Pertukaran Takdir

"Takdir begitu aneh dan kejam, selalu membuat kejutan yang tak terduga bahkan pertukaran ini adalah salah satu mainannya."

*****************#####***************

Langit begitu cerah dengan kicauan burung yang saling sahut - sahutan. Udara dingin tampak sejuk dengan suasana pagi yang indah di selimuti dengan embun yang segar.

Kesegaran itu membawa nuansa hangat di villa tua yang berada ditengah hutan. Meski terlihat tua, namun villa itu terawat dengan baik. Dindingnya masih kokoh dan kuat, area disekitarnya pun ditanami oleh berbagai bunga indah.

Duduk manis di ruang santai villa itu, ada seorang gadis remaja yang tengah asyik memakan camilan ditemani seekor kucing Persia.

"Juan jangan dimakan, kamu bisa sakit." remaja itu mengangkat si kucing yang bernama Juan dengan susah payah.

"Kamu dilarang makan coklat, paham tidak."

Juan yang tidak paham apa yang dikatakan majikannya itu hanya bisa bergelayut kesal sambil mengibas - ngibaskan ekornya.

Meong...!

"Juan...!" teriak remaja itu, kesal.

"Sudahlah Bulan, biarkan saja Juan makan coklatnya."

Remaja yang dipanggil Bulan itu pun mendelik kesal kearah sumber suara sambil melemparkan snacks kesukaannya.

"Aduh," pekik Anton yang tidak siap dengan serangan mendadak Bulan.

"Kata dokter, Juan dilarang makan coklat karena beracun bagi tubuhnya."

"Mana aku tahu, Lan. Aku kan..."

Belum sempat Anton menyelesaikan kalimatnya, ia sudah dicerca ribuan pukulan oleh Bulan.

"Ya ampun, ada apa ini? Kenapa pagi - pagi sudah ribut!" seru Farel heran.

"Biasa kak," balas Tania malas.

"Kak Farel tolong aku." teriak Anton sambil berlari ke arah Farel sambil menghindari amukan Bulan.

"Aku tidak melakukan apa pun, mereka saja yang terlalu sensitif," lanjut Anton sambil menendang kaki Tania.

"Anton...!"

"Sudah - sudah, mari kita keluar saja. Udara pagi disini bagus untuk menenangkan pikiran." potong Farel sebelum amukan Tania meledak seperti Bulan.

"Kak, aku..."

Belum sempat Bulan selesai berbicara, Farel sudah menarik tangannya dan langsung membawa Bulan menuju pintu keluar.

***

"Kak Farel, Villa ini punya siapa?" tanya Tania sambil berjalan menelusuri taman bunga Lily.

Baru kali ini Tania dan Anton melihat taman bunga yang hampir semuanya di penuhi oleh bunga Lily. Meski dirinya dan Anton sudah berteman lama dengan Bulan, namun baru kali ini mereka bisa berlibur bersama ke villa itu.

"Tentu saja punya keluarga Latri, memang kamu pikir ini punya... Blum... ummpp."

Anton yang malang, belum sempat ia menggoda Tania, namun mulutnya sudah disumpal keripik kentang oleh Bulan.

"Ya ampun, Anton kamu baik - baik saja?"

"Uhm... uhuk. Baik kak!" seru Anton dengan air mata yang sedikit membasahi pipinya.

Bulan dan Tania hanya tertawa riang melihat Anton yang kesusahan menelan keripik kentangnya.

"Bwahah..."

"Astaga, kalian tidak boleh begitu, kasihan Anton."

"Kak, yang lebih kasihan itu kami bukannya Anton. Iya kan Tania?"

Tania hanya mengangguk setuju, tanpa memperdulikan Anton yang terlihat kesakitan.

"Hah, ada - ada saja kalian ini."

"Oh iya kak, yang tadi Tania tanya itu serius loh."

"Hmm, kakak juga kurang tahu Tania. Villa ini sudah dibeli oleh keluarga Latri lama sekali, bahkan sebelum kakak lahir."

Tania merenung sejenak sebelum melirik ke arah danau yang tepat berada di ujung jalan taman.

"Uhm, bisa dipahami." lirih Tania sambil menarik tangan Bulan menuju danau.

"Tania...!"

"Aku gerah banget Lan, melihat danau ini jadi tidak sabaran untuk nyebur."

Bulan yang belum siap apa-apa langsung diseret ke arah danau, ia bahkan tidak sempat melepaskan sepatunya terlebih dahulu.

BLUR...

Anton dan Farel yang telat bereaksi tidak bisa menahan tawa saat melihat Bulan dan Tania yang melompat ke dalam danau.

"Gimana Lan, segarkan?"

"Setidaknya biarkan aku melepaskan sepatu dulu Tan. Lihat ini, aku kehilangan satu." gerutu Bulan sambil menunjuk ke arah kakinya yang hanya tersisa satu sepatu saja.

"Aku juga mau,"

Anton yang sedari tadi menahan kesalnya segera terjun ke danau tanpa aba-aba. Halhasil, Bulan yang hendak melepaskan sepatunya itu pun turut terhempas jauh.

"Anton!" teriak Bulan kesal.

"Liat ini," Bulan mengangkat kakinya dan seperti yang dilihat tidak ada satu sepatu pun di sana.

"Hahaha"

Anton hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Bulan yang kesal kemudian melemparkan kaos kakinya kepada Anton.

"Sialan," lirihnya sambil menyelam ke dalam danau untuk mengambil sepatunya yang terjatuh.

***

Mansion Duke Ari

Hembusan angin pagi menyeruak masuk ke dalam mansion Duke Ari bersamaan dengan aroma manis bunga Magnolia membuat suasana mansion menjadi lebih hidup.

Sayangnya hal itu tidak berlaku bagi gadis muda yang saat ini tengah menangisi nasibnya. Ia hanya bisa menahan rasa sakit dihatinya dengan terus bertahan hidup.

Menurutnya hidup di dunia ini sama dengan pengorbanan. Ia telah berkorban banyak namun yang ia dapatkan hanyalah cacian dan makian. Meski awalnya ia sangat bersemangat namun akhirnya ia menyerah.

"Hanya ada satu kesempatan," batin gadis muda tersebut.

Ia kemudian dengan malas memilih buku sihir dari banyaknya buku yang berjejer rapi dihadapannya. Dalam hati gadis muda itu sudah lelah, ia ingin mengakhiri ini dengan cepat.

Sayangnya keinginan gadis itu hanya sebuah keinginan kosong. Karena beberapa saat setelah lembar buku terbuka ia mendengar seruan lantang para penjaga yang sedang membuka pintu gerbang mansion.

Dari balik jendela perpustakaan gadis muda itu dapat melihat sebuah kereta mewah berlambang keluarga kerajaan. Seketika gadis itu tersengat, napasnya menjadi pendek dan terputus - putus.

Kereta kuda itu terus melaju hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintu masuk mansion. Disana gadis itu melihat saudara tirinya sedang bersiap naik kereta kuda tersebut.

"Hah, hahahaha...."

Tawa hambar pun muncul dari bibir Senja, ia adalah putri utama Duke Ari dan baru tiga hari sebelumnya tunangannya memutuskan hubungan mereka dan saat ini ia tengah melihat mantan tunangannya tersebut sedang bergandeng tangan dengan adik tirinya.

Miris memang tapi itulah kenyataannya, mantan tunangannya memutuskan hubungan mereka karena alasan bosan dan menggantikannya dengan adik tirinya yaitu Arina.

Adapun kisah ini telah menjadi lelucon bagi sebagian bangsawan dan rakyat biasa. Senja yang semula tenang kini mulai terlihat sedih, kristal bening pun berhasil lolos dari kelopak matanya.

Senja hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik buku. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan karena itu adalah harga dirinya yang terkahir.

Disisi lain, ada seorang remaja muda yang tengah memegang bunga Dandelion. Remaja itu tampak senang dengan senyum sinis mengembang di wajahnya. Dan dihadapan remaja tersebut ada seorang pelayan yang tengah memegang nampan berisi teh.

"Semuanya sudah selesai, tinggal menunggu hasilnya saja," gumam remaja itu sambil menyuruh pelayan tersebut keluar.

Beberapa menit kemudian, seorang pelayan yang sama membawa nampan berisi teh masuk ke dalam perpustakaan. Pelayan itu tersenyum manis sambil meletakkan teh ke dalam cangkir.

"Nona silahkan diminum tehnya."

"Amel kamu dari mana saja? Aku mencari mu sejak tadi," tanya Senja sambil mengusap lembut sudut matanya.

"Maafkan saya Nona, saya baru saja menyelesaikan pekerjaan dapur." Amel memasang wajah berdosa sambil memegang tangan Senja berharap diampuni.

"Ya ampun Amel, sudahlah tak apa." Senja memegang bahu Amel dan menyuruhnya untuk berdiri.

Amel yang masih merasa bersalah kemudian mengusulkan ajakan jalan-jalan pada nonanya itu. Ia paham betul bahwa saat ini nonanya sedang bersedih.

"Nona langit begitu cerah, tidakkah nona ingin berjalan-jalan." tanya Amel sambil menaruh nampan kue di atas meja. Senja dengan reflek melihat keluar jendela untuk sesaat, sejenak ia berfikir.

"Mungkin udara segar dapat menenangkan hati ku."

Senja kemudian setuju dengan tawaran Amel dan segera mereka pergi keluar dari kediaman Duke Ari.

***

Selama perjalanan Senja mulai merasa baikan. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama karena orang-orang pada melihatnya dengan tatapan sinis dan cemoohan.

Senja tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan tapi dilihat dari ekspresi wajah, ia tahu bahwa itu bukan hal yang baik. Bukan rahasia umum lagi bahwa pertunangannya dengan pangeran kelima sudah dibatalkan.

Namun jika dilihat dari berbagai sisi itu bukanlah kesalahannya. Mengingat bahwa dua hari lagi Senja akan merayakan hari ulang tahunnya dan tidak lama lagi akan diadakan ujian masuk akademik membuat Senja tetap bertahan meskipun itu sulit.

"Amel bisakah kita pergi ke tempat yang lebih tenang?"

Segera Amel menyuruh pak kusir untuk memutar arah kereta kuda dan membawa mereka menuju tempat yang lebih sepi. Tiga puluh menit kemudian kereta kuda yang ditumpangi Senja sudah berada di tempat yang begitu sepi.

Sangking sepinya bahkan tidak terdengar suara hewan atau apapun disana. Senja mulai takut, ia dengan panik bertanya pada Amel dimana mereka sekarang, namum Amel hanya menatap Senja dengan ekspresi jijik.

"Bukannya tempat ini yang nona butuhkan?" seru Amel dengan sudut bibir yang mengejek.

"Tapi... Ini terlalu sepi Amel."

Senja tidak masalah dengan tempat sepi karena memang dia sangat menyukainya, namun ini terlalu aneh. Instingnya mengatakan bahwa ada hal buruk yang akan terjadi jika ia terus berlama - lama di tempat tersebut.

"ayo kita putar kem... Argh!" Senja berteriak keras saat ia merasakan sakit diperutnya, sakit itu begitu hebat layaknya di tusuk - tusuk oleh pisau.

"Ugh, sakit. Amel tolong bawa aku pergi, ini menyakitkan."

Bukannya panik melihat nona mudanya terluka, Amel malah tertawa nyaring sambil menunjuk - nunjuk ke arah Senja.

"Ya ampun Nona, kau naif sekali. Kau pikir selama ini Aku menjadi pelayanmu dengan senang hati?"

Senja bingung, ia terus memegang perutnya hingga tak terasa darah mulai mengalir keluar dari ujung bibirnya.

"Aku ini bukan pelayan pribadimu Nona, aku adalah milik Nona Sarah. Aku ditugaskan olehnya untuk membuat mu dibenci oleh banyak orang dan menjadikanmu sebagai wanita jahat."

Senja mulai menangis tersedu - sedu, rasa sakit yang diakibatkan oleh pengkhianatan membuatnya lupa akan rasa sakit yang sedang ia alami sekarang.

"Dasar j*l*ng." Senja kesal, ia menarik rambut Amel dengan kasar, dan membuatnya penuh dengan luka.

"Lepaskan aku, kau adalah putri buangan yang bahkan ayahmu sendiri saja tidak peduli padamu dan jika kau mati disini maka tidak akan ada satu orang pun yang menangisi mayat mu."

Amel mendorong Senja, membuatnya jatuh tersungkur dari gerbong kereta kuda. Ia lalu menunjuk ke arah kusir dan menyuruhnya untuk membuang Senja ke danau mati.

Senja yang tak berdaya dengan kondisinya mulai rapuh saat melihat pak kusir yang dengan acuh tak acuh membawa tubuh lemahnya dan membuangnya ke danau mati.

Senja mulai mengingat satu - persatu kejadian yang menimpanya karena hasutan Amel. Dimulai dari memukul Sarah di depan ayahnya dan membuat Arina jatuh dari kereta kuda, hingga membakar baju pesanan Sarah di depan para bangsawan lainnya.

Ada juga ketika Amel menyuruh Senja berpakaian aneh untuk datang ke pesta teh dan mempermalukan Senja di hadapan banyak wanita bangsawan, mengingat kejadian itu membuat air mata Senja jatuh tak terbendung.

"Aku begitu bodoh dengan polosnya aku percaya kepada siapa pun yang hanya memberikan sedikit kasih sayang padaku."

Senja menangis sedih, ia merasa jijik dan benci terhadap dirinya sendiri.

"Aku hanya menginginkan cinta, namun yang ku dapatkan hanyalah rasa sakit dan pengkhianatan."

Senja teringat akan wajah kesal dan marah Duke Ari. Ayah yang sangat ia inginkan cinta dan kasih sayangnya. Namun yang ia dapatkan hanyalah penolakan dan makian.

Perlahan cahaya kehidupan dari kedua mata indah Senja mulai redup. Ia terlihat mati rasa dan mulai kehilangan penglihatannya. Lambat laun tubuh Senja mulai pucat dan jatuh lebih dalam lagi ke ke kedalaman danau mati.

***

"Akhirnya jumpa Juga," batin Bulan sambil memegang kedua sepatunya.

Ia kemudian segera naik keatas untuk menghirup udara segar sehingga memenuhi paru - parunya yang kering karena terlalu lama berada di bawah air.

"Sudah jumpa?" tanya Farel sambil mengulurkan tangannya pada tubuh Bulan.

"Sudah kak,"

"Kamu gigih banget, padahal itu bukan edisi terbatas. Masih banyak tuh di..."

Sekali lagi kesialan menimpa Anton, belum sempat ia selesai mengatakan keinginannya. Bulan dengan kesal melemparkan salah satu sepatunya menuju kepala Anton.

"Aduh... Kali ini sakitnya parah loh!" teriak Anton sambil mengusap lembut benjolan yang timbul di jidatnya.

"Hahaha, kasihan." tawa Tania membuat mereka lupa bahwa yang dilemparkan Bulan adalah sepatu yang sedang ia cari sedari tadi.

"Hahaha, Anton kamu sial banget hari ini." Farel pun ikut tertawa, ia merasa lucu dengan teman adiknya itu.

"Nah Bulan, ayo naik. Sudah hampir waktunya makan siang."

"Tunggu kak, aku mau cari sepatunya yang tadi."

Bulan menunjuk ke arah tempat jatuhnya sepatu. Ia merasa kesal sekaligus senang dengan apa yang terjadi pada Anton. Namun ia juga kesal karena harus mencari kembali sepatunya.

"Sudah, kita beli yang baru saja nanti."

"Aduh kak, itu hadiah dari ibu. Jika ibu tahu sepatunya hilang, nanti aku disuruh kerja rodi."

"Jangan dilebih - lebihkan."

Bulan mencoba meyakinkan kakaknya itu, ia lalu menyuruh Tania untuk menyeret farel ke villa.

"Akhirnya," lirih Bulan lega.

"Sini, biar aku saja yang cari," tawar Anton, dan tanpa menunggu jawaban Bulan, Anton segera menyelam dan mencari sepatu Bulan.

Saat menunggu Anton, Bulan merasakan sesuatu yang hangat mengalir di bawah kakinya. Ia pikir itu ulah Anton yang sengaja bermain dengannya.

"Anton, jangan jahil deh." gerutu Bulan sambil menggoyangkan kakinya.

Namun anehnya, aliran hangat itu tetap terasa dan makin menggangu dirinya. Akhirnya Bulan memutuskan untuk menyelam dan melihat apa benda itu.

