10. Cuma Ditampar.

Bintang-bintang bermunculan lagi, mencairkan suasana tegang yang sempat terjadi di sore hari. Suamiku, aku, dan anak-anakku sibuk dengan urusan masing-masing. Kulihat terakhir kali, Cahyo sedang menonton televisi. Aku sibuk memasak makanan malam ini, sedangkan Fathan dan Kalista berada di kamar mereka yang entah sedang apa sejak kami berdebat tadi.

Selesai menyajikan makan malam yang akan mulai, aku mengingatkan suamiku tentang milik favoritnya yang sudah tersaji hangat di meja makan. Kemudian, aku beralih mengetuk pintu kamar anak-anakku yang tidak ada tanda kehadirannya di dalam.

"Fathan, Kalista. Ayo, makan malem!"

Setelahnya, aku beranjak ke meja makan, duduk di samping suamiku sembari menunggu Fathan dan Kalista menyusulku kemari. Namun, ditunggu sampai beberapa menit, tidak ada jawaban yang terdengar dari tempatku dan Cahyo duduk.

"Hei, dipanggil Mamanya ngedengerin nggak, sih? Disuruh makan, taro dulu HP-nya!"

Kalau boleh jujur, aku sempat terkejut mendengar suamiku setengah berteriak. Pergelanganku spontanitas menyentuh punggung tangannya, menenangkan Cahyo yang emosinya sempat meninggi lagi.

Tak lama, pintu kamar pun terbuka dengan menampilkan anak-anakku yang keluar dari kamarnya. Fathan dengan wajah sebagian tidak bertenaga, juga Kalista yang masih kelihatan lusuh dengan perasaan yang sepertinya masih berkecamuk. Keduanya mendekati meja makan dengan kecepatan langkah yang menyamakan persis perasaan mereka sekarang.

Meskipun aku terlihat masih mendongkol, diam-diam mataku melirik pada lengan Kalista yang dilukainya kemarin. Aku masih khawatir, tetapi aku gengsi mengatakannya. Dia mengenakan baju lengan yang panjang, aku tidak bisa melihatnya.

Yang bisa aku deskripsikan, aku belum pernah melihat kondisi Kalista yang sepucat ini. Seakan tidak diberi makan seharian, dikurung di dalam kamar sampai melukai dirinya sendiri, aku takut orang-orang sekitar akan menganggapku begitu. Padahal aku hanya ingin anak-anakku menurut.

Tubuhnya lesu, lebih lemas dari yang kulihat tadi pagi dengan tatapan kosong tanpa objek sebagai pusat perhatiannya. Rambutnya kelihatan lepek seperti sudah lama tidak disisir, bibirnya juga tampak manyun seolah terpaksa menghadiri makan malam kali ini.

"Kalista, kenapa? Cemberut aja dari tadi, nggak bagus dilihatnya," sahut suamiku meliriknya sejenak. "Nggak bagus cemberut di depan makanan."

"Tangannya masih sakit nggak?"

Seakan mendengar ada hal janggal yang belum diketahui, Cahyo menoleh padaku dengan alis yang berkerut. Padahal suasana hatinya sedang baik saat ini, kalau Cahyo mendengar kabar tentang anaknya yang melukai diri sendiri, aku yakin kami tidak jadi makan malam bersama.

"Emang Kalista tangannya kenapa?"

Baik aku maupun anakku, kami saling menatap antara satu sama lain. Tidak ada yang berani menjawab, Fathan yang biasa mudah menyeimbangkan suasana juga tampak kebingungan menjawabnya. Dia tidak pernah terlibat masalah sejauh ini ketika berhadapan dengan ayahnya, Fathan belum berani.

Sementara, Kalista menundukkan kepala seolah semuanya terserah padaku. Anak bungsuku sepertinya pasrah dengan keadaan, seakan jika kematiannya menjemput dari tangan ayahnya, sudah bukan hal yang penting untuk dipertahankan lagi.

"Kok nggak ada yang jawab?"

Walau tanganku sibuk membagi porsi makan malam keluarga, aku juga masih berpikir dan mencari jawaban, aku tidak ingin berbohong tetapi mau membuat Cahyo mendengarnya nanti di waktu yang tepat. Ini waktunya makan malam.

"Ayah, nasinya kebanyakan nggak?"

