Sayangnya, setelah kepergianku dari ruangan konseling dengan berbagi senyuman manis. Anakku tidak ditemukan di bagian Unit Kesehatan Sekolah, tas sekolah yang ditentengnya juga tidak ada di sana, ruangan itu kosong tak berpenghuni dengan beberapa camilan di sekitar meja. Sepertinya Kalista di sana sebelumnya. Apa dia pulang lebih dahulu?
Aku mendekati area itu, mencari-cari petunjuk apa anakku sempat di sini dan ke mana perginya dia.
"Maaf, Ibu. Lagi nyari apa?"
Tubuhku menghadap asal suara, menerima kehadiran seorang siswi dengan pakaian bebas yang mempertanyakan eksistensiku di sini. Melihatnya diikuti seorang wanita berbusana dokter, aku tersenyum kecil, mungkin mereka adalah penanggung jawab tempat ini.
"Tadi saya minta anak saya istirahat di sini, tapi waktu disusulin ternyata udah nggak ada. Namanya Kalista, ada yang kenal?"
Yang bertanya padaku mengangguk antusias. "Tadi Kalista emang istirahat di sini, Bu. Ini aku panggilin Bu dokternya biar diperiksa, tapi aku juga baru tau dia udah pergi. Padahal tadi dia di sini sama temennya."
"Temen?"
Kepalanya mengangguk. "Cowok."
Yang tebersit di pikiranku hanya namanya, nama dari orang yang pernah kuperingatkan sebelumnya kepada anakku. Apa Biyan membawanya pulang atau justru Kalista yang meminta bantuannya? Di saat keadaan getir begini, bisa-bisanya anakku lari ke dekapan orang yang masih dibilang asing bagiku.
Aku belum bisa memercayakan Kalista padanya. Bukan tanpa alasan, jika aku saja belum bisa mengasuh anakku dengan baik, bagaimana kalau Kalista berada di genggaman tangan yang salah?
Membuktikan perkataan mereka benar atau tidak, akhirnya aku keluar dari ruangan sembari mencari kontak nama anak pertama yang ternyata sedang online. Tidak ingin menunggu, tombol telepon itu kusentuh lalu ponsel tersebut menyambungkan telepati antara aku dan Fathan.
"Halo."
"Fathan, adik kamu di rumah?"
"Ya, Ma. Baru aja sampe, ini lagi diobatin sama Biyan."
"Jangan banyak-banyak interaksinya, kamu juga jagain adiknya itu nanti takut kenapa-napa. Bawain makan."
"Ya, Ma. Fathan ambilin makan."
Panggilan kututup dengan embusan napas yang berat. Pola asuh baik itu yang sempat kudengar penjelasannya tiba-tiba buyar entah ke mana, aku tidak memasukkan topik itu ke apa yang baru terjadi sekarang. Aku tidak bisa menetralisir dampak baik apa yang bisa Kalista dapat bila Biyan berada di sekitarnya, aku tidak bisa.
Dia pasti akan merepotkan anakku saja, amarahku menggebu-gebu dan siap mengomelinya nanti di rumah. Dasar anak menyebalkan, dia menyepelekan kehadiranku lagi, 'kan? Lagi-lagi aku tidak dianggap, lagi-lagi aku kalah penting dibandingkan laki-laki asing yang sedang bersamanya di rumah.
...***...
Sesampainya aku di rumah, aku tidak bisa mengolah ekspresiku sebaik mungkin agar terlihat baik di mata tamu. Emosiku terlalu tinggi, saat pintu ini dibuka ternyata apa yang dikatakan anak sulungku memang benar. Masih dengan Biyan di samping Kalista yang sedang merenung tidak tahu memikirkan apa.
"Mama cariin kamu ke sana-sini."
Laki-laki yang merasa berhak mewakili anakku pun berdiri, dia menghadapiku dengan tatapan yang sesekali masih menunduk. "Maaf, Tante. Tadi saya yang bawa pulang."
"Kamu yang bawa pulang? Kamu pikir kamu siapa?"
"Mama, bukan Biyan yang salah," sela anakku yang selanjutnya mengalihkan perhatian pada laki-laki di sampingnya. "Biyan, lo pulang aja, ya. Makasih."
Biyan mengangguk kecil, kemudian menyapa Fathan sebentar sebagai salam perpisahan terakhir, dan meninggalkan tempat dengan sisa derum kepergian motor yang terdengar dari dalam rumah. Dia benar-benar pergi yang menimbulkan embusan napas dari anakku.
"Seharusnya Mama nggak ngomong begitu ke Biyan, nggak enak didengernya."
"Berani kamu ngomong kayak begitu sama Mama?"
"Ma, Kalista kondisinya lagi kayak begini."
"Lagian tadi aku yang minta tolong buat dianterin pulang sama Biyan, bukan Biyan yang bawa aku pulang. Dia nyari alesan biar aku nggak dimarahin Mama," jelasnya lagi membuatku terdiam. "Aku capek, Ma. Mau istirahat."
Aku mengembuskan napas, mengikutinya pergi ke dalam kamar yang dibantu oleh sang Kakak. Aku tidak bisa membuatnya berlalu lalang begitu saja, dia harus mengerti, aku mengkhawatirkannya.
"Kamu marah karena Natasya ngejek orang tua kamu tapi kamu begini ke Mama?"
Fathan membantunya merebahkan tubuh, memastikan perempuan itu berada dalam posisi yang nyaman sebelum tubuhnya ditutupi selimut. Kemudian, dia mengusap kepala adiknya, lalu pergi tanpa sepatah kata pun meski aku berada di depannya juga.
Aku mendekati anakku, melihat seberapa parah kondisinya walau sudah melakukan hal yang membuatku marah. Mungkin tidak seharusnya aku bersikap kasar seperti tadi, tetapi entah mengapa aku sebal melihatnya bersama laki-laki itu, seakan ini belum waktunya anakku dekat dengan teman lawan jenisnya.
"Pusing nggak kepalanya?"
Kalista menggeleng, menggelengkan kepala tanpa ekspresi. Tidak cemberut tetapi tidak senang juga, tatapannya kosong menatap langit-langit kamar, tingkahnya kelihatan butuh waktu sendirian tanpa turunnya pertanyaan yang akan ditanggung karena kelakuannya di sekolah tadi.
Aku mengembuskan napas. "Seharusnya kamu nggak perlu main tangan sama orang lain, apalagi Natasya juga orang kaya. Kita cuma yang seadanya, orang-orang pasti bakal tunduk sama yang punya kekuasaan."
"Oh, jadi Mama lebih mentingin rasa malu meskipun harga diri Mama turun?" balas anakku tak terduga. "Kalaupun iya, aku nggak bakal semudah itu buat tunduk sama Natasya. Natasya itu nggak ada apa-apanya, lagian kita bukan orang susah. Aku nggak mentingin ekonomi keluarga ini, aku cuma ngelakuin apa yang seharusnya aku lakuin."
"Mukul orang?"
Kalista tampak muak mendengarnya, dia menoleh padaku dengan kerutan di bagian kening. "Iya, aku tau apa yang aku lakuin salah. Tapi Mama nggak harus nyari pembelaan buat Natasya terus-terusan, 'kan? Seakan-akan apa yang aku lakuin salah banget."
"Emang salah!"
"Ayah juga begitu ke Mama!"
Setelahnya, tidak ada lagi yang bersuara. Baik aku, Kalista, maupun seseorang yang entah kapan membuka pintu kamar. Kami saling membungkam, tidak ada yang mau memperpanjang masalah lagi. Aku tak lagi menatap anakku, melainkan mengalihkan perhatianku ke sosok yang sempat mendengar percakapan kami tadi.
Tubuhku berhasil dibuat mematung karena kehadirannya. Yang mengenakan kemeja hitam dengan lirikan tajamnya sedang menatap kami, yang berpostur tinggi dengan amarah paling besar di antara anggot keluarga ini. Aku terperanjat hebat saat kami saling bertatapan dalam waktu yang lama.
Aku terhipnotis, badanku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa membuat anakku tersadar dengan kehadirannya dan tidak bisa memintanya pergi dengan suaraku padanya. Setiap jemariku ikut gemetar sampai kedua tangan ini melemas. Kepalaku hanya bisa menoleh pada Kalista, dia pun mengikuti arah pandangku ke pintu kamar dengan reaksi yang hampir sama.
Kami sama-sama terkejut melihat Cahyo di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments