"Setia tidak bisa dipaksakan tapi dengan harapan setia akan terwujud."
**************#######*****************
Hembusan angin malam masuk menyeruak ke dalam tubuh mungil Bulan. Udara semakin dingin dan malam semakin larut. Mengingat tentang dua hari lalu yang membuatnya tak bisa tidur tenang. Kini perasaan itu entah mengapa semakin kuat.
Bulan berjalan di taman paviliunnya berharap bisa mendapatkan ketenangan, dengan selimut tebal yang bertengger di atas pundaknya. Bulan semakin waspada, ia melihat ke sekeliling memastikan bahwa tidak ada yang mengawasinya saat ini.
Setelah asik berjalan santai Bulan pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia tidak ingin terus larut dalam pikirannya tersebut.
"Besok sudah saatnya," lirih Bulan saat hendak merebahkan tubuhnya ke kasur.
Ketika matanya hendak tertutup Tania sengaja Bulan dikejutkan dengan sosok bayangan hitam yang berada di atas pohon sebelah jendela kamarnya. Bulan yang kaget kemudian melirik tajam ke arah pohon tersebut.
"Sepertinya aku memang harus memiliki ksatria penjaga."
Bulan memutuskan untuk tidur, ia sengaja tidak melaporkan hal ini pada Duke karena mungkin saja itu merupakan suruhan dari saudarinya Senja yang cemburu padanya.
****
Hutan Nievia
Nievia adalah hutan hujan tropis yang berada di ujung ibu kota. Hutan ini begitu lebat sehingga sangat jarang ada warga yang mau masuk hutan tersebut. Jika pun ada, tentunya mereka memiliki tujuan yang penting untuk masuk kesana.
Hutan Nievia bukanlah hutan yang dilarang untuk dimasuki, hanya saja karena pohon yang tumbuh disana begitu lebat, sehingga banyak warga yang sering tersesat dan ujung - ujungnya menjadi santapan hewan liar.
Meski begitu hutan ini memiliki pesona tersendiri bagi banyak pihak. Mereka terkadang datang ke hutan itu untuk berburu, atau hanya sekedar mengumpulkan tanaman obat. Tentu saja, mereka hanya berani berkeliaran di pinggiran hutan saja.
Siapa yang tahu jika di kedalaman hutan tersebut terdapat sebuah rumah tua yang masih berdiri kokoh. Rumah itu dikelilingi oleh tumbuhan herbal dan bunga langka, termasuk red spider Lily.
Di halaman belakang rumah tua itu terdapat seorang pria muda yang tengah berlatih ilmu bela diri. Ia terlihat begitu ahli dalam mengayunkan pedangnya. Keringat deras bercucuran dari tubuhnya yang kekar dan menandakan betapa seriusnya latihan tersebut.
"Tuan, tidak ada hal khusus darinya." Pelayan itu datang sambil membawa handuk.
"Apa kau yakin?" tanya pria tampan itu yang di jawab anggukan kepala oleh si pelayan.
"Baiklah kalau begitu hentikan saja penyelidikannya." Pria tampan itu kemudian berjalan memasuki rumah sambil mengelap keringat di wajahnya.
"Tuan, bagaimana dengan penjualan barang ilegal itu?" tanya si pelayan setelah memasuki rumah. Pria tampan itu hanya menatapnya dengan dingin sambil berkata,
"Usut dulu sampai kita menemukan bukti yang valid." Setelah mendengar perintah Tuannya, pelayan itu lalu mengangguk dan pergi meninggalkan rumah.
****
Di kediaman Duke Ari, seorang pelayan seperti biasa sedang sibuk mengerjakan tugasnya masing - masing. Hari ini adalah hari penting bagi Bulan. Segera setelah ia bangun dari tidurnya, ia langsung bergegas ke ruang kerja Duke.
"Selamat pagi paman. Apakah ayah ku ada di dalam? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan ayah saat ini," Sapa Bulan kepada pelayan pribadi Duke.
"Nona Senja ini masih pagi sebaiknya Nona kembali lagi setelah sarapan." Pelayan itu bersikap sopan pada Bulan meskipun ia menolaknya.
"Aku tidak bisa paman, ini adalah masalah penting bagiku. Aku membutuhkan seorang ksatria penjaga sama seperti yang lainnya."
Bulan terus menyudutkan si pelayan. Ia menatap pelayan itu dengan dingin, tidak sabar dengan perlakuan si pelayan. Bulan lalu menariknya kesamping dan mendorong pintu itu hingga terbuka.
Di dalam ruangan tampak Duke sedang sibuk dengan seluruh dokumen di mejanya, tangan Duke terhenti seketika saat ia hendak melihat siapa yang masuk ke ruangan itu.
"Ada apa kau datang kesini pagi - pagi sekali?"
Bulan dengan tenang melangkah masuk ke ruangan tersebut. "Ayah aku ingin seorang kesatria." pinta Bulan tanpa adanya basa - basi terlebih dahulu.
Pelayan yang melihat itu pun menundukkan kepalanya dengan wajah pucat, mereka merasa takut jika Duke marah.
"Pergilah ke barak ksatria, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan."
Duke berkata dengan acuh lalu kembali melanjutkan kerjanya. Bulan pun segera pergi ke barak ksatria, di sana ia menemui pemimpin barak ksatria tersebut.
"Selamat pagi paman. Bagaimana kabar paman hari ini?" Pemimpin barak itu bernama Keil. Ia terlihat cukup dingin dan tegas, tubuhnya besar dengan otot yang sempurna.
"Selamat pagi Nona Senja. Hari ini sama saja seperti hari biasanya. Ada perlu apa Nona datang kesini?"
Bulan mengenal Keil dari penjelasan Senja di tulisan tangannya, walau terlihat dingin dan kaku tapi Keil ini cukup baik terhadap Senja dan juga permaisuri.
"Paman, ayah memberi ku izin untuk memilih ksatria sehingga aku datang kesini," tutur Bulan sambil melihat ke sekelilingnya.
" Rupanya begitu, lalu ksatria seperti apa yang Nona inginkan?" tanya Keil sambil melihat Bulan yang sedang memperhatikan barak.
"Paman, aku ingin seorang ksatria yang seusia denganku agar bisa menjaga ku di akademik nantinya, mungkin juga dia dapat belajar bersamaku,"
Keil hanya diam, matanya lalu menerawang ke sekeliling sambil mengingat siapa saja yang usianya sama dengan Bulan.
"Elemen apa yang Nona inginkan?" tanya Keil sekali lagi. Bulan dan berpikir sejenak, ia tidak tahu elemen apa yang cocok dengannya.
"Aku belum bisa memutuskannya paman sebab yang aku inginkan hanyalah ksatria yang dapat melindungi ku dan juga setia denganku sampai ia mati."
Keil kembali berpikir dan melihat ke sekelilingnya sekali lagi.
"Ksatria pelindung ya, hmm. Bagaimana dengan Ksatria api? Tapi yang usianya sama dengan putri sudah tidak ada lagi, lalu..."
Keil berpikir cukup lama sampai ia memutuskan bahwa seorang ksatria berelemen es akan cocok dengan tuan putrinya ini.
"Opi, tolong bawa Eza Brey kesini."
Ksatria yang sedang menyisir rambut kuda itu pun berbalik dan melihat Keil.
"Baik Komandan." Ksatria itu lalu pergi dan tidak lama setelahnya ia kembali dengan seorang anak laki - laki seusia Bulan yang memegang busur dan anak panah.
" Salam komandan, salam putri. "
Pemuda itu membungkukkan tubuhnya sembari memberi salam. Keil lalu memegang pundak pemuda itu dan menatap Bulan.
" Perkenalkan dirimu pada Nona Senja," seru Keil yang di jawab anggukan oleh si pemuda tersebut.
"Nona, perkenalkan namaku Eza Brey dan aku berasal dari kota Sina. Aku sudah mengabdi di kediaman ini sejak dua tahun yang lalu."
Eza lantas berlutut dan mencium pergelangan tangan Bulan.
"Ah begitu, coba kau perlihatkan wajahmu padaku," Eza lalu mengangkat kepalanya dan melihat Wajahnya pada Bulan.
"Aku datang kesini untuk mencari ksatria yang akan menjagaku di akademik, apa kau orangnya?" tanya Bulan sembari melirik ke arah Keil.
"Jika Nona berkenan maka aku akan mengikuti Nona dan mempersembahkan seluruh hidupku pada Nona dan jika sekalipun dunia membenci Nona, maka aku adalah orang pertama yang akan melindungi Nona dari mereka."
Eza kembali menundukkan wajahnya, Bulan lalu meminta sebuah pedang kepada Keil dan menaruhnya di atas bahu Eza.
