"Lo gila, ya!!" protes Langit. "sepertinya akhir-akhir ini gue terlalu baik sampai lo berani nentang gue"
"Ayolaaaah Laaang, kalo gue ngikutin lu terus, semua orang akan ngira kita ini pasangan homo." Hengky bicara tidak formal pada langit.
"hei hei hei" Langit mengingatkan Hengky
"Jam kerja gue udah kelar satu jam yang lalu" kata Hengky. "ssudahlah, pergi sana. Gue dah kirim pesan ke Senja. Dia akan nunggu elu di bandara. hubungi saja dia kalo lu dah sampai"
"Gila!! gimana bisa lo biarin gue sendiri ditempat asing"
"Lo dah 27 tahun, Lang." Hengky menarik tangan Langit untuk mengambil Kopernya. "Jangan ngabisin waktu dengan perdebatan gak guna ini. waktu chek-in udah mau habis tu."
Langit akhirnya masuk juga dengan kesal. Ia tunjukkan e-ticket di ponselnya pada petugas. Melewati pemeriksaan metal detector barulah ia melakukan check-in.
Hengky memesankan economy class untuk keberangkatan Langit ke Malang. Tidak ada class bisnis malam itu, jadi dia harus menunggu di boarding room berdesak-desakan dengan orang lain tanpa pengawal dan tanpa asisten pribadinya.
Bersyukur dia karena tidak terlalu lama ia menunggu di boarding room, nomor pesawatnya sudah diumumkan di pengeras suara.
Ia harus antri di gate yang sesuai dengan instruksi dari pengumuman. Menunjukkan boarding pass pada petugas yang memeriksa, barulah ia naik ke dalam pesawat.
perjalanan ke Malang hanya membutuhkan waktu 45 menit, Langit menggunakan kesempatan itu untuk istirahat.
"Maaf pak, pesawat sudah tiba di bandar Udara Abdulrahman Saleh Malang." seorang pramugari membangunkan Langit.
Langit terbangun dan memasang wajah gantengnya. tersenyum kecil pada pramugari itu, "terimakasih"
Ia turun dari pesawat, menuju ke tempat pengambilan barang. "Gila memang si Hengky, nyuruh gue nunggu koper disini??" omelnya dalam hati
Bandara di Malang tak terlalu besar, penumpang juga tidak terlalu banyak. tak terlalu lama Langit menunggu, kopernya sudah muncul di atas baggage conveyor.
Ia segera menuju pintu keluar, petugas memastikan baggage tag yang menempel di koper Langit sesuai dengan Boarding passnya.
Langit sudah berada diluar, tapi dia tak mendapati Senja disana. Baru ia mengeluarkan ponselnya, seorang wanita yang ia kenali terlihat berlari kearahnya.
"maaf membuat anda menunggu." ucap Senja dengan nafas tak beraturan.
Senja menarik koper Langit, "biar saya bawakan" seketika jiwa budaknya keluar. Mereka mulai berjalan menuju tempat parkir.
"Terimakasih sudah meluangkan waktu anda" ucap Senja namun tak ada jawaban dari Langit.
"yang jemput kita paman saya dan Bimo, pak. paman saya hanya petani, beliau hanya tamatan SMP" kata Senja basa basi, nafasnya masih terengah-engah karena membawa koper dan tas jinjing nya sendiri.
Langit menarik koper miliknya dari tangan Senja. Entah apa yang ada di fikirannya. Kasihan melihat Senja yang keberatan atau merasa tidak enak jika paman Senja tahu keponakannya membawakan barang miliknya.
Bimo terlihat berdiri dibelakang mobil pamannya, sebuah minibus tahun 2000an.
Bimo menghampiri Langit dan Kakaknya, menarik koper Langit dan tas milik Senja. "terimakasih ya kak sudah mau datang ke peringatan Ayah" ucap Bimo ke Langit. Ia benar-benar tidak menyangka kakak iparnya ini akan datang.
"Ini juga sudah termasuk kewajibanku, Bim. Tidak ada yang lebih penting dari ini." jawab Langit.
Senja sungguh sangat terkejut. Bagaimana bisa dia menjawab ucapan terimakasih Bimo, sedangkan dia yang mengucapkan tadi dilirik pun tidak.
Langit langsung meraih tangan kanan paman Senja dan menciumnya, "salam kenal Om, Saya Langit suami Senja" Langit menyapa.
Paman Senja terkejut melihat Langit, "saya Itok. panggil aja paklek Itok. dipanggil Om kok kaya gak pantas"
"Iya paklek" Langit mengangguk
"Ayo masuk ayo masuk, sudah hampir jam satu."
Itok membukakan pintu tengah mobil, membiarkan Langit dan Senja masuk. Bimo sudah meletakkan tas dan Koper kakaknya di bagasi. Setelah semua naik, Itok mulai menjalankan mobilnya.
Sejak mobil mulai berjalan, Senja sudah memejamkan matanya. Hanya terpejam, tidak tertidur, ia tak ingin melewatkan semua obrolan di dalam mobil itu.
Senja sangat kagum dengan Langit. Sejak ia mendapat pesan whatsapp dari Hengky bahwa Langit menyusulnya ke Malang, pikirannya menjadi kacau. Bagaimana jika dia bersikap dingin, acuh dan sombong di depan keluarga Ayahnya yang mempunyai latar belakang berbeda dengannya.
Tapi kini ia lega, Sepanjang perjalanan Langit menemani Itok dan Bimo ngobrol. Langit bisa mengimbangi obrolan pakleknya, dia juga terlihat merendah, tak melebihi wawasan pakleknya.
Setelah dua jam perjalanan mereka lewati, akhirnya tiba disebuah rumah khas desa. .emiliki halaman yang luas, rumah satu lantai dari kayu dan cukup lebar.
Mendengar suara mobil berhenti, Ibu Senja langsung keluar menyambut anak dan menantunya.
Bimo membawakan tas dan Koper Langit masuk ke dalam rumah. Sedangkan Senja dan Langit menghampiri Ibu terlebih dulu.
"Terimakasih nak Langit mau berkorban waktu datang kemari" kata Ibu, terharu dengan kedatangan Langit.
Langit menggenggam kedua tangan Ibu mertuanya, "Tidak Bu. ini sudah kewajiban Langit. Langit juga minta maaf karena selalu tidak ada waktu mengunjungi Ibu dan Bimo"
Unch Unch.. Senja mendegar percakapan barusan jadi baper. Kaya pria di sampingnya itu udah jadi menantu beneran ajah.
Ibu mengangguk, "Ibuk paham, bagaimana sibuknya kamu. sudah ayo masuk ke dalam. orang-orang masih tidur. jadi kalian langsung masuk ke kamar saja ya.
Ini pertama kalinya Langit masuk ke perdesaan. Ia sangat kagum dengan desain rumah nenek Senja. Semuanya masih terbuat dari kayu.
Ruang tamu begitu lebar.. terdapat satu pasang meja kursi kayu yang cukup panjang. disisi lain tergelar karpet yang beberapa orang tidur dibawah sana. tak terusik dengan kedatangan mereka.
Ibu mengajak Senja dan Langit masuk ke dalam kamar bagian depan. Itu kamar Ayah Senja, tempat dimana Ibu, Senja dan Bimo tidur ketika pulang kampung.
"Kalian tidur disini, ya." kata Ibu "Mungkin kasurnya tidak senyaman dirumah nak Langit. Tapi Ibu harap nak Langit bisa tidur nyenyak"
Langit mengangguk, "Bu..." Ia memanggil Ibu mertuanya sebelum keluar.
"ya??"
"ibu bisa panggil saya 'Langit' saja." pinta Langit.
Ibu Senja tersenyum, mengusap lembut lengan atas Langit kemudian pergi meninggalkan Senja dan Langit di kamar.
Kasur di kamar itu cukup jika dibuat tidur berdua, namun harus sedikit berdempetan. Jadi Senja memutuskan untuk tidur di bawah menggelar Karpet.
Langit langsung merebahkan diri diatas tempat tidur. Ia tidak melepaskan jaketnya, karena udara begitu dingin. Mungkin juga karena ini rumah kayu, jadi suhu diluar menyelinap masuk lewat sela-sela papan kayunya..
"tidurlah diatas"
Senja terkejut. Langit sedang mengajaknya bicara? ia segera berdiri, tak mau membuat Langit mengulang kalimatnya, karena ia pun juga mendengar dengan jelas.
Langit sudah tidur membelakangi Senja. Senja mematikan lampunya dan perlahan tidur, membelakangi Langit juga.
"Jangan sampai ibumu melihat lo tidur dibawah. Perasaannya akan tersakiti." Lanjut Langit.
Senja tak menjawab, sekali lagi ia dibuat kagum dengan pemikiran Langit. Ia sedikit melihat sisi baik Langit disini.
-bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Moch Firman
mampir nengokin senja langit kak aiko lg kangen mereka
2024-10-31
2
Hearty 💕
Cie cie
2024-01-31
0
Se_rHa🍁
Langit Laki luh Nja woyy lahh...🤣🤣
2024-01-29
1