Bab 9. Aku bukan pria muslim

Hari jumat berkah pun datang kembali menyambut pagi ini.

Para pemuda sepakat untuk bersih-bersih mingguan setelah maulid nabi tempo hari. Hanya para pemuda yang ikut dalam acara bersih-bersih ini, para pemuda pemudi sepakat dan tak ada yang keberatan karna para pemuda bisa sekalian mengadakan sholat jum'at di masjid tanpa harus pulang kembali.

Zahara melihat dari dalam rumah para pemuda bolak balik kearah masjid membawa sapu, pel, ember dan ambal sajadah yang tampak sudah usang dan tua.

Lagi-lagi Zahara dibuat bingung dan heran karna seperti biasanya hanya  Salman dan Lukman saja yang bergabung dalam cara bersih-bersih ini sedangkan Zein tidak ada diantara mereka, Zahara mulai berpikir aneh, kemungkinan Zein tidak punya hubungan yang baik dengan pemuda di desanya itu. Tapi, jika dipikir-pikir tempo hari Zein tampak akrab dengan para pemuda yang ikut menemani dirinya ke pasar.

"Zahara temanin aku ke danau yuk" Ucap Salma yang tiba-tiba muncul dari depan pintu tanpa salam.

"Salam dulu ih" Ucap Zahara menegur.

Salma tersenyum kecut dan sok imut seraya berucap "Assalamu'alaikum Zahara... Temanin aku ke danau ya"

"Waalaikum salam, ngapain? " Zahara bertanya sembari melangkah ke dekat Salma

"Ini... Aku disuruh ngantar ini buat tempat ikan" Jelas Salma sambil menunjukkan sebuah goni yang sudah terlipat rapi di genggaman-nya

"Ohh iya, ayuk" Kata Zahara mengingat dirinya tak ada aktivitas sama sekali hari ini

"Mak, aku pergi ya" Ucapnya dari depan pintu meminta ijin

"Iya hati-hati" Ucap Ibu Zahara dari belakang

"Iya mak" Ucap Zahara dengan sedikit teriak

"Salma aku dibonceng aja ya, capek banget ngayuh sepeda" Pinta Zahara pada Salma dengan wajah memelas

"Ya udah ayuk" Ucap Salma tanpa pikir panjang dan disambut senyuman manis dari Zahara.

Dengan cepat Zahara naik dibelakang dan memegang pinggang Salma yang pahanya naik turun karna mengayuh sepeda dengan pelan, perjalanan yang mereka tempuh tidak begitu jauh jika menggunakan sepeda. Oleh karna nya, Zahara dan Salma menggunakan sepeda dari pada jalan kaki, menghemat waktu dihari Jumat sekaligus nyantai.

Di Aceh, pemerintah membuat aturan untuk setiap hari jumat para warga Aceh diharapkan untuk tidak berkeliaran pada saat jamaah melaksanakan shalat jumat, oleh karna nya pada hari jumat seluruh desa baik kota di Aceh sangat sepi. Tiap harinya akan ada petugas yang berkeliling dan menertibkan jika masih ada warga yang tidak mentaati aturan. Biasanya petugas yang bertugas dihari Jumat adalah wanita karna lelaki juga harus melakukan sholat jum'at.

Zahara dan Salma terus menusuri jalanan menuju danau dengan suara shalawat yang bersautan dari mereka berdua.

Setiba-nya di danau Zahara melihat Zein sedang sibuk membantu ayah Salma mengambil ikan depik (nama salah satu ikan yang ada di Gayo dan hanya ada di Gayo ikan ini tidak ditemukan di tempat mana pun selain di Gayo) dari jaring yang telah digantung keranting pohon ditepi danau

Salma dengan cepat menatap Zahara seketika melihat Zein ada disana

"Kok ada Zein ya? " Tanya Salma pada Zahara

"Gak tau Sal, harusnya aku yang tanya ke kamu, kan dia lagi bantu ayah kamu" Ucap Zahara dan Salma membenarkan jawaban dari Zahara dengan anggukan

"Ama ini" Salma menyodorkan goni di tangannya setiba disamping ayahnya.

Ama adalah panggilan untuk ayah di daerah Gayo sedangkan Ibu biasa dipanggil dengan sebutan Ine, tapi tak jarang masyarakat desa juga menggunakan bapak atau mamak untuk memanggil orang tua mereka. Seperti Zahara dan Salma salah satunya.

