Bab 10. Hati Yang Pilu

"Aku permisi ya Zahara" Ucap Zein pergi berlalu meninggalkan mereka berdua tanpa menunggu jawaban Zahara

Sementara Zahara masih terdiam di tempat dengan badan kaku berusaha membuktikan bahwa barusan dirinya hanya salah dengar. Meski begitu, ada Salma disamping-nya Salma juga mendengar apa yang dikatakan  Zein, tak mungkin mereka bedua salah mendengar

Disisi lain Zein terus mengayuh pelan sepeda bututnya dengan perasaan yang berkecamuk saat melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Zahara barusan, kini dia tau bahwa Zahara juga pasti memiliki perasaan padanya walaupun sedikit, dia tidak bisa terus-terusan mengelak ketika ditanyai soal dirinya yang tak kunjung datang kemasjid.

Alhasil Zein mengaku bahwa dirinya bukanlah seorang muslim karna memang begitu nyatanya. Zein pikir lebih baik dirinya jujur dari sekarang dari pada suatu saat nanti perasaannya pada Zahara akan semakin mendalam. Dia harus ingat, bahwa dirinya merantau ke negeri orang untuk memperbaiki nasib bukan untuk mencari cinta.

Walaupun tak bisa dia pungkiri, Zahara sudah terlalu masuk kedalam hati dan pikiran-nya selama ini. Padahal dia sadar Zahara bahkan sangat berbeda jauh dengannya dari segala hal. Bahkan tak sama soal tuhan dan keyakinan.

Tak bisa dipungkiri Zahara memang gadis cantik berbadan tinggi semampai dengan senyuman nya yang sangat manis, Zahara yang pendiam membuat dirinya semakin anggun dengan kerudung yang ia kenakan. Lelaki mana yang tak akan salut dan merasa tertarik pada gadis ini.

Zein juga mendapat informasi dari pemuda-pemuda disana bahwa Zahara adalah kembang desa di sana. Tak ada yang bisa menandingi kecantikan-nya walaupun itu Salma sahabat dari Zahara sendiri.

"Zahara, kamu gak papa kan?" Tanya Salma padahal dia tau bahwa Zahara sedang tidak baik-baik saja

Zahara hanya memandang lekat-lekat mata Salma dengan air mata yang mulai menggenang dari pelupuk matanya.

Perlahan tangan Salma merangkul Zahara agar masuk kedalam pelukan-nya dan membantu teman-nya ini menenangkan diri sejenak dalam pelukan-nya tanpa tanya.

"Gak papa Zahara, kamu harus patah hati dahulu sebelum ketemu sama orang yang tepat dimasa depan" Ucap Salma sembari menghapus air mata Zahara yang masih mengalir

"Mungkin dari awal lebih baik aku gak buka hati Salma" Ucap Zahara dengan mata sendu miliknya

"Suttt" Ucap Salma meletakkan telunjuknya dibibir Zahara

"Kalau mau ketemu sama yang pas, harus mulai dulu dari sakit hati, kalo gak sanggup sakit hati gimana mau jumpa calon suami, ingat Zahara... Sakit hati adalah salah satu dari proses untuk bertemu dengan pasangan mu" Salma menangkup wajah Zahara agar memandang wajahnya

Zahara hanya menghela nafas tak percaya dia akhirnya kembali salah meletakkan hatinya. Dia tak percaya kenapa begitu cepat jatuh hati pada orang yang belum dia begitu kenal jati dirinya

"Kita balik yuk, udah mau adzan" Ajak Salma dan mulai merangkul Zahara agar berjalan dan duduk dibelakang-nya

Salma mengayuh sepeda dengan pelan dan merasakan nafas Zahara yang beberapa kali naik turun berhembus pelan dibelakang-nya. Salma sama sekali tidak membuka pembicaraan dan membiarkan Zahara larut sendiri dalam pikiran-nya.

Angin yang berhembus pelan tersapu kewajah cantik Zahara, matanya tetap cantik meski sembab karna tangisan-nya, mata cantik itu memandang air danau yang dikelilingi cetakan sawah berbentuk kotak besar dan kecil.

Pemandangan indah yang dia lalui membuat dirinya sedikit merasa lebih tentram meski masih ada rasa sakit dalam hatinya seperti sesak entah karna apa. Zahara hanya menghela nafas pelan-pelan berharap rasa sesak dari dadanya hilang secara perlahan.

Dia tak menyangka bahwa dirinya akhirnya kembali merasakan perih karna perasaan yang menyangkut pria lagi. Zahara hanya merasa dirinya terlalu lugu dan cepat jatuh hati kepada orang yang bahkan tak ia kenal.

Perlahan pikiran itu berhasil membuatnya kembali mengeluarkan air mata dengan rasa sesak didada karna menyembunyikan rasa sakitnya.

"Keluarin aja Zahara gak papa" Ucap Salma yang menyadari teman-nya ini ingin menangis kembali tapi ditahannya

"Gak papa... Keluarin aja sebelum kita sampe ke rumah" Ucap Salma kembali dan mendapati anggukan dari Zahara.

Kini suara tangis dari Zahara mulai terdengar di telinga Salma meski tak begitu keras.

Terpopuler

Comments

Aranta Rian

Aranta Rian

Salma teman terbaik

2023-10-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!