Jarum jam sudah menunjuk di angka satu. Langit sudah berada dikamar, berbaring diatas tempat tidur. Matanya tak ingin diajak terlelap, walaupun tubuhnya sangat menginginkannya. Ia memainkan ponselnya menunggu matanya terkantuk.
"Mas Farhan!!!"
Langit terkejut mendengar suara Senja, seperti teriakan namun sangat pelan. Langit membalikkan badannya, melihat Senja sudah duduk meringkuk.
Nafas Senja tak beraturan, tangannya yang gemetar ia kepalkan agar tak bergetar.
"mimpi buruk?" tanya Langit, tak ada jawaban dari Senja.
tok tok,
suara ketukan pintu kamar. "kak, ini Bimo." suara dari luar, Langit membukakan pintu kamar.
Bimo segera menghampiri Senja dan memeluknya "Kak, Bimo disini"
Senja melepaskan pelukan Bimo perlahan "maaf ya, kamu kebangun karena kakak" Senja meminta maaf.
"enggak, Kak. Bimo tadi belum tidur. Mau Bimo ambilin minum??" tanya Bimo
Senja menggeleng, "Gak usah, dek. kakak udah gak apa-apa. Kakak udah lumayan bisa mengatasi ini sendiri. Kamu gak usah khawatir, balik istirahat sana."
Bimo masih menatap kakaknya ragu..
"Sudah sana, lagian kan ada kak Langit yang nemenin kakak." Senja meyakinkan Bimo, ia melirik Langit yang sedari tadi berdiri di pinggir pintu kamar, mencoba memahami keadaan.
"Iya Bim, kamu balik tidur aja. Biar kakakmu aku yang jaga" kata Langit.
Bimo berdiri, "Tidur lagi ya, kak" kata Bimo kemudian keluar kamar.
Langit kembali ke atas tempat tidur, menarik selimut dan membelakangi Senja.
"Maaf sudah membuat waktu tidur anda terganggu" ucap Senja, tak ada jawaban dari Langit. Ia mematikan lampu kamar, mencoba menenangkan diri melanjutkan tidurnya.
**********
Siang hari, cuaca di Malang sangat cerah. Hari ini Senja, Langit dan Bimo akan kembali ke Jakarta. sedangkan Ibu masih akan tinggal beberapa waktu di Malang.
Setelah berpamitan dengan saudara-saudara, Itok mengantarkan keponakannya ke bandara. Mereka semua sampai lebih awal di bandara, melakukan check in lebih awal dan langsung menunggu di boarding room.
"Dek, bawa minyak kayu putih gak??" tanya Senja ke Bimo, ia merasa mual-mual.
Bimo menggeleng, "Kakak kenapa?"
"Mual-mual dek"
"Jangan-jangan kakak hamil??"
tebakan bimo langsung mendapat respon tatapan tajam dari Senja dan Langit.
"Becanda kook, jangan sakiti aku dengan tatapan kalian." Canda Bimo "Nih pasti habis kebangun kemaren kakak gak bisa tidur lagi?"
Senja menggeleng, "enggak kog. Udah ah, kakak ke toilet dulu" kata Senja berlalu pergi.
"Emang bener kak, semalem dia tidur lagi?" tanya Bimo ke Langit.
Langit diam berfikir, lalu mengangguk "ngorok-ngorok malah" jawab Langit asal.
"Tahun lalu kak Senja pernah disuruh lihat salah satu jenazah korban kapal tenggelam yang dinaiki mas Farhan. Sejak saat itu kak Senja susah tidur, dan kalo tidur sering banget teriak-teriak nama mas Farhan." Bimo tiba-tiba menceritakan hal yang mungkin membuat Langit penasaran, "kak Langit pasti keganggu terus tidur malamnya?"
Langit menggeleng, ia menyandarkan badannya ke kursi. "emang tiap hari dia kaya gitu?" Langit balik tanya.
"lho, berarti ini pertama kalinya kak Langit lihat??"
Langit mengangguk
"Berarti beneran nih, udah sembuh dia. Kasurnya orang kaya memang beda ya??" Bimo cengar cengir
"ya jelas lah." Langit menanggapi
"betewe nih, kak Langit dah pernah pegang kak Senja belom??" Tanya Bimo menggoda.
"weh, eit eit eit.." Langit menatap Bimo "Gak bagus ini, obrolan ini terlalu jauh buat anak SMA.."
"Kan penasaran bang" goda Bimo lagi
"pa-an sih lo, ngobrolin gituan. Lagian kita ini gak terlalu dekat buat ngobrolin gituan"
"Yaudah" Bimo meraih ponsel Langit, mengusapnya. "lho, gak dikunci??" Bimo terkejut
"Buat apaaa???" Langit ingin merebut ponselnya tapi ditangkis Bimo
Bimo menekan beberapa tombol angka di layar ponsel, dan melakukan panggilan ke ponselnya. "Nah, aku dah punya nomer kamu kak. nih, nomerku" ia mengembalikan ponsel langit, "Dan mulai sekarang, mari kita semakin mendekat"
"Kalimat lo bikin gue merinding, Bim" bahu Langit bergidik. "mending gue deketin cewek daripada deket sama lo"
"gila kali kak aku mau jadi pasangan homo kamu"
"hahahahaha" Langit tertawa
"hush!!" Langit menempelkan jari tulunjuknya dibibirnya. "selama aku kenal kak Lagit. aku belum pernah lihat kakak ketawa. Ternyata jelek, makanya kamu selalu pasang tampang cool biar kelihatan ganteng ya kak"
"gue emang ganteng"
"tapi tua, hahahahaha"
"ngejek, Lo. Cewek mana yang gak bisa gue dapetin? gue kaya, ganteng, mandiri. tipe idaman banyak cewek lah" Langit membanggakan diri
"ada tuh, kak Senja."
"Emang kenapa dia?" tanya Langit
"Ya gak suka sama kamu, kak"
Langit mencibir
"ttiap pulang kerumah, curhatnya yang jelek-jelek aja tentang kak Langit. Belum pernah denger aku kak Senja cerita tentang kebaikan kak Langit" kata Bimo
"Sial, cerita apa aja dia?" tanya Langit penasaran
"Banyak lah, ku kira kak Langit manusia dingin yang sedikit bicara. Tapi setelah kemarin kita ngobrol, kakak orangnya asyik juga"
"Lo kemakan omongan kakak lo tuh." protes Langit.
Bimo cekikikan.
Dari kejauhan Senja memperhatikan dua pria itu sedang asyik ngobrol. dia tidak menyangka bossnya yang selama ini selalu diam dan hanya bicara seperlunya saja ternyata bisa seakrab itu dengan adeknya.
Senja bersyukur, ternyata Langit bisa memperlakukan keluarganya dengan baik. tidak memandang siapapun itu.
**********
Di bagian tempat yang lain, rumah Hengky.
Hengky dan Marko alias Anggela sedang asyik maen game, menikmati waktu libur mereka atau lebih tepatnya waktu libur Hengky yang jarang sekali ia temui.
"Sudah Ky, Marko... Ayo cepat makan siang!!" teriak Nensi, Ibu Hengky
"Anggela, tante. Anggela." teriak Marko yang protes nama Aslinya disebut.
cetak!!
Nensi memukul kepala Marko dengan sendok kayu. "Mana ada anak gadis main pe-es gini" Goda Nensi kemudian duduk di Sofa.
"Ada, nih aku" jawab Marko tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.
"Hallo hallo, Selamat sore"
tiba-tiba masuk seorang wanita cantik berambut panjang masuk dan menyapa penghuni rumah yang kebetulan sedang berkumpul di ruang tengah. langsung menuju sofa memberikan cipika cipiki pada Nensi.
"hallo Alea, apa kabar?" Tanya Nensi
Alea duduk di samping Nensi, "Baik tante.. tante apa kabar?"
"Baik.. Makan siang yuk, tante baru selesai masak. tapi belum ada yang mau makan."
Alea menggeleng, "enggak Tante, aku harus diet" tolak Alea sambil mencubit lemak tipis di perutnya.
"Badan udah setipis pembalut gitu masih mau diet" Marko memberikan tanggapan, matanya masih fokus di layar dan kedua tangannya masih sibuk pencet-pencet stick.
"Mulai deh nyinyir" Alea menendang pelan punggung Marko dari tempatnya duduk
"Pa-an sih.. kalo kalah lo gue makan!!"
Alea dan Nensi hanya cekikikan.
"Tumben hari ini lo santai, Ky?" tanya Alea
"Ya iyalah, Bos nya lagi nemenin istrinya ke luar kota." jawab Marko, langsung mendapat tatapan sinis dari Hengky.
"kkemana? ngapaen?" tanya Alea, kini ia sudah duduk di karpet sebelah Marko.
"Ayahnya Sen.... "
Hengky langsung menutup mulut Marko dengan telapak tangannya "Diterusin mampus Lo, Ko!!"
"Sen, siapa?? Lo juga tau siapa istrinya Langit?" Alea semakin penasaran.
"Ya Iyalah.. gue yang make up dia pas nikahan." jawab Marko
"Udah ah, gak mood maen. Ayo makan Ko." Hengky meletakkan stick pe-es nya dan berdiri menuju dapur, diikuti Marko.
"Ayo, Al. ikut makan." Nensi berdiri, mengikuti putra semata wayangnya
Alea masih sebal. Diantara 4 sahabat ini, yang tidak tahu istri Langit hanya dia seorang.
Langit, Alea, Marko dan Hengky sejak kecil sudah bersahabat.. Alea sendiri sudah kehilangan kedua Orangtuany sejak ia kecil. Kemudian ia dibesarkan oleh orangtua Marko. karena kebetulan Orangtua mereka berempat juga bersahabat, jadi sedari kecil mereka sudah bersama.
Alea melihat ponsel Marko yang tertinggal di atas karpet. Alea langsung mengambilnya, mencoba beberapa pola yang ada di layar untuk membuka kunci ponsel.
"dih, tetap aja pola ginian dipake." kata Alea ketika berhasil membuka kunci ponsel Marko.
Ia langsung membuka galery foto, men-scroll hari dimana Langit menikah. Ya, dia menemukan sebuah foto Marko dengan seorang wanita yang memakai dress pink.
Alea menggeser, menemukan foto close up wanita yang sebelumnya foto dengan Marko. "gue kaya pernah lihat ni anak. tapi dimana ya?"
Alea buru-buru mengirim file foto itu ke hp nya, kemudian meletakkan ponsel Marko kembli ke tempat semula.
Alea duduk di sofa, mencoba mengingat-ingat siapa perempuan difoto itu.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
nova vaw
markonaaahhh lo nya bikin kesel
2024-02-20
0
Asep Suratman
ketauan deh
2023-11-10
0
Wayan Raningsih
Mandiri apaan...apa² masih ngandelin Hengky
2023-09-19
0