Sudah tiga hari berlalu dari hari dimana Zein mengatakan sebuah fakta tentang dirinya pada Zahara.
Selama itu pula Zein tak pernah melihat Zahara, padahal tempat tinggal mereka terletak di satu desa yang sama. Setiap kali Zein pulang atau pergi dari pasar, Zein memandang rumah Zahara berharap gadis cantik itu keluar rumah atau paling tidak tampak dari sudut pintu.
Entah mengapa Seakan-akan semesta hanya ingin membuat hati mereka untuk terasa sakit saja, dahulu sebelum mereka mempunyai perasaan terhadap satu sama lain, sengaja atau tidak mereka pasti tiba-tiba dipertemukan begitu saja.
'Mungkin dia hanya ujian bagiku' gumam Zein ketika harapan -nya tak sesuai realita ketika gadis yang dia harap tak kunjung muncul
Zein terus mengayuh sepeda-nya pelan menuju pasar untuk membuka toko, sesampainya di pasar Zein belum melihat kedatangan Salman dan Lukman padahal mereka berdua terlebih dahulu keluar dari rumah tadi pagi.
Mereka bertiga biasanya akan pergi ke pasar tepat setelah Lukman dan Salman selesai beribadah sholat subuh dimasjid, karna kedua teman-nya itu tak kunjung datang, Zein mengira mungkin Salman dan Lukman sudah terlebih dahulu kewarung mereka.
Zein memarkirkan sepedanya didepan warung dan mulai membuka pintu dengan kunci gembok yang ada ditangannya.
Tampaklah suasana warung yang sudah penuh dengan barang yang harus dususun keluar, dengan telaten dan santai Zein terus mengatur barang dengan rafi.
Hari masih menunjukkan pukul 6 pagi, suasana yang dingin membuat nafas Zein seperti mengeluarkan gumpalan-gumpalan asap rokok dari sana. Sayup-sayup Zein mendengar toko baju yang berada didepen-nya juga baru datang dan tampak sedang mengatur barang.
Suasana pagi itu di pasar masih sangat sepi, hanya beberapa yang baru buka.
"Sendirian nak? " Ucap wanita tua itu kepada Zein
"Iya buk" Zein mengangguk ketika mendapat balasan dari tatapannya barusan
"Teman-teman kamu dimana? " Tanya-nya kembali
"Dijalan buk... Tadi ada keperluan sebentar" Ucap Zein memberi alasan
"Oh iya iya" Ucapnya dengan senyuman manis dan masuk kedalam toko baju-nya.
Zein kembali melanjutkan perkerjaan-nya dengan seksama hingga setelah tuntas Lukman dan Salman juga tak kunjung datang kewarung.
Zein tidak begitu ambil pusing karna belum banyak juga pelanggan yang datang.
Karna merasa bosan Zein akhirnya ingin mampir sebentar ke toko baju milik wanita tua yang diajaknya bicara tadi pagi.
"Mau beli apa kamu nak Zein? " Ucapnya ramah dan sedikit tersenyum melihat Zein yang datang ke toko miliknya. Tepatnya toko khusus segala keperluan wanita.
"Tidak ada buk... Saya ngerasa bosan saja" Ucap Zein sembari menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, dia juga merasa bingung kenapa kakinya membawa dirinya untuk datang ketempat ini, padahal masih ada warung kopi dan tempat sarapan di sana.
"Ya udah duduk dulu disini" Ucap wanita tua itu dan menyambut pelanggan yang baru saja masuk kedalam toko-nya
Zein mengangguk pelan dan duduk diatas kursi yang disediakan di dalam toko, Zein memandang sekeliling isi toko dan sesekali menatap warungnya barang kali ada yang datang. Tiba-tiba matanya terhenti pada sebuah kerudung panjang berwarna pink dengan motif mawar merah muda, matanya terus memandang kerudung itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Dengan pelan seolah hati Zein membimbing kaki-nga untuk meraih kerudung itu, tangannya yang berurat dan kelas dengan segera sudah menggenggam kerudung lembut itu, entah apa yang ada dipikiran-nya saat ini. Dia terlihat tersenyum dan membawanya kedepan wanita tua pemilik toko.
"Buk, aku mau ambil yang ini, harganya berapa?" Tanya Zein dengan tangan yang sudah merogoh isi kantong-nya
"Loh... Mau untuk siapa nak Zein?" Ucap pemilik toko menyelidik dan dibarengi wajah jahil miliknya.
Alhasil pelanggan yang belum pergi tertawa kecil ketika melihat pemuda tampan ini membeli kerudung, pasalnya pemilik toko tau bahwa Zein anak perantauan dan dia tak pernah bercerita atau dekat dengan wanita.
Zein seketika bingung sendiri dan tersenyum kaku ketika berada dalam situasi ini.
"Ya udah ambil aja gratis untuk kamu..
Semoga gadis itu suka ya nak" Celutuk wanita tua itu kembali dan berhasil membuat Zein semakin malu
"Ini untuk ibu saya kok buk" Zein berusaha mengelak
"Halah mana ada motif kayak gini untuk ibu-ibu, ini untuk anak gadis nak, kalo mau yang untuk ibu kamu ya harusnya yang itu" Ucap wanita tua pemilik toko da mata Zein langsung mengarah kearah yang ditunjuk pemilik toko.
Zein hanya tersenyum malu ketika kerudung itu sudah dibalut wanita tua itu didalam koran dan memberikannya kepada Zein.
"Berapa buk? " Tanya Zein kembali
"Udah buat kamu aja"
"Tapi buk" Ucap Zein merasa tak enak.
Tangan wanita tua itu malah menyuruh Zein pergi dari toko-nya dengan sedikit mengusir. Zein tersenyum dan mengucapkan rasa Terima kasih berulang kali dan berlalu kedalam warungnya, menyembunyikan kerudung yang barusan dia dapat agar tidak diejek Salman dan Lukman.
"Loh ada apa lagi nak" Ucap wanita tua tadi ketika melihat Zein tiba-tiba berdiri tegak didepannya dengan senyuman manis
"Ini buat ibu" Ucap Zein memberikan plastik hitam ntah apa isinya, tak sempat wanita itu berterima kasih Zein langsung pergi agar tidak mendapat penolakan kembali
Melihat didalam plastik hitam itu ada tiga lingkaran gula merah dan satu kilo minyak masak. Wanita tua itu menggeleng pelan dan sedikit decakan mulut dan tersenyum melihat tingkah pemuda yang satu ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments