"Kekuatan itu begitu besar dan kuat sehingga aku jatuh terkulai tak bisa mengontrolnya."
****************######*****************
Senja Point Of View
Hembusan angin pagi mulai menyapaku, ia dengan hangat membelai wajahku ini. Helai-helai rambutku yang tergerai mulai limbung dengan seruan angin yang membuatku terbangun dari tidur nyenyak. Perlahan aku membuka mataku dan kulihat Dian sudah ada ditempatnya dengan sebaskom air hangat seperti biasa.
Aku lalu membaringkan tubuhku dan melihat dinding kamar. Aku tidak menyangka setelah hari pengujian hidupku akan berubah total. Kini aku tidak akan memakai nama Bulan lagi melainkan Senja. Aku sudah bertekad jika ini memang yang diinginkan oleh takdir maka aku akan menjalaninya. Aku lalu bangkit dari tidurku dan mendekati Dian.
Aku lantas membasuh wajah ku dengan air hangat dan mengelapnya dengan handuk. Kulihat Amel sedang berdiri di depan pintu dengan nampan berisi teh dan kue kering.
"Dian siapkan bajuku seperti biasa dan suruh Amel untuk memanggil Eza."
Dian hanya mengangguk tanda ia mengerti, aku lalu segera pergi ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Dian sudah menyiapkan segalanya yang aku butuhkan. Aroma kamar mandi ini penuh dengan bau lavender dan jeruk, bau yang sangat aku sukai. Aku memakai sabun beraroma lavender dan minyak kulit beraroma jeruk.
Setelah selesai mandi Dian lantas membantuku mengenakan pakaian. Hari ini aku sengaja menggunakan baju berwarna perak sesuai dengan warna rambut baruku, meski terlihat berbeda tapi warna rambut yang baru ini sungguh cantik dan unik.
Untuk bagian kepala aku sengaja menggunakan hiasan bunga lily berwarna biru dan juga jepit rambut berbentuk mawar emas sehingga menambahkan kesan anggun untuk penampilanku ini. Aku juga menggunakan kaus kaki panjang berwarna hitam dengan ukiran bunga mawar emas disepanjang garisnya.
Setelah semua persiapan selesai aku lantas mengambil pedang ku dan pergi menuju ruang makan di lantai bawah asrama. Ketika dalam perjalanan menuju kantin aku secara tidak sengaja bertemu dengan Muna dan juga Luna, mereka terlihat cukup akrab.
"Selamat pagi putri Luna dan Nona Winter," sapa ku sambil menunjukkan senyum polos.
Mereka berdua berbalik arah dan melihatku.
"Selamat pagi kembali Nona Ari," jawab Luna ramah begitu pula dengan Muna.
"Apa kau sedang menuju ruang makan?" Anehnya, aku sudah terbiasa dengan wajah dingin Muna. Meski begitu, wajah polos ku ini sedikit berkerut takut.
Aku tidak ingin muna tahu jika aku tidak lagi takut dengannya, setidaknya untuk beberapa hari ini saja.
"Iya benar. Apa kalian berdua juga sama?" tanyaku sambil memasang wajah penasaran.
Bangsawan lainnya yang melewati lorong itu menatapku begitu tajam, mereka juga mencibirku diam - diam.
"Iya. Kami berencana untuk pergi kesana," jawab Luna sambil melihat para bangsawan yang sedang mencibirku.
"Kalau begitu bagaimana jika kita pergi bersama?"
" Ah iya, kalian bisa memanggilku Senja," Aku dengan sopan memperkenalkan diri, meski tidak perlu juga karena siapa sih di kerajaan ini yang tidak mengenal nama dan reputasi ku, ya meski itu bukan reputasi baik.
"Kalau begitu kau bisa memanggilku Luna," Putri kerajaan ini tersenyum lembut pada ku, ia terlihat ramah dan menyenangkan, seperti putri kerajaan pada umumnya, maksud ku tentu saja putri kerajaan di novel bukan real life.
Luma kemudian melirik ramah ke arah Muna. Ia mencoba menggunakan telepati nya melalui gerakan mata.
"Kau juga bisa memanggilku Muna sama halnya dengan Luna," Muna terlihat tertekan dengan tatapan putri Luna yang tajam namun masih tetap tersenyum ramah.
