Pukul 6 sore semua persiapan sudah dilakukan dengan matang, tak ada yang kurang.
Itu semua berkat kegesitan muda mudi dalam membagi tugas, hingga tak butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan persiapan penyambutan maulid nabi malam ini.
Adzan isya berkumandang tanda waktu sholat isya sudah datang.
Zahara dan Salma bersama muda mudi desa sudah ada sejak dari tadi diarea masjid. Hingga, bergegas untuk melaksanakan sholat isya berjamaah.
Sore ini tidak diadakan pengajian di masjid sebab Zahara dan Salma sibuk melakukan persiapan juga, akhirnya untuk pengajian hari ini ditiadakan.
Sholat isya usai, seketika suara anak-anak mulai terdengar dari berbagai sudut dan layar pembatas masjid pun sudah di geser ke ujung tembok. Hingga, tampaklah masjid sederhana ini menjadi agak sedikit luas.
Para bapak-bapak dan para pemuda mulai mengatur tempat duduk hingga membentuk seperti lingkaran agar pak ustad sedikit leluasa ketika ceramah, begitu juga dengan para ibu-ibu.
"Tes tes" Terdengar suara Ketua pemuda dari mikrofon kecil ditangannya sedang mengetes mikrofon itu.
Merasa suara mikrofon yang sudah bagus Ketua pemuda langsung membuka acara sebagai MC acara hari ini.
"Assalamu'alaikum wr wb" Ucap nya tegas dan jawaban atas salamnya diberikan sautan yang bergemuruh
Tak butuh waktu lama dalam penyambutan ini, Ketua pemuda selesai dengan pemberitahuan dana yang telah dikeluarkan dan sebelum pak ustad yang berbicara Ketua pemuda menyerahkan mikrofon kepada kepala desa untuk memberikan sepatah dia patah kata sambutan atas perayaan hari ini.
Dengan cepat Ketua pemuda selesai dengan berbagai agenda-nya dan langsung menyerahkan mikrofon tersebut kepada pak ustad yang telah mereka undang tadi.
Pak ustad kini siap berceramah dengan mikrofon yang sudah ada ditangannya. Jubah putih dan kopiah yang dia kenakan menjadi nilai plus atas kewibawaan dirinya.
Pak ustad membuka ceramah dengan tem kelahiran nabi dan makna dihadirkan-nya nabi Muhammad sebagai nabi akhir kemuka bumi ini, ceramah-nya begitu nyaman masuk ke telinga dan tidak begitu susah untuk dipahami karna pak ustad yang membawakan ceramah hari ini tidak begitu monoton hingga para jamaah merasa nyaman dan kadang tertawa karna candaan yang pak ustad lontarkan.
Ditengah penyampaian ceramah Zahara memandang ke sekeliling dan tak luput jamaah pria juga ia telusuri satu persatu.
Iya, dia sedang mencari apakah ada diantara salah satu pemuda tampak punggung dari pria yang telah mengusik hatinya beberapa hari ini.
Ia melihat Salman dan Lukman sedang duduk menyamping dengan pandangan yang pokus mendengarkan tausiah dari pak ustad.
Melihat ada Salman dan Lukman diantara para jamaah, hati Zahara menjadi sedikit senang, kemungkinan Zein juga ada diantara mereka. Lama Zahara memerhatikan, tapi tak ada Zein diantara mereka.
Zahara bertanya-tanya kenapa Zein tak pernah muncul didalam masjid sekali pun, ia hanya akan menemui Zein dipasar atau diluar Masjid saja. Zahara berpikir positif mungkin Zein sedang ada dibelakang membantu para pemuda mempersiapkan cemilan hingga tak tampak didalam masjid.
Satu persatu pemuda masuk dengan nampan yang berisi mangkuk tempat kolak yang mereka masak barusan dan nampan yang berisi gelas, tampak dari balas kaca bening itu warna kuning kecoklatan yang tandanya didalam gelas itu adalah teh.
Dengan lihai mereka mulai memberikan satu persatu mangkuk kedepan para jamaah karna pak ustad telah usai memberikan tausiah dan waktunya menyantap cemilan.
Sedangkan untuk para ibu-ibu para pemuda hanya akan memberikan nampan didepan pintu jalan bagian wanita dan menyerahkan-nya kepada pemudi yang ada disana.
Zahara dan Salma langsung bergegas ambil alih dengan cepat membagikan ke jamaah Ibu-ibu.
Ternyata mata dan hati Zahara masih berharap agar Zein hadir dari banyaknya para pemuda yang ada. Tapi, dia kembali kecewa dengan harapan-nya yang tak kunjung memuaskan hatinya.
Zahara akhirnya hanya diam sambil menyantap pelan kolak yang ada didepannya.