"Oh, kebanyakan. Kurangin." Beruntungnya, suamiku sempat teralihkan. "Katanya kamu nyuruh aku diet, kok malah dikasih segini?"

Sebagai bentuk pencair suasana, aku tertawa kecil. "Nggak apa-apa sesekali, lagian Ayah pulang malem hari ini. Pasti capek."

Kemudian, kepalanya manggut mengiyakan pernyataanku tadi. Sepertinya Cahyo sadar bahwa aku mengalihkan perhatiannya, tetapi dia memilih tidak peduli dan menganggap mungkin apa yang terjadi dengan anaknya hanya luka kecil biasa akibat suatu kecerobohan.

Akhirnya, kami menyantap yang tersaji di meja makan. Aroma semangkuk sayur bayam hangat masih tercium sampai di pertengahan makan malam kami, uap panasnya lama kelamaan berkurang disertai bunyi sendok-sendok yang menyayat piring mereka, pertanda makanan yang dikunyah akan habis tak tersisa.

Potongan tempe goreng kering juga menemani waktu makan kami, masing-masing mengambilnya satu dan menambah jika dirasa kurang melengkapi lauk di piringnya. Kami menikmatinya dengan suasana yang lebih tenang, tidak ada sindiran ataupun kalimat negatif yang membuat masing-masing anggota keluarga tertegun.

Setelah kegiatan selesai, aku membereskan piring-piring kotor sendirian, membiarkan suami dan anak-anakku yang menunggu makanan mereka turun di tempat yang sama. Sejujurnya, aku masih kepikiran Kalista sampai sekarang. Apa dia benar-benar membenciku, ya?

Sepuluh menit membilas yang perlu dibersihkan, aku melirik meja yang tidak lagi dengan ramainya, menerima kenyataan bahwa anak-anak telah kembali ke zona nyaman mereka. Ini bukan waktunya mengomel lagi, ini waktunya aku berdiskusi dengan Cahyo tentang apa yang sedang terjadi.

"Ayah, ada yang mau aku omongin."

Cahyo menganggukkan kepala, memberi ruang dan waktu agar aku bisa berbicara padanya. Kalau boleh jujur, aku agak ragu mengatakan ini. Aku tidak mungkin langsung mengatakan poin yang penting, aku akan bertanya padanya lebih dahulu.

"Ayah, menurut Ayah ... sikap tegas ke anak itu penting nggak?"

"Penting banget," jawabnya dengan keyakinan yang mantap. "Kalau kita nggak tegas sama anak, nanti anak jadi susah nurutnya."

Aku manggut, mengiyakan perkataan suamiku yang tampak serius membahas topik percakapan kami kali ini. Sebetulnya Cahyo termasuk tipe yang ingin menang sendiri, mencari banyak faktor eksternal bila perkataannya tidak benar atau argumennya diremehkan, jadi aku harus memastikan perasaanku baik-baik saja sebelum berdiskusi dengannya.

"Menurut kamu, cara didik aku ke Fathan sama Kalista salah nggak, Yah?" tanyaku menatapnya langsung, berharap dia menemukan jawaban yang pantas. "Aku mau denger pendapat kamu."

Dalam beberapa menit, tidak ada suara yang mengembalikan kami ke pembicaraan tadi. Suamiku tampak berpikir, menimbang apa yang dilihatnya selama ini dengan apa yang akan dikatakannya juga.

"Kamu selalu ngalah buat mereka. Padahal mereka nggak sopan sama kamu, pada susah diatur. Kalau kamu ngeiyain mereka terus, nanti yang ada makin bergantung anaknya," jelasnya sambil mencomot sebuah apel. "Tegas bukan berarti pemarah, Laras. Aku tegas juga buat kebaikan mereka, buktinya sekarang Fathan nurut sama aku, 'kan?"

Apa yang dibilang Cahyo ada benarnya, mungkin aku terlalu banyak memberi kebebasan untuk anak-anakku, aku terlalu menurut meski hal yang dilakukan mereka akan menyakiti perasaanku. Jadi apa yang aku lakukan tadi pagi itu tidak salah, memang semestinya aku begitu.

Lagian cuma ditampar, nanti juga sakitnya hilang. Seenggaknya Kalista paham apa yang aku maksud, aku tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Dia harus mengerti tanpa perlu diperjelas lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!