"Kalista, bangun. Waktunya mandi."
Setelah semalaman merenung seperti orang yang punya insomnia, aku melanjutkan hari-hari berikutnya dengan sikap yang lebih tegas pada anak-anakku. Entah berlebihan atau tidak, yang pasti aku harus membuat mereka lebih patuh padaku.
"Kalista."
Sesekali aku menepuk punggungnya yang membelakangi eksistensiku. Waktu masih berjalan sampai di pukul enam pagi dan anakku masih dalam tidurnya. Biasanya Kalista jadi orang pertama yang bangun di rumah ini, tetapi hari ini berbeda, tubuhnya juga tampak lemas. Apa dia sakit?
Mulai khawatir, akhirnya aku mengguncang badannya juga. Namun, tidak ada reaksi yang kunjung keluar dari anakku seakan aku masih belum sadar tentang kepergian sementara orang lain.
"Kalista, bangun!"
Saat tubuhnya kubalikkan menghadapku, aku bisa memastikan anak gadis yang satu ini berusaha meluapkan emosinya dengan cara apa pun tanpa membuat kebisingan di luar ruangan. Ditilik dari rambutnya yang berantakan, wajah yang berkeringat, kelopak mata yang kelihatan bengkak, berarti kemarin Kalista tidak berniat tidur. Dia ketiduran.
Aku merapikan beberapa bagian yang bisa kurapikan. Mulai dari selimut, bantal, barang-barang yang berantakan, rambut, sampai posisi tidur yang masih kurang enak dilihat pun aku atur sedemikian rupa.
Kemudian aku dibuat salah fokus dengan adanya benda tajam yang berada di sebelah tubuh anakku. Sebuah cutter yang belum pernah kulihat, bahkan aku ragu pernah membelinya. Benda itu dalam kondisi terbuka, pisaunya maju dengan poros yang masih kelihatan runcing.
Perasaanku tidak enak, aku langsung menarik baju lengan Kalista, menunjukkan bekas dari garis-garis merah darah yang baru dilukisnya semalam. Kalista, melukai dirinya sendiri.
"BANGUN!" bentakku menarik tubuhnya bangkit, membuat anakku duduk terkejut dengan kesadaran yang belum terkumpul. "NGAPAIN KAMU KAYAK BEGINI!"
Pipinya kutampar kencang, bunyinya menggelegar pendengaranku dengan emosi yang berada di bagian klimaksnya. Aku menatapnya kesal, bahkan setelah tangan ini menodai pipinya, pergelanganku masih mengepal kuat. Aku marah besar.
"Sakit."
"Sakit?" Aku mengulanginya. "Lebih sakit Mama yang ngelihat kamu kayak begini. Mama kecewa, Kalista!"
"Aku lebih kecewa sama Mama."
"Apa salah Mama, sih, Kalista ... Ya Allah!" Aku bergerak menjauhinya, menutup wajahku dengan perasaan yang berkecamuk. Sebenarnya, sikap apa yang membuat Kalista menjadi seperti ini?
Aku tidak mengerti, Kalista. Aku belum bisa menjadi seorang mama yang kamu harapkan, aku belum bisa menjadi ibu yang hampir menyentuh kata sempurna seperti wanita di luar sana. Aku masih belajar memahami anakku, aku masih mencoba karena ini pertama kalinya aku menjadi seorang ibu.
"Mama nggak perlu nampar aku," lirih anakku memegang pipinya, aku bisa melihat dia menahan air matanya juga. "Aku nggak bakal minta Mama ngertiin aku lagi."
"Kalista, Mama berusaha ngertiin kamu."
Mendengarnya, anakku langsung mengalihkan perhatiannya padaku. Tubuhnya gemetar, tatapannya penuh dengan amarah yang besar ditilik dari matanya yang memerah, linangan air mata itu bisa kulihat dari jarak yang kami punya sekarang. Kami saling beradu pandang dalam waktu yang cukup lama.
"Aku bisa sendiri."
Kemudian, kepergiannya menjadi akhir dari pertemuan kami. Dia meninggalkan aku di kamarnya dalam keadaan yang berantakan, mungkin juga kami terlalu berisik sehingga mengundang perhatian Kakaknya yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu.