Waktu terus berlalu. Hingga, semua masyarakat sudah tersusun rapi berbaris didepan masjid dengan obor api yang lengkap ditangan mereka masing-masing.
Zahara, Salma dan para pemudi dibagi menjadi dua, agar masuk ke barusan tengah dan belakang.
Zahara dan Salma terpisah Zahara diberi tugas untuk berada tepat paling belakang sedangkan Salma berada di tengah-tengah bersama pemudi lain.
Para pemuda juga dibagi menjadi dua lokasi, didepan dan dibelakang untuk memantau para masyarakat agar tidak ada yang tertinggal dan tetap tertip berada didalam baris.
Zahara hanya diam tanpa kata sembari memegang obor di tangan-nya, Zahara tidak seramah Salma, hingga dia kesulitan berinteraksi ketika digabungkan dengan pemudi yang lain, alhasil Zahara hanya berdiri dibelakang dari banyaknya kerumunan yang asik bercerita dan bersenda gurau.
Suara sholawat nabi sudah mulai terdengar begitu indah dilantunkan masyarakat dan sesuai aba-aba dari Ketua pemuda, masyarakat akhirnya perlahan melangkah pelan.
Pemandangan ini sangat indah dipandang mata, semua masyarakat berjalan berbaris-baris dengan cahaya lampu dari masing-masing tangan mereka, Zahara juga ikut melatunkan shalawat dengan senyum yang mengambang dari wajahnya.
"Zahara... Zahara" Sayup-sayup Zahara seperti mendengar seseorang memanggil nama-nya dari arah belakang.
Zahara berbalik dan langsung terkaget ketika melihat pria yang tadi dia cari sejak tadi tapi tak kunjung datang.
"Zein?! " Kagetnya
"Kamu kok sendiri Zahara? " Ucapnya sembari mengambil alih obor api yang dipegang Zahara dan menyinari jalanan untuk mereka berdua.
"Ehhh, gak ada bg" Ucapnya kaget ketika jarinya tersentuh oleh Zein
"Abg tadi kemana? Kok gak ada keliatan didalam masjid?" Zahara mencoba untuk bertanya karna tak tahan dengan rasa penasaran yang menyelimuti-nya.
"Kenapa? Kamu nyariin aku ya?" Zein malah balik tanya dengan senyuman indahnya.
"Ahh enggak kok, aku .....aku cuman tanya aja" Ucap Zahara kikuk dan menahan malu sambil tertunduk menatap bayangan Zein yang masih menatap dirinya.
Zein hanya tertawa kecil melihat tingkah Zahara yang malu-malu kucing.
"Kamu kalo malu-malu gini malah makin bikin demen lo Zahara" Ucap Zein seketika membuat langkah Zahara terhenti dan menatap Zein, Zahara tidak menyangka Zein seperti tidak malu-malu mengucapkan kata itu.
"Bercanda kok Zahara" Ucapnya dan melangkah pelan
Zahara akhirnya mengikuti Zein dari belakang, dan tetap diam karna tidak mendapat jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan barusan.
Menyadari Zahara yang tidak bersuara, Zein akhirnya membuka suara.
"Abg tadi sama sekali gak kemasjid" Ucapnya dan berhasil membuat mulut Zahara terbuka dan bertanya kembali
"Kenapa? "
"Enggak ada kok... Cuman memang gak kemasjid aja" Ucapnya santai tanpa melihat wajah Zahara
Zahara tidak merasa puas sama sekali atas penjelasan yang diberikan oleh Zein yang terkesan menggantung, kenapa dia tak hadir sedangkan kedua teman-nya hadir dan dirinya tidak, dia sendiri yang menanyakan boleh atau tidaknya dirinya ikut dalam acara ini. Lalu kenapa dia tidak datang sama sekali.
Satu demi satu jawaban yang pantas atas pertanyaan yang diajukan-nya memenuhi kepala-nya, Zahara berusaha memilih sendiri atas jawaban yang ingin dia dengar.
"Maaf Zahara, aku pamit dulu ya" Ucapnya sembari menyodorkan obor api ketangan Zahara.
"Loh kenapa bg? Gak ikut shalawatan? " Tanya Zahara bingung, sembari berpikir apa dirinya telah membuat Zein tak nyaman atas pertanyaan-nya barusan
"Enggak Zahara... Abg kesini cuman mau liat wajah kamu" Ucap Zein sedikit berbisik dan menunduk menghadapi wajah Zahara dan berlalu meninggalkan Zahara.
'Deg' jantung Zahara berdegup kencang tak beraturan ketika mendengar pernyataan yang diberikan Zein barusan tepat didepan wajahnya, matanya terus memandang punggung Zein yang kini telah menjauh darinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Chandra Dollores
abg zein ini bikin aq yg geer juga loh
2023-10-19
0