"Oh iya" Jawab bapak Salma dan menerima goni yang ada ditangan Salma

"Salma, Zahara bantu Zein ngambil ikan dari jaring ini dulu ya... Ama pulang duluan kerumah" Ucap bapak Salma dan mereka hanya mengangguk tanda menurut.

"Tanpa diduga kita selalu aja ketemu ya Zahara" Ucap Zein memecah suasana

"Ehh iya bg, kebetulan aja" Ucapnya dengan wajah santai tapi hati yang tidak karuan

Mereka bertiga terus bercerita satu sama lain diselingi dengan gelak tawa yang bersautan, kini Zahara tau bahwa Zein bukanlah anak Medan seperti yang ia tau sebelum-nya. Zein dan kedua temannya berasal dari Gunung tua yang letaknya Zahara juga tak tau persis dimana. Yang jelas Zein mengatakan jarak dari Gunung Tua menuju rumahnya butuh waktu semalam lagi agar sampai kerumah-nya.

Zein dan kedua teman-nya merantau ke sini untuk mencari pengalaman baru dan mengumpulkan uang untuk membuka usaha sembako kecil-kecilan.

Mereka bertiga tinggal di belakang masjid tempat rumah kosong yang memang biasanya disediakan untuk tempat rapat para pemuda-pemudi. Atas ijin masyarakat dan bapak kepala desa yang tak lain adalah ayahnya Salma, mereka akhirnya diperbolehkan untuk tinggal sebentar disana sembari mencari tempat tinggal yang dirasa pas. Karna itulah kenapa Zein dan kedua teman-nya sering datang membantu bapak Salma.

Salma yang juga baru tau atas cerita Zein manggut-manggut pelan menatap Zahara.

"Kok kamu gak ikutan bersihin Masjid?" Tanya Salma

"Kami bagi tugas, ya inilah bagian ku" Ucap Zein menyebut kata kami dan mengangkat ikan yang dipegangnya

"Oh iya iya... Terus hari ini gak buka toko? " Tanya Zahara

"Buka, tapi nanti aja abis sholat jum'at, tanggung soalnya" Ucap Zein

Zahara hanya mengangguk pelan tanpa menjawab dan melihat Zein tersenyum kearahnya dengan senyuman yang sangat memikat.

Tiba-tiba suara orang mengaji sudah terdengar dari arah masjid, dengan cepat Zahara, Zein dan Salma bergegas menyiapkan kerjaan dan pergi dari danau. Karna adzan akan berkumandang tanda sholat jumat akan dilaksanakan.

Melihat Zein yang mengarahkan sepeda tua-nya kearah pasar dan tidak kearah masjid Zahara dan Salma bingung, akhirnya kembali bertanya.

"Zein" Tegur Zahara dengan wajah manis

"Arah masjid kesana, kamu mau ngapain kesana? " Zahara tertawa kecil dan membuat gigi-gigi cantiknya tampak jelas dipandang mata.

Zein terhenyak melihat senyuman manis dari Zahara sebelum berkata

"Aku mau kepasar Zahara... Nanti mau buka toko" Jelasnya

"Buka toko? Apa gak kecepatan" Celutuk Salma

"Iya Zein... Gak sholat dulu? " Sambung Zahara kembali

Zein terdiam sejenak dan menatap mata Zahara yang coklat sembari menghela nafas sebelum berbicara

"Maaf Zahara... Aku bukan muslim" Ucap Zein dengan tetap memandang kedua mata cantik milik Zahara

'Deg' jantung Zahara terasa sakit, dia kaget mendengar kata yang baru diucapkan oleh Zein tepat saat dirinya mulai berani menatap mata hitam milik Zein. Tepat saat dia sudah meyakini dan  menyadari bahwa dirinya menyukai Zein karna dukungan dari Salma dan dirinya yang entah kenapa terus merindukan kehadiran Zein setiap saat.

Terpopuler

Comments

Aranta Rian

Aranta Rian

udah feeling gak bagus ni sama si Zein. awalnya udah ada yang beda ternyata bener, dia bukan orang Islam.

gimana ceritanya biar mereka bersatu coba, sementara di Aceh adat nomor satu terlebih ini vibesnya jaman dahulu gak kebayang gimana sakitnya nahan perasaan.

2023-10-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!