Senja tersenyum masam, menutup sambungan telponnya. Ia segera merapikan bedcover yg melengkung akibat tertindih badannya.
Langit masih berdiri bersandar di pintu ruang ganti. Senja berjalan sedikit membungkuk lewat di depannya.
"Lo bisa tidur dimana saja, kecuali disini." Langit menunjuk tempat tidurnya, memperingatkan Senja. "Gue gak bisa bertanggung jawab kalo lo berani tidur disini."
Langit mengancam, menatap Senja dari ujung rambut sampai ujung kaki. Membuatnya secara reflek menyilangkan kedua tangannya di dada.
"cih"
Langit meninggalkan Senja dan masuk ke ruang ganti lagi.
Senja merebahkan diri di sofa yang menurutnya tak kalah nyaman dengan kasur tadi. Ia sejenak ingin memejamkan mata, namun bunyi ketukan pintu kamar membuat matanya terbuka.
Ia berjalan dan membuka pintu kamar.
Dua orang ART yang masing masing membawa gaun pesta tanpa lengan warna baby pink dan High heels warna senada.
"Hello, miss Senja... "
Terdengar sapaan merdu seseorang dari ujung lorong. Tangannya melambai-lambai "aku Anggela, MUA kamyuuuh."
Dia memperhatikan seorang berbadan tinggi, dengan kemeja kotak-kotak serta celana jeans komprang. Jalannya bak model international yang berlenggak lenggok diatas panggung. Rambut pendeknya yang berwarna abu-abu bergoyang goyang mengikuti langkahnya.
"Hallo" Anggela memberikan senyuman manis di depan Senja.
"Hallo An-Je-La"
Senja membalas sapaan Anggela dengan kikuk. 'oooh, dia barisan pria bertulang lunak' batin Senja.
"Hayuuuuk segera kita mulai..." Anggela melingkarkan tangan kirinya di lengan Senja. Mengajaknya masuk ke ruang ganti.
"Haaay boyyys" Anggela menyapa Langit yang baru keluar dari ruang ganti "yu, sudah enyah dari daftar pria ganteng gue. Nanti malam Lo sudah tak perjaka lagi, iuuuugh." tulunjuk Anggela menyentuh dada bidang Langit.
Langit menghentikan aktifitasnya mengancingkan lengan kemejanya "lepasin jari lo dari badan gue atau gue rontokkin semua gigi lo."
"Iuuuuh,." telunjuk Anggela menggeliat. "dasar pemarah"
"Marko!!"
"ANGGELA!!!" Anggela meralat Panggilan Langit padanya.
Kedua ART yg ada dibelakang Senja tertawa pelan. Anggela menarik lengan Senja masuk ke ruang ganti.
Senja sudah duduk didepan sebuah meja rias yang mewah, bola bola lampu disana sudah menyala. Anggela masih menatap wajah Senja.
"Kamu imut bangeeet sih" puji Anggela dengan mencubit kedua pipi Senja. "baru lulus kuliah ya?" tanya Anggela
Senja mengangguk, "tiga tahun lalu"
"hah?? umur berapa sih kamu?"
"24 tahun kak" jawab Senja
Anggela terkikih kecil, "awet muda ya"
Anggela mulai mengambil peralatannya "kita mulai ya?"
Senja mengangguk, "Kak, bisa gak kalo make up nya tipis aja. Aku gak terbiasa pake make up" pinta Senja.
Anggela mengerlingkan mata kanannya, jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O. menyetujui permintaan Senja.
Ritual Anggela pun dimulai. Ia sibuk memberi polesan polesan tipis di wajah Senja. sedang kedua ART tadi sibuk dengan rambut Senja.
Hampir dua jam Senja berada di ruang ganti. Bosan dan kantuknya akhirnya hilang ketika Anggela meletakkan semua peralatannya dengan rapi.
Ia menatap dirinya di depan kaca besar, terperangah dengan pantulan dirinya didalam cermin.
Gaun tanpa lengan itu membalut cantik tubuhnya. tidak terlalu sempit ataupun longgar, membentuk lekuk bagian dada hingga pinggang Senja, dan sedikit mengembang dari pinggang ke lutut. high heelsnya yang simple juga membuat kakinya yg biasa memakai sepatu kets harga dua ratus ribuan jadi terlihat elegan.
Rambut coklat bergelombong juga dibiarkannya terurai. Hanya sedikit rambut bagian atasnya di kuncir dan dibentuk elengan dengan bunga bunga kecil menghiasinya.
Senja menggandeng Anggela keluar ruang ganti, langkahnya sangat berhati hati. Kakinya sedang mencoba berdamai dengan hal baru. Sedangkan Langit sedang sibuk dengan ponselnya di sofa.
Anggela menghampiri langit, "hei boys, lihat istri lo nih." anggela menarik pipi Langit dan di hadapkan ke Senja.
Langit dan Senja saling menatap, kemudian saling membuang muka.
"Cantik kan hasil karya tangan ku ini???" Anggela menggerakan jari jarinya di depan wajah Langit.
"mau ku patahkan tangan lo?" ancam Langit, ia kembali menatap layar ponselnya
Anggela mengepalkan tangannya ingin memukul Langit, tapi terhenti karena Langit terlebih dulu sadar. "ooooh. jiwa jiwa cowok lo masih ada?"
Anggela semakin naik pitam. berjalan kesal ke arah Senja.
"Marko!!!"
"ANGGELA ANGGELA ANGGELA!!!!!" teriak Anggela marah dengan panggilan Langit.
'hap'
secara reflek Anggela menangkap sebuah kotak kecil yang dilempar Langit.
"pakaikan padanya" kata Langit
Anggela membuka kotaknya, melihat ada kalung putih dengan liontin kecil berhias satu permata. "uuuuh, sweeet banget sih Langit. emeeesh deh"
Anggela memakaian kalung itu di leher Senja yg putih bersih. tanggan Anggela menyibahkan kotoran kecil di bahu kiri Senja, tapi tidak juga menghilang.
Senja menutupnya dengan telapak tangannya, "ini tahilalat kak"
"hahahahaha, gue kira kotoran." matanya masih berada di bahu Senja. "imut ya, pingin gigit" goda Anggela membuat Senja merinding.
tok tok
Suara ketukan pintu kamar, tak lama Ella masuk.
"Para tamu undangan sudah datang, tuan muda dan nona senja diharapkan segera turun untuk menayapa mereka."
Langit berdiri, memakai jas yang sedari tadi ia letakkan di bahu sofa.
Potongan rambut undercut dengan polesan pomade membuat wajah tampannya semakin segar.
Langit berjalan keluar kamar, Hengky sudah menyambut dan menerangkan siapa siapa saja tamu penting yang datang. Senja, Anggela dan Elly mengekor di belakangnya.
Langkah langit terhenti di ujung lorong membuat yang lain menghentikan langkah, ia menekuk lengan kirinya tepat samping pinggang.
"Cepet!!" sentak Langit lirih
Hengky memberikan kode Senja dengan mata, agar segera melingkarkan tangannya di lengan Langit.
Senja menurut.
Mereka lanjut berjalan, hati hati menuruni anak tangga di sambut tepuk tangan para undangan. tak terlalu banyak yang datang.
Langit bergantian menyapa para tamu tamu pentingnya karena baginya ini bukan hanya pesta pernikahan, tapi termasuk ladang bisnisnya.
"Terimakasih sudah hadir diacara pernikahan saya pak Ronald" Langit menjabat tangan seorang pria paruh baya, yang seusia Ayahnya.
"Selamat Langit atas pernikahanmu. Kamu cukup pintar memilih istri." pria itu memberikan senyuman pada Senja. "ku kira kamu akan menikah dengan sekretarismu."
Langit hanya tersenyum
"Saya Ronald." pria bernama Ronald mengulurkan tangan
"Saya Senja pak Ronald, senang bertemu anda" Senja menjabat tangan Ronald.
"Yang pacaran lama akan kalah dengan yang serius ya?" Ronald menyindir hubungan Langit dan Alea
Lagi-lagi Langit hanya tersenyum kecil.
Acara malam itu tidak ada yang istimewa. Senja yang mengikuti langit menyapa rekan rekan bisnisnya hanya diam saja, menebar senyum hingga tulang pipinya terasa ngilu. memberikan jawaban jika ada yang bertanya kepadanya.
Pesta selesai sebelum tengah malam. Senja berpamitan pada Subagio untuk pergi ke kamar dulu.
Senja segera pergi membersihkan diri. mandi air hangat membuat badannya nyaman. setelah memakai baju tidur, ia membersihkan sisa sisa make upnya dan langsung merebahkan diri di sofa.
"Hari-hariku yang panjang akan segera dimulai. oke Senja, kau harus memiliki tidur yang cukup agar tubuhmu kuat!!" ia menyemangati dirinya sendiri.
-bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Umi azfi
Baca ulang lagi gak tau udah brpa kali/Joyful//Facepalm/28/Januari/2025
Marko suami dri Zia /Rose/
2025-01-28
0
Chie2
wkkwkw nyat sj pohon pisang juga angkuh kek bapaknua
2024-10-04
0
Wayan Raningsih
Papanya Aga mudanya tulang lunak 😃
2023-09-18
0