" Bisakah kau bersumpah pada ku?" tanya Bulan dengan aura dominannya. Sontak semua orang yang ada disana menjadi kaget. Perasaan aneh yang ditimbulkan oleh Bulan bahkan mampu membuat Keil bergidik ngeri.
Keil sudah lama ditempat ini tapi ia belum pernah merasakan aura intimidasi yang kuat selain dari Duke dan permaisuri. Lantas ia menatap Bulan dan melihat wajahnya yang cantik dan anggun sungguh seperti malaikat yang polos namun aura dingin itu membuatnya terlihat seperti iblis untuk sesaat.
Eza yang juga merasakan aura dominan dari Bulan lalu memejamkan matanya dan bersumpah.
"Aku Eza Brey bersumpah untuk menjadi ksatria satu - satunya dari Tuan ku, melindunginya dari segala bahaya dan menjadi perisai di kehidupannya baik sekarang maupun dikehidupan berikutnya. Aku hanya akan menuruti perintahnya dan mati untuknya. Aku, Eza Brey mengakui bahwa Senja De Ari sebagai tuan ku dan akan melayaninya seumur hidupku."
Eza mengucapkan sumpahnya dengan disaksikan oleh seluruh kesatria yang ada di barak dan juga beberapa pelayan yang sedang berlalu - lalang di jalan menuju rumah utama.
Sarah dan juga Arina tanpa sengaja menyaksikan sumpah tersebut. Wajah mereka terlihat kesal. Sarah yang baru saja hendak pergi ke ruang makan rumah utama harus menyaksikan hal yang menjengkelkan di hidupnya ini.
Ia tanpa sadar mengepal erat kedua tangannya sampai terlihat memutih begitu pula dengan Arina. Selir Utama yang melihat kejadian itu pun cukup kaget dan langsung berlari menuju kediaman utama untuk bertemu dengan Duke.
Sedangkan Selir Amarilis hanya diam terpaku. Bulan yang menyadari hal tersebut, hanya tersenyum manis dan melihat Eza sambil dan berkata, "Aku Senja De Ari mengakui Eza Brey sebagai ksatria ku,"
"Kalau begitu ikutlah dengan ku sarapan pagi, karena sudah hampir waktunya, kita harus bergegas. Kita tidak boleh membuat orang lain menunggu bukan?" Eza hanya mengangguk dan mengikuti Bulan dari belakang.
Sesampainya Bulan di ruang makan rumah utama, ia sudah di sambut dengan tatapan membunuh oleh saudari dan ibu tirinya. Bulan hanya memasang wajah acuh tak acuh dan duduk dengan tenang sambil sesekali tersenyum santai.
Beberapa saat kemudian Duke pun memasuki ruang makan, baru saja hendak duduk, Duke sudah dihujani oleh pertanyaan dari kedua Selir dan juga ketiga saudari Senja.
"Tuan, mengapa kamu memberikan ksatria pada Senja? Kenapa tidak ke Arina saja yang merupakan tunangan pangeran kelima," tanya Selir Utama dengan wajah penuh kecemburuan.
"Kenapa Tuan tidak berikannya saja untuk Sarah. Ia juga akan pergi ke akademik nantinya." Lanjut Selir Amarilis Duke.
"Bella juga mau ayah," potong Bella sambil menatap tajam ke arah Senja.
"Ayah, Sarah juga akan masuk akademik seperti Senja. Sarah juga ingin seorang Ksatria." Pinta Sarah dengan wajah merah menahan marah.
Bulan hanya tersenyum miring melihat tingkah konyol para saudarinya. Butuh waktu berapa lama bagi mereka menyadari bahwa Duke sedang kesal. Bulan melihat Noah yang tidak sabar untuk memakan sarapannya, ia melirik Noah sekilas dan kembali tersenyum.
"Ya ampun, kenapa begitu ribut pagi - pagi begini? Apa aku ketinggalan berita?" tanya Noah acuh tak acuh. Ia sengaja mengangkat suaranya sambil melihat Duke dan tersenyum polos.
"Kakak, bukan kah kau tunangan pangeran kelima. Pastinya, pangeran akan memberimu ksatria terbaik di kediamannya bukan? Kenapa kau harus cemburu?" Lanjut Noah yang membuat Arina terlihat lebih kesal.
"Ya ampun adik, kau tahukan betapa pangeran menyayangi ku, hal itu bukanlah suatu masalah untuk ku saat ini," tutur Arina sambil menahan emosinya.
Wajahnya terlihat memerah dan telapak tangannya tampak memutih karna terlalu erat menggenggam sendok.
"Oh baguslah jika begitu, sebab sebentar lagi hari pengujian." Sambung Bulan sambil memasukan salad ke dalam mulutnya.
Arina yang tadinya ingin membuat Senja alias Bulan marah kini hanya bisa diam seribu bahasa.
"Ayah, bagaimana denganku?" tanya Sarah masih dengan ekspresi kesal di wajahnya.
"Ayah aku juga," sambung Bella. Duke yang mendengar protes putrinya pun hanya bisa menghela napas.
"Sarah, kau kan sudah punya James kenapa minta ksatria lagi? Dan untuk Bella..." Duke melihat ke arah Senja sebelum menatap Bella kembali.
"Senja sebentar lagi akan mengikuti ujian, karena itu dia harus memiliki ksatria untuk menjaganya disana dan kau Bella, bukankah kau juga sama seperti Sarah. Ayah sudah memberikan kalian ksatria penjaga sebelumnya." Lanjut Duke, Sarah yang mendengarnya terlihat tidak senang.
"Ayah, James itu bukan ksatria ku. Dia hanyalah pelayan yang ayah suruh untuk menjaga ku saja. Dia juga tidak pernah bersumpah atas namaku, yang aku ingin adalah ksatria yang sesungguhnya ayah. Ksatria yang bersumpah dengan namaku dan akan menjadi milik ku," jelas Sarah panjang lebar.
"Iya ayah, aku juga ingin ksatria seperti itu."
Lanjut Bella yang malah terlihat lucu bagi Bulan.
"Adik ku, ayah kan sudah memberikan kalian ksatria. Semua itu kini tergantung kepada ksatria nya mau menjadi milik kalian atau tidak, kalian tidak bisa memaksa seseorang untuk setia," cibir Bulan penuh maksud.
"Benar kata Senja, ayah hanya memberikannya ksatria sama seperti yang ayah berikan kepada kalian dan sisanya terserah pada ksatria itu."
Duke menimpali perkataan Bulan, Sarah dan Bella hanya bisa diam dan menatap Bulan seperti orang kesetanan.
Mereka beralih menatap Eza yang berdiri di samping Bulan dengan wajah tidak suka sambil melanjutkan makan. Setelah sarapan, Bulan segera menuju ke kafe sebelum memasuki pasar gelap. Bulan kemudian menyuruh Amel dan pelayan lainnya untuk menunggunya di kafe Bintang.
Awalnya Eza terkejut dengan perilaku Senja yang menyuruhnya untuk berganti pakaian menjadi rakyat biasa. Terlebih lagi ketika mereka hendak memasuki area pasar gelap, Eza yang kaget hanya bisa melihat Bulan dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Eza, ini adalah pasar gelap jadi berhati - hatilah jika ingin berbicara." Pesan Bulan dan mereka pun segera pergi ke toko pengrajin besi sebelum ke arena pertarungan.
"Eza pilihlah yang kau inginkan atau kau bisa memilih desain mu sendiri," seru Bulan pada Eza yang sedang melihat seluruh peralatan tempur di tempat tersebut. Eza begitu kaget pasalnya ia tidak pernah melihat senjata sekeren itu di manapun.
Pedang yang dibuat di toko pengrajin cukup cantik dan kuat serta terukir dengan indah. Setiap pahatannya berkilau dengan tidak biasa.
"Nona benarkah aku boleh memiliki ini?" tanya Eza memastikan.
"Tentu saja. Semua barang yang ada di tempat ini dibuat secara pribadi oleh sang ahli. Selain itu, semuanya kuat - kuat. Jadi pilihlah apa yang kau mau," jelas Bulan sambil mendatangi sang pemilik toko.
"Selamat pagi paman. Kulihat kau begitu senang hari ini." sapa Bulan acuh.
"Selamat pagi Nona. Aku hanya senang karna mendapat sedikit pemasukan itu saja," jawab pemilik toko jujur.
"Ah iya, ada perlu apa Nona di sini? Bukannya saya sudah bilang, jika pedang milik Nona akan siap dalam waktu empat hari dan ini baru dua hari dari hari yang telah dijanjikan."
"Paman, aku ingin kau membuatkan sebuah busur dan anak panah. Buatlah dengan bahan yang sama kau membuat milik ku dan berilah ukiran yang sama pula di setiap bagiannya, Sedangkan untuk warna, berilah warna perak dengan goresan biru sebagai latarnya. Apa Paman mengerti?" Pemilik toko hanya mengangguk dan tersenyum puas.
"Baiklah Nona, kau bisa mengambilnya berbarengan dengan pedang mu."
Tutur si pemilik toko senang, Bulan kembali menatap Eza yang terlihat begitu bahagia.
"Apa kau sudah memilih?" tanya Bulan.
Eza hanya mengangguk dan mengambil sebuah pedang dan belati serta sebuah perisai dengan ukiran bunga mawar di sisinya dengan layar hijau yang menambah kesan anggun pada senjata tersebut.
Setelahnya Bulan dan Eza pergi ke arena pertarungan. Hari ini arena pertarungan begitu sepi sebab pertarungan hanya diadakan sebulan sekali saja. Memasuki area pertarungan, Bulan sudah di sambut oleh pelayannya Count Servan.
"Silahkan ikuti saya Nona." Pelayan itu membawa Bulan dan Eza menuju sebuah ruangan di ujung lorong.
Di dalam ruangan itu sudah ada Count dan juga enam orang ksatria yang terlihat lusuh. Bulan memperhatikan mereka satu - persatu, usia mereka terlihat tidak jauh berbeda darinya.
"Nona, aku sudah membawa apa yang kau inginkan. Mereka adalah petarung kelas kecil namun kemampuan mereka sangat hebat."
Count menjelaskan semua yang dimiliki oleh para petarung itu.
Mereka tidak unggul namun masih bisa dilatih untuk mendapatkan kekuatan yang hebat. Bulan kemudian membayar Count dengan harga tinggi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Sebelum pergi, mereka dibawa terlebih dahulu ke butik Jina untuk mendapatkan pakaian yang layak serta harus dimandikan agar terlihat bersih.
"Eza apa kau kenal seseorang yang bisa melatih mereka?" tanya Bulan sambil melihat enam ksatria lainnya saat diberi pakaian.
"Ada seorang di desa ku yang bisa melatih mereka Nona." Eza menjawab dengan tenang sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Baiklah kalau begitu, lima di antara mereka adalah urusanmu," seru Bulan yang dijawab dengan anggukkan kepala oleh Eza.
"Eza mungkin kau bertanya - tanya mengapa aku melakukan ini semua, tapi percayalah bahwa hal ini aku lakukan karna aku tahu bahwa suatu saat nanti hal besar pasti akan terjadi padaku. Terlebih lagi dengan kedudukan ku yang sekarang ini," lirih Bulan acuh, Eza hanya diam dan mendengarnya dengan seksama.
"Kau pasti sudah dengar rumor bunuh diriku tapi ketahuilah bahwa itu adalah rencana seseorang untuk menyingkirkan ku, terlalu banyak keanehan di rumah besar itu. Aku tidak ingin dikhianati untuk kedua kalinya apalagi, setelah pertunangan ku dengan pangeran kelima dibatalkan." Lanjut Bulan kembali.
Eza hanya diam tidak menjawab kini wajahnya menunduk ke bawah sambil menggenggam erat kain bajunya. Kurang lebih Eza tau apa yang terjadi di kediaman Duke ketika ia pertama kali datang.
Adik - adik Senja yang selalu menjahilinya serta selir Duke yang suka mengintimidasinya ditambah lagi dengan sikap Duke yang acuh terhadapnya membuat Senja terlihat menyedihkan.
Eza hanyalah ksatria muda tapi ia sudah lama memperhatikan tingkah majikannya itu. Oleh karena itu, ketika ia tahu bahwa Senja sedang mencari ksatria pelindung, ia langsung setuju dan bersumpah. Eza sudah memenuhi janjinya dua tahun lalu untuk melindungi Senja dari kejahatan saudari dan juga ibu tirinya.
setelah selesai berpakaian dengan rapi dan bersih, ke enam petarung tadi dibawa oleh Bulan ke tempat makan. Disana mereka terlihat begitu lahap, semua makanan yang ada di meja habis di makan dengan cepat.
"Pelan - pelan, masih banyak makanan yang bisa kalian makan disini," tutur Bulan sambil menyeruput teh di hadapannya. Mereka pun mulai makan dengan tenang.
"Siapa nama kalian?" tanya Bulan sambil memperhatikan mereka satu persatu.
