Senja menatap Langit yang masih fokus mengemudikan mobil, tidak menyangka dengan jawaban yang keluar dari mulut bosnya itu.
"Kenapa lihat-lihat gue?" bentak Langit semakin risih ditatap Senja.
"Kenapa??" tanya Senja
"Kenapa apanya??" Langit balik tanya.
"Tidak tidak, pak" Senja diam, menatap kedepan lagi.
Suasana mobil hening lagi.
"Tunggu tunggu!! Lo gak lagi mikir macam-macam kan?" Langit tersadar akan perilaku Senja barusan.
"Mikir apa ya, pak??"
"Gini gini, gue luruskan. Lo jangan mikir macam-macam. Gue gak pengen lo sakit karena lo kalo sakit nyusahin banget, pengen sekalian gue bunuh aja kalo boleh!!"
plak!!
kata-kata Langit barusan seperti tamparan keras dipipinya.
'hayalan apa yang barusan ada di pikiranku!!"
Senja malu sekali.
"Saya gak mikir macam-macam kok, pak" Senja mengelak
"Huh!!" Langit mendengus kesal, "Terlihat banget di tampang Lo, Lo lagi mikir apa!!"
Senja memalingkan muka, menghadap ke luar cedela kirinya. Wajahnya terlihat merah karena malu.
Sesampainya di halaman parkir rumah, Senja langsung keluar dari mobil dan lari mendahului Langit ke kamar. Ketika Langit sampai di kamar, Senja sudah berselimut diatas sofa. Langit tak ambil pusing, ia mematikan lampu kamar dan segera tidur.
**********
Pagi ini Senja menyiapkan keperluan Langit seperti biasa, namun ia berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. kali ini Senja diantar pak Agung, sopir pribadi untuk Senja.
Halaman kantor masih sepi ketika Senja datang, Ia sengaja Minta diturunkan agak jauh dari kantor. Sebelum itu, iamampir sejenak ke warung nasi uduk seperti biasanya, karena sarapan dirumah Langit sama sekali tidak mengenyangkan.
Setelah tenaganya terisi, Senja masuk ke dalam gedung. Sudah semangat berjuang dia hari ini.
"Nja!! sini!!" teriak Monic dari pintu ruanganya ketika melihat senja sudah tiba di meja kerjanya.
Senja baru ingat kalau dia kemaren gak masuk kerja dan gak ijin. Ia berjalan lunglai menemui Monic, bersiap untuk mendengar sejuta kata terkutuk.
"Ya, Bu Monic?" tanya Senja ketika sudah sampai di depan Monic
"Nanti jam sepuluh kamu ke Aoxtek ya, ada beberapa berkas yang harus ditandatangani, aku sama Pak Rico gak bisa kesana."
Senja lega, dia kira bakal dimarahi. "oke Bu Monic" Senja membalikkan badan.
"Eh, tunggu tunggu.." Monic menarik lengan kemeja Senja. "Kamu, ada hubungan apa sama asistennya pak Langit yang ganteng itu?"
"Hah!! hubungan apa?? ngaco ah ibu nih" kata Senja bohong.
"Kog dia yang ijinin kamu. Katanya dia terima telpon kalo kamu sakit jadi gak bisa masuk?" Monic masih menyelidik.
"Oooh, pasti adek saya bu. Salah telpon... hahahaha" Senja buru-buru meninggalkan Monic yang mencoba melogikakan pernyataan Senja barusan.
Senja membereskan berkas-berkas yang akan ia bawa ke Aoxtek. Kali ini dia benar-benar berangkat sendiri, bahkan asistennya tidak ikut.
**********
Gedung Aoxtek.
Senja langsung menuju ke customer service untuk minta dihubungkan dengan Yanuar, Manajer Aoxtek.
"Silahkan, anda ditunggu langsung di ruangannya." kata CS tersebut.
"Baik, terimakasih ya mbak" Senja meninggalkan meja CS dan menuju lift untuk ke ruang Yanuar.
Tak lama Lift sampai di lantai empat, salah satu pegawai Aoxtek menyambut Senja ketika keluar lift. dan mengantar ke ruang Manajer.
"Selamat pagi." sapa Yanuar ketika Senja datang, mengulurkan tangan kanannya.
"Selamat pagi pak Yanuar" Senja menjabat tangan Yanuar
"Silahkan duduk."
Senja duduk di sofa yang ada dalam ruangan itu.
"Mohon maaf sebelumnya, jika saya harus datang kesini sendirian. Bu Monic dan Lak Rico ada keperluan yang tidak bisa diwakilkan." Senja memberi penjelasan.
"Iya, kemaren mereka sudah kasih kabar."
"baik, pak. Kita langsung saja ya pak" Senja mengeluarkan berkas-berkas yang di dalam mapnya.
Yanuar menandatangani dokumen-dokumen yang diserahkan Senja. tak terlalu banyak, jadi cepat selesai.
"oke, sudah semua?" tanya Yanuar
Senja masih memeriksa lembar demi lembar, agar dia tidak harus kembali lagi jika ada yang kurang.
"Sepertinya sudah semua pak" Senja memasukkan berkas-berkasnya ke dalam map.
tok tok,
"Selamat pagi"
Senja terkejut melihat seseorang yang barusan masuk, Ronald dan Subagio.
"Ayah." kata Senja, membuat Yanuar jadi ikut terkejut.
"Lho, kamu disini nak?" Senja menghampiri Ayah mertuanya dan mencium tangan kanan Ayahnya.
"Tuh kan bener, aku gak mungkin salah Lihat. dia bener Nona Senja." Ronald terlihat senang bertemu Senja.
"Maafkan saya waktu itu pura-pura tidak mengenal anda." kata Senja menyesal "Teman-teman saya tidak ada yang boleh tahu kalau saya menantu pak subagio"
"Lhoo, kenapa?? bukannya enak??" tanya Ronald.
"Yaa, yang aku ceritakan ke kamu itu lhoo, Nald" Subagio menjawab pertanyaan Ronald, "kalo gitu ayo sekalian makan siang. Biar Ayah telpon Langit supaya ikut makan siang" ajak Subagio
"iya benar-benar" Ronald setuju, "Yan, urusan kita lanjut nanti selesai makan siang saja ya" Ronald berbicara dengan Yanuar.
"Baik, pak." Yanuar menurut.
Subagio dan Ronald sudah keluar duluan, sedangkan Senja masih kembali ke sofa mengambil tas dan berkasnya. la melihat Yanuar berbeda dengan yang tadi, Yanuar berdiri lebih tegap dan segan dengan Senja.
"Pak Yanuar"
"Ya Bu Senja?"
"Senja saja pak," ralat Senja "Saya mohon bantuannya agar orang lain tidak mengetahui hubungan saya dengan pak Subagio ya." pinta Senja
"Baik, akan saya laksanakan." jawab Yanuar
"Dan juga, tolong perlakukan saya seperti sebelumnya. Saya hanya seorang sekretaris dan anda Manajer" pinta Senja lagi
"baik"
"saya tinggal dulu, sampai jumpa pak Yanuar" Senja buru-buru keluar
**********
Subagio memilih makan siang di salah satu hotel mewah di Ibu Kota. Langit pun sudah ikut bergabung. Mulai dari makanan belum datang sampai selesai makan semuanya asyik mengobrol, kecuali Senja yang tidak terlalu paham pembicaraan para bos besar itu.
Sesekali Senja melihat jam tangannya, sudah melewati batas istirahat makan siang. Pesan whatsapp dari Monic tidak berani dia baca.
"Nanti malam Ayah sama Ronald akan pergi ke Hongkong, jadi Ayah akan istirahat disini saja." kata Subagio, ia tahu menantunya sudah tidak merasa nyaman bersama Mereka. "Lang, ikut Ayah ke kamar dulu ya sebelum kamu balik ke kantor."
Langit mengangguk
"Nona Senja bisa bareng denganku saja ke Aoxtek. kebetulan aku masih ada janji sama anak buahku." Ronald menawarkan diri
"Apa tidak apa-apa pak? saya tidak enak dengan karyawan bapak."
"Tidak masalaaaah. Sudah, tenang saja."
Semua berdiri dari tempat duduk, Senja berpamitan dengan Ayah mertuanya. kemudian pergi mengekor di belakangRonald. mereka sedikit mengobrol dan bercanda sambil berjalan keluar Loby Utama.
Dan sayangnya, hal itu di lihat oleh beberapa karyawan Actmedia dari divisi lain, yang kebetulan sedang meeting di hotel itu.
"gila, siang-siang maen ke hotel sama om om. jam kerja nih"
"tuh kan, bener kata anak-anak. dia cewek gak bener tuh. kapan hari pernah dijemput pake mobil mewah"
"mungkin dia lagi meeting juga kali"
"dia kan janda, yaa mungkin aja butuh tambahan duit"
************
"Nja, dari mana aja sih? dari jam sepuluh sampe jam dua gini baru balik kantor!!" Semprot Monic ketika melihat Senja masuk ruangannya.
"Maaf buk, tadi ada pemilik Aoxtek datang. Tiba-tiba aja ngajak ngobrol lama, pas pulang ban mobil kantor bocor pula" sepanjang jalan Senja sudah memikirkan alasan apa yang tepat.
"Mana dokumennya? Awas kalo ada yang salah!!"
Senja memberikan berkas-berkas yang sudah ditandatangani Yanuar. Monic memeriksa lembar demi lembar.
"oke, sudah beres. Udah, kamu boleh pergi"
Senja keluar dari ruangan Monic dan kembali mengerjakan tugas-tugasnya.
************
Keesokan harinya.
Ketika jam makan siang, kantin ramai seperti biasa. Senja bersama dengan Enna buru-buru antri untuk mengambil jatah makan siang mereka.
Tapi ada yang terasa aneh, seakan-akan Senja ditatap sebagian dari karyawan yang ada di kantin. Tatapan itu seakan menelanjanginya, tatapan yang sinis dan meremehkan.
"Aku kok ngerasa gak nyaman ya, En?" bisik Senja ke Enna yang berdiri antridi Depannya.
"Aneh kenapa?" tanya Enna, ia menghadap Senja
"Kok mereka lihatin aku kaya gimana gitu" Senja memberikan kode dengan matanya yang mengarah ke meja meja makan
Enna terang-terangan melihat Kearah meja-meja makan. "aneh apanya sih? mereka semua makan pake tangan kok"
Senja kemudian diam saja, mungkin cuma dirinya aja yang baper.
-bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Devi Pramita
pada buruk sangka temen temen nya senja
2023-06-24
0
Diyah W
sampai kapan neh pernikahan Senja disembunyikan? jd berbohong terus klw ketemu orang2 kantor
2023-06-24
0
Meta Lia
lanjuuuuuut
2022-11-13
0