14. Suka-suka Aku.

Di sinilah kami, duduk berjejeran di meja makan yang kekurangan anggota. Usai menunggu cukup lama untuk memastikan anak bungsuku ikut makan malam bersama, akhirnya kami sampai di gerbang acara. Antara aku, Fathan, dan Kalista di meja makan.

Masing-masing mulai memilih lauk, berbagai macam makanan hangat dan yang dihangatkan tersaji di hadapan mereka. Sepiring ayam kecap manis, lembaran telur dadar yang masih hangat, juga beberapa potongan tempe goreng kesukaan Fathan.

Aku mengambil ayam sebagai sahabat nasi, menjumput suwirannya yang manis dicampur ratusan butir beras matang untuk diantar ke tempat makanan dihancurkan. Sesekali aku melirik anak-anakku, berpikir mereka makan dengan nikmat atau tidak.

Fathan memilih dua potongan tempe goreng kering dan ayam kecapnya juga, sedangkan Kalista menjadikan selembar telur dadar itu sebagai teman makannya malam ini. Dia memang suka berbagai macam olahan telur, tetapi anakku kelihatan tidak berhasrat.

Agar tidak terlalu canggung, akhirnya aku bersuara, "Emangnya ada tugas kelompok apa?" Dengan tatapan tertuju pada Kalista.

Kalista mendongak, menciptakan pertukaran pandang di antara kami yang berakhir dengan berpalingnya wajah anakku. Aku tidak tahu apa dia mencoba berdalih dengan tidak langsung menjawabku atau bagaimana, tetapi yang pasti, Kalista mengulur waktu.

"Sosiologi."

Aku menganggukkan kepala, mengiyakan perkataan anakku. Aku sempat membaca percakapan anakku dan laki-laki itu tadi, mereka memang sempat membahas pelajaran tersebut sebagai bahan diskusi kerja kelompok.

Namun, aku agak terkejut melihat pesan temannya yang mengajak bermain ke luar. Apalagi bersama seorang laki-laki yang belum tentu dikenal baik, malam-malam, mana mungkin aku tidak khawatir. Mana mungkin juga aku mengizinkannya.

"Ma, aku boleh ke luar malem ini nggak?"

Aku terperanjat mendengarnya meminta izin, apa dia benar-benar akan ke luar bersama Biyan? Bahkan, aku baru melihatnya kemarin dan hari ini. Aku belum pernah mendengar tentangnya dari Kalista, dia tidak pernah bercerita.

"Nggak."

Terasa tidak heran lagi, perhatian Fathan terbagi untuk interaksi di antara aku dan anakku. Baik aku maupun dia, kami saling bertukar pandang saat Kalista berdecak sebal.

"Kenapa, sih? Nggak jauh juga mainnya, jam sembilan pulang."

"Kamu ini kalau dibilangin nggak ngerti."

Kalista berdecih, "Bukannya Mama emang nggak pernah ngertiin aku?"

"Kalista." Seperti biasa, Fathan langsung menyusup masuk ke percakapan kami. "Emang lo mau ke luar sama siapa?"

Mendengar pertanyaan menyudut, alih-alih menjawab langsung, anakku terdiam selama beberapa saat. Baik aku maupun Fathan, sepertinya kami punya pemikiran yang sama. Memang remaja sebayanya selalu bermain bersama yang lawan jenis dan ini pertama kalinya Kalista berani meminta izin untuk itu.

Sebenarnya, aku bisa saja membolehkan anakku pergi. Asal Biyan harus berhadapan denganku dahulu, aku harus menilainya sebelum melepas satu-satunya anak perempuan di keluarga ini. Yang aku lakukan selama ini cuma khawatir. Kalau bukan khawatir, berarti karena ayahnya.

"Sama Biyan."

"Ngapain?" tanya anak sulungku cepat. "Malem-malem, padahal tadi sore udah pulang bareng juga."

"Emang kenapa, sih? Lagian kapan lagi gue main."

"Boleh main," uraiku membuat Fathan terbelalak bersama adiknya juga berbinar-binar. "Tapi di rumah ini."

Kemudian, mereka semakin terperanjat mendengar jawabanku tadi. Aku bilang begitu bukan berarti membolehkan mereka main juga, ya. Maksud ucapanku tadi adalah tidak mengizinkan mereka, aku juga tidak mau anakku dilirik tidak-tidak sama tetangga saat mereka melihatnya bersama yang lawan jenis.

