Langit berangkat ke kantor lebih pagi, Ia meninggalkan Senja yang masih tertidur. Sepanjang perjalanan Hengky menatap Langit dengan tatapan menggoda.
"Jangan ikuti gue hari ini." Langit menghentikan Hengky sebelum keluar lift.
Angin segar bagi Hengky terlepas dari Langit, "baik, pak." Ucapnya bahagia.
Langit masuk ruangan dengan wajah yang masam, Alea langsung mengikutinya kedalam. Sedangkan dua asisten Alea menjadi was-was. mereka tidak boleh membuat masalah sekecil apapun hari ini.
"Selamat pagi, pak?" sapa Alea
"Pagi" jawab Langit singkat.
"Anda mau minum apa pagi ini?" tanya Alea
Langit menggeleng, "Tinggalkan aku sendiri dulu dan tunda semua jadwalku satu jam lagi" pinta Langit.
Alea meninggalkan ruangan, ia semakin penasaran dengan kekasihnya itu.
Langit masih mengingat ingat kejadian semalam, kenapa bisa dia bangun dengan memeluk Senja. Selengket itu.
Pikirannya pagi ini benar-benar kacau, Ia merasa marah dan malu dengan dirinya sendiri dan bagaimana jika Senja tahu ia sudah memeluknya.
***********
Sedangkan dirumah Langit, Senja baru saja terbangun. Kepalanya sangat pusing, bukan karena demam, mungkin karena terlalu banyak tidur dari kemarin siang.
Dokter Prast yang didampingi Ella baru saja selesai memeriksanya. Suhu tubuhnya sudah kembali normal, Senja hanya butuh banyak makan untuk bisa kembali lincah lagi.
Ella mengantarkan dokter Prast keluar, beberapa ART membawakan Senja sarapan pagi. Mereka meletakkan diatas meja sofa tempat Senja biasa tidur.
"Terimakasih ya mbak" ucap Senja sebelum ART meninggalkan kamar Senja.
Senja turun dari tempat tidur, berfikir kenapa dia tidur disitu. Apa Langit tidak pulang tadi malam.
tok tok tok
"Saya Ella, Nona" terdengar suara Ella dari Luar "Ada adik anda datang untuk menjenguk"
"Bimo" Senja terkejut "suruh masuk saja Bu Ella" Senja menjawab tanpa memindahkan pantatnya dari sofa.
Bimo masuk, "Assalamu'alaikum, kak" Bimo menghampiri Senja.
"Kamu kok bisa kesini sih? kalo pak Langit tahu kakak bisa gak enak, Bim."
"Kak Langit sendiri yang nyuruh aku kesini" jawab Bimo enteng. "kakak gak sarapan? biar ku makan aja kalo kakak masih gak napsu makan. " meraih semangkok Bubur Ayam, tapi langsung di rebut Senja.
"Dari kemarin siang kakak gak makan, cuma bubur Ayam segini masih mau kamu embat juga." Senja mulai menyendok bubur di mangkok. ia juga melirik dikanan dan kiri Bimo "kamu gak bawa apa-apa?"
"Bawa" Bimo merogoh kantong kemejanya "nih" tangan kanannya yang menggenggam diberikan ke Senja
"Apa-an nih?" Tangan kanan Senja terbuka untuk merima pemberian adeknya
"ketulusan hati akuuuh" kata Bimo dan langsung mendapat tendangan dari Senja.
Bimo kesakitan, tapi juga tertawa melihat kakaknya Jengkel.
"Dah sana pulang, nanti pak Langit datang." Senja mengusir adeknya.
"Dah dibilangin dari tadi dia sendiri yang secara khusus nyuruh aku kesini." Bimo meminum jus buah Senja "semalem aku WA-an sama kak Langit, ku bilang mau jaga kakak aja. Kan kakak kalo sakit ngigau yang enggak-enggak. Tapi gak boleh, disuruh pagi aja kesini"
Senja mencoba mengingat-ingat sesuatu, semoga semalam dia tidak ngigau yang tidak-tidak.
"kenapa, kak?? keinget sesuatu??" tanya Bimo "Kan biasanya kakak kalo ngigau minta pijetin, minta di elus-elus. Dua itu deh yang pasti kakak minta."
Senja menggelengkan kepalanya, berharap dia tidak ngomong yang aneh-aneh semalam.
"Dek, kakak kok takut ya?"
"Takut kak Langit kakak suruh yang macam-macam?" Bimo balik bertanya.
Senja mengangguk
"hahahahaha" Bimo tertawa membayangkan bagaimana anehnya kakaknya. "Ih, pasti kak Langit sebel banget denger kamu ngoceh-ngoceh kak"
Senja meletakkan buburnya yang baru ia makan setengah. Memikirkan kejadian semalam membuat napsu makannya hilang, dan ia langsung murung.
"Sudahlah kak, kak Langit baik kok." Bimo menghibur kakaknya.
"Baiknya kan ke kamu, ke kakak enggak"
"Kakak sih, suka aneh-aneh aja kalo sakit"
"Emang itu kemauan kakak? itu diluar kendali tau!!" Senja makin sebal "Udah udah, cepet berangkat sekolah sana. Jam berapa ini?"
"aduh kak, kaya gak pernah SMA aja. Udah kelar ujiannya ya dah nyantai di sekolah. Yang penting kelihatan ke sekolah."
Senja merebahkan dirinya di sofa, menutup kedua matanya dengan lengannya. Berharap dia tidak melakukan hal hal aneh semalam.
***********
Hari ini menjadi hari yang sibuk untuk Langit, lebih tepatnya ia menyibukkan diri hingga pulang ke rumah sudah cukup malam.
Hengky mengantar Langit sampai pintu depan rumah saja, selanjutnya Langit di kawal Ella ke kamar.
"Seharian ini Nona Senja belum makan sama sekali, tuan" Ella memberitahukan kondisi Senja, Langit hanya diam saja tak memberikan jawaban.
Langit membuka pintu kamar, sudah redup. Ia langsung menuju ke kamar mandi, sedangkan Ella meletakkan tas Langit di meja kerja, kemudian pamit keluar kamar.
Ketika Langit kembali, Senja sudah dalam posisi duduk di Sofa melihat ke arah Langit yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah, membuat Langit kaget dan sedikit salah tingkah.
"Kenapa?" tanya Langit, nadanya dibuat sejutek mungkin.
"Emmm, Boleh saya tanya sesuatu pak?" tanya Senja ragu
Langit diam, berfikir apakah dia mau menanyakan kejadian semalam. "Apa?? tentang kejadian semalam???"
Senja terkejut sampai berdiri, "Jadi benar saya sudah mengigau yang tidak-tidak??" Senja menghampiri Langit. "Saya benar-benar minta maaf, Pak. Itu semua terjadi diluar kendali saya."
'oh, jadi dia gak inget kejadian semalam?' batin Langit sangat lega.
Langit mengacuhkan Senja, ia pergi ke meja kerjanya.
Senja tak tahu harus bagaimana. Tidak ada jawaban dari Langit. Dia kembali ke Sofa, duduk disana merenungi nasibnya.
"kruuckkrrruuck"
Bunyi suara perut Senja terdengar begitu keras di ruangan sebesar itu.
"berisik, makan sana." kata Langit
Senja melihat jam dinding, sudah hampir tengah malam. Tidak mungkin dia membangunkan ART.
Langit berdiri dari kursi, "ambil Jaketmu" printah Langit pada Senja.
Tanpa Ba Bi Bu Senja mengambil Jaketnya di ruang ganti, memakai tanpa menutup resleting jaketnya. masih terlihat jelas dia memakai baju tidur.
Langit mengajak Senja keluar, semua lampu ruangan sudah mati. hanya lampu kecil di beberapa titik yang masih menyala.
'pip pip'
Alarm mobil Langit menyala. Langit masuk ke dalam mobilnya, Senja mengikuti. namun Senja duduk dibelakang.
"Lo seneng lihat orang nyangka gue sopir Lo!!" tanya Langit.
Senja keluar, dan pindah ke bangku depan sebelah Langit.
Langit langsung melajukan kendaraannya, satpam juga terkejut melihat Langit keluar malam malam begini. Namun, ia tidak punya keberanian untuk bertanya.
Mobil Sedan hitam itu menyusuri jalanan ibukota yang sudah tidak terlalu ramai. Membuat Senja bertanya-tanya, mau kemana ini? apa Langit akan menyuruhnya pulang?
Akhirnya mobil berhenti di sebuah restoran yang sudah tutup.
"Kenapa kesini, pak?" tanya Senja
"Nyari makan lah" jawab Langit
"Tapi kan sudah tutup"
"kruuckkrrruuck"
kali ini perut Langit yang bunyi, membuat Senja tertawa kecil.
"Kalo udah jam segini ya sudah banyak yang tutup pak restonya. ke Angkringan saja pak, enak dan yang penting, murah." ajak Senja.
"Ya udah, kasih tunjuk jalannya."
Senja memandu Langit mengendarai mobilnya menuju ke Angkringan langganan Senja.
Mereka sampai di depan sebuah ruko-ruko yang sudah tutup. di halaman depan ruko banyak sekali pedagang kaki lima yang berjualan.
Setelah Langit memarkirkan mobilnya, barulah Senja mengajak Langit ke Angkringan langganannya. Karena bukan malam minggu jadi tak begitu ramai, meja-meja lesehan juga beberapa masih ada yang kosong.
"Lama gak kelihat mbak." sapa bapak-bapak pemilik warung angkringan itu, bahasanya medok jawa banget.
"Iya pak, jarang keluar malam" jawab Senja
"Ayoo, silahkan mbak" bapak itu memberikan piring, Senja memberikannya ke Langit. "Lho, sudah ganti toh mbak?" goda bapak itu ketika melihat pria yang sedari tadi berdiri dibelakang Senja.
"Bukan pak, ini bos saya."
Bapak itu melihat baju tidur Senja.
"Bos dihati dia maksudnya, pak. Saya suaminya, baru menikah 2 bulanan ini" Langit tidak ingin orang lain berprasangka yang tidak-tidak kepada Senja
"ooooh. Pengantin baru toooh.. pinter kalo milih, lebih ganteng dari masnya yang dulu."
Senja hanya tersenyum kecil, tidak terlalu memperdulikan percakapan mereka. Ia hanya fokus ke lauk pauk, lalu memilih makanan favoritnya.
"Kita duduk disana dulu, pak. Nanti kalo sudah dibakar dianter ke kita." ajak Senja.
Beberapa pengunjung warung memperhatikan Langit ketika berjalan menuju meja yang ditunjuk Senja. Kaum hawa mana yang gak terhipnotis dengan hasil karya Tuhan yang satu ini.
Udah ganteng dan mobilnya bagus, Orang kaya nih bocah. Begitulah arti tatapan mereka.
Tak lama ketika Langit dan Senja duduk, Teh hangat pesanan mereka datang. hening, tak ada obrolan antara Langit dan Senja. Tak ada yang memainkan ponsel mereka, benar-benar diam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Silahkan" seorang pria muda mengantarkan nasi dan lauk pauk untuk Senja dan Langit.
"terimakasih" ucap Langit dan Senja.
Senja dan Langit mulai menyantap makanannya.
"enak banget. Buka mulai jam berapa mereka?" tanya Langit
"Sepertinya mulai jam tujuh malam, pak. Saya kalo kesini diatas jam sepuluh, jadi gak tau bukanya jam berapa." jawab Senja, fokus makan karena lapar.
"Lo sering kesini? sampe yang jual hafal." tanya Langit lagi
Senja mengangguk, "Sejak pacaran sampai nikah sama mas Farhan kalo makan diluar, ya makannya kesini pak. Nyari yang murah meriah, hahahahahaha."
Langit menatap Senja, "bagian mana yang lucu? ketawa ngakak sampe orang-orang lihat kesini"
"Mereka sedari tadi juga lihat kesini, pak" Senja membela diri
"Ya jelas lah, mereka lihat gue. jarang banget mereka disuguhin pemandangan indah kek gini" Langit menyombongkan diri.
Senja mengangguk-angguk acuh mendengar Langit membanggakan diri sendiri.
Mereka melanjutkan makan lagi dalam diam. menikmati nyanyian para pengamen yang lewat. Mendengarkan obrolan beberapa pasangan yang mejanya tak jauh dari mereka.
Senja melihat Langit sangat menikmati tempat pilihannya ini. Terlihat Langit sesekali tersenyum mendengar pembicaraan orang-orang disebelahnya, terkadang juga ia memasang tampang jijik. membuat Senja terkekeh pelan melihatnya.
Senja sedikit memajukan kepalanya ke depan Langit. "Anda tidak diperkenankan mencuri dengar pembicaraan mereka lho, pak" goda Senja.
Langit sedikit terkejut Senja mengetahuinya. "Salahkan yang bikin tempat, kasih jarak segini dekat."
Senja tertawa kecil. "anda baru pertama kali kesini??" Tanya Senja pura-pura bodoh
Langit tak menjawab.
"Sebaiknya kita pulang pak, sudah semakin malam. Tidak baik untuk kesehatan bapak." ajak Senja.
Langit mengangkat Tangannya untuk meminta bill, namun segera diturunkan Senja. "disini, kita yang harus menghampiri bapaknya tadi untuk membayar." Senja berdiri dari duduknya, disusul Langit di belakangnya.
"Sudah pak." kata Senja ketika sampai di depan gerobak angkringan
Bapak itu mencari cari secarik kertas yang isinya makanan yang diambil Senja dan Langit tadi. "empat puluh lima ribu, mbak."
Senja menatap Langit, memberi instruksi untuk segera membayar.
"berapa?" tanya Langit
"empat puluh lima ribu"
"hah" Langit terkejut, "gak salah hitung orangnya?"
Bapak itu mendengarnya, ia menyodorkan secarik kertas "bener mas, ini tadi yang mas ambil semuanya saya catat disini. Bisa dihitung lagi kalo mau"
"Bukan gitu pak, saya kaget kok murah banget." Langit bingung karena pemilik angkringan merasa tersinggung. ia mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya dan memberikan ke pemilik angkringan "Kembaliannya untuk bapak saja" kata Langit
"Terlalu banyak mas."
"Anggap saja tips karena masakan bapak enak." Langit beranjak pergi menuju mobilnya.
"Terimakasih ya, pak" kata Senja kemudian menyusul Langit
Sepanjang jalan Senja senyum-senyum sendiri, ternyata pria angkuh di sebelahnya ini mempunyai hati yang lembut juga.
"Gue risih lihat senyum Lo" kata Langit.
Seketika senyum Senja menghilang, ia memperbaiki duduknya lebih formal. "Maaf pak, saya tidak bermaksud menyinggung anda."
Senja menatap lurus ke depan, lalu memberanikan diri bertanya pada Langit "boleh saya tanya sesuatu pak?"
Langit mengangguk, matanya fokus melihat jalan.
"Menapa bapak tiba-tiba mengajak saya makan diluar?"
Langit diam sejenak, "gue gak pengen lo sakit lagi"
deg!!
seketika detak jantung Senja terhenti mendengar jawaban dari Langit.
-bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Abie Mas
dah mulai kasian dia si langit sm senja
2024-05-31
0
nova vaw
senja baperan,,pi klo org ny langit mh bikin syockh
2024-03-01
0
Hearty 💕
asli narsis
2024-02-01
0