Bab 8. Maulid Nabi

Pukul 6 sore semua persiapan sudah dilakukan dengan matang, tak ada yang kurang.

Itu semua berkat kegesitan muda mudi dalam membagi tugas, hingga tak butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan persiapan penyambutan maulid nabi malam ini.

Adzan isya berkumandang tanda waktu sholat isya sudah datang.

Zahara dan Salma bersama muda mudi desa sudah ada sejak dari tadi diarea masjid. Hingga, bergegas untuk melaksanakan sholat isya berjamaah.

Sore ini tidak diadakan pengajian di masjid sebab Zahara dan Salma sibuk melakukan persiapan juga, akhirnya untuk pengajian hari ini ditiadakan.

Sholat isya usai, seketika suara anak-anak mulai terdengar dari berbagai sudut dan layar pembatas masjid pun sudah di geser ke ujung tembok. Hingga, tampaklah masjid sederhana ini menjadi agak sedikit luas.

Para bapak-bapak dan para pemuda mulai mengatur tempat duduk hingga membentuk seperti lingkaran agar pak ustad sedikit leluasa ketika ceramah, begitu juga dengan para ibu-ibu.

"Tes tes" Terdengar suara Ketua pemuda dari mikrofon kecil ditangannya sedang mengetes mikrofon itu.

Merasa suara mikrofon yang sudah bagus Ketua pemuda langsung membuka acara sebagai MC acara hari ini.

"Assalamu'alaikum wr wb" Ucap nya tegas dan jawaban atas salamnya diberikan sautan yang bergemuruh

Tak butuh waktu lama dalam penyambutan ini, Ketua pemuda selesai dengan pemberitahuan dana yang telah dikeluarkan dan sebelum pak ustad yang berbicara Ketua pemuda menyerahkan mikrofon kepada kepala desa untuk memberikan sepatah dia patah kata sambutan atas perayaan hari ini.

Dengan cepat Ketua pemuda selesai dengan berbagai agenda-nya dan langsung menyerahkan mikrofon tersebut kepada pak ustad yang telah mereka undang tadi.

Pak ustad kini siap berceramah dengan mikrofon yang sudah ada ditangannya. Jubah putih dan kopiah yang dia kenakan menjadi nilai plus atas kewibawaan dirinya.

Pak ustad membuka ceramah dengan tem kelahiran nabi dan makna dihadirkan-nya nabi Muhammad sebagai nabi akhir kemuka bumi ini, ceramah-nya begitu nyaman masuk ke telinga dan tidak begitu susah untuk dipahami karna pak ustad yang membawakan ceramah hari ini tidak begitu monoton hingga para jamaah merasa nyaman dan kadang tertawa karna candaan yang pak ustad lontarkan.

Ditengah penyampaian ceramah Zahara memandang ke sekeliling dan tak luput jamaah pria juga ia telusuri satu persatu.

Iya, dia sedang mencari apakah ada diantara salah satu pemuda tampak punggung dari pria yang telah mengusik hatinya beberapa hari ini.

Ia melihat Salman dan Lukman sedang duduk menyamping dengan pandangan yang pokus mendengarkan tausiah dari pak ustad.

Melihat ada Salman dan Lukman diantara para jamaah, hati Zahara menjadi sedikit senang, kemungkinan Zein juga ada diantara mereka. Lama Zahara memerhatikan, tapi tak ada Zein diantara mereka.

Zahara bertanya-tanya kenapa Zein tak pernah muncul didalam masjid sekali pun, ia hanya akan menemui Zein dipasar atau diluar Masjid saja. Zahara berpikir positif mungkin Zein sedang ada dibelakang membantu para pemuda mempersiapkan cemilan hingga tak tampak didalam masjid.

Satu persatu pemuda masuk dengan nampan yang berisi mangkuk tempat kolak yang mereka masak barusan dan nampan yang berisi gelas, tampak dari balas kaca bening itu warna kuning kecoklatan yang tandanya didalam gelas itu adalah teh.

Dengan lihai mereka mulai memberikan satu persatu mangkuk kedepan para jamaah karna pak ustad telah usai memberikan tausiah dan waktunya menyantap cemilan.

Sedangkan untuk para ibu-ibu para pemuda hanya akan memberikan nampan didepan pintu jalan bagian wanita dan menyerahkan-nya kepada pemudi yang ada disana.

Zahara dan Salma langsung bergegas ambil alih dengan cepat membagikan ke jamaah Ibu-ibu.

Ternyata mata dan hati Zahara masih berharap agar Zein hadir dari banyaknya para pemuda yang ada. Tapi, dia kembali kecewa dengan harapan-nya yang tak kunjung memuaskan hatinya.

Zahara akhirnya hanya diam sambil menyantap pelan kolak yang ada didepannya.

Waktu terus berlalu. Hingga, semua masyarakat sudah tersusun rapi berbaris didepan masjid dengan obor api yang lengkap ditangan mereka masing-masing.

Zahara, Salma dan para pemudi dibagi menjadi dua, agar masuk ke barusan tengah dan belakang.

Zahara dan Salma terpisah Zahara diberi tugas untuk berada tepat paling belakang sedangkan Salma berada di tengah-tengah bersama pemudi lain.

Para pemuda juga dibagi menjadi dua lokasi, didepan dan dibelakang untuk memantau para masyarakat agar tidak ada yang tertinggal dan tetap tertip berada didalam baris.

Zahara hanya diam tanpa kata sembari memegang obor di tangan-nya, Zahara tidak seramah Salma, hingga dia kesulitan berinteraksi ketika digabungkan dengan pemudi yang lain, alhasil Zahara hanya berdiri dibelakang dari banyaknya kerumunan yang asik bercerita dan bersenda gurau.

Suara sholawat nabi sudah mulai terdengar begitu indah dilantunkan masyarakat dan sesuai aba-aba dari Ketua pemuda, masyarakat akhirnya perlahan melangkah pelan.

Pemandangan ini sangat indah dipandang mata, semua masyarakat berjalan berbaris-baris dengan cahaya lampu dari masing-masing tangan mereka, Zahara juga ikut melatunkan shalawat dengan senyum yang mengambang dari wajahnya.

"Zahara... Zahara" Sayup-sayup Zahara seperti mendengar seseorang memanggil nama-nya dari arah belakang.

Zahara berbalik dan langsung terkaget ketika melihat pria yang tadi dia cari sejak tadi tapi tak kunjung datang.

"Zein?! " Kagetnya

"Kamu kok sendiri Zahara? " Ucapnya sembari mengambil alih obor api yang dipegang Zahara dan menyinari jalanan untuk mereka berdua.

"Ehhh, gak ada bg" Ucapnya kaget ketika jarinya tersentuh oleh Zein

"Abg tadi kemana? Kok gak ada keliatan didalam masjid?" Zahara mencoba untuk bertanya karna tak tahan dengan rasa penasaran yang menyelimuti-nya.

"Kenapa? Kamu nyariin aku ya?" Zein malah balik tanya dengan senyuman indahnya.

"Ahh enggak kok, aku .....aku cuman tanya aja" Ucap Zahara kikuk dan menahan malu sambil tertunduk menatap bayangan Zein yang masih menatap dirinya.

Zein hanya tertawa kecil melihat tingkah Zahara yang malu-malu kucing.

"Kamu kalo malu-malu gini malah makin bikin demen lo Zahara" Ucap Zein seketika membuat langkah Zahara terhenti dan menatap Zein, Zahara tidak menyangka Zein seperti tidak malu-malu mengucapkan kata itu.

"Bercanda kok Zahara" Ucapnya dan melangkah pelan

Zahara akhirnya mengikuti Zein dari belakang, dan tetap diam karna tidak mendapat jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan barusan.

Menyadari Zahara yang tidak bersuara, Zein akhirnya membuka suara.

"Abg tadi sama sekali gak kemasjid" Ucapnya dan berhasil membuat mulut Zahara terbuka dan bertanya kembali

"Kenapa? "

"Enggak ada kok... Cuman memang gak kemasjid aja" Ucapnya santai tanpa melihat wajah Zahara

Zahara tidak merasa puas sama sekali atas penjelasan yang diberikan oleh Zein yang terkesan menggantung, kenapa dia tak hadir sedangkan kedua teman-nya hadir dan dirinya tidak, dia sendiri yang menanyakan boleh atau tidaknya dirinya ikut dalam acara ini. Lalu kenapa dia tidak datang sama sekali.

Satu demi satu jawaban yang pantas atas pertanyaan yang diajukan-nya memenuhi kepala-nya, Zahara berusaha memilih sendiri atas jawaban yang ingin dia dengar.

"Maaf Zahara, aku pamit dulu ya" Ucapnya sembari menyodorkan obor api ketangan Zahara.