Fathan yang Kakaknya saja tidak pernah membawa seorang gadis atau berteman dekat, mustahil bila aku mengizinkan adiknya. Kalau Cahyo tahu ini semua, bisa-bisa makan malam kami akan selesai lebih dahulu dengan kaburnya salah satu penghuni kursi meja.

"Suka-suka akulah!"

"Nggak, Kalista. Sini!"

Sayangnya, anakku yang satu itu tidak menurut. Lagi-lagi dia membanting pintu, kabur ke dalam kamar dengan perasaan yang berkecamuk. Aku jadi tidak enak hati, tetapi menurutku ini terlalu cepat bila Kalista dan Biyan menghabiskan waktu bersama.

Malam semakin larut, kelopak mataku juga ikut layu seiring kantuk berselimut. Waktu masih berjalan yang sekarang sampai di jam sebelas malam, sudah seharusnya anak-anakku tidur atau setidaknya merebahkan tubuh mereka di kasur hangat.

Aku mengusap bagian mata, menguap berulang kali sembari melirik jam dinding terus-terusan seolah sedang mencari perhatian. Belum ada kabar dari suamiku, dia terlihat tidak aktif dengan foto profil kontaknya yang kosong.

Tak lama, terdengar bunyi klakson kendaraan dari luar tempat tinggalku. Sepertinya yang dinanti-nanti akhirnya tiba, suamiku pulang sesuai perkataannya yang larut malam. Buru-buru aku mendekati meja makan, memastikan lauk pauknya tersedia tanpa dikerubungi semut atau diterbangi lalat-lalat. Alhamdulillah, semuanya sudah siap.

Karena pintunya dikunci, terdengar bunyi kunci pintu rumah yang berusaha membuka gerbang tempat tinggalku. Aku merapikan piyama yang kupakai, berusaha terlihat cantik meski terbawa usia dan tampil di larut malam. Tersenyum, lalu menatap dalam matanya.

"Cahyo."

"Ngapain lo di sini?"

Aku tertegun, "Aku nunggu kamu pulang, pasti kamu capek. Udah aku siapin makannya di meja, makan dulu sebelum tidur ya, Sayang."

"Gue udah nyuruh lo tidur duluan, 'kan?" Alih-alih terharu atau berterima kasih karena perlakuanku padanya, suamiku justru berkata lain. "Nggak usah sok-sokan nunggu, tinggal tidur aja ribet banget lo."

Dadaku sesak, aku ragu bisa bersikap tenang sekarang karena kesabaranku yang sedari tadi menipis. "Aku rela-rela begadang nungguin Ayah, terus Ayah nyuruh aku tidur?"

"Oh, habisin makanan gue aja kalau begitu."

Tasnya dilempar asal ke sofa, tak lupa dengan simpul dasi yang dilepas kasar sebelum dilempar ke arah yang berbeda. Cahyo tampak kacau malam ini seakan ada sesuatu yang membuat perasaannya memburuk, mungkin karena banyaknya pekerjaan, tetapi karena itulah aku bertahan sampai sekarang.

"Aku nyiapin makan buat kamu."

"Nggak usah, udah malem. Mending lo tidur."

Kepalaku menggeleng, jelas aku menolak suruhan yang terkesan mengusir dari hadapannya juga. Aku tidak mengerti, aku berusaha melayani suamiku dengan baik tetapi begini dia memperlakukan aku?

Aku berusaha menatapnya sekarang. "Yah, aku rela nahan ngantuk buat mastiin kamu pulang aman. Aku nyiapin makan karena aku nggak mau kamu kelaperan, aku pengen nemenin kamu."

"Tidur aja," balasnya tidak tahu diri. "Tidur nggak?"

"Nggak?"

"Ya udah, biar gue yang tidur."

Kemudian, kalimat itu menjadi pungkasan atas putusnya percakapan kami di malam hari. Cahyo masuk ke dalam kamar, membanting pintunya dengan bunyi penghalang tersebut dikunci dari dalam. Aku dibiarkan begitu saja di luar bersama beberapa piring makanan favoritnya.

"Ayah."

Sekali lagi, aku merasa gagal. Aku menangis, lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!