Saat ia mencoba mencari, Bulan tanpa sengaja melihat seutas cahaya bening yang berasal dari bawah danau. Bulan yang penasaran mencoba mendekati cahaya itu dan menyentuhnya.

Ketika jarinya menyentuh cahaya itu, suatu tarikan kuat membuat Bulan terseret ke dalamnya. Anehnya semakin Bulan melawan semakin kuat pula tarikan tersebut menyeretnya.

"Sial, apa ini?"

Bulan berusaha untuk lepas, namun semakin ia bergerak maka pusaran air itu akan semakin kuat menarik tubuhnya. Di ujung kegelisahan, Bulan melihat seorang wanita berpakaian aneh dengan mulut yang mengeluarkan noda merah.

"Siapa dia? Kenapa dia bisa ada di dalam danau ini?"

Bulan yang ragu pun mencoba untuk menarik wanita tersebut. Ia mencoba sekuat tenaga dan sebisa mungkin untuk menghemat oksigen di paru-parunya. Meski Bulan bukan penyelam profesional, namun setidaknya ia tahu cara mengendalikan napasnya di dalam air.

Bulan lalu memegang lembut tangan wanita itu dan mencoba untuk menariknya namun saat ia hendak menariknya seketika saja hal aneh pun terjadi. Bulan merasa dirinya tersedot ke tempat lain begitu pula dengan wanita aneh itu.

"Senja. Aku Senja. Semua orang membenciku, semua nya mengkhianati ku. Ayah, dia telah membuang ku. Aku hanya ingin di cintai, aku hanya ingin kasih sayang."

Wanita itu terus menangis dan berteriak hal yang sama berulang-ulang kali. Hal ini membuat Bulan merasa pusing dan mulai kehilangan kesadarannya.

Terpopuler

Comments

Amelia

Amelia

aku ikut ramaikan yah❤️🙏

2024-02-20

0

senja

senja

jadi bertukar tempat dan keduanya hidup kan Ka?

2021-04-22

0

Caramelatte

Caramelatte

jangan kasi kendor thorr
semangat terosss

2020-11-26

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Pertukaran Takdir
3 Buku Diary Senja
4 Perubahan
5 Pertemuan
6 Kesetiaan
7 Hari Pemilihan
8 Sahabat
9 Sadar
10 Black Forest
11 Magis Pet pt 1
12 Magis Pet [ 2 ]
13 Akademik Sihir
14 Siapa Kamu?
15 Perjalanan Ekspedisi
16 Hutan Teratai
17 Hutan Teratai [ Pt 2 ]
18 Kegelisahan
19 Terselubung
20 Pencarian
21 Pulih
22 Pulih pt 2
23 Pulih pt 3
24 RENCANA
25 Jebakan
26 Rahasia Permaisuri Mawar
27 Rahasia Permaisuri Mawar pt 2
28 Investasi
29 Investasi pt2
30 Investasi Pt3
31 Kesepakatan
32 Siasat
33 Persiapan
34 Ujian Akademik
35 Let's Start the Games
36 LSTG Pt 2
37 LSTG Pt 3
38 LSTG Pt 4
39 LSTG Pt 5
40 Finish Games
41 Permulaan Rencana
42 Akhir dari Pengkhianatan
43 Rumah baru
44 Rahasia Gelap
45 Eksekusi
46 Umpan
47 Tertarik
48 Tertarik Pt 2
49 Kerajaan Aruna
50 Party
51 Party Pt 2
52 Party Pt 3
53 Sumpah
54 Sumpah Pt 2
55 Kerajaan Guira
56 Kerajaan Guira Pt 2
57 Kerajaan Guira Pt 3
58 Kerajaan Guira Pt 4
59 Kerajaan Guira Pt 5
60 Perangkap
61 Wilayah Timur
62 Wilayah Timur Pt 2
63 Wilayah Timur Pt 3
64 Wilayah Timur Pt 4
65 Lucas de Green
66 Lucas de Green pt 2
67 Kerajaan El-Aufi
68 Kerajaan El-Aufi Pt 2
69 Penyamaran
70 Persimpangan Jalan
71 Teman Jalan
72 Teman Jalan pt 2
73 Teman Jalan pt 3
74 Teman Jalan pt 4
75 Pertemuan
76 Pertemuan pt 2
77 Pertemuan pt 3
78 Pertemuan pt 4
79 Pertemuan pt 5
80 Pertemuan pt 6
81 Kunjungan Sahabat
82 Kunjungan Sahabat pt 2
83 Perubahan Rencana
84 Takut
85 Panik
86 Panik pt 2
87 Kelinci Percobaan
88 Gelisah
89 Kesalahpahaman
90 Pesta Teh
91 Pesta Teh pt 2
92 Festival Rakyat
93 Festival Rakyat pt 2
94 Festival Rakyat pt 3
95 Festival Rakyat pt 4
96 Festival Rakyat pt 5
97 Festival Rakyat pt 6
98 Danau Sinju
99 Danau Sinju pt 2
100 Danau Sinju pt 3
101 Danau Sinju pt 4
102 Danau Sinju pt 5
103 Memantau
104 Wajah Baru
105 Pukulan Kecil
106 Keputusan
107 Fakta
108 Fakta pt 2
109 Pesta Kedewasaan [End Season 1]
110 End Season
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Prolog
2
Pertukaran Takdir
3
Buku Diary Senja
4
Perubahan
5
Pertemuan
6
Kesetiaan
7
Hari Pemilihan
8
Sahabat
9
Sadar
10
Black Forest
11
Magis Pet pt 1
12
Magis Pet [ 2 ]
13
Akademik Sihir
14
Siapa Kamu?
15
Perjalanan Ekspedisi
16
Hutan Teratai
17
Hutan Teratai [ Pt 2 ]
18
Kegelisahan
19
Terselubung
20
Pencarian
21
Pulih
22
Pulih pt 2
23
Pulih pt 3
24
RENCANA
25
Jebakan
26
Rahasia Permaisuri Mawar
27
Rahasia Permaisuri Mawar pt 2
28
Investasi
29
Investasi pt2
30
Investasi Pt3
31
Kesepakatan
32
Siasat
33
Persiapan
34
Ujian Akademik
35
Let's Start the Games
36
LSTG Pt 2
37
LSTG Pt 3
38
LSTG Pt 4
39
LSTG Pt 5
40
Finish Games
41
Permulaan Rencana
42
Akhir dari Pengkhianatan
43
Rumah baru
44
Rahasia Gelap
45
Eksekusi
46
Umpan
47
Tertarik
48
Tertarik Pt 2
49
Kerajaan Aruna
50
Party
51
Party Pt 2
52
Party Pt 3
53
Sumpah
54
Sumpah Pt 2
55
Kerajaan Guira
56
Kerajaan Guira Pt 2
57
Kerajaan Guira Pt 3
58
Kerajaan Guira Pt 4
59
Kerajaan Guira Pt 5
60
Perangkap
61
Wilayah Timur
62
Wilayah Timur Pt 2
63
Wilayah Timur Pt 3
64
Wilayah Timur Pt 4
65
Lucas de Green
66
Lucas de Green pt 2
67
Kerajaan El-Aufi
68
Kerajaan El-Aufi Pt 2
69
Penyamaran
70
Persimpangan Jalan
71
Teman Jalan
72
Teman Jalan pt 2
73
Teman Jalan pt 3
74
Teman Jalan pt 4
75
Pertemuan
76
Pertemuan pt 2
77
Pertemuan pt 3
78
Pertemuan pt 4
79
Pertemuan pt 5
80
Pertemuan pt 6
81
Kunjungan Sahabat
82
Kunjungan Sahabat pt 2
83
Perubahan Rencana
84
Takut
85
Panik
86
Panik pt 2
87
Kelinci Percobaan
88
Gelisah
89
Kesalahpahaman
90
Pesta Teh
91
Pesta Teh pt 2
92
Festival Rakyat
93
Festival Rakyat pt 2
94
Festival Rakyat pt 3
95
Festival Rakyat pt 4
96
Festival Rakyat pt 5
97
Festival Rakyat pt 6
98
Danau Sinju
99
Danau Sinju pt 2
100
Danau Sinju pt 3
101
Danau Sinju pt 4
102
Danau Sinju pt 5
103
Memantau
104
Wajah Baru
105
Pukulan Kecil
106
Keputusan
107
Fakta
108
Fakta pt 2
109
Pesta Kedewasaan [End Season 1]
110
End Season

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!