Mobil Langit berhenti di depan Loby rumah Sakit. la akan mengunjungi Ayahnya bersama Senja. Senja mengekor dibelakang Langit.
Langkah mereka terhenti di depan ruang VVIP, penjaga membukakakan pintu untuk majikannya.
Subagio menyambut kedatangan putranya dengan senyuman. la mengintip Senja yang ada
dibelakang Langit.
"Apa kabar Senja?" sapa Subagio
Senja tersenyum "Alhamdulillah Pak, Sehat. bagaimana keadaan bapak?" Senja balik bertanya
"Alhamdulilah, jauh lebih baik dari saat terakhir kamu datang " Subagio pindah menatap
putranya yang terlihat jengkel duduk di sofa.
"Bagaimana keadaan di kantor hari ini Nak?"
"Lancar seperti biasa, Yah" jawab Langit Singkat
Subagio hanya tersenvum. Ia kembali menatap Senja "Terimakasih sudah mengabulkan permohonan Pria tua yang tak berdaya ini. dalam waktu dekat ini 'Ayah' dan Langit akan berkunjung kerumahmu, membicarakan hal yang lebih serius lagi"
Subagio memberi penekanan pada kalimat 'Ayah', berharap Senja kini akan memanggilnya Ayah
"Baik Pak, saya akan sampaikan ke ibu saya." Senja masih canggung untuk memanggil Subagio dengan sebutan Ayah.
Mereka melanjutkan mengobrol mulai urusan kantor hingga keluarga Senja. Sedangkan Langit menikmati waktu untuk tidur di Sofa, tak ikut obroalan antara Ayahnya dan Senja. Dia tahu, sebenarnya yang diharapkan Ayahnya hadir adalah Senja.
"Selamat Malam pak Subagio."
Dokter dan beberapa perawat datang menghampiri. "Mohon maaf, waktu sudah menunjukkan
pukul sembilan malam. Kunjungan harus segera diakhiri dan bapak harus segera beristrahat."
Senja tersenyum melihat raut wajah calon mertuanya berubah masam "In Shaa Allah, Saya akan sering mengunjungi bapak." ucap Senja memberikan angin segar pada Subagio.
"Saya pamit pulang dulu ya pak" Ia raih tangan dan menempelkan hidungnya di punggung tangan Subagio.
"Langit, antar Senja sampai rumahnya ya nak." pinta Subagio
Langit berdiri malas, mengambil Jasnya yg tadi tergeletak di sofa. Ia menghampiri Ayahnya untuk berpamitan. "Langit pulang ya Yah"
Langit berjalan duluan, Hengky dan Senja mengekor di belakang langit.
"Saya akan pulang sendiri saja pak" ucap Senja ketika tiba di depan Loby utama. Hengky sudah membukakan pintu mobil.
"Terserah" ucap Langit sambil masuk ke dalam mobil
"Tapi pak, Tuan Besar sudah... "
Langit memotong kalimat Hengky dengan tatapannya. "Dia yg menolak." Ucapnya.
"Silahkan lanjutkan perjalanan anda, hati-hati dijalan" ucap Senja, kemudian berlari kearah yang lain.
Ia menggerutu di sepanjang jalan, memesan ojek online untuk mengambil motornya yg masih ada di kantor.
"bagaimana aku akan hidup dengan orang sejutek itu?"
************
hari yang telah ditunggu-tunggu keluarga Subagio tiba, hari ini Subagio dan Langit mendatangi rumah Senja untuk melakukan lamaran.
Diluar pikiran Senja dan Ibunya, ini adalah kali kedua keluarganya menerima lamaran. berbeda dari lamaran Farhan, keluarga Langit datang dengan membawa seserahan yang luar biasa.
Mereka mengira karena ini pernikahan diatas kertas, jadi tidak ada seserahan. Hanya pembicaraan saja. Jika keadaannya seperti ini, jadi menimbulkan pertanyaan bagi tetangga mereka.
Acara berlangsung cukup lama, mulai ba'da Ashar hingga pukul sembilan malam acara baru selesai.
Acara pernikahan akan dilakukan 3 hari lagi. Pinta Subagio, karena semua pihak tidak menginginkan acara besar. Yg penting sudah sah di mata Agama dan Hukum Negara.
**********
"kamu gila, Lang!!"
Terlihat Alea marah-marah. Melempar sebuah Undangan ke tubuh Langit. "Dua hari lagi kamu Nikah dan kamu baru ngabarin aku. Apa artinya hubungan kita selama enam tahun ini?"
Langit hanya terdiam, masih duduk di kursi kerjanya. Ia tahu Alea akan sangat marah.
"Kamu bahkan tidak meminta kita putus?" tanya Alea
Langit berdiri, menghampiri Alea. "aku bahkan tidak mencintainya, Al." Ia memegang kedua bahu kekasihnya tersebut. "ini kemauan Ayah, bagaimana bisa aku menolak?"
"Kenapa Ayahmu selalu meremehkanku??" ucap Alea kesal, melapaskan tangan Langit dari bahunya.
"siapa perempuan itu?"
Tak ada nama mempelai wanita dalam undangan tersebut.
Langit menggelengkan kepalanya "aku belum mengetahuinya" jawab Langit bohong, karena dia tidak memberitahukan nama Senja ke siapapun.
Alea terbelalak, tidak percaya. "Aku tidak percaya padamu, sampai seperti ini kamu membohongiku?"
"Aku harus melakukan semua ini, dan aku juga tidak memaksamu untuk mengerti situasi ini."
Langit tidak akan membuat dirinya memohon-mohon pada wanita, karena harga dirinya begitu tinggi. Dia hanya berfikir, Alea akan tinggal atau pergi darinya, bukan masalah besar baginya.
Meskipun Alea sangat kesal, tidak mungkin Langit akan memintanya tetap tinggal. Jika ia pergi, maka Langit tak akan mengejarnya dan hubungannya dengan langit akan berakhir sia-sia.
"Katakan, apa wanita itu lebih cantik dariku?" tanya Alea, berusaha meredakan emosinya.
Langit mengangkat kedua bahunya. ia berjalan duduk di sofa tunggal, "Tidak ada yang menarik bagiku."
Alea ikut duduk di sofa "jadi, masih aku yg pertama di hatimu?"
Langit mengangguk tanpa ekspresi. "aku harap kau tidak datang ke pernikahanku"
"kenapa? aku juga ingin melihat siapa istrimu?"
Langit menatap Alea tajam, "seharusnya kau tau aku tak suka dibantah dan mengulangi perkataanku"
Alea diam kesal, menahan rasa penasarannya.
***********
Lantai delapan, tempat divisi Desain Grafis. Senja sudah duduk di depan Manajernya, wajahnya memelas, mencoba mengambil hati atasannya tersebut.
"ijin cutimu tinggal tiga Nja, dan ini berarti sisa cutimu sudah tidak ada lagi" ucap Monic memperjelas keinginan Senja untuk mengambil sisa cutinya. "ini masih bulan Oktober Lho."
Senja mengangguk "iyaa Bu. Aku terpaksa harus memakainya" ucapnya sedih.
"baiklah, sudah fix ya. Aku acc permohonan cutimu mulai besok."
"Lagian ada acara apa sih? ijinnya udah jauh-jauh hari. minta acc nya dadakan?" Monic merasa penasaran. "Mau nikah lagi lu ya?"
"apa-an sih Bu." Senja mencoba mengalihkan perhatian "sudah ah, mau lanjut Kerja"
Senja mengambil surat ijin cuti yg sudah ditandatangani atasannya dan langsung keluar ruangan menuju meja kerjanya.
Ia menyusun ulang jadwal-jadwal yang harus di handle asistennya tiga hari kedepan ketika ia tidak ada.
"Nja, udah beloooom." Enna merengek, mengajak Senja makan Siang.
"Udah ini lhooo udaaaah" tangannya masih sibuk merapikan berkas-berkas.
Senja berdiri, menggandeng tangan Enna menuju Lift. Tak lama mereka menunggu, pintu Lift terbuka.
tring
Seseorang yang tidak ia harapkan ada di dalam sana. Mereka saling membuang muka. Langit, Alea dan Hengky berada disana.
Hengky dibelakang mengangguk menyapa Senja, memberikan senyum tipis. Enna yang Melihatnya terkejut.
"kalian naik gak?" tanya Alea sinis
Senja mau melangkahkan kakinya pergi, tapi tangannya sudah di tarik Enna masuk. Mereka menyelip dan berdiri di belakang sendiri.
"Sayang, nanti malem sebelum kamu ke Singapore temenin aku makan malam dulu ya" Pinta Alea manja sambil menggandeng lengan Langit.
Tak ada jawaban dari Langit, sedangkan Senja dan Enna saling menatap dan menahan tawanya.
Sepertinya Alea ingin menunjukkan pada semua orang bahwa Langit adalah miliknya. Tapi hal itu malah membuat orang lain geli. Toh semua karyawan disini juga sudah tahu hubungan mereka.
Pintu lift Terbuka di lantai satu, Senja dan Enna menyelip keluar minggalkan lift. Mereka terkekeh-kekeh mengingat kejadian di dalam lift.
"Nja? sejak kapan kamu kenal sama Asistennya pak Langit?" tanya Enna
Senja berfikir, mencari alasan. "Yang mana sih?" Senja balik tanya
"Itu lhooo, cowok ganteng yg tadi di debelakang pak Langit"
Senja menggeleng, "gak kenal tuh"
"Tapi kan dia tadi senyum sama kamu" Enna masih menyelidik
"Ya mungkin dia orangnya ramah, jadi senyum ke semua orang." Senja memberi alasan
Enna manyun, "Ku kira kamu kenal dia, mau minta kenalin."
"Apa-an sih"
-bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Nur Halimah
cerita Kak aiko bagu
2024-02-27
0
Wayan Raningsih
Nanti juga Langit takut sama kamu Senja 😀
2023-09-18
2
Devi Pramita
ena makin curiga sama senja 🤭🤭🤭
2023-06-24
1