Dari jauh aku melihat Arina yang sedang berjalan dengan Dira dan beberapa anak bangsawan lainnya. Ketika kami berpapasan Arina sengaja mendorongku namun aku berhasil menghindar dan alhasil Arina malah terjatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan padaku Senja?" teriak Arina dengan wajah memerah. Semua orang yang ada di lorong itu menatapku dengan pandangan benci mungkin ini didasarkan pada reputasi Senja yang buruk sejak awal.
"Kau..., dasar tidak tahu malu!" Putri Dira melihat ku dengan tatap jijik diwajahnya.
"Kau tidak seharusnya melakukan itu pada Arina meskipun ia telah mengambil tunangan mu," Lanjut Dira kesal.
Aku hanya menatap Dira dengan pandangan datar. Aku bahkan tidak bisa berkata - kata dengannya jika itu menyangkut pangeran kelima. Lagi pula siapa di kerajaan ini yang tidak tahu bahwa Dira adalah adik tersayang pangeran kelima.
"Memangnya seberapa ganteng pangeran kelima sampai aku harus merelakan reputasi sejauh ini."
Gerutu ku dalam hati, aku juga tahu jika Senja asli hanya menyukainya dengan tulus dan semua kejahatan itu adalah hasutan.
"Hmm, jadi dengan kata lain meskipun Senja asli belum move on namun dia tidak sebodoh itu sampai harus mengejar pangeran kelima."
Mungkin saya Senja asli hanya menganggap pangeran kelima sebagai harapan hidup untuk melarikan diri dari mansion Duke Ari.
"Sungguh kasihan." ejek ku sambil melihat Dira dengan polosnya.
Sebenarnya Muna dan Luna mengetahui jika Arina sengaja ingin mendorongku namun ia gagal dan terjatuh.
"Kau memang tidak pantas ada di akademik ini, sebaiknya kau tinggalkan saja tempat ini," ejek Tasya yang di ikuti anggukan oleh Mari dan anak bangsawan lainnya.
Aku lalu menarik sudut bibirku dan tersenyum sambil menatap Dira dan sekilas melirik pada Arina. "Aku tidak tahu bahwa seorang putri memiliki penglihatan yang sangat buruk, terlebih lagi..."
Aku menghentikan kalimat selanjutnya, lalu dengan sengaja melirik ke arah Tasya dan mereka yang mengikuti Dira dibelakangnya.
"Sudah jelas jika Arina, adik ku tersayang ini terjatuh karna kakinya yang lemah. Lantas kenapa aku yang disalahkan? Apa kita perlu melihat video rekaman, baru anda bisa mempercayai saya, putri Dira De Green?" tanya ku dengan wajah mengejek dan aura intimidasi yang kuat.
Aku sengaja mengeluarkan aura intimidasi dan juga keanggunan ku agar mereka tahu siapa lawan mereka sesungguhnya.
"Kenapa aku harus cemburu dengan adik ku yang bahkan tidak bisa mendapatkan posisi permaisuri utama dikediaman pangeran. Dia hanyalah anak selir lantas hal apa yang membuatku mencoba untuk menyakitinya kecuali ia yang akan menyakiti ku dengan merebut tunangan ku, seharusnya ia merasa malu dengan kakaknya ini."
Aku bisa melihat tubuh Dira dan juga Tasya serta anak bangsawan lainnya bergetar. Wajah mereka terlihat pucat, hal yang sama juga terjadi pada Luna dan Muna. Aku lantas meredakan sedikit aura intimidasi dan hanya memancarkan aura ke anggunan saja.
"Dan kau, Nona Callista sebaiknya kau tidak ikut campur dalam urusan keluarga Duke Ari. Jika pun aku harus keluar dari akademik ini, aku hanya akan keluar dengan keinginan ku sendiri," tambah ku sambil menatap dingin mereka.
"Adik, seharusnya kau melihat hal ini dengan jelas," Luna yang sejak awal diam, kini mulai ikut berbicara. Ia merasa perubahan suasana ini akan berbahaya jika tetap dilanjutkan.
