"Sepertinya ada yang perlu diajarkan adab di sini."
Aku menyambungkan percakapan, melanjutkan perdebatan di antara kami sebagai bangkitnya harga diri yang diinjak-injak. Ini bukan suatu pemaksaan dari anakku, aku juga tidak melakukan ini untuknya. Aku berbicara, aku berusaha mengangkat derajat keluargaku lagi.
"Apa maksud kamu, ya?" balas wanita di sebelahku. "Bukannya yang perlu diajarin adab itu anak kamu? Yang nggak pernah diperhatiin, jadi gampang main tangannya."
"Bukan anak saya yang mulai lebih dulu," uraiku sembari menatapnya berani. "Mau berapa pun usianya, ngejek orang tua itu tetep salah. Bercanda juga ada batesnya, saya yakin Kalista sebelumnya pasti sempet kasih peringatan ke Natasya tapi nggak digubris sama anaknya."
"Bohong!" sembur remaja itu padaku. "Dia tiba-tiba mukul."
"Playing victim lo!"
"Udah, nggak boleh ada debat lebih lanjut lagi tentang ini di sekolah. Kalau ada yang perlu dibahas lebih dalem, silakan bicarakan baik-baik di luar lingkungan sekolah," potong Bu Irma membuat kami terdiam. "Sebagai pelajaran, saya kasih surat peringatan pertama buat Kalista sama Natasya. Kalau udah sampai tiga kali surat ini keluar karena kelakuan kalian, saya pastikan nama kalian nggak ada di sekolah ini."
Aku mengembuskan napas, berusaha terlihat membaik meski kepalaku kian berisik. Wanita di sampingku berdecak, dia bangkit dari kursinya dan menarik anaknya pergi dari ruang konseling. Mereka ke luar sebelum menerima penjelasan lebih lanjut dari Bu Irma.
Sementara, Bu Irma menggelengkan kepala. "Kalista, ruang UKS ada di samping ruangan ini, ya. Kamu bisa obatin luka kamu di sana, ada yang mau Ibu omongin sama Ibu kamu."
Aku menghampiri anakku, mengusap rambutnya selembut mungkin lalu turun menatap wajahnya yang masih syok dengan apa yang terjadi. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, tetapi apa yang dikatakan Bu Irma nanti sepertinya penting dan harus kudengar.
"Nanti Mama nyusul kamu, ya. Istirahat dulu di sana."
Kalista tersenyum kecil, seakan berusaha menyampaikan bahwa dia baik-baik saja sekarang. Aku menarik tubuhnya ke dekapanku, memperlihatkan sebagai bentuk penenang sembari mengusap punggungnya juga. Aku tidak ingin anakku kenapa-napa, aku tidak mau dia mendapat banyak luka lagi.
Kemudian, perempuan dengan seragam yang berantakan berdiri dari tempatnya. Dia menyempatkan diri untuk membungkuk respek kepada gurunya, lalu pergi meninggalkan kami dengan suasana yang semakin hening dan canggung.
"Bu Laras, saya tau gimana kondisi keluarganya Ibu waktu itu, saya juga tau Kalista anak seperti apa. Saya minta maaf karena kejadian ini justru terjadi."
Aku menggeleng ringan. "Ini bukan kesalahan Bu Irma."
Bu Irma tersenyum. "Bu, ini juga bukan sepenuhnya salah Kalista. Mungkin Ibu belum kenal sama anak yang bernama Natasya tadi, dia temen sekelasnya Kalista, dan yang duduk disamping Bu Laras itu ibunya, bu Gisel."
Aku mengangguk-angguk. Merasa akan ada pembahasan lebih lanjut, aku tidak bersuara sampai Bu Irma menyambungkan perkataannya lagi.
"Saya nggak nyalahin Kalista maupun Natasya, tapi saya kasian ... banget sama pola asuhnya bu Gisel ke anaknya. Mungkin udah diasuh begitu dari kecil, jadi anaknya ikut nggak mau ngaku kesalahannya atau minta maaf duluan."
"Pola asuh, Bu?" ulangku mengingatnya.
"Permissive Parenting."
Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya sedari tadi, tentang pola asuh dan peran seorang ibu di dalamnya. Apa lagi-lagi peran ibu akan disalahkan juga oleh Bu Irma? Apa kesalahan anak akan selalu dilihat berasal dari ibunya seakan kami menyuruh mereka berbuat jahat?
"Gara-gara kesalahan anak jadi yang disalahin ibunya, Bu?"
Bu Irma justru terkekeh. "Bukan begitu, Bu Laras. Dari apa yang kita lihat tadi, bu Gisel jelas masih membela anaknya meskipun tau kalau anaknya lebih dulu yang katanya mengejek. Ada api pasti ada minyak 'kan, Bu? Dia nggak denger penjelasan anaknya dan udah bisa nyalahin orang lain."
Kalau boleh jujur, aku tercengang mendengarnya berkata begitu. Apa pola asuh seperti itu memang ada? Apa perlakuan bu Gisel tadi bisa diartikan sebagai pola asuh yang salah? Kalau iya, berarti pengaruhnya kepada anak juga bukan merupakan hal yang kecil, ya.
"Anak jadi nggak biasa instrospeksi sama diri sendiri, orang tua juga selalu nganggep anaknya bener dan nggak denger versi orang lain. Bahkan, orang tua dengan Permissive Parenting pun bisa ngegunain kekuasaan dan uang mereka cuma buat ngebela anaknya, Bu."
Dilanjutkan terperangah, aku spontanitas menjawab perkataannya juga, "Pengaruhnya besar banget, Bu?"
Bu Irma mengangguk. "Anak jadi kurang disiplin diri dan punya keterampilan sosial yang buruk."
"Terus kalau pola asuh yang benar itu kayak gimana, Bu Irma?"
"Kita pake Gentle Parenting aja, pola asuh ini orang tuanya tetep bersikap tenang dan mau denger penjelasan setiap pihak yang terlibat. Orang tua juga bisa belajar buat pahami perasaan anak dan keterbatasan psikologisnya biar kita nggak terkesan maksa mereka, biar anak-anak nggak ngerasa selalu dituntut jadi yang sempurna meskipun di mata kita cuma hal kecil yang harus dilakukan."
Mataku berbinar-binar mendengar penjelasannya, aku baru tahu ada macam-macam pola asuh orang tua kepada anak. Aku baru paham apa yang dirasakan Kalista saat kalimat terakhir Bu Irma diutarakan. Mungkin selama ini anakku merasa selalu dituntut menjadi yang terbaik di luar kemampuannya.
Aku mengembuskan napas, anakku pasti tertekan dengan orang tuanya. Untuk sekarang ini, aku harus lebih mengkhawatirkan kondisi anakku lebih dahulu. Aku tidak mau membuatnya semakin kehilangan kendali, aku harus memastikan Fathan dan Kalista bersamaku dalam keadaan baik-baik saja.
"Sayangnya, pola asuh ini akan memberatkan orang tua karena prosesnya yang lama dan banyaknya tuntutan," ucapnya membuatku teringat peran sosok ibu bagiku yang sudah berat. "Juga, sikap lembut orang tua kadang bisa membuat salah paham anak, bisa jadi orang tua bakal dianggap kaya temennya aja."
Mau bagaimana pun baiknya sebuah arah, akan selalu ada konsekuensi dan kelemahan pada setiap pilihannya.
Aku akan selalu dituntut dan bisa jadi disalahpahami terus-terusan oleh mereka. Walaupun selama ini aku sering mengalaminya, tetapi aku tahu bahwa yang akan kuajarkan pada mereka adalah hal yang benar, meski mereka belum tahu dampaknya seperti apa nanti.
"Saya nggak nyuruh Bu Laras harus lakuin semuanya, saya juga punya anak, dan tau betul gimana beratnya. Saya cuma ngejelasin pola asuh itu bakal berdampak gimana dan yang baiknya kayak apa."
"Makasih banyak, Bu Irma. Saya jadi tau kalau pola asuh juga ngaruh banget ke anak, maaf juga saya belum bisa ngasuh anak saya dengan baik."
Bu Irma menggelengkan kepala. "Bu Laras udah tau dan paham soal pola asuh sedikit demi sedikit, nanti tolong dicari lebih banyak aja informasinya di internet. Semoga Kalista bisa belajar lebih baik lagi ya, Bu."
Senyumku mengembang, tentu saja Kalista akan belajar dariku dengan sebaik-baiknya. Aku tidak akan membiarkan anakku tercemar pergaulan bebas anak zaman sekarang, dia dan kakaknya akan selalu berada dalam pengawasanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments