Dua minggu sudah berlalu setelah hari dimana Zahara dan Salma dikhitbah, tepat tiga hari setelah itu juga Salma memberikan jawaban atas lamaran Lukman pada dirinya. Salma mantap menerima lamaran dari Lukman berkat dukungan dari Zahara teman-nya ditambah jawaban dari Allah yang semakin membuat dirinya mantap menerima lamaran tersebut.
Kini, tepat sesuai perjanjian dan kesepakatan pihak keluarga, akhirnya acara pernikahan dilakukan dihari yang sama. Tampak senyum manis dan malu-malu terpancar dari masing-masing mempelai yang berusaha mencuri pandangan.
Dengan wajah tertunduk dan senyum merekah Zahara memegang kedua tangannya diatas pangkuannya sesekali mencuri pandangan pada pria yang sekarang duduk disamping-nya mengenakan baju khas pernikahan adat Gayo. Baju adat itu menghias tubuh Zein dengan bulang dikepalanya. Hingga, tampak aura gagah dan karisma dari Zein. Zein yang menyadari tatapan Zahara melihat balik kearah Zahara dan berhasil membuat-nya terkejut dan mengalihkan pandangan kembali.
Zein tersenyum geli melihat tingkah dari wanita yang kini sudah menjadi istrinya “Tak usah malu-malu, aku sudah jadi milik-mu seutuh-nya” bisik Zein ketelinga Zahara
Zahara tersenyum lebar kala mendengar ucapan dari Zein yang sekarang sudah menjadi suami-nya. Lelaki yang sama sekali dahulu tak pernah dia impikan akan bisa sedekat ini duduk dengan-nya, malah sekarang menjadi suami-nya dan duduk disebelahnya.
Dengan gerakan diam-diam, Zein meraih tangan Zahara dan menggenggam-nya erat dari banyak-nya masyarakat yang kini sedang melihat mereka bagaikan raja dan ratu duduk disinggah sana-nya. Zahara yang kaget dan merasa risih karna banyak orang didepan mereka mencoba menolak tangan Zein yang tetap berusaha memegang tangan-nya.
“Sebentar saja istri-ku” ucap Zein menatap Zahara berhasil menghentikan penolakan Zahara
Zahara betul-betul berhasil dibuat canggung dan malu oleh Zein. Alhasil Zahara hanya mempersilahkan Zein menggenggam tangan-nya sembunyi-sembunyi. Meski, berulang kali akan melepas genggaman mereka bila ada tamu undangan yang akan mengucapkan selamat pada mereka berdua. Sesering itu juga Zein mencuri kesempatan untuk berdekatan dengan Zahara, mulai dari mendekatkan lengan-nya, menggemggang tangan Zahara dan mencuri pandangan pada wanita yang kini sudah menjadi istrinya.
“Selamat ya Zein”ucap seseorang yang suaranya sangat dikenal Zahara
“Olo dongan (Iya teman dalam bahasa Batak) kau pun cepat-cepat nyusul juga ya” ucap Zein pada Salman merangkul-nya erat
“Selamat ya Zahara” ucap Salman kembali pada mempelai wanita
Salman berdiri sejenak menatap Zahara tanpa menoleh kearah Zein.
“Baju-nya cocok dikamu Zahara…bagus” ucap Salman basa-basi
“ya iyalah… cantik kan istri aku?” bisik Zein ketelinga Salman tapi masih terdengar jelas oleh Zahara
“Iya cantik” ucap Salman setelah melihat Zein dan memandang lekat Zahara dengan tatapan sendu
Zahara hanya tersenyum malu menanggapi perbincangan kedua sahabat ini.
Salman melangkah kearah Lukman yang singgah sana tempat mereka duduk sekarang tidak jauh dari tempat Zahara dan Zein.
“Selamat ya dongan…tinggal aku sendirian” ucap Salman dengan sedikit tertawa sembari merangkul teman-nya itu.
Lukman tertawa menyambut rangkulan dari teman seperjuangan-nya ini.
“Ikhlasin saja” bisik Lukman tanpa melepas rangkulan dari Salman dan menepuk-nepuk punggung Salman.
Salman yang mendapat perlakuan seperti itu, akhirnya sadar bahwa teman-nya yang satu ini memang tidak bisa dia bohongi. Lukman sangat pandai membaca mimik wajah dan situasi yang sedang dia hadapi.
