2. Yang Mabuk.

Setelah dilakukan kuretase, aku disarankan beristirahat sebelum pulang ke rumah. Dokter sempat menjelaskan, aku punya trauma setelah kecelakaan itu menimpaku. Untuk beberapa waktu, aku dikatakan punya emosi yang lebih sensitif dan diharapkan untuk tidak banyak berpikir.

Kadang, aku berpikir aku cuma membebankan suami. Aku menjadi tanggung jawabnya seumur hidup, aku menjadi salah satu hal yang harus dimaklumi anak-anakku, seakan-akan aku tidak bisa bekerja dengan baik. Aku belum bisa membelikan mereka banyak barang dan belum bisa memasak makanan sesedap keluarga di puluhan iklan televisi.

Hidup sederhana memang dianggap baik-baik saja bagi sebagian orang, tetapi aku selalu tidak puas melihat anak-anakku cemberut di rumah, entah ketika pulang sekolah, saat aku menyuruhnya makan atau saat dimintai bantuannya. Aku sedih.

"Mama, mau makan apa malem ini?" tanya Fathan mendekati ranjang. "Biar Fathan yang beliin."

Aku tersenyum simpul. "Mama belum mau makan."

Fathan menatapku bertanya-tanya.

"Kalista udah makan?"

Mendengarku balik bertanya, Fathan langsung memperbaiki letak pakaiannya seakan mengulur waktu untuk mencari jawaban atas pertanyaanku.

"Udah, Ma. Dia udah makan di rumah," jawabnya ikut tersenyum. "Mama makan bareng Fathan, ya. Mau bubur atau ...."

Gelengan kepalaku membuat perkataannya berhenti. "Nggak, Mama nggak mau bubur. Mama mau buah aja."

"Emang ada toko buah yang buka malem-malem?" sahut seseorang mendatangi kami, menimpal pembicaraan antara aku dan Fathan. "Nggak usah pilah-pilih, deh. Tinggal makan aja, mau pulang, 'kan? Ada makanan di rumah, makan aja yang ada."

"Kalista."

"Kenapa? Ayah juga selalu bilang begitu, 'kan?" Perempuan itu menatapku sengit. "Beresin barangnya, mobil udah dibenerin jadi pulangnya naik mobil aja. Gue duluan."

"Kita pulang bareng aja," responsku.

Kalista tampak enggan, tatapannya seakan menyepelekan siapa aku baginya. "Nggak usah, gue ada urusan."

Namun, saat dia hendak meninggalkan tempat, anak laki-lakiku lantas mencegahnya pergi dengan mencekal lengan adiknya. Kurasa emosi Fathan terpancing, lirikannya lebih tajam dari Fathan yang sebelumnya mengobrol denganku.

"Mau ke mana lagi?"

"Apaan, sih. Kan gue udah bilang ada urusan!"

"Nggak liat Mama lagi begini?" cetus anak pertamaku menarik tangannya mundur, membuat emosi Kalista memanas. "Nggak usah ke mana-mana, ikut pulang."

"Bukan urusan lo, lepasin!"

"Gue bilang diem!"

"Fathan, udah, lepasin aja." Aku menyentuh pergelangan anakku, memelas agar dia mau melepas cekalan tangan adiknya.

Aku tidak ingin ada kegaduhan di sini, aku juga tidak mau memaksa Kalista untuk menemaniku sampai di rumah. Ya, meski aku menginginkannya, tetapi perempuan berpakaian sweter itu sepertinya tidak ingin bersamaku.

Aku sedih, tetapi aku tidak mau memaksa.

"Fathan, dengerin kata Mama. Nanti Kalista pasti pulang, lepasin ya, Sayang, ya," imbuh Ibuku juga yang masih berada di sini.

Akhirnya, Fathan mengalah yang disambut kepergian adiknya dengan kaki mengentak-entak, membuat tubuhku lemas disertai embusan napas yang lagi-lagi dikeluarkan berat. Sakit rasanya.