"Senja sebaiknya kita segera keruang makan, waktunya sudah hampir habis," Luna menarik tangan ku lembut, ia juga menyuruh Muna untuk menjaga kami dari belakang. Tentu saja itu dilakukan dengan tatapan mata seolah melakukan telepati antar teman.
Dira yang marah dengan sikap lancang ku mulai menatap Luna dengan penuh kebencian. Tidak hanya itu, wajah Arina pun terlihat pucat begitu juga dengan Tasya.
****
Di ruang makan aku sudah disambut oleh kedua anak kembar yang melambaikan tangan mereka dari kejauhan. Mereka terlihat begitu manis dengan setelan yang sama.
"Duduklah disini Nona Ari," teriak Maya sambil menunjukkan kursi didepannya yang kosong.
"Apa kalian tidak ingin memberiku tempat duduk." Canda Luna dengan wajah tersakiti, melihat itu Zakila dan Maya lantas berdiri dan terlihat sedikit panik.
"Ya, ya ampun putri maaf kami tidak melihat anda. Silahkan duduk," tutur Zakila sambil menyodorkan kursi disampingnya. Luna hanya tersenyum dan memukul pelan pundak Zakila.
"Tidak usah segan terhadapku, kita kan satu angkatan berarti kita ini teman," tutur Luna sambil melihat ke arah Muna yang masih diam seperti batu.
"Muna duduklah disini," Luna menunjuk kursi kosong di sebelahku, lantas aku melihat Muna dan tersenyum.
"Duduklah Muna," lirih ku sopan. Kedua anak kembar itu memang terlihat unik. Mereka membuat suasana menjadi ceria seketika.
Beberapa saat setelah makanan yang aku pesan datang, Dira dan Arina serta komplotannya pun sampai. Wajah mereka terlihat pucat dan juga ada sedikit rasa kesal pada wajah itu.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Mari yang sedari tadi sudah ada di ruang makan.
Dira lalu melihatku sekilas dan menatap Mari, terlihat jika Dira begitu kesal dengan segala keluh kesahnya. Mari lantas menatapku dengan pandangan benci, entah apa yang diceritakan oleh Dira yang pasti mereka semua yang ada di tempat itu menatapku dengan marah.
"Senja, ternyata rambutmu cantik sekali. Ada warna hijau juga walau samar," tutur Zakila penuh semangat. Luna dan yang lainnya juga melihat warna rambutku dan mereka terlihat kagum.
"Warna perak ini, jika terkena sinar matahari apakah akan bersinar dengan terang seperti waktu itu." Lanjut Zakila sambil menerawang kejadian ketika hari pengujian.
"Apakah seperti itu?" Muna terlihat begitu penasaran, ia lalu memegang rambutku dan mengelusnya.
"Lembutnya."
Mendengar itu Luna pun mengikuti gerakan Muna dengan mengelus rambutku juga, hal yang sama juga dilakukan oleh Zakila dan Maya.
"Seperti kucing," tutur Luna dengan wajah berbinar.
"Kau mirip dengan Lulu, kucing ku." Kini Luna menatap Senja seolah - olah ia adalah seekor anak kucing.
"Itu benar," timpal si kembar.
Aku hanya bisa tersenyum canggung rasanya begitu aneh bila kepala ku dielus oleh orang lain.
"Ah baiklah jangan dielus lagi, aku ingin makan," lirih ku tidak nyaman, Luna lantas tersenyum dan mencubit pipiku.
"Kau terlihat imut sekarang tapi tadi kau sangat menyeramkan, sekilas kau terlihat seperti iblis berwajah malaikat untuk ku tadi,"
"Memangnya apa yang terjadi barusan?" tanya Maya penasaran. Luna lalu menceritakan semua yang terjadi pada kami di lorong ketika hendak pergi ke ruang makan.
"Kau benar - benar hebat Senja, kudengar jika keluarga Callista itu cukup berkuasa terlebih lagi setelah anak sulung mereka menikahi raja sebagai selirnya." tutur Zakila penuh antusias.
Luna yang mendengar penuturan Zakila pun angkat bicara. Luna menceritakan semua yang ia ketahui tentang keluarga Callista dan juga tentang Dira.
