Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu

"Masuk pak" Ujar ibu Zahara melihat segerombolan orang penting kini sudah berdiri dihalaman rumah.

Zahara dan Salma juga ikut mempersilahkan seluruh tamu yang datang duduk dirumah tua itu. Meski bingung ketika melihat kedatangan Zein yang membawa anggota penting di desa, Zahara tetap memilih diam dan menghidangkan teh dengan roti kering yang sudah dia tata didalam piring sedari tadi.

"Silahkan diminum" Ibu Zahara kembali mempersilahkan ketika Zahara sudah siap menghidangkan dan kembali kebelakang dengan nampan yang ada ditangannya.

"Zein ngapain bawa orang penting segala kesini ya? " Tanya Salma pada Zahara.

"Aku gak tau juga Sal" Jawab Zahara yang juga memang tak tau apa-apa.

Ibu Zahara duduk bersama ibu Salma diruangan tamu yang sederhana itu. Sementara Zahara dan Salma hanya duduk di belakang tanpa tau apa yang sedang dibacarakan oleh mereka.

"Zahara, Salma" Tegur ibu Salma yang entah dari kapan sudah ada dibelakang mereka

"Iya mak kenapa? " Ucap mereka bersamaan

"Ikut kedepan dulu sebentar" Ajak Ibu Salma

Zahara dan Salma segera bangkit dari duduknya tanpa tanya dan duduk berdampingan di antara para kerumunan. Kini semua mata tertuju pada mereka. Sementara dua gadis ini hanya saling tatap-tatapan bingung dengan situasi yang membuat mereka canggung ini.

Salah satu datuk tetua disana akhirnya mulai angkat suara setelah kedatangan Zahara dan Salma

"Anak-anakku, Adam yang dahulu tinggal di surga dengan keindahan dan penuh kenikmatan, tak ada sebaik tempat apapun selain disana. Tapi, tetap saja Adam merasa kurang dan kesepian. Sehingga, karna rasa itu Allah hadirkan hawa didalam hidupnya. seperti Adam dan Hawa yang diciptakan berpasangan, datuk datang kemari bersama anak kami Lukman dan Zein yang kini jauh dari kerabat family menjadi wali bagi mereka untuk meminang anak kami Zahara dan Salma" Ujar datuk itu dengan mantap dan lembut.

Spontan Zahara dan Salma langsung menatap satu sama lain, terkejut atas penjelasan runtun dari datuk didepan mereka.

"Anak kami Zein berniat meminang nak Zahara untuk dijadikan sebagai tempat berlindung terakhir" Ucap datuk dengan jeda

Zahara langsung mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk menatap Zein yang juga tertunduk mendengarkan untaian kata dari datuk. Detak jantung zahara berdegup kencang. Ketika matanya melihat pria berpeci putih itu datang meminang dirinya. Sunggu ini adalah hal yang tak pernah terpikir-kan oleh Zahara. Mengingat bagaimana dahulu dia sangat tersiksa menahan perasaan-nya sendiri kepada Zein. Air mata hari keluar perlahan dari matanya.

"Dan anak kami Lukman yang juga ingin menjadikan Salma menjadi tempat terakhir dari pelabuhan-nya" Sambung datuk

Berbeda hal dengan Zahara yang seolah sedang mabuk cinta. Salma masih bingung dengan situasi saat ini, pasalnya seingat dirinya, dia sama sekali tak pernah berbicara secara akrab dengan Lukman atau hanya sekedar tersenyum saat berpapasan saat dijalan dan dia malah dikejutkan dengan kedatangan Lukman yang tiba-tiba melamarnya. Situasi ini membuat dirinya semakin bingung dan mencoba mengingat-ingat entah ada yang dia lewatkan.

"Bagaimana Zahara... Salma?! " Tanya datuk kembali menyadarkan mereka yang masih hanyut dalam lamunan.

Zahara dan Salma mengangkat kepala mereka melihat datuk dan sekeliling sebelum berbicara. Mata Zahara tertuju dengan senyuman hangat kepada Zein yang juga sedang tersenyum kearah-nya.

