Senja membuka matanya, sedikit terkejut melihat sekelilingnya. 'ah iya, ini bukan kamarku' batinnya. Ia duduk, menguncir rambutnya. melihat jam dinding, jarum jam berada di angka lima.
Ia meregangkan otot-ototnya, melihat Langit masih tidur dibawah selimut yang terlihat hangat. 'aku akan membawa selimutku sendiri' mengingat semalam ia tidur tanpa selimut.
Senja langsung menuju ke kamar mandi. Mandi, ganti baju dan keluar kamar menuju ke dapur yang entah dimana keberadaannya.
"Mbak, dapurnya dimana ya?"
tanya Senja ke salah seorang ART yang sedang membersihkan ruangan
"Mari saya antar nona."
"Tidak perlu mbak," Senja menghentikan langkah ART tersebut. "Kasih tau saya aja."
ART tersebut menjelaskan pada Senja bagaimana jalan menuju ke dapur tanpa tersesat. hehe. Senja menuju dapur sesuai dengan arahan ART tadi.
"Selamat pagi nona Senja, ada yg bisa saya bantu?" Elly menyapa Senja yg sudah tiba dipintu dapur
Senja mencuri pandang ke dalam dapur. 'sepagi ini sudah riweh' batinnya melihat beberapa juru masak sibuk dengan alat-alat dapur.
"Bu Elly, bisakah saya membuat mie instan. semalam saya tidak makan" pinta Senja
"Jika Nona tidak keberatan menunggu, makan pagi akan selesai dalam satu jam" Elly mencoba menego keinginan Senja.
"Baiklah" kata Senja pasrah
"Anda ingin minum apa nona?" tanya Elly "Kopi, Susu atau teh?"
"Air putih saja."
Elly mengangguk, "silahkan menunggu tuan besar dan tuan muda di meja makan, nona."
Senja mengangguk-angguk. Tapi dia berjalan kembali ke kamar, Ia bingung apa yang harus dia lakukan dirumah ini.
Jika dirumahnya, kini ia sedang sibuk membantu ibunya di dapur mencuci baju dan berbenah rumah.
"Selamat pagi Nona?"
Senja terkejut ketika masuk kamar, Hengky sudah berada di dalam kamar dengan pakaian rapi. Sedangkan Langit sudah tidak ada ditempat tidur.
"Tuan muda sedang mandi" Hengky menjawab pertanyaan yang ada di benak Senja.
Senja hanya tersenyum, duduk di Sofa tempatnya semalam tidur.
"emm, maaf mas."
"panggil saya Hengky, nona" Hengky memotong ucapan Senja.
Senja mengangguk kikuk, karena dia rasa usia Hengky lebih tua darinya. "Apa kamu tahu yang harus ku lakukan setelah ini apa?"
Hengky diam sejenak, mencoba mengingat-ingat. "Anda harus menjaga kekuatan tangan kanan anda, karena mungkin hari ini tangan anda akan bekerja lebih berat dari biasanya."
Senja mengernyitkan dahinya.
cklek.
Suara pintu ruang ganti terbuka. Langit keluar menggunakan handuk kimononya. Wajahnya sudah segar, air masih menetes dari ujung rambutnya.
"Apa jadwal gue hari ini?" tanya langit pada Hengky
Hengky membacakan rincian jadwal Langit mulai dari berangkat kantor hingga petang.
Senja yang cuma mendengar saja merasa capek. Ia mengacuhkan percakapan dua pria itu dan menyibukkan diri dengan ponselnya.
Dia sibuk berbalas chat dengan Bimo dan Enna. Hingga ketukan di pintu membuatnya kembali ke dunia nyata.
"Makan pagi sudah siap tuan, nona." kata Elly ketika masuk ruangan " Tuan besar sudah menunggu di bawah"
Senja menatap langit, berharap dia akan segera melangkahkan kakinya. "Akuuu lapaaaaaar" teriak Senja dalam hati.
"Anda bisa pergi terlebih dahulu, Nona." kata Hengky, menjawab tatapan Senja
Senja merasa malu, tapi ia bergegas keluar mengikuti Elly.
Subagio, Ayah mertuanya sudah duduk disana. "Selamat pagi, nak" sapa Subagio
"Selamat pagi. pak" balas Senja, ia duduk di kursi yg sudah Ella tarik untuknya.
"Kamu ini sudah jadi mantunya Ayah, kog masih panggil Pak Pak terus" potes Subagio
Senja tersipu malu, "Maaf pak, eh Yah"
Ella meletakkan sebuah piring berisikan tiga lapis pancake yang telah di siram madu dan segelas air putih di samping kanannya.
'sarapannya cuma gini doang??' mata Senja celingukan menyusuri Meja makan
"Pagi Yah." sapa Langit yang barusan datang. ia meminum susu yang sudah siap diatas Meja.
"Pagi Nak. bagiamana tidur kalian semalam?"
Uhuk Uhuk
Potongan pancake yang sudah mau masuk ke dalam tenggorakan Senja hampir saja keluar lagi karena kaget dengan pertanyaan Ayah mertuanya.
"Maaf" ucapnya lirih dan segera meminum air putih.
"Ayah jadi menyelesaikan semuanya hari ini?" tanya Langit
"Ya, Irawan sudah menyiapkan berkas-berkasnya. semuanya harus selesai hari ini." jawab Subagio "Nak, kamu nanti ikut Irawan ya. banyak berkas-berkas yang harus kamu tanda tangani" ucapnya pada Senja.
Senja hanya mengangguk, karena mulutnya penuh dengan pancake.
**********
Senja meregangkan jari jari tangan kanannya. terlihat merah di ujung jari tengah Senja karena tekanan pena yang ia buat tanda tangan.
entah sudah berapa ratus halaman sudah ia tanda tangani. Ia merasa sudah menjadi artis yang memberikan tanda tangan.
Ia melihat tumpukan map yang ada di samping Irawan, itu yang belum selesai.
Beberapa notaris menatapnya dan sesekali mengambil foto untuk dokumentasi.
Benar apa yang dikatakan Hengky, tangan kanannya bekerja lebih keras dari biasanya.
'aset orang kaya segini banyak yaaa..' batin Senja. sedangkan ia cuma punya 3 berkas aset penting. rumahnya, bpkb motor nya dan motor Bimo.
Mereka hanya berhenti ketika makan siang, setelah itu Senja lanjut menandatangi berkas berkas lagi.
menjelang magrib, semuanya tuntas. Berulang kali Subagio mengingatkan Senja untuk melanjutkan esok hari saja. Namun Senja menolak, karena ia harus bekerja esok hari.
Senja kembali ke kamar, masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Cukup lama ia berendam, membuat dirinya senyaman nyamannya.
Hampir satu jam ia di dalam kamar mandi, akhirnya dia keluar juga. Berbelit handuk di badan dan kepalanya.
cklek.
Senja melihat pintu Ruang ganti terbuka, "jangan masuk" teriak Senja. Ia membalikkan badan membelakangi Langit, memegang erat handuknya.
Langit tak menghiraukan teriakan Senja. "Lo pikir Lo itu siapa sampai berani merintah gue?" ucap Langit santai. melepas jas dan kemejanya kemudian masuk ke kamar Mandi.
Senja masih mematung.
"Siapa sih yang bikin desain kamar ini. ruang ganti dan kamar mandi kenapa jadi satu" Ia memaki-maki siapa saja atas apa yg dia alami dan segera ia memakai baju tidurnya, dan keluar.
Ia mengambil ponselnya yang sedari pagi tak ia sentuh. sudah banyak panggilan tak terjawab dari Ibu dan Bimo.
"hallo" Senja melakukan panggilan ke Ibunya. "ibuk maafin Senja, seharian Senja gak lihat HP"
"iya nak, ibu cuma khawatir. karena dari kemarin kamu gak kasih kabar ke ibuk dan Bimo. bagaimana keadaanmu disana, nak? "
"Alhamdullillah buk, semua orang memperlakukan Senja dengan baik. Ibuk gak perlu khawatir. besok sepulang dari kantor, Senja akan mampir kesana"
"dengan suamimu?" tanya Ibu Senja
Senja diam, ia melihat Langit barusan keluar dari Ruang Ganti.
"Gak mungkin lah buk, mana mau dia" bisik Senja.
"Kamu kan sudah jadi seorang istri nak, tidak baik jika kamu keluar rumah tanpa ijin suamimu nak"
"Buk, ibuk kan tau pernikahan ini seperti apa?" Senja mencoba meluruskan pemikiran ibunya.
"Nak, pernikahan ini memang utk kepentingan beberapa pihak. tapi di mata Allah, pernikahan kamu Sah. Bukan permainan nak. Ini perjanjian antara kalian dan Tuhan. Lakukanlah kewajibanmu sebagai seorang istri nak".
Senja hanya mengangguk-angguk, sebenarnya ia tidak setuju dengan nasehat ibunya.
Langit mematikan lampu kamar, membuat Senja mau tidak mau harus mengakhiri panggilan telponnya.
Senja mencoba mengirim pesan singkat pada Hengky sebelum tidur.
-bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Asep Suratman
kyanya langit blum tersentuh cwe
jdi dingin sifatnya
2023-11-10
0
Devi Pramita
emang langit GK ada rasa sama sekali sama senja ya 🤭🤭
2023-06-24
0
Diyah W
tengil banget neh sm karakter Langit...dari lahir udah sombong keles
2023-06-16
0