"Loh kenapa bg? Gak ikut shalawatan? " Tanya Zahara bingung, sembari berpikir apa dirinya telah membuat Zein tak nyaman atas pertanyaan-nya barusan

"Enggak Zahara... Abg kesini cuman mau liat wajah kamu" Ucap Zein sedikit berbisik dan menunduk menghadapi wajah Zahara dan berlalu meninggalkan Zahara.

'Deg' jantung Zahara berdegup kencang tak beraturan ketika mendengar pernyataan yang diberikan Zein barusan tepat didepan wajahnya, matanya terus memandang punggung Zein yang kini telah menjauh darinya.

Terpopuler

Comments

Chandra Dollores

Chandra Dollores

abg zein ini bikin aq yg geer juga loh

2023-10-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Lamaran
2 Bab 2 Nasihat dari teman
3 Bab 3. Kejadian di pasar
4 Bab 4. pria asing didepan pintu
5 Bab 5. Namanya Zein
6 Bab 6. Didepan Masjid
7 Bab 7. Bagai Takdir
8 Bab 8. Maulid Nabi
9 Bab 9. Aku bukan pria muslim
10 Bab 10. Hati Yang Pilu
11 Bab 11. Kerudung
12 Bab 12.Didong
13 Bab 13. Pohon Besar
14 Bab 14. Aku akan Menikah
15 Bab 15. keadaan zein
16 Bab 16. pembuktian dari Zein
17 Bab 17. Tetap dirumah Ya
18 Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19 Bab 19. Pelaminan
20 Bab 20 Malam Pernikahan
21 Bab 21 Hari pertama
22 Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23 Kritik dan Saran
24 Awal Dari Penderitaan
25 Seragam Hina
26 Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27 Pergilah....
28 Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29 Kepergian dan Doa
30 Telah Sampai Diriku
31 Janji Nusantara
32 Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33 Zein Yang Dulu
34 Juragan Sawit
35 Biaya Perjalanan
36 Berita
37 Fakta tentang Zein
38 Sampainya Surat
39 Ketahuan Para Militer Hina
40 Rumoh Geudong
41 Penyiksaan
42 Kekejaman
43 Kekejaman
44 Maafkan Aku Mak
45 Lahir-nya seorang putri
46 DOM
47 Do' a Yang pilu
48 Mengais Rezeki
49 Pergi ke Masjid
50 Kejadian di Desa Kenawat
51 B. J. Habibie
52 Kepergian
53 Tapanuli Selatan
54 Menuju Sigama
55 Jangan Diam
56 Aku Hanya Ingin Bahagia
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Lamaran
2
Bab 2 Nasihat dari teman
3
Bab 3. Kejadian di pasar
4
Bab 4. pria asing didepan pintu
5
Bab 5. Namanya Zein
6
Bab 6. Didepan Masjid
7
Bab 7. Bagai Takdir
8
Bab 8. Maulid Nabi
9
Bab 9. Aku bukan pria muslim
10
Bab 10. Hati Yang Pilu
11
Bab 11. Kerudung
12
Bab 12.Didong
13
Bab 13. Pohon Besar
14
Bab 14. Aku akan Menikah
15
Bab 15. keadaan zein
16
Bab 16. pembuktian dari Zein
17
Bab 17. Tetap dirumah Ya
18
Bab 18. Lamaran dari pria muallaf itu
19
Bab 19. Pelaminan
20
Bab 20 Malam Pernikahan
21
Bab 21 Hari pertama
22
Bab 22 Kebahagiaan sang ibu
23
Kritik dan Saran
24
Awal Dari Penderitaan
25
Seragam Hina
26
Air mataku tak boleh menetes karna penghinaan ini
27
Pergilah....
28
Keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah ini
29
Kepergian dan Doa
30
Telah Sampai Diriku
31
Janji Nusantara
32
Keringat-ku untuk kehadiran-mu
33
Zein Yang Dulu
34
Juragan Sawit
35
Biaya Perjalanan
36
Berita
37
Fakta tentang Zein
38
Sampainya Surat
39
Ketahuan Para Militer Hina
40
Rumoh Geudong
41
Penyiksaan
42
Kekejaman
43
Kekejaman
44
Maafkan Aku Mak
45
Lahir-nya seorang putri
46
DOM
47
Do' a Yang pilu
48
Mengais Rezeki
49
Pergi ke Masjid
50
Kejadian di Desa Kenawat
51
B. J. Habibie
52
Kepergian
53
Tapanuli Selatan
54
Menuju Sigama
55
Jangan Diam
56
Aku Hanya Ingin Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!