"Mama, Mama pulang duluan sama Oma, ya. Fathan mau beli makan buat di rumah, Fathan beliin buah-buahnya."

"Nggak, Fathan pulang sama Mama."

"Ma ... Fathan janji, habis beli buah nanti langsung pulang. Fathan nggak ke mana-mana," katanya terdengar berusaha menenangkan aku, lalu menatap Ibuku di sampingnya. "Oma, aku duluan, ya."

"Iya, Sayang. Hati-hati."

Aku menatap sebal pada Ibu, seharusnya dia menolak anakku pergi, tetapi Fathan meninggalkan kami di sini. Wajahku seketika murung mengingat Cahyo juga belum menjenguk. Huft, sepertinya suamiku marah.

"Ibu, Ibu tau Cahyo di mana?"

Sayangnya, Ibuku menggeleng. "Dia belum ke sini?"

"Belum ...," jawabku muram.

Seakan mengerti perasaanku, Ibu langsung mengantar perasaan hangat yang masuk tiba-tiba ke dada. Punggung dan rambutku diusap olehnya secara bergantian, lalu Ibu mengatakan sesuatu.

"Pasti kamu terpukul karena semua ini, Ibu minta maaf, Laras. Seharusnya Ibu bisa lebih ngertiin kamu, Ibu minta maaf."

Entah seperti apa masalahnya, seberapa banyak pengaruh yang menciptakan masalah pada rumah tangga dan keluarga. Peran ibu akan menjadi posisi yang selalu disalahkan, dipertanyakan, dan selalu dituntut menjadi yang sempurna. Yang lebih hebat dari seorang ayah, yang lebih kuat dari anak-anaknya.

Tuhan, aku minta maaf, tetapi aku memohon izin untuk jujur di hadapanmu. Aku letih, aku capek selalu menjadi yang harus memaklumi, selalu menjadi tuduhan 'ini semua gara-gara kamu!' dari suamiku. Aku muak mendengarnya.

Aku tidak tahu di mana Cahyo sekarang, yang jelas aku berharap dia bertemu denganku hari ini. Aku membutuhkannya, aku ingin menangis di pelukannya sebelum memukul dadanya karena dia memilih tidak bersamaku di sini.

Aku tidak tahu apa yang sedang dihadapi Cahyo sekarang, aku harap dia baik-baik saja. Kuharap kami bisa bertemu malam ini.

...***...

Purwasari dihujani gerimis yang telah menggenangi beberapa lubang di jalan perumahan, menyambut kedatangan kami dengan dinginnya menuju rumahku yang dalam kondisi penerangan menyala.

Kuharap Cahyo di rumah, tidak apa-apa bila dia dalam amarah yang memuncak. Karena aku juga berhak marah nantinya, aku bisa mengomelinya kapan saja seperti apa yang dilakukannya padaku. Jika aku berani.

Turun dari mobil, aku berterima kasih pada petugas rumah sakit yang mengantarku dan Ibu pulang ke rumah. Karena miliknya tidak jauh dari sini, akhirnya dia meninggalkan kami setelah mengobrol dan membantu membawakan barang-barang juga.

Aku mengembuskan napas, mencari titik lega di permukaan lubuk hatiku untuk sabar walau baru saja kena musibah. Pintunya tidak dikunci, kalau Cahyo tahu soal ini pasti aku diteriakinya habis-habisan. Pasti aku disalahkan, siapa yang masuk dan tidak mengunci pintu pada malam hari begini?

Namun, kurasa kejadian itu tak akan berlangsung malam ini. Tidak akan ada yang mengira suamiku berada di sana, tergeletak mabuk dengan banyaknya pecahan gelas alkohol di lantai yang berserakan. Dia berantakan dengan kemeja kotor bernoda minuman jahat sembari berusaha mengembalikan kesadarannya lagi.

"Cahyo ...."

"DASAR MENANTU NGGAK GUNA!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!