"Lain kali kau harus berhati - hati Senja karena mereka bisa saja menyakitimu. Ibu ku bahkan memberiku nasihat untuk tidak ikut campur dalam masalah mereka," jelas Luna panjang lebar kepada kami semua.
"Tapi kau tenang saja jika mereka berani mengganggumu maka aku akan membelamu, keluarga Winter bahkan tidak pernah membiarkan sahabat mereka terluka sedikitpun," Muna dengan percaya diri menyombongkan keluarganya.
"Aku pun akan membantumu karna kita sudah menjadi sahabat maka masalahmu adalah masalahku juga," Luna dengan lembut menggenggam tanganku.
"Walau kami dari negara tetangga dan keluarga kami bukankah bangsawan yang hebat tapi kami berdua berjanji akan melindungi mu dan tidak akan meninggalkanmu sendirian," tutur si kembar dengan wajah penuh semangat sambil menatap tajam ke arah Tasya.
"Terima kasih karena kalian telah mau mendukungku terlebih lagi karna kalian sudah mengetahui tentang siapa aku sebenarnya dan juga tentang rumor itu," tutur ku dengan wajah sendu.
Aku sengaja memasang wajah seperti itu untuk melihat reaksi mereka.
"Setelah melihatmu aku jadi mengetahui bahwa kita tidak boleh mempercayai rumor semata. Kau begitu anggun dan tenang, kau juga sangat baik. Siapa pun yang menyebarkan rumor itu pastilah orang yang membencimu dan ingin dirimu dijauhkan," seru Muna sambil menerawang kembali kejadian saat Senja pingsan di kediamannya.
"Kurasa itu karena statusku sebagai putri utama Duke Ari yang terbuang," jelas ku dengan wajah sedih dan air mata yang mengalir. Mereka lantas memeluk ku dan memberikan semangat.
"Mungkinkah hal itu terjadi karena mereka ingin posisimu?" tanya Muna penasaran.
Aku hanya mengangguk kecil, sekilas ku lihat Muna mengepalkan tangannya lantas melirik kepada Arina dan juga Sarah yang baru saja datang.
"Ada permainan disini." Lanjut Muna, walau ia terlihat kaku tapi nyatanya Muna itu cukup perhatian.
Muna lalu menceritakan yang terjadi padaku tentang rumor bunuh diri itu. Pagi itu sungguh kacau, setelah sarapan pun wajah mereka berempat masih terlihat kesal.
Mereka kini menyadari bahwa tidak semua berita itu benar dan kepalsuan dari senyum itu sungguh kejam. Setelah selesai sarapan pagi, kami pun berpisah. Aku dan Luna menuju ke aula akademik untuk menerima tongkat sihir sedangkan Muna dan Maya, mereka langsung pergi ke ruang kelas umum, untuk Zakila karena ia adalah seorang guardian sehingga ia harus pergi menuju area hutan.
****
Untuk semester pertama semua pelajaran dari setiap bidang itu sama sedangkan di semester kedua baru semuanya akan dipisah, karna aku dan Luna adalah penyihir jadi kami harus memilih tongkat sihir terlebih dahulu sebelum datang ke kelas umum.
"Kurasa ini akan lama," tutur Luna sambil melihat ke sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh beberapa penyihir kelas atas.
"Mungkin mereka ingin menguji sebelum benar - benar digunakan," tutur ku sembari duduk disalah satu kursi di sudut aula.
Dari jauh kulihat Arina dan Sarah dengan kelompoknya masing - masing, walau mereka membenciku tapi mereka enggan untuk bersama.
"Selamat datang penyihir muda, namaku Aila dan aku adalah salah satu guru akademik sihir ini."
Seorang wanita paruh baya datang dari arah berlawanan, ia terlihat begitu luar biasa dengan pakaian serba putih dan sebuah tongkat silver ditangan kirinya.
Usianya sudah tidak muda tapi perawakan dari Miss Aila terlihat muda. Aura yang keluar darinya pun begitu tegas dan anggun. Miss Aila lalu memberikan kata pengantar dan menjelaskan tentang seluk beluk dari gedung sihir, meskipun akademik ini terlihat kecil tapi sebenarnya ini cukup luas di dalamnya.
