16. Bersama Yang Lain.

Setelah piring-piring kotor dicuci bersih, suamiku memutuskan untuk mandi sebelum melanjutkan pekerjaannya bersama alat elektronik itu. Sedangkan, aku dibuat sibuk membereskan barang-barang yang berantakan. Menyapu, mengepel, juga merapikan kamar anak-anak yang masih belum rapi.

Sampai di bagian pekarangan rumah, terdengar bunyi derum sepeda motor yang berhenti di depan pagar. Kulirik sedikit, ternyata ada seseorang yang memang berniat mengunjungi rumah kami. Sapu lidinya kulepas, aku berjalan sembari memperbaiki penampilan agar terlihat segar.

"Tante," sapanya mendahuluiku. "Mau jemput Kalista."

"Oh, Kalistanya udah berangkat." Aku jadi sungkan melihatnya benar akan mengantar anakku. "Udah berangkat dari tadi, dia jalan sendiri. Maaf, ya ...," jelasku menggaruk tengkuk yang tidak gatal.

Mendengar perkataanku yang bertolak belakang dengan tujuannya kemari, laki-laki itu mengangguk sopan. "Nggak apa-apa, Tante. Kalau begitu, Biyan duluan, ya."

"Biyan, sebentar."

Aku mencegahnya pergi, membuat anak laki-laki itu batal menstarter kendaraannya lagi. Seakan menunggu perkataan selanjutnya dariku, akhirnya aku bersuara, "Saya mau tanya, apa kamu tertarik sama Kalista?"

Biyan tidak menjawab selama hitungan menit, reaksinya seakan bingung ingin berkata apa dengan pandangan yang ke sana kemari mencari jawaban. Mungkin dia berniat langsung menjawab, tetapi takut aku mengoceh panjang lebar tentang seberapa berbahayanya pergaulan anak zaman sekarang.

"Nggak apa-apa kalau kamu emang tertarik sama anak saya, tapi tolong tau batasan, ya. Saya nggak mau Kalista banyak pulang telat atau sampe nggak fokus sekolahnya," ujarku menasihatinya sebentar. "Kalian sama-sama belajar aja."

Kemudian, bibirnya mengembangkan senyum. Merasa dimengerti, Biyan mengangguk sekali lagi. "Makasih, Tante. Biyan tau batasannya, kalau begitu Biyan berangkat ya, Tan."

"Hati-hati, Biyan."

Lawan bicaraku berterima kasih, dia menyalakan motornya lagi dengan maksud meninggalkan tempat. Usai saling berbagi senyuman terakhir, kendaraan itu membawanya pergi dengan bayangan yang semakin menjauh. Seperti sudah mendarah daging, aku melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.

Aku mengembuskan napas, menyeret pagar itu kembali dan beranjak memasuki rumah. Di tempat para tamu menunggu tuan rumah, ada suamiku yang setia bersama laptop kesayangannya di sana. Dia tampak fokus sebelum aku menempati sofa yang sama.

"Siapa tadi di luar?"

"Biyan, temennya Kalista."

Cahyo menoleh padaku. "Lah, beneran jemput dia?"

Kepalaku mengangguk, membuat pria di sampingku menggeleng ringan. Mungkin dia berpikir 'ada-ada saja anak zaman sekarang', tetapi bagiku semuanya wajar. Sekali pun mereka tidak terikat hubungan atau tidak ada rasa yang sama, setidaknya mereka berteman baik. Aku senang bila Kalista menemukan kebahagiaannya di luar dengan sepengetahuanku.

"Kalau Kalista deket sama Biyan, nggak apa-apa, Yah?"

Mendengar pertanyaanku, alisnya langsung dipertemukan, suamiku terheran-heran. Seakan apa yang kukatakan tadi sangat berlawanan dari pandangannya, maka dia berujar, "Menurut lo gimana? Nggak apa-apa?"

"Ya, nggak apa-apa. Asal mereka tau batasannya, tadi udah aku ingetin ke Biyan. Katanya dia ngerti," ucapku seadanya.

Cahyo tersenyum kecil, mengembalikan perhatiannya ke laptop lagi. "Lo ngomong ke dia bukan berarti dia bakal nurut sama lo. Gue juga laki-laki, gue tau pikiran laki-laki kayak gimana."

Kelopak mataku menyipit. "Emangnya pikiran laki-laki kayak gimana?" Aku menyelidiki, bermaksud membawanya ke arah topik yang membuat kami saling terkekeh meski hanya menghabiskan waktu semenit.

Suamiku mengembuskan napas. "Terserah. Yang penting, gue udah ngasih tau lo. Buat kedepannya kalau ada apa-apa bukan salah gue, ya. Gue udah ngasih tau."

Alih-alih mendapat jawaban yang membuat kami menahan tawa, justru aku dibuatnya membungkam lemas. Bukan itu yang ingin kudengar. Aku juga tahu risikonya, tetapi bukan begitu respons yang aku harapkan.

Mencari pengalihan, akhirnya aku bangkit dari tempatku duduk. Melangkah ke kamar untuk menarik kardigan navy yang menggantung di hanger dalam lemari, mengenakannya, lalu bersolek sedikit agar terlihat rapi. Aku juga membawa dompet tanganku, kemudian pergi tanpa disadari oleh suamiku yang masih fokus dengan pekerjaannya.

Aku akan pergi ke minimarket saja, belanja kebutuhan kecil sebagai upaya mengusir perasaan buruk. Aku berniat membeli camilan dan makanan ringan untuk stok di rumah juga, beruntung tempat itu tak jauh dari rumahku. Jadi untuk sampai di sana, aku hanya bermodalkan sandal jepit gelap sambil mengelilingi atensiku ke sana-sini.

Sepertinya sekarang hampir jam sembilan pagi, matahari kian menegakkan posisinya dengan cahaya yang mulai terik. Aku kegerahan, rasanya rambut-rambut ini menghalangi kebebasan leherku untuk terasa dingin. Aku bisa melihat bayanganku ketika menoleh, ditambah ada banyak kendaraan yang melintas hingga membuatku pusing.

Sesampainya di tempat, aku membuka pintu masuk yang menyebabkan lonceng menggantung itu berbunyi. Kedatanganku menyatukan telapak tangan penjaga kasir, dia menyambut dengan senyuman paling ramah dengan sapa yang tersimpan di dalam hati. Dia mengenalku, aku mengenalnya.

Aku melanjutkan perjalanan. Melihat-lihat produk terbaru yang terpajang di depan toko, juga sempat melirik beberapa produk make up yang sedang ramai dipakai banyak orang. Tetapi aku tidak mengambilnya, aku hanya akan memasukkan beberapa makanan dan minuman ke dalam keranjang belanja yang sudah disediakan.

Aku mengambil beberapa. Mulai dari; sebungkus keripik pedas, roti sobek cokelat keju kesukaan Kalista, sekotak susu cokelat favorit Fathan, juga beberapa kemasan kopi susu, dan mi instan yang semakin menipis di rumah. Sembari memastikan apa yang kubeli sudah cukup, aku mengelilingi tempat ini sampai ke penjuru ruangan.

Merasa yakin, akhirnya aku beranjak kembali ke tempat awal kehadiranku tiba. Namun, melihat seseorang yang tidak asing, aku langsung mengurungkan niat, dan melihat baik-baik siapa orang yang kumaksud tadi. Seingatku, aku tidak punya mata dengan minus yang rabun jarak dekat ataupun rabun jarak jauh.

Tetapi jika yang sedang kulihat ini benar, aku berhasil dibuat tutup mulut oleh eksistensinya di sana bersama seorang perempuan lain. Bukan, dia bukan suamiku. Dia adalah tamu yang sempat berbaik hati akan mengantar anakku berangkat sekolah, bukankah itu Biyan?

Ditilik dari setelah seragam dan kepalanya yang menoleh tadi, aku memang tidak salah lihat. Dia benar-benar Biyan, Biyan dengan seragam abu putih SMA yang dilengkapi jaket hitam menutupi logo sekolahnya. Tetapi bukan itu yang membuatku salah fokus, melainkan kehadiran seorang perempuan yang tampak akrab berada di sisinya.

Kupikir perempuan itu Kalista, nyatanya bukan. Aku tidak mengenalnya juga, yang pasti mereka tampak seumuran dengan seragam yang sama. Mungkin mereka sebatas teman sekelas, tetapi aku tidak tahu jika Biyan juga mudah akrab dengan anak perempuan lain. Maksudku, aku berpikir bahwa Kalista satu-satunya.

Melihat ini, aku jadi meragukan kepercayaanku padanya. Aku harus mengawasi mereka nanti.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!