Rumah Senja
Senja tidur dipangkuan Ibunya, tangan halus Ibunya membelai rambutnya. Bimo sendiri sedang asyik dengan ponselnya.
"Ibu hanya khawatir jika kamu itu tidak nyaman dan terluka disana, nak."
Senja sedang meminta pendapat Ibunya tentang permintaan Subagio.
"Senja cuma merasa ingin menolong mereka buk. Tapi Senja juga berat harus meninggalkan mas Farhan."
"Ibu nurut kamu aja nak. Selama kamu nyaman dan tidak keberatan."
Senja bangkit dari tidurnya "mereka hanya memakai namaku saja buk untuk menyelamatkan uang dan aset aset Mereka. Pernikahan ini memang hanya diatas kertas saja buk."
"Tapi kan kakak tetap tinggal dirumah pak Subagio?" sela Bimo "kalo kakak diapa-apain gimana?"
"Apa'an sih kamu ni, Dek." Senja mendorong paha Bimo dengan kakinya.
"jadi gimana keputusan kamu Nak? " tanya ibu
**********
hari minggu, di sebuah Cafe yang tak begitu ramai pengunjung. terlihat seorang wanita cantik sedang duduk di sebuah kursi yg berada di balkon lantai dua cafe tersebut.
"Selamat siang Nona Senja"
Sapaan Irawan membuat Senja berdiri. Ia mempersilahkan Irawan duduk di kursi depannya.
au pesan apa pak? biar saya pesankan."
Irawan menggeleng, "terimakasih tawarannya, tapi saya harus segera mendengarkan jawaban Nona."
'buru-buru amat sih' batin Senja
"Ada yg perlu saya tanyakan Pak."
kata Senja
"Apa benar pernikahan ini secara sembunyi-sembunyi dan pernikahan ini hanya diatas kertas?" lanjut Senja
Irawan mengangguk "Sembunyi-sembunyi yg dimaksud tuan muda adalah hanya mengundang keluarga terdekat saja dan orang orang penting perusahaan. Tidak ada media ataupun publikasi.
Pernikahan ini hanya diatas kertas, saya harap anda tidak menyalahgunakan apa yg kami titipkan pada anda."
Senja mengangguk, "bagaimana dengan tempat tinggal saya?"
Irawan tersenyum geli "Tentu saja anda akan tinggal dengan suami anda"
"Pernikahan ini kan hanya diatas kertas pak, apa tidak bisa saya tinggal dirumah saya sendiri?"
"Walaupun ini pernikahan diatas kertas, tapi tidak boleh ada yg tau nona Senja. Dan kontrak ini akan berakhir ketika keadaan perusahaan membaik ataupun jika saudara Farhan telah kembali."
Senja diam sejenak.
"segala kebutuhan keluarga Nona akan ditanggung perusahaan. Nona tidak perlu khawatir."
"B"agaiamana dengan pak Dirut? eh, pak Langit?" tanya senja
"Tuan muda mengikuti semua keputusan ini" jawab Irawan.
Senja masih diam menatap gelas di depannya. Irawan menunggu jawaban Senja.
"Saya memutuskan akan membantu pak Subagio." akhirnya Senja mengutarakan keputusannya.
Senyum sumringah keluar dari bibir Irawan
"Terimakasih karena anda memberikan jawaban yang tidak mengecewakan. Saya akan segera mengirimkan kabar gembira ini pada tuan besar."
************
Senin siang, Kantin perusahaan cukup padat.
Senja dan Enna mengantri dibarisan untuk mengambil jatah makan siang mereka.
Sepaket nasi dan lauk pauk, satu botol air mineral dan satu box kecil buah segar telah ditangan Senja dan Enna. mereka segera duduk di meja kosong. pinggir cendela kaca yang sangat lebar. terpampang taman kecil yang segar.
"Kamu ngapain sih ambil cuti lagi, Nja?" tanya Enna, sambil ngunyah makanannya.
"Ada urusan keluarga lah"
Enna menatap curiga "Ngapain lagi?? nikah?? "
"Uhuk uhuk" Senja tersedak. "Apaan sih!?"
Enna manyun, "Habis, ditanyain dari tadi gak jawab trus. ada yg kamu sembunyiin dari aku kan?"
Senja mencubit lengan Enna "gak ada En, gak ada."
Obrolan mereka terhenti ketika suasana kantin yg ramai tiba-tiba menjadi hening, hanya suara bisik bisik yg terdengar. Enna menyenggol lengan Senja, matanya menunjuk ke beberapa orang yang baru masuk kantin.
'Gila!!'
Senja melihat Langit dan staf nya berjalan masuk ke kantin. Ia langsung menundukkan wajahnya ketika tatapannya dan Langit bertemu.
Hengky berbicara dengan karyawan yg duduk di meja depan Senja dan Enna. Menyuruh mereka untuk pindah tempat.
Langit duduk persis di seberang Senja, hanya berjarak dua meja.
Hengky menyuruh karyawan lain untuk bersikap swajarnya saja. Mulailah keramaian tadi yang hilang terdengar lagi, walau obrolan mereka kini berganti.
Senja menundukkan kepalanya sedari tadi karena Senja tau jelas bahwa langit sedang menatapnya, membuat selera makannya hilang.
"Kamu bikin salah apa sih Nja? pak Dirut sampai lihat kesini terus?" protes Enna
"Mana ku tau, aku juga gak nyaman tau dilihatin gitu. bikin makanku gak enak."
Disisi lain, Alea merasa risih. Apa sih yg membuat Bos sekaligus pacarnya itu menatap wanita lain dan ini sudah terjadi kedua kalinya.
"Pak." Alea mencoba mengalihkan tatapan Langit. "Makanan anda sudah datang."
Langit menatap Hengky. Hengky sudah tau perintah bos nya itu walau tanpa ucapan.
"Bawa kembali saja Bu, Pak Langit tidak makan siang" Hengky menjelaskan pada ibu kepala kantin yang mengantar makanannya.
Langit berdiri, berjalan meninggalkan kantin diikuti stafnya.
"Apa-an sih, kesini cuma mau duduk trus pergi. Bikin gak nyaman anak buahnya aja." gerutu Enna.
Senja tak menjawab amarah temannya. Karena ia tau, Langit datang kesini juga karena dirinya.
trrt trrrt
Senja mengambil ponsel yang ada di sakunya.
'temui aku jam 7 malam di parkiran mobil'
Deg!!
Tidak ada nama pengirim pesan itu, nomor telpon juga asing. Tapi Senja tahu, siapa pengirim pesan itu.
Hawa sejuk di kantin tiba-tiba saja menjadi dingin hanya karena pesan singkat itu.
*************
Pukul 18.50 Senja berdiri di depan Lift. Hampir seluruh karyawan di lantai delapan ini sudah pulang. Karena jam kantor berakhir pukul 17.00.
tring
Pintu lift terbuka. Tapi tidak membuat Senja langsung beranjak masuk.
"Silahkan masuk Nona"
Ya, di dalam lift itu ada Langit dan Hengky. Hengky tersenyum ramah karena ia tahu wanita didepannya kelak akan menjadi majikannya.
"Terimakasih, saya akan turun lewat lift sebelah saja."
"Lepaskan tanganmu" Langit menyuruh Hengky melepaskan jarinya dari tombol yg ada di dinding lift.
Hengky mengangguk pamit pada Senja sebelum ia melepaskan jarinya hingga pintu lift tertutup kembali.
Senja begidik membayangkan jika harus satu ruangan dengan Langit.
Senja bergeser ke lift disebelahnya, tak lama pintu lift terbuka. ia masuk dan turun ke basement.
Sepi..
Selama empat tahun ia kerja di perusahaan ini, bisa hitungan jari ia menyentuh lantai basement.
Ia menatap arloji di tangan kirinya. "Kurang dua menit." Ucapnya lirih
Terdengar suara mesin mobil menyala, menggema ke seluruh lantai basement. Hingga akhirnya sebuah mobil berhenti tepat didepan Senja.
Hengky keluar dari pintu depan. Senja melihat ada Pak Bambang di balik kemudi, sopir yg pernah Memakinya di lampu merah dulu.
Hengky membukakan pintu belakang "silahkan Nona"
Senja melangkah, namun langkahnya ragu ketika melihat ada Langit juga di dalam mobil.
"'angan membuang-buang waktu gue yang berharga" ucap Langit sinis. Matanya tertutup dan kepalanya tersandar di bangku mobil.
Senja yang takut langsung masuk dan duduk disamping Langit.
Setelah menutup pintu mobil, Hengky kembali masuk duduk dikursi depan. Pak Bambang pun mulai menekan pedal gas, membuat mobil perlahan berjalan maju meninggalkan basement.
-bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Asep Suratman
dingin amat ya pa langit
2023-11-10
0
AnggieYuniar
Baca ukaang Baca ulaangg gak bosaan2 😍
2023-10-16
0
Titis Istikomah
pengen jadi senja 🧡💛💚💙💜💜😅
2023-08-21
0