"Bagaimana? Salma... Zahara? " Tanya Ayah Salma bergantian menanyai mereka untuk memberikan jawaban

Salma yang tak kuasa dengan rasa bingungnya langung mencoba menjawab pertanyaan datuk dengan untaian kata yang sopan "Maaf sebelumnya pak/ibu datuk, Salma belum kenal akrab dengan Lukman. Alangkah lebih baiknya Salma mencoba mengenal Lukman dengan lebih dekat kembali dan melaksanakan sholat istikharah sebelum menjawab pertanyaan datuk yang pastinya akan membuat kami akan terikat ke sebuah hubungan yang bernama pernikahan" Tutur Salma sopan.

Semua yang mendengar penjelasan Salma langsung tertunduk-tunduk tanda setuju dan paham dengan apa yang dimaksud oleh-nya. Mata mereka kini tertuju pada Zahara yang duduk disebelah Salma. Ini sudah kesekian kalinya Zahara dilamar oleh berbagai pria yang baik asal-usulnya. Melihat Zahara yang terus menolak pria itu. Mereka semua dengan cepat menyimpulkan pasti kali ini Zahara juga tak akan berpikir lama untuk menolak lamaran dari seorang pria yang belum jelas asal-usulnya bahkan baru saja masuk Islam.

"Nak Zahara apa juga mau istikharah dulu seperi Salma? " Tanya datuk kepada Zahara

Zahara yang ditanyai menatap datuk dengan senyuman ramah dan memandang sekeliling lalu memandangi ibunya yang kini juga berpikiran sama dengan orang-orang yang ada didalam ruang tamu tersebut.

"Tidak usah menunggu jawaban saya lagi pak" Ucap zahara dengan senyuman dan disambut helaan nafas tanda membetulkan isi pikiran mereka memang betul adanya.

Zein yang mendengar ucapan dari Zahara spontan menatap kearah gadis yang dicintainya itu kaget.

"Bissmillahhirahmannirrahim, atas ijin Allah saya menerima lamaran dari saudara Zein untuk menjadikan saya pendamping dirinya" Ucap Zahara dengan suara tegas dan mantap.

Sontak semua yang ada didalam ruangan kaget bukan main mendengar ucapan dari Zahara. Biasanya dia tidak mudah ditaklukan begitu saja. Kini malah dirinya menerima lamaran dari pria muallaf itu tanpa ragu dan tanpa harus menunggu setelah sholat istikharah lagi seperti orang yang terakhir kali melamar dirinya.

Ibu Zahara yang kaget seketika juga ikut menatapnya tak percaya "Nak kamu serius? "

Dengan lembut Zahara tersenyum kepada ibunya dan meneruskan ucapannya "Tempo hari saat sebelum saya menolak lamaran dari pria kemarin, saya sudah sholat istikharah dan mendapatkan jawaban yang mengarah kepada saudara Zein" Jelas Zahara dan menatap ibunya.

"Alhamdulillah" Suara syukur bersaut-sautan memenuhi ruangan dengan senyum yang mengambang.

Akhirnya gadis cantik jelita di desa ini tak perlu menolak berbagai lamaran dari pria lagi. Ibu Zahara tersenyum sangat senang sembari merangkul Zahara yang tak jauh darinya.

'Alhamdulillah ya Allah' batin ibu Zahara bersyukur kini anak gadisnya bisa memutuskan untuk memulai kehidupan yang baru.

"Alhamdulillah atas jawaban dari nak Zahara kepada anak kami Zein. Kalau begitu, saya selalu tetua dikampung itu mengambil keputusan. Bahwa hari baik untuk diadakan pernikahan beserta mahar akan kami bicarakan pada hari ketika sudah mendapatkan jawaban nak Salma. Untuk nak Salma silahkan melakukan sholat istikharah dalam waktu tiga hari atau seminggu ini" Jelas datuk

"Mengenai pembicaraan tentang mahar menurut adat kita sejak dari dahulu ini sudah jelas hanya akan dibicarakan oleh para wali dengan pihak lelaki didalam ruangan yang tak ada wanita satu pun didalam ruangan itu" Jelas datuk kembali ingin menutup pertemuan.

Semua mengangguk setuju dari setiap untaian kata yang datuk ucapkan.

Terpopuler

Comments

Aranta Rian

Aranta Rian

sat set sat set jadi 🤧

2023-10-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!