Gedung untuk setiap bidang itu terpisah, gedung para ksatria ada di sebelah timur aula akademik sedangkan untuk gedung para guardian ada di bagian selatan aula akademik dan untuk gedung penyihir itu ada di bagian barat aula akademik dekat dengan air terjun, serta untuk gedung kelas umum berada di bagian Utara dari aula utama akademik.
Setelah selesai menjelaskan tentang seluk - bekuk akademik, Miss Aila pun menyuruh salah satu senior untuk mengambil alih karena dirinya ada urusan penting dengan kepala sekolah.
Senior itu bernama Jacob de Rain, wajah kak Jacob sungguh tampan ada lesung pipi di wajahnya ditambah lagi bibirnya yang sexy dan bentuk tubuhnya yang atletis membuatnya terlihat lebih sempurna.
Kak Jacob pun memanggil nama penyihir muda satu - persatu untuk diberikan tongkat sihir. Nama yang pertama kali dipanggil adalah Sarah, terlihat dari wajahnya yang memerah aku yakin jika Sarah tertarik dengan kak Jacob.
Ketika sampai di panggung Sarah dipersilahkan untuk berjalan melingkar pada sebuah meja yang isinya penuh dengan tongkat sihir.
"Biarkan tongkat ini yang memilih siapa tuannya," tutur kak Jacob kepada Sarah dan juga kami semua.
Lama Sarah berkeliling akhirnya sebuah tongkat berwarna merah dengan ukiran elang naik ke udara seketika wajah Sarah menjadi senang, ia lalu mengambil tongkat tersebut dengan senyum sombongnya.
"Cobalah kau gerakan tongkat itu ke sana."
Kak Jacob menyuruh Sarah mengayunkan tongkatnya ke arah taman dan hasilnya keren sekali.
Bunga di taman itu membeku namun itu tidak berlangsung lama karena langsung dimatikan oleh salah seorang senior yang berada di lantai dua aula.
"Bagus, selanjutnya adalah Arina De Ari."
Sama seperti Sarah, Arina naik ke atas podium dengan sombong.
Ketika ia baru saja sampai di depan meja, salah satu tongkat berwarna violet langsung terbang kearahnya. Hal yang sama juga di lakukan Arina untuk menguji kekuatan tongkat tersebut, selanjutnya adalah giliran Dira De Green.
Dira naik keatas podium dengan sombong seolah dialah ratunya, di atas podium sebuah tongkat berwarna hijau lumut sudah menunggunya.
Dira begitu senang dan memainkan tongkatnya dengan angkuh. Semua penyihir muda sudah dipanggil yang tersisa hanyalah aku dan Luna. Ketika Luna naik keatas panggung, sama seperti Dira tanpa perlu waktu lama sebuah tongkat berwarna kuning emas melayang ke arahnya, tongkat itu sangat cantik dengan ukiran bunga Lily di setiap bagian sudutnya.
Kini giliran ku, ketika namaku di panggil semua senior yang ada di lantai atas menatapku. Mereka melihat diriku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Para senior itu berbisik - bisik tentangku yang mendapatkan dua elemen di acara pengujian.
Mereka penasaran dengan seberapa besar kekuatanku. Kak Jacob yang mengetahui kondisi itu pun lantas melihat ke arah temannya dengan tajam agar mereka berhenti menatapku seperti binatang buas yang siap untuk menerkam.
Ketika aku naik ke atas panggung, kulihat begitu banyak tongkat dengan warna yang berbeda dan juga ukiran yang berbeda pula. Ketika aku hendak berjalan semua tongkat naik ke atas udara, aku sedikit terkejut dengan itu namun aku berusaha untuk mengontrol emosiku agar terlihat tetap tenang.
Aku melangkah untuk memastikan tongkat mana yang sesuai dengan diriku. Kulihat sebuah tongkat berwarna silver dengan goresan biru muda, di tongkat itu terukir bulan sabit dengan goresan emas di setiap garisnya.
Aku lantas memilih tongkat tersebut dan seketika semua tongkat yang tadinya terbang ke udara hancur terbakar tanpa sebab, semua yang ada di aula terkejut termasuk diriku.
Kulihat kak Jacob pun tidak bisa menahan rasa terkejutnya dan melihat ke arah teman - temannya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Semua senior di lantai atas pun kini turun kebawah.