"Namaku Tia dan yang ini Dian," tutur Tia dengan mulut penuh makanan. Bulan lalu melihat pria yang ada di sampingnya, pria itu lalu menelan semua makanannya dengan segera dan meminum air setelahnya.
"Nona, namaku Sina dan ini namanya Adi yang itu namanya Cown dan itu Huil," jelas Sina sambil menunjuk satu - persatu temannya.
"Namaku Senja, mulai sekarang kalian adalah milik ku." Mereka semua berhenti makan dan memperhatikan Bulan dengan wajah gelisah.
"Aku tidak akan melakukan hal aneh terhadap kalian, asalkan kalian berjanji untuk setia kepada ku maka hidup kalian akan terjamin."
Bulan kemudian melirik ke arah Eza.
"Ini Eza, ksatria ku. Kau, Sina dan empat temanmu termasuk Tia akan ku kirim ke desa untuk pelatihan sedangkan Dian akan menjadi pelayanku."
"Kalian akan di latih ketat oleh ksatria terampil disana. Bila waktunya tiba, kalian akan kembali padaku. Buktikan kesetiaan kalian dengan menjadi hebat sebagai ksatria ku nantinya," jelas Bulan dengan wajah datar dan aura dominasi disekitarnya.
Aura itu sangat mengintimidasi dan kuat. Siapa pun yang merasakannya akan tunduk dan tubuhnya menjadi kaku, mereka semua mengangguk tanda setuju dengan perintah Bulan. Mereka tahu jika gadis dihadapannya itu begitu kuat dan akan menjadi orang hebat kelak nantinya.
"Dengan ini dendam ku akan terbalaskan," Pikir mereka berenam dengan wajah patuh.
Setelah semuanya selesai, Eza membawa mereka berlima menuju kereta kuda yang akan segera pergi menuju desa. Sedangkan Bulan dan Dian berjalan pergi ke butik untuk membeli perlengkapan Dian selama di mereka di akademik nantinya.
"Dian, pilihlah segera, kita harus selesai sebelum waktunya makan siang," Perintah Bulan yang dijawab anggukan kepala oleh Dian.
Setelah selesai memilih gaun dan keperluan akademik lainnya, Bulan memutuskan untuk keluar dari area pasar gelap.
"Ada apa itu ramai - ramai?" tanya Bulan ketika mereka tiba di depan pintu besi menuju area luar pasar gelap.
"Nona, apa kau bisa menunggu sebentar, saya akan mencari tahu apa yang sedang terjadi disana," jawab Dian sambil berlari ringan mendekati kerumunan.
Ternyata keributan itu berasal dari arena pertarungan. Beberapa orang yang bekerja di sana ditangkap karena menjual hal yang ilegal termasuk perjudian manusia.
"Nona keributan itu berasal dari arena pertarungan, mereka ditangkap karena menjual barang ilegal," tutur Dian. Bulan lalu melirik sekilas ke arah kerumunan itu dan kembali menatap Dian.
"Katakan apa yang kau ketahui tentang arena pertempuran, katakan seluruh kebenarannya,"
Dian lalu menceritakan segala yang ia ketahui tentang arena pertarungan sambil berjalan keluar dari pasar gelap.
Kebenaran akan perjudian manusia sampai penjualan ilegal benda - benda sihir membuat arena itu untuk sementara waktu ditutup sampai kasus selesai ditangani.
"Bagaimana dengan Count?" tanya Bulan Penasaran. Dian menjelaskan bahwa Count hanyalah agen dari kumpulan petarung, ia mencari dan membawa serta membeli petarung yang ingin mendapatkan hidup layak sama seperti Dian dan yang lainnya.
Jadi dengan kata lain Count itu bersih, ia tidak ada campur tangan sama sekali dengan perjudian manusia maupun benda - benda sihir. Dian juga menjelaskan bahwa hal itu bisa terungkap karena campur tangan putra mahkota.
Dian menjelaskan jika salah satu pangeran memiliki hubungan dengan arena sedangkan yang lain memiliki hubungan dengan penjualan ilegal tersebut sehingga untuk mengatasi hal ini pangeran terpaksa harus mengurusnya agar nama baiknya tidak hancur.
"Politik memang keras."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
senja
berarti yg kemarin Pangeran ya, jangan2 Pangeran penting nih? wkwk
2021-04-22
0
ウランダリ デウィ
mmm masihh bingungg
2021-04-04
0
Caramelatte
pokonya klo aku komen, aku udh like wkwkwk
2020-12-07
2