Sekarang Fathan menatapku, gilirannya yang berusaha memahami keadaan kalau kami sama-sama terluka. Usai mendengar perkataan anakku tadi, aku tidak bisa menyalahkannya, aku juga gelisah dengan apa yang aku lakukan tadi. Ini bukan salahku, Kalista, maupun suamiku.
Kami hanya punya keinginan yang sama, sama-sama ingin dimengerti. Sama-sama ingin dimaklumi orang-orang yang menonton, sama-sama ingin dipeluk meski mulut tak mampu untuk meminta tolong. Semoga anakku tidak bertemu dengan orang yang akan melukainya lagi.
Kalista, kamu sedang rentan.
...***...
Aku membangunkan Kalista agar dia mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, tetapi setelah kejadian tadi, aku rasa anakku butuh waktu sendirian. Dia tidak kelihatan di ruang tamu maupun kamarnya, aku tidak tahu Kalista berada di mana.
Mungkin anakku butuh waktu untuk dirinya sendiri, untuk menyembuhkan luka yang masih perih dan belum bisa diobati meski ada ribuan obat yang terpajang di banyak apotik. Jadi aku membiarkannya pergi.
Selepas menonton kejadian yang tidak senonoh tadi, Fathan lekas memberangkatkan dirinya pergi ke tempat di mana seharusnya dia berada. Fathan memutuskan tetap sekolah dengan kendaraannya, pergi tanpa salam maupun bertanya tentang keadaanku usai menyadari tatapan kami bertemu.
Aku tahu dia juga pasti terkejut melihat apa yang aku lakukan tadi, tetapi aku pikir apa yang kulakukan tadi itu benar. Aku harap setelah kejadian ini, Kalista akan mendengarkanku dan mau menjaga sikapnya ketika bersama denganku.
Jika Fathan sekolah dan Kalista pergi entah ke mana, suamiku baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilan yang rapi. Dengan blazer hitam sebagai outer kemejanya, dia menghampiriku sebagai salam dari kata 'sampai jumpa nanti'.
"Tadi sempet berisik, ada apa, sih?"
"Oh, itu." Aku mencari dalih yang tepat untuk mengelak omelannya pagi-pagi. "Kalista susah dibangunin, jadi aku sempet marahin dia. Udah pergi anaknya sekarang."
Tak kusangka Cahyo justru tersenyum, bahkan dia mengusap kepalaku sebagai bentuk penenang dan apresiasinya sedikit.
"Baguslah, kadang mereka juga butuh diomelin biar mau nurut sama kamu," katanya setelah menghela napas.
"Aku berangkat dulu, ya."
"Hari ini pulang sore?"
"Malem."
Aku cemberut, bibirku mengerucut sedih. Padahal kami dalam situasi yang baik, seharusnya aku menikmati kebersamaan kami setelah ada kesamaan yang membuat aku dan Cahyo saling merasa tenang. Tetapi dia bersama pekerjaannya lagi.
"Kamu mau makan apa malem ini? Biar nanti aku beliin dari luar."
Kepalaku menggeleng pelan. "Aku nggak mau apa-apa, aku cuma mau kamu pulang cepet, Yah," jawabku tersenyum kecil. "Tapi aku suka buah-buahan."
Seakan mengerti apa yang aku inginkan, Cahyo tertawa mendengar apa yang aku bilang tadi. Akhirnya, dia mengangguk paham sambil menggenggam tanganku ke luar rumah.
"Oke, nanti aku beliin, ya. Aku berangkat dulu."
"Hati-hati."
Genggamannya dilepas, aku melambaikan tangan padanya yang berjalan mundur menuju sebuah kendaraan beroda empat. Kami tidak punya mobil, tetapi dia memliki sopir pribadi yang akan membawanya berangkat dan pulang kemari.
Aku mendekati pagar, melihatnya masuk ke dalam mobil. Sepertinya Cahyo berangkat di waktu yang pas, dia akan sampai tepat waktu karena persiapannya juga tidak menghabiskan waktu yang lama. Terlebih, hari ini Cahyo bangun lebih pagi.
Mobil putih itu melaju, membawa suamiku pergi dari rumahnya menuju tempat yang dituju. Sekarang, yang aku pikirkan cuma anakku. Ke mana Kalista pergi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments