana langkah kakinya sudah tak bisa lagi dia paksakan untuk melangkah masuk. Tangannya menutup kembali pagar kayu masjid itu dan mundur dari sana.

'Meski aku sudah memiliki hati hamba-nya. Dia dan aku punya tuhan yang tak bisa dirayu untuk mengijinkan cinta kami... Aku bahkan tak bisa melewati pagar ini' batin-nya

Zein merasa seolah tuhan seperti menegur dirinya untuk menjauh dari Zahara. Air matanya perlahan keluar tanpa ijin menatap pagar kayu rapuh yang ada dihadapan-nya.

Sebuah pagar kayu usang yang entah kapan bisa saja rusak. Tapi, pagar itu mampu memisahkan dirinya dari wanita pujaannya itu.

Terpopuler

Comments

Chusnul Chotimah

Chusnul Chotimah

menyesakkan...meleleh hari adek bangggg

2023-10-21

0

Chandra Dollores

Chandra Dollores

kesianggnya Zein sampe nangis

2023-10-19

0

Aranta Rian

Aranta Rian

True ini Sakit banget sih

2023-10-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!