"Beri tahu gue siapa istri Langit??" Alea memaksa Hengky
Alea menyeret Hengky ke tangga darurat kantor. Area sepi yang hampir tidak pernah dilewati karyawan.
Hengky menggelengkan kepalanya. "Kapan Lo bosan menanyakan hal ini, Al?"
Ya, sejak Alea mengetahui kabar pernikahan Langit hingga saat ini, dia selalu menanyakan siapa istri Langit pada Hengky.
"Sampai kapan juga Lo akan sembunyikan dia dari gue??" kata Alea geram
"Tunggu saja, kalau saatnya tiba Lo juga akan tahu." kata Hengky santai.
"Apa dia lebih cantik dari gue? apa Langit pernah menyentuhnya? apa dia lebih pintar dari gue?" Hengky menirukan gaya suara Alea menanyakan pertanyaan yang hampir tiap hari selalu diulang.
Alea memanyunkan bibirnya, "Lo gak tau rasanya jadi gue gimana. Coba Lo bayangin gimana sakitnya perasaan gue ketika lihat orang yang gue cintai setiap hari bermalam dengan wanita lain"
"Tapi gue gak mau ngebayanginnya, Al" kata Hengky beranjak pergi.
"Hengky!!" Alea menarik tangan Hengky. "tunggu dulu, gue belum selesai"
Hengky menatap malas. "apa lagi??"
"kenapa Lo jadi jutek gitu sih??" tanya Alea.
"kenapa?? Lo mau gue yang ngejar-ngejar lo, yang selalu manjain lo, yang ngisi kekosongan lo saat Langit gak ada??" sentak Hengky. "sudah cukup kebodohan gue dulu, Al. Jangan pernah harap Lk mendapatkan gue yang dulu. Lk gak akan pernah mendapatkan dua hati. Berhentilah bersikap egois."
Kini Hengky benar-benar meninggalkan Alea. Tak ada panggilan lagi dari Alea. Jikapun Alea menyebut namanya, ia sudah pastikan tak akan kembali.
Ia mengingat betul bagaimana dirinya menjadi Budak Cinta Alea. Bagaimana pengorbanannya kepada Alea selama bertahun-tahun menunggu Alea mamilihnya, yang benar-benar tulus mencintainya.
Hengky bersyukur dirinya sudah sadar. Tak lagi menjadi pria bodoh yang tak punya harga diri. Kini harapannya hanya satu, berharap Alea sadar bahwa selama ini dia menipu diri sendiri.
**********
Kantor sudah lumayan sepi, Senja masih belum beranjak dari dari Meja kantornya. Ia duduk menopang dagu, menatapi kalender di depannya.
"gimana bilangnya, ya??" ia bicara sendiri. "sudah hampir dua bulan menikah, bicara dengannya aja bisa dihitung dengan jari."
Senja membenamkan wajahnya di lengannya. Memikirkan bagaimana cara bicara dengan langit karena esok adalah peringatan Dua puluh tahun meninggalnya Ayah Senja.
Acaranya diadakan di kampung halaman Ayahnya, sebuah desa di daerah Malang-Jawa Timur. Ibu dan Bimo sudah berangkat pagi tadi dengan kereta Api. karena Senja tidak dapat cuti, jadi ia harus berangkat Malam ini.
Ibu memang sudah bilang kalau Senja tak perlu mengajak Langit. Karena Ibu tahu betul kesibukan Langit. Tetapi Senja tahu, jika ia tak mengajak Langit, ia terutama Ibunya hanya akan jadi cibiran saudara-saudara Ayahnya.
"Huuuuft" Senja berdiri, menghembuskan nafas panjang. "demi Ibu, aku harus memberanikan diri!!" katanya memberi semangat pada diri sendiri.
Senja segera memakai jaket dan tas ranselnya, kemudian keluar ruangan berdiri di depan lift.
tring..
Lift terbuka, Senja mematung melihat Langit dan Hengky disana.
"Silahkan Nona" Hengky menyadarkan Senja agar segera masuk
Senja masuk, menyelip di belekang Langit. 'mungkin ini tanda dari Tuhan bahwa aku harus bicara padanya'
"emm.. pak Langit..." Senja ragu membuka Suara, Langit diam tak merespon.
Hengky menatap Senja karena ia tak kunjung mendengar kelanjutan kalimatnya. Senja balik menatap Hengky. mereka melanjutkan percakapan lewat isyarat mata.
"Lo mau bicara apa enggak!?" bentak langit karena sudah dibuat menunggu.
"tidak jadi pak, tidak jadi." kata Senja ketakutan.
Hengky masih memberi isyarat untuk mengatakan saja, tapi Senja menolaknya. Terlalu takut untuk bicara lagi.
Hingga pintu Lift Terbuka, Senja tetap diam. mengurungkan Niatnya. "Saya pulang duluan pak" pamit Senja sebelum keluar lift.
"Hati-hati di jalan, Nona. Jum'at sore lalu lintas sangat padat." Hengky menundukkan kepala, memberi salam sebelum pintu lift tertutup.
Senja pulang dengan hati yang gundah. Dijalanan yang padat ia beberapa kali menabrak bagian belakang motor milik orang lain karena pikirannya kemana-mana.
Sesampainya dirumah ia ingin langsung menenui Ayah mertuanya, akan meminta ijin untuk pulang kampung, tapi ternyata Subagio sedang melakukan perjalanan bisnis ke Hongkong. Jadi dia hanya menitip pesan pada Elly, jika saja ada yang mencarinya.
Senja menuju ke kamarnya, mandi dan menyiapkan beberapa pakaian dan keperluan yang ia butuhkan di rumah neneknya sembari menunggu Langit yang belum juga sampai.
Ia melihat tiket pesawatnya, jam 22.15 pesawatnya berangkat. Jadi dia harus berangkat ke bandara sekitar pukul delapan malam.
Namun hingga pukul delapan lebih, Senja belum mendapati Langit pulang. jadi ia memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan. Hanya berpamitan pada Elly saja.
"Zia dan Kartika akan tetap mengikuti anda, Nona" kata Elly sebelum Senja masuk ke dalam mobil.
"hah?? ngapain??" Senja melihat dua gadis pengawalnya yang selama ini selalu menjaganya dari jauh.
"Maafkan aku Zia, Tika. Kali ini kalian gak bisa ikut denganku. disana tak ada banyak kamar. tidak ada tempat untuk kalian beristirahat" kata Senja.
"Tapi mereka tetap harus ikut dengan anda, Nona" Elly masih memaksa.
"Tidak bu Elly, ini termasuk kepentingan pribadiku. Ayah sudah berjanji tidak akan ikut campur untuk urusan pribadiku." Senja mencoba menjelaskan. ")ercayalah padaku. Aku mohon. Jika Ayah disini, beliau juga akan memakluminya kali ini"
Elly akhirnya menyerah. membiarkan Senja pergi sendiri ke bandara diantar pak Agung.
**********
Langit baru menginjakkan kakinya pukul sepuluh malam. Elly menyambutnya di depan pintu.
"Tuan besar sudah berangkat ke Hongkong tadi sore Tuan. dan Nona Senja juga sudah berangkat ke Bandara jam delapan tadi. "
Langit menghentikan langkahnya, "pergi kemana dia?" ia beralih menatap Hengky
"Nona Senja tidak memberitahukan apa-apa, pak." jawab Hengky
"Besok peringatan sepuluh tahun meninggalnya Ayah Nona, tuan. Jadi malam ini Nona berangkat ke Malang." Elly menjelaskan.
Langit melanjutkan langkahnya, Hengky mengikutinya. Ia tahu, malam ini pekerjaannya tidak berhenti di depan pintu ini.
"Cari tahu kemana dia pergi." perintah Langit ketika ia sampai di kamar.
"Nona Senja berangkat ke kota Malang, pak. Saya sudah mendapatkan alamatnya. Keberangkatan pesawat ke Kota Malang paling cepat dua jam lagi. apa saya harus memesannya?"
Langit melirik Hengky malas. "Gue pergi karena gak ingin dianggap menantu tak tahu diri" kata Langit sebelum masuk ke ruang ganti.
Hengky hanya mengangguk dan senyum-senyum sendiri.
Segera ia melaksanakan perintah tuannya, mengemas baju dan keperluan Langit ke dalam koper.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Langit segera berangkat menuju Bandara. Hengky mengirim bukti pemesanan tiket ke ponsel Langit.
"buat apa kau kirim padaku?" tanya Langit
"Tanpa itu anda tidak bisa chek-in, pak" jawab Hengky.
Langit masih menerka maksud Hengky.
"Saya hanya bisa mengantar anda sampai sini, pak" kata Hengky sambil menyerahkan koper milik Langit.
-bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Chie2
ziaaaa.... istrinya Marko alias Angela.. hahahah
2024-10-04
0
Abie Mas
mau jg dtg ke malang
2024-05-31
0
nova vaw
bagus hengky,,biar di ispek ma fam senja
2024-02-19
0