“Sakinah Mawaddah Warahmah untuk kalian berdua yah” ucap Salman memandang mereka berdua bergantian dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
‘semoga kamu bahagia Zahara’ batin Salman memandang Zahara yang kini sedang tersenyum malu-malu dengan tangan yang sembunyi-sembunyi menggenggam tangan Zein.
‘Andai aku yang ada disana’ batin Salman kembali kala melihat wajah Zahara untuk kali terakhir dengan pakaian pernikahan adat Gayo itu. Pakaian itu semakin memancarkan wajah ayu dan anggun Zahara.
“Astagfirullah” Salman menyebut setelah menyadari isi pikiran-nya dan kembali melangkah meninggalkan tempat acara pernikahan yang kini sedang berlangsung.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, tamu undangan yang datang sudah berkurang dan pulang kerumah masing-masing. Alhasil, kedua mempelai meninggalkan singgah sana mereka dan melangkah kekamar pengantin yang sudah disediakan. Lukamn dan Salma melangkah kearah rumah Salma begitu pula dengan Zahara dan Zein, mereka berdua melangkah kerumah Zahara.
Begitu juga dengan selanjut-nya, atas permintaan dan saran dari ibu Zahara, mereka berdua akan tetap tinggal dirumah Zahara dan tidak perlu keluar untuk membangun apalagi menyewa rumah untuk mereka tinggali berdua mengingat ibu Zahara hanya tinggal sendirian. Sementara Lukman dan Salma sepakat akan pindah ketempat tinggal yang dulu Lukman tinggali sementara waktu setelah Salman pergi dari sana.
Lukman dan Zein sudah berulang kali membujuk Salman agar tidak perlu pergi kembali kekampung halaman-nya. Meski, mereka berdua sudah menikah dan tinggal Salman saja yang belum. Akan tetapi, usaha yang mereka bangun bertiga selama ini akan tetap dikelola seperti biasa dengan keuntungan bagi rata yang sama.
“Kita sudah membagi penghasilan kita selama ini. Kalian berdua menggunakan-nya untuk mahar dan aku menggunakan-nya untuk kembali kerumah, aku sudah lama tidak pulang kampung, selama ini aku nikmatin waktu kita bertiga. Tapi, sekarang karna aku tinggal sendiri rasanya kurang nyaman tinggal sendirian dikampung ini. Aku yakin, karna kalian juga sudah berhasil menempuh kehidupan yang baru sekarang, aku juga sebentar lagi akan menyusul kalian” ungkap Salman terakhir kali tanpa jeda mencoba meyakinkan Zein dan Lukman dengan sebuah senyuman yang melekat diwajah-nya.
Zein dan Lukman hanya mengangguk pelan dan setuju atas isi pikiran dari Salman yang tentu mungkin akan merasa sangat kesulitan dan kesepian tinggal dirumah itu sendirian. Ini juga memang adalah kesempatan bagi Salman untuk pulang karna penghasilan mereka saat ini memang sudah cukup banyak meski sudah dibagi tiga. Oleh karna-nya, ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya pergi meninggalkan tanah Aceh. Mengenai usaha yang sudah mereka bangun beberapa bulan yang lalu akan dikelola kembali oleh Zein dan Lukman.
Meski merasa tak rela, tapi membiarkan Salman kesepian juga tidak bagus. Terlebih Lukman yang tau apa sebenarnya penyebab teman-nya itu ingin cepat-cepat pergi meninggalkan mereka. Bahkan, dihari pernikahan mereka. Lukman yang paham bagaimana perasaan hati Salman saat ini akhirnya merelakan kepergian teman-nya itu meski tak rela sama sekali. Ikatan mereka berdua berbeda dengan Zein. Zein memang teman seperjuangan dan mereka bertiga tinggal dikampung yang sama.
Tapi, Salman berbeda. Salman sudah berada didekat Lukman hampir setengah hidup yang dia jalani itu bersama Salman. Tempat pendidikan yang tak pernah berbeda, masuk asrama yang sama bersama-sama. Mengaji dan pulang kemasjid bersama-sama. Mereka berdua tak pernah terpisahkan oleh siapa-pun. Layaknya permen karet, seisi kampung tau bagaimana keakrapan mereka berdua. Karna-nya, meski mereka berdua hanya terdiam mereka akan saling memahami isi hati satu sama lain tanpa harus bibir berucap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Aranta Rian
wtf Salman suka sama Zahara?
2023-10-16
0