Mereka melihatku dengan pandangan yang berbeda - beda ada yang memandangku dengan takjub ada juga yang memandangku dengan rasa iri dan juga benci.
Aku kemudian menatap kak Jacob yang dibalas dengan senyum hangat, walau aku tahu dia kaget dengan apa yang terjadi barusan tapi dia cukup kompeten untuk tugas ini.
"Lakukanlah." kata kak Jacob sembari menunjuk ke arah taman.
Aku kemudian mengayunkan tongkat itu ke arah taman dan seketika taman itu hangus terbakar dengan api yang bergejolak dan angin yang kencang, itu menambahkan kekuatan api tersebut untuk cepat menyebar.
"Lihatlah apa yang kau lakukan," seru Sarah dengan wajah yang begitu kesal.
"Kau akan membakar habis tempat ini," lanjut Arina kemudian.
"Dasar pembawa sial." Kini Dira yang mulai memprovokasi semua orang di tempat itu. Melihat hal itu Luna lalu berlari ke arahku. Ia mencoba untuk melindungi ku dari Dira dan juga teman - temannya.
"Ini bukan salah Senja, jika itu memang terjadi maka kau lah orangnya," tutur Luna dengan tajam.
Melihat Luna yang membelaku membuat aku sedikit tenang. Aku lalu menatap kembali api yang sedang berkobar dengan hebat yang sedang coba dihentikan oleh kak Jacob dan juga senior lainnya.
Aku lantas mengayunkan kembali tongkatku dan membuat api itu menghilang seketika. Entah apa yang terjadi, aku hanya ingin api itu hilang dan seketika semua kerusakan itu kembali seperti semula seolah - olah tidak pernah ada kehancuran disana.
Aku lalu menatap Dira dan juga kedua saudariku itu, suasana tiba - tiba menjadi mencekam. Aku yang merasa kesal karna provokasi dari Dira dan juga Sarah mengeluarkan energi yang cukup pekat dan hitam, aku menatap mereka semua dengan aura intimidasi yang kuat.
Seketika mereka semua yang ada di tempat itu berlutut kecuali kak Jacob, aku sungguh marah sampai tidak terkontrol. Aku membuat dinding aula retak dan seluruh kaca pecah, kak Jacob yang panik mencoba untuk menenangkan ku sedangkan Luna kini menjadi begitu lemah.
Mereka tidak bisa menegakkan tubuhnya kembali, beberapa di antara senior dan penyihir muda yang lainnya mengeluarkan darah dari hidung dan telinganya.
Suasana menjadi cukup mencekam, aku merasakan sesuatu yang aneh mengalir keluar tiba - tiba dari tubuh ku. Energi itu begitu dahsyat sehingga aku tidak bisa mengendalikannya.
Tubuh ku mulai terasa berat dan tanganku mulai melemah, tongkat yang ku genggam pun mengeluarkan cahaya putih terang dan aku sudah tidak menyadari apa pun lagi. Aku dapat melihat Miss Aila dan beberapa orang guru dengan pakaian berbeda datang menghampiriku, mereka mencoba menggenggam erat tanganku tapi gagal.
Aku semakin tidak terkendali, energi ini terus mengalir tanpa hentinya sehingga tubuh ku sudah tidak sanggup lagi. Aku merasa kepalaku hendak pecah dan seluruh tulang ku remuk dan patah, aku merasa pusing dan seketika cahaya gelap mulai menghampiri ku.
Tubuhku jatuh terkulai dilantai dengan darah yang mengalir keluar dari mulutku dengan samar aku melihat Luna yang begitu panik, ia terlihat menangis di sampingku. Aku merasakan sentuhan seseorang yang menggendongku erat dan aku merasakan sesuatu yang aneh menempel di bibirku.
Aku tidak bisa merasakan apapun setelahnya, hal terakhir yang kulihat adalah sesosok pria tampan yang ku temui di toko pengrajin besi setelahnya tubuhku menjadi dingin dan cahaya gelap pun mulai merasuki penglihatan ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
ウランダリ デウィ
wahhh semangat
2021-04-04
0
Nilaaa🍒
hadir kembali kk
semangat selalu
2020-06-15
1