9. Bukan Begitu Caranya.

Aku tidak tahu sudah berapa kali pesan dengan maksud yang sama bermunculan di layar ponselku, mereka seakan melambaikan tangan atau meminta tolong untuk dibaca dan dibalas secepatnya. Mungkin pengirimnya mengetik saat aku sibuk di dapur.

Aku melirik jam dinding, hari Rabu milikku hampir habis karena seharian mengurus pekerjaan rumah. Ini jam tiga sore dan Kalista masih belum pulang, sedangkan sedari tadi Kakaknya menumpukkan banyak pesan tidak terbalas pada ruang obrolannya denganku.

Dari Fathan

Ma, Kalista udah pulang belum?

Kalau belum, mau Fathan cariin.

Tetapi Kalista memang belum pulang sejak pagi tadi, seakan dia langsung kabur mencari tempat yang lebih aman dari ibunya. Aku bodoh, sangat bodoh.

Jadi aku membalas pesan anakku, memintanya mencari Kalista dan langsung membawanya ke tempat makan terdekat. Aku tak habis pikir mengingat kondisi terakhir anakku saat kami berdebat, apa dia sungguh-sungguh lari dari rumah dengan penampilan begitu?

Bisa saja para tetangga melihat dan berkomentar tentang betapa tidak bagusnya aku untuk mendidik dua anak saja, siapa tahu mereka jadi bergosip dan memaklumi keguguranku kemarin. Lagi-lagi ibu, lagi-lagi aku yang selalu ditunjuk sebagai pusat permasalahan.

Bukannya mengelak dari kenyataan, tetapi selama apa yang aku terima dan aku jalani sampai sekarang ini, apa ada simpati atau empati yang terlihat dari seseorang sebagai bentuk kepeduliannya padaku?

Mereka hanya ingin tahu dan pergi dengan berita baru.

Setengah jam kemudian, aku mendapat kepulangan anak sulungku dengan mimik wajah yang sulit dimengerti. Fathan kelihatan murung, gelisah dengan hasil yang sepertinya tidak sesuai harapanku juga.

"Di mana Kalista?"

Sembari mengatur napas yang terengah-engah, kepalanya menggeleng sebagai petunjuk dari pertanyaanku. "Fathan nggak tau, Ma. Fathan udah cari ke mana-mana tapi nggak ketemu Kalista."

"Kamu ini gimana, sih? Dikasih kepercayaan buat nyariin adiknya malah nggak ketemu, malu dong jadi Kakak masa nggak bisa ngejagain adiknya," nyinyir aku menatapnya masih dalam rasa letih yang belum habis. "Liat anak sebelah, meskipun dia beda setahun atau dua tahun sama adiknya aja akur. Kalian yang lahirnya bareng banyak berantem."

Aku melihat Fathan mendongkol amarahnya, dia memilih tidak menjawab perkataanku tadi dan menggantikan objek sebagai perhatiannya saat ini. Anakku memilih ponselnya, dia mencari-cari nama kontak yang dituju lalu menelepon orang tersebut sebagai penambah informasi.

"Mama nggak mau tau, cari Kalista sampe ketemu."

Ya, kalau dilihat-lihat ini seperti sekumpulan preman yang kehilangan mangsa, sih. Buktinya aku bersedekap sembari berjalan ke sana-sini, menunggu kabar terbaru dari anak-anak informasi, ternyata menunggu juga melelahkan, ya.

Aku beranjak menunggunya di depan teras, menciptakan bentuk segitiga pada bagian pinggang yang kelihatan seperti ibu-ibu yang siap mengomel anaknya. Dalam beberapa menit, benar saja terlihat kedatangan seseorang yang masuk ke lingkungan rumahku. Eh, bukan satu melainkan dua orang.

Ditilik semakin lama, aku melihat interaksi yang baik dari kedua belah pihak. Orang yang aku pertanyakan kehadirannya bersama seorang laki-laki yang tidak aku kenal, tetapi yang pasti mereka seumuran. Dilihat dari seragamnya, mereka satu sekolah.

"Kalista, masuk."

"Mama, ih. Jangan kasar!" tempik anakku saat aku menarik lengan bajunya.

"Kamu yang bawa pergi anak saya, ya?"

"Biyan nggak salah, emang aku yang ketemu sama Biyan duluan di jalan. Mama jangan salah paham!" potong Kalista menatapku sebal. "Aku di rumah Biyan hari ini, dia yang rawat aku."

"Masuk ke dalam."

"Nggak mau."

"MASUK!"

Akhirnya, dengan kata yang sedikit membentak, Kalista masuk dengan kehadiran Kakaknya juga yang sampai di depan pintu. Semoga Fathan berusaha menenangkannya di dalam, sementara urusanku masih berada di sini.

"Siapa kamu?"

"Biyan, Tante," jawabnya penuh keyakinan. "Biyan Nugroho, temen kelasnya Kalista."

"Bener Kalista yang ketemu kamu duluan terus kamu ngerawat dia di rumah?" Aku memperjelas pertanyaanku, bermaksud membuatnya menjawab lebih banyak.

"Bener, Tan. Pagi tadi Kalista ketemu sama saya di jalan, dia minta bantuan sama saya, jadi saya bawa dia ke rumah."

Mendengarnya, aku manggut sebagai bentuk jawaban. Kemudian, aku merangkulnya persis seorang ibu yang akan mempercayakan anaknya pada laki-laki yang baik. Laki-laki bernama Biyan ini juga terbawa suasana, sampai aku menarik punggungnya masuk dengan pengucapan yang tepat berada di depan telinga.

"Jangan macem-macem sama anak saya kalau nggak mau habis di tempat ini."

Kemudian kepalanya lantas mengangguk, mengiyakan apa yang aku bilang tadi lalu bersalaman sebagai bentuk perpisahan terakhir.

"Siap, Tante. Kalau begitu saya pamit, ya."

"Biyan, saya harap kamu tau batasan, ya."

Sekali lagi, laki-laki itu mengiyakan perkataanku. Punggungnya membungkuk sebagai bentuk respek untuk pertemuan pertama dan perpisahan kami, lalu pergi dari tempat ini dengan sikap yang tidak berlebihan.

Sesudah menarik pagar masuk, aku kembali ke dalam rumah, memastikan anakku baik-baik saja setelah seharian berada di luar rumah. Kali ini aku harus berbicara padanya meski Kalista mungkin masih tak ingin mengobrol denganku.

"Kalista."

"Jangan ganggu aku, Ma."

"Kamu pikir Mama nggak khawatir?" Aku menatapnya heran. "Apalagi pas tau kamu seharian ini di rumah orang sama cowok yang bahkan Mama nggak kenal dia itu siapa."

"Kita nggak ngapa-ngapain."

"Oh, ya?"

Aku langsung menghampiri Kalista yang duduk di samping Fathan, menarik lengannya yang terluka sehingga membuat anakku lantas berdiri dengan ringis kesakitan.

Fathan ikut berdiri. "Mama, jangan kasar."

"Selama ini Mama udah ngebiarin kamu ngelakuin apa yang kamu suka, nggak sopan, kamu nggak sopan sama Mama. Mama sakit hati tau nggak!"

"Aku juga sakit hati, Ma," balas Kalista menatapku tak kalah sengit. "Aku juga mau kayak anak-anak lain yang selalu didenger sama diapresiasi. Kenapa aku dituntut harus ngelebihin Kakak terus?"

Di sini aku tak mampu membalasnya, aku tidak ingin apa yang sedang kami debat justru semakin memanjang dan berujung didengar Cahyo. Jadi aku melepas tangan Kalista, membiarkannya bersuara lagi sampai aku muak dengan apa yang dikatakannya nanti.

Namun, perempuan itu justru berputar balik, dia masuk ke dalam kamar seakan memberi kesempatan untuk Kakaknya berbicara padaku. Aku tidak menghalanginya karena aku juga ingin mendengar apa kata anak sulungku.

"Ma, tadi pagi nggak seharusnya Mama nampar Kalista," katanya masih dengan kepala menunduk. "Dia masih tidur, terus dipaksa bangun dan langsung ditampar. Pasti sakit, Ma. Dia kaget, dia ketakutan. Wajar kalau Mama marah karena kelakuannya, tapi bukan begitu caranya."

"Kamu mau ngajarin Mama?"

"Ma!" Dalam sekali panggilan, aku terperanjat ketika Fathan meninggikan suaranya. "Aku nggak kenal siapa Mama sekarang, aku kecewa."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!