Bab 7. Bagai Takdir

Hari senin rabiul awal kelahiran nabi Muhamad. Warga desa yang ada di desa Pedemun menyambut hari itu dengan suka cita.

Besok adalah hari perayaan kelahiran nabi, para muda mudi diharapkan untuk menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan.

Muda mudi bersepakat untuk mengundang seorang ustad untuk nanti malam dan membuat kolak mata ikan dicampur pisang sebagai cemilan-nya.

Usai siap agenda yang akan dilakukan nanti malam, muda mudi menghimbau agar masyarakat bersedia untuk keliling kampung sembari bersalawat dan tak lupa membawa obor api masing-masing.

Zahara dan Salma mendapat tugas untuk membeli bahan ke pasar dibantu dengan dua orang muda nantinya.

"Ayok Zahara, Salma" Ucap salah satu pemuda yang ditugaskan bersama mereka

Zahara dan Salma yang dipanggil langsung berdiri dari tempat kerumunan muda mudi agar bergegas ke pasar.

Sesampainya di pasar Zahara dan Salma hanya bertugas menawar dan mengingat bahan sedangkan kedua pemuda tadi yang membawa barang dan mengikuti mereka dari belakang dengan sedikit bercerita-cerita.

Tak ada yang perlu dicanggungi atau pun sampai salting karna mereka seolah-olah seperti pasangan.

Dalam adat desa Pedemun tak boleh menikah satu kampung, jika tidak akan didenda satu ekor lembu atau bisa disebut memberi makan satu kampung dan pilihan lain-nya adalah diusir dari kampung selama 5 tahun. Oleh karnanya, apapun aktivitas yang dilakukan antara muda mudi di desa ini mereka tidak perlu canggung karna selalu mengingat aturan tadi, mau tidak mau mereka harus membuang perasaan yang menurut mereka akan menimbulkan masalah.

"Masih banyak dek" Ucap mereka sembari mengikuti dari belakang

"Tinggal gula, pemanis, pewarna, sama pewangi aja" Ucap Salma sembari melihat catatan kertas putih yang ada ditangan-nya

"Ya udah ayok kesatu tempat aja, jangan sana sini" Ucap salah satu mereka memberi sedikit argumen karna sudah lelal melihat kedua wanita ini asik kesana kemari dan batal membeli

"Siap" Ucap Salma sembari memberi hormat dan melangkah terlebih dahulu

Mereka terus berjalan dan berhenti ke salah satu warung sembako yang tampaknya masih baru buka tapi sudah lumayan banyak pelanggannya.

"Assalamu'alaikum... Bg kami mau beli gula" Ucap Salma dengan sedikit keras diantara kerumunan orang banyak didalam warung itu.

"Waalaikum salam, tunggu sebentar ya" Ucap seseorang tersebut manyaut tapi tak kelihatan wujudnya.

"10 kilo ya bg" Ucap Salma kembali dengan nada sedikit teriak

Tak ada terdengar suara yang menurut akhirnya Zahara dan Salma hanya menunggu didalam kerumunan sembari bercerita-cerita sedikit.

"Ini dek" Ucap orang tersebut menyuguhkan 10 kilo gula kedepan Salma.

"Zein? " Ucap Zahara seketika melihat lelaki yang memberikan gula itu kepada Salma.

"Ohhh kamu ternyata Zahara" Ucapnya tersenyum

"Iya bg" Zahara tersenyum dengan sedikit mengangguk.

"Perlu apa lagi? " Tanya Zein yang kini bertanya kepada Salma.

"Ohhh ini bg Pemanis, pewarna, sama pewangi makanan aja" Ucapnya sembari membaca note yang ada ditangan-nya.

"Tunggu sebentar ya, abg ambil dulu" Ucapnya dan pergi mengambil semua yang dibacakan Salma

"Kok kalian kenal sama Zein" Ucap salah satu pemuda itu kepada Zahara dan Salma

"Ya kenal aja, kemarin dia bantu-bantu ke sawah" Ucap Salma dan mereka hanya mengangguk pelan tanda iya.

"Abg kok kenal sama dia? " Tanya Zahara

"Ya iyalah kenal, dia kan anak muda yang merantau ke kampung kita, ya aku kenal" Jelasnya

Zahara dan Salma hanya mengangguk pelan tanda paham

"Ini dek" Zein kembali memberikan pesanan Salma

"Jadi semua berapa bg?" Tanya Zahara selaku bendahara desa diorganisasi muda mudi dan mulai mengeluarkan

dompet dari saku rok-nya

"Semua jadinya segini dek" Ucap Zein setelah menghitung semua jumlah belanjaan dari kalkulator dan menunjukkannya kepada Zahara

Tampak dari kalkulator harga seluruh belanjaan senilai

"Ohh iya ini bg" Zahara menyuguhkan uang pas ketangan Zein dan menerima belanjaan tersebut dari tangan Zein

"Makasih ya bg... Kami pamit dulu" Ucap Zahara pamit dan melangkah ke arah pemuda yang bertugas membawa barang.

Zein tersenyum kembali dan mengangguk pelan dan memandang punggung Zahara yang berjalan keluar.

"Ohhh kamu ternyata bg" Zein melihat kearah tujuan Zahara dan tak menyangka yang datang bersama Zahara adalah pemuda yang tadi malam dia jumpai di warung kopi

"Iya aku, aku liat kamu dari tadi tapi gak perhatiin ada kami disini" Cetus nya

Zein melangkah mendekat sembari tertawa karna dia tak memerhatikan

"Maaf maaf bg, aku gak liat tadi" Ucap Zein sembari memegang lengan pemuda itu.

"Udah lama abg disini? " Tanya nya kembali sembari memperhatikan Zahara yang menyampingi mereka tepat dibelakang kedua pemuda ini.

"Lumayan juga sih Zein, baru buka ya? " Tanya -nya basa basi.

" Iya bg baru hari ini buka-nya" Ucap Zein

"Salman sama lukman mana? " Tanya pemuda tersebut.

"Ohh itu bg, Salman, lukman" Zein sedikit berteriak memanggil kedua teman-nya tersebut

Mata Zahara dan Salma mengarah kedua orang yang dipanggil Zein. Orang yang tadi malam mereka lihat didalam masjid

'Ternyata namanya Salman' gumam Salma dan kembali menunduk senyum

"Oh iya bg" Ucap mereka berdua menghampiri

"Mau belanja bg? " Tanya mereka basa-basi

"Udah tadi, mereka yang belanja" Tunjuknya keZahara dan Salma yang berdiri dibelakang mereka

"Ohhh dek Salma dan Zahara rupanya" Setelah melihat siapa wanita yang ada dibelakang sambil menunduk

Mendengar nama mereka disebut dengan ramah mereka mengangkat kepala dan tersenyum melihat Salman.

"Ohh masih ingat kamu nama mereka ya" Ucap pemuda tersebut dengan sedikit tertawa.

"Iya bg, hari itu kan abg yang ngasih tau di sawah kemarin" Ucap Zein

Dalam hati Zahara dan Salma akhirnya tau, kenapa Zein dan Salman mengetahui nama mereka.

"Oh iya, nanti malam ada acara kelahiran nabi, kalian datang ya? "

"Insya Allah kami datang bg" Ucap Salman ramah

"Kamu juga ikut aja Zein"

"Emang boleh bg? " Ucap-nya dengan cepat

"Kenapa gak boleh, bantu-bantu kerjaan kami kok gak boleh" Ucap pemuda itu dengan sedikit tertawa dan disambut gelak tawa oleh Zein dan teman-temannya

"Ya udah kami pamit dulu ya" Ucap pemuda itu pamit kepada mereka dan dibarengi anggukan dan senyum manis dari mereka bertiga.

Mata Zein terus mengarah ke wajah cantik milik Zahara berharap wanita itu menoleh sekilas padanya sebelum pulang.

Zahara yang sadar akan tatapan Zein akhirnya menoleh kearah Zein dan menatapnya sebentar dan tersenyum cantik hingga tampaklah baris gigi putih dan bersih itu.

Zein kembali tersenyum mengembang dan tak henti melihat wajah Zahar meski sudah jauh dari matanya.

"Zein ayok... Zein ayok lanjut kerja" Ucap Salman menyadarkan Zein

"Oh iya man" Ucapnya pada Salman dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.

Seakan dirinya mendapat vitamin, Zein tak berhenti sejenak pun untuk menyeruput kopi yang sudah mereka pesan barusan. Zein terus berkerja melayani pelanggan dan mengatur barang diselingi senandung lagu asmara yang keluar dari mulut-nya dan sesekali dia tersenyum lepas.

Memang benar kata orang-orang. Jika seseorang sedang dimabuk cinta maka teman-nya lah yang pertama kali sadar akan hal itu.

Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!