6. Kelewatan.

Kalau kamu belum tahu, Kalista paling benci hari Selasa. Kadang, hari Selasa menjadi yang terburuk di setiap minggu. Mulai dari banyaknya membawa buku pelajaran, terlambat karena bangun kesiangan, lupa mengerjakan tugas, maupun dijahili anak-anak kelas.

Padahal, perempuan yang mengenakan baju adat kebaya sebagai seragamnya sekolah sudah berharap bahwa hari Selasa ini akan membaik. Namun, setibanya di kelas dengan situasi yang bisa dibilang ramai, ingatannya baru memulih.

"Aduh, pake lupa kagak bawa uang saku ...," keluhnya melampiaskan emosi lewat pukulan di meja. "Makan apa gue hari ini?"

Dari kejauhan, seseorang mengamatinya dengan tenang tanpa perlu dicurigai siapa pun. Keberadaannya memang terpencil karena kursi miliknya di penjuru ruangan, diam-diam pikirannya menebak-nebak tentang apa yang sedang dikhawatirkan cewek dengan bando merah muda yang menghiasi kepalanya.

Kelas memang penuh dengan gurau belaka, mereka menikmati urusan masing-masing sambil menjedanya dengan sekumpulan jajanan. Kenapa di saat guru tidak datang malah ada kesialan yang ditimpa Kalista? Dasar, dunia memang tidak pernah adil.

Melihat tidak ada yang akan peduli, akhirnya laki-laki itu bangkit dari kursi, beranjak menghampiri Kalista yang masih kebingungan tentang cerobohnya dia pagi ini. Beberapa orang sempat melirik, lalu melanjutkan aktivitasnya kembali. Lagian, mereka tidak tertarik pada orang yang dianggap tidak menarik.

Dengan tingkah sok peduli, sakunya dikaitkan telapak tangan bagian kiri. Pergelangannya masuk ke dalam, tubuhnya diatur membentuk sudut 100° menyamakan postur laki-laki yang akan membuka kisah cinta SMA mereka.

"Kenapa, Kal?"

Mendengar nama panggilannya diucap, kepalanya lebih dahulu menoleh ke sumber suara. "Lupa nggak bawa uang saku."

"Pake punya gue aja."

Yang sebelumnya sibuk mencari lipatan uang ke sela-sela buku pelajaran, kini menukar sepenuh perhatiannya pada orang yang sempat memanggilnya tadi.

"Ngapain?"

"Buat makan."

"Nggak, deh. Makasih."

Alisnya berkerut setelah ditolak mudah. "Gue ikhlas."

"Gue bukan pengemis," balas Kalista melirik pemberiannya lagi. "Lagian, segitu juga nggak cukup."

Pendengarnya tertawa. "Langsung ke kantin aja, biar gue yang bayar."

"Lo kesambet apa sih, Yan?"

"Kalista."

Namun, percakapan yang hasilnya akan berbuah manis bagi Biyan justru terhambat karena kedatangan anak kelas sebelah. Dia menggantung ranselnya dengan tangan sebelah, sedangkan tangan lainnya menyodorkan kotak makan yang dilengkapi sebuah catatan.

"Dimakan."

"Dari siapa?"

"Mama."

"Buat lo aja."

Sebagai pendengar yang tidak tahu status di antara mereka, Biyan termenung mendengar percakapan antara Fathan dan Kalista. Siapa laki-laki yang berdiri menyainginya sekarang? Dia bukan anak IPS, tetapi yang penting, kenapa dia dekat dengan ibunya Kalista?

"Kal, udahlah. Mama lupa nggak ngasih karena lo buru-buru tadi, uang jajan lo ada di dalem. Ambil," ujar Fathan menaruhnya di meja. "Gue ke kelas."

"Nggak mau."

"Nggak usah kayak anak kecil!"

"Ambil atau gue buang."

Fathan terlonjak kaget, membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan adiknya lagi. "Segitunya? Bahkan Mama nggak ragu ngasih sarapannya buat lo, kenapa lo begini, sih?"

"Weh, santai! Kalista juga udah bilang nggak mau, jangan dipaksa, dong."

"Lo siapa?" Terpancing, Fathan pun berhadapan dengan laki-laki di depannya. "Nggak usah ikut campur, gue nggak punya urusan sama lo."

"Sebelumnya gue ngobrol sama Kalista, terus lo tiba-tiba dateng mancing keributan. Jadi gue punya urusan sama dia duluan."

"Yan, apaan, sih!"

Mungkin Biyan berpikir bahwa perannya di sini sangat penting untuk membela gebetannya, bersikap persis melindungi seorang putri yang dikelilingi kejahatan dari kerajaan lainnya. Tetapi di mata Kalista, Biyan mengganggunya!

"Pergi nggak?"

"Kok gue yang disuruh pergi, sih? Yang mancing emosi lo itu dia, 'kan?" Biyan menolak perkataannya. "Gue nggak mau pergi."

Kalista mengembuskan napas, melirik kotak makan yang diberikan Kakaknya tadi untuk mencari referensi ide pengusir penghuni kelas yang satu ini.

"Biyan, lo mau bantuin gue nggak?"

Seketika matanya berbinar-binar. "Mau, dong!"

"Nih," ucapnya memberikan bekal makanan Laras. "Habisin, kalau udah selesai nanti balikin tempat makannya ke gue. Bisa?"

"Kalista ...."

"Bisa-bisa." Biyan tersenyum lebar, menerima bekal makan siang miliknya dan kembali ke tempatnya belajar. Walaupun sesekali melirik ke meja Kalista, setidaknya laki-laki itu pergi dari daerahnya.

"Gue nggak ngerti, Mama sayang sama lo, Kalista."

"Sayang? Maksud lo dengan tingkah menye-menye pas ngadepin ayah begitu?"

Hampir saja Fathan melayangkan pukulan pada adiknya, hal ini mengundang beberapa pasang mata untuk memperhatikan apa yang terjadi di sekitar mereka. Kali ini Kalista kelewatan, seharusnya memang diberi pelajaran.

"Lo nggak tau rasanya jadi Mama."

"Mama juga nggak bakalan ngertiin gue."

Kemudian, laki-laki itu meninggalkan saudaranya di kelas. Dia pergi dengan napas yang naik turun, sementara Kalista kini terdampar di permukaan meja. Badmood, lagi-lagi hari Selasanya tidak berjalan baik.

Tetapi tidak sepenuhnya karena Fathan, sih. Eksistensi Biyan juga berpengaruh pada perasaannya. Lagian, kenapa tiba-tiba dia ikut campur? Bisa-bisa Fathan salah menganggap dan justru menjadikan Biyan sebagai penyebab perseteruan mereka.

Di sisi lain, cowok dengan urusan menghabiskan bekal makan gebetannya pun selesai. Dia tuntas dengan kekenyangan gratis, nasi uduk ini tidak buruk juga. Usai meneguk sebotol air, netranya teralihkan pada sebuah amplop yang sempat disingkirkannya tadi.

Mulanya Biyan sungkan ingin membaca, tetapi mengingat Kalista tidak kelihatan peduli seperti seorang anak pada ibunya, alhasil pergelangannya bergerak menyelesaikan lipatan dari lembaran kertas berisi uang dengan latar berwarna hijau.

...Dari Mama...

...Maaf, Mama lupa ngasih uang jajan kamu. Nasinya tolong dimakan, ya. Mama minta maaf buat yang kemarin, Mama sayang Kalista....

Namun, ditilik dari suratnya ini kelihatan seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya, kok. Bahkan dia sampai menulis catatan begini sebagai permintaan maaf, apa yang salah dengan itu?

Mengingat Biyan mesti mengembalikan tempat makannya, alhasil catatan tersebut dilipatnya lagi masuk ke dalam amplop, dia menyertai kedatangannya lagi dengan selembar sampul surat tersebut.

"Kal, udah habis."

"Oh, iya. Makasih."

Biyan tidak tahu apa faktor penurunan mood-nya Kalista. Apa dia marah mengingat anak kelas sebelah yang datang sambil mengamuk? Apa dia sebal dengan kedatangannya kemari atau sedih karena bekal makanannya habis dinikmati?

Diam-diam cowok itu menjitak kepalanya sendiri. Bodoh sekali!

"Ini ...." Jangan salahkan Biyan, dia hanya ingin memperpanjang topik. "Ada pesan dari Mama lo, sekalian gue masukin uang jajan yang gue kasih tadi ke dalem."

"Lo nggak berhak manggil Mama."

"Ya, maaf."

Kalista meliriknya sekilas. "Beneran lo ngasih buat gue?"

Biyan mengangguk polos, dia kelihatan lucu sekarang.

Kalista mengembuskan napas, menerima amplop itu dengan senang hati. "Makasih, ya."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!