"Saya Senja pak" Senja mambalas uluran tangan Irawan
"Bagaimana keadaan pak Subagio?" tanya Irawan
Senja menggeleng "masih sedikit informasi yg saya dapat pak, yang saya tau beliau sedang kritis"
Senja celingukan melihat sekeliling. "Keluarga pak PresDir mana pak?"
Irawan tersenyum tipis "Tuan muda sedang di Singapore, jadi kemungkinan akan telat datangnya."
Senja hanya mengangguk.
Seorang Dokter keluar dari ruang tindakan. Irawan langsung menghampiri dokter menanyakan keadaan Subagio. Tanpa banyak obrolan Dokter mengajak Irawan masuk ke dalam.
Cukup lama Senja menunggu, ia ingin meninggalkan tempat ini namun ia merasa tidak enak jika harus pergi begitu saja.
Setelah menunggu cukup lama, Irawan kembali menemui Senja.
"Nona."
"Panggil Senja saja pak." Ralat Senja
Pria itu tersenyum "Bisakah anda menunggu pak Subagio di dalam? karena saya harus menyelesaikan administrasi."
Senja sedikit ragu, namun ia menganggukkan kepala setuju.
Senja mengikuti langkah Irawan masuk ke dalam rumah sakit dan menyusuri beberapa koridor-koridor rumah sakit, hingga akhirnua masuk ke dalam ruangan yg cukup mewah untuk ukuran ruang rawat inap.
ia melihat Pria tua yg berbadan gemuk itu terbaring, matanya masih tertutup. Ruangan itu begitu dingin dan sunyi. Hanya bunyi alat-alat kedokteran yang menjadi pengisi suara di ruangan itu.
"Silahkan Nona" Irawan mempersilahkan Senja duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur pasien. "Jika ada apa-apa tolong segera kabari perawat."
Senja mengangguk, melihat Irawan berjalan manjauh darinya dan menghilang dibalik pintu.
**********
Senja membuka mata dan masih di ruangan yang sama dimana Subagio dirawat. 'aku ketiduran' batinnya. ia menatap layar ponselnya. Jam digital disana menunjukkan pukul 20.45
"Anda sudah bangun Nona?"
Suara itu mengagetkan Senja, ia melihat sumber suara itu. Irawan duduk di kursi samping tempat tidur Subagio.
"Maaf pak saya ketiduran."
Irawan menghampiri Senja, "Saya sudah siapkan sopir untuk mengantar anda pulang."
Senja langsung berdiri "Tidak perlu pak, saya bisa pulang sendiri." Tolak Senja sambil mengambil tas dan jaketnya di sofa.
"Maaf Nona, ijinkan saya melakukan tugas saya." Irawan memohon.
Dengan berat akhirnya Senja mengangguk.
"Mohon maaf tidak bisa mengantar Nona ke depan. di lobby utama nanti akan ada Pria yg menghampiri Nona Senja."
"Tidak apa pak, saya pamit pulang dulu" ijin Senja sembari meninggalkan ruangan.
Ia menyusuri kembali koridor rumah sakit hingga sampai depan pintu lobby utama. Seorang pria paruh baya menghampirinya. "Nona Senja?" Pria itu menebak
Senja mengangguk
Pria itu mengajak Senja untuk mengikutinya. hingga ia masuk ke dalam mobil mewah.
"Bisa minta alamatnya Nona?"
"Perumahan Citra Mas blok B.7, Pak." Jawab Senja.
Pria itu mengotak atik layar ponselnya. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Mobil langsung melaju menuju rumah Senja.
Perjalanan hening sekitar 20 menit akhirnya terhenti, di sebuah rumah sederhana dengan halaman yg luas.
"Terimakasih sudah mengantar saya, Pak." Ucap Senja sebelum menutup pintu mobil.
Setelah mendapatkan balasan dari sopir, Senja menutup pintu dan melihat kepergian mobil sedan mewah itu dari depan rumahnya.
Ia membuka pintu pagar rumahnya, Ibunya barusan keluar rumah.
"Assalamu'alaikum Ibuk" sapa Senja, ia mengecup punggung tangan Ibunya.
"Wa'alaikumsalam Nak. ayo masuk."
Senja dan Ibunya masuk, duduk di ruang tengah.
Bimo menghampiri. "gimana kak?"
"Gimana apanya?" Senja balik nanya.
"Bos kakak itu? selamat?"
Senja mengangguk "Alhamdulillah, selamat kok. Cuma kakak gak berani tanya-tanya." senja menatap Ibunya "buk, kasihan lhoo pak Subagio. Dalam keadaan kritis seperti itu cuma ditemani pengacaranya aja."
"Mungkin keluarganya masih sibuk, Nak. Kan orang kaya, banyak kepentingan." kata Ibu.
"Semoga kita bertiga selalu ada ya buk saat susah ataupun senang." Senja memeluk ibunya.
Ibu dan Bimo mengangguk "Sudah, istirahat dulu sana. Besok kan kamu harus kerja. masa iya mau ijin lagi?"
Senja mengecup kedua pipi Ibunya, dan pergi ke kamarnya.
**********
Keesokan harinya, di Kantor Direktur Utama
Irawan sudah duduk di sofa yang ada di tengah ruangan, kepalanya tertunduk. Sedangkan Langit, masih duduk di kursi kerjanya, jari jarinya sibuk memainkan pena, menatap Irawan tajam.
"Anda pikir ini masuk akal?" ucap Langit memecah keheningan.
"Saya hanya menyampaikan apa yg pak Subagio sampaikan Tuan Muda." jawab pak Irawan.
Langit berdiri dan duduk di sofa.
"Anda bisa mengunjungi Ayah anda dan melihat keadaannya. Anda bisa menanyakan semua keinginan beliau" pak Irawan menunjukkan selembar foto.
Langit mengambil foto tersebut, matanya memicing
"Menikah?" ucap Langit sinis. Ia melempar foto itu ke depan Irawan. "aku akan menemui Ayah ketika jam makan siang."
"Baik Tuan Muda, saya akan sampaikan ke beliau."
Irawan berdiri menganggukkan kepalanya meminta ijin untuk pergi.
Langit berdecak kesal, hal gila apalagi yang sedang direncanakan Ayahnya kali ini.
Sesuai janjinya, ketika jam makan siang ia akan pergi mengunjungi ayahnya.
Langit menyusuri koridor Lantai satu gedung perusahaannya. Setiap karyawan yg berpapasan dengannya menganggukkan kepala dan memberi senyum sopan padanya. tapi tak pernah mendapatkan balasan dari Langit. Ia hanya terus berjalan tanpa memperhatikan orang-orang disekitarnya.
Langkahnya terhenti, membuat Sekretaris dan seorang Asisten pribadinya mendadak terhenti.
"Ada apa pak?" tanya Alea.
Mata Langit mengikuti seorang wanita yg memakai blush cream dan rok pensil hitam selutut, rambut nya yang di kuncir ekor kuda tergoyang kekanan dan kekiri mengikuti langkah kaki.
Alea menepuk bahu Langit. "Kenapa dengan wanita itu?"
Langit tak menjawab, ia hanya menatap Alea dan melanjutkan kembali langkahnya.
***********
Ruang VVIP RSU Putra Medika
Pak Subagio membuka matanya sedikit, ada putranya berdiri disampingnya. duduk menggenggam tangannya.
"Nak." ucapnya lirih
Langit sedikit terkejut, melihat Ayahnya sudah sadar. "Ayah, bagaimana keadaan Ayah?"
Pak Subagio hanyak tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Maafkan Langit tidak bisa menjaga Ayah dengan baik." Langit merasa menyesal, tangannya menyentuh lembut pipi Ayahnya. "Langit sudah mulai menyelidiki siapa orang yg sudah melakukan semua ini, Yah."
Pak Subagio menggeleng, menarik tangan langit agar lebih dekat dengannya. "Berhati-hatilah dengan orang yg disekitar kita, Nak" bisik Ayahnya.
Langit mengernyitkan dahinya. mencoba mencerna Ayahnya.
"Menikahlah dengan wanita yang telah Ayah pilih." lanjut Ayahnya.
Langit melepaskan tangan Ayahnya, "itu tidak masuk akal, Yah." bantah Langit "Bagaimana mungkin Langit menikah dengan orang yang jelas-jelas tidak Langit kenal. Sedangkan Alea yg sudah bersama Langit 6 tahun ini masih ragu untuk Langit nikahi." Langit menurunkan intonasi suaranya agar Alea yg berada diluar tidak mendengarnya.
"Aku mohon, Yah. semua akan Langit lakukan, kecuali menikah." pinta Langit, "Langit tidak siap jika harus mengalami hal seperti.... "
Ucapan Langit terhenti ketika tangan Subagio menyentuh tangannya. "Tidak semua hal berakhir buruk, Nak. Ayah mohon, ini demi kebaikan kamu dan perusahaan."
"Apa yang belum Ayah ceritakan padaku?" Langit semakin bertanya-tanya.
Pak Subagio hanya mengangguk-angguk "do'akan Ayah lekas sembuh, Ayah akan membongkar dan menyingkirkan manusia jahat yg bersembunyi di perusahaan kita."
Langit terdiam, berfikir sejenak. "aku akan menikahinya, tapi aku tidak mau orang lain mengetahui siapa istriku. tidak ada pernikahan mewah"
"Ya, Ayah setuju. karena keselamatannya juga penting."
-bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
nova vaw
alea musuh d balik selimut kamu langit,,mybe
2024-02-12
0
Wayan Raningsih
Yg enam tahun bersama mu belum tentu jodoh mu
2023-09-17
0
Devi Pramita
loh kok mau nikah aja senja sama langit... emang senja